Di dunia yang dikepung miliaran Monster ciptaan entitas purba Vitallion, kedudukan manusia ditentukan oleh seberapa agung Anima yang mereka panggil di Aula Kebangkitan.
Kael Ardyn, putra tunggal mendiang pahlawan militer, mendapati takdirnya hancur dalam semalam. Bukan makhluk Mitologi agung yang ia bangkitkan, melainkan Morthas (Sang Penuai Nyawa)—entitas Kelas Misterius berwujud Malaikat Maut yang terhapus dari sejarah ribuan tahun.
Dicap sebagai ancaman haram oleh Kerajaan Barat yang korup, Kael dijatuhi hukuman eksekusi mati. Diselamatkan di detik-detik terakhir oleh pendiri Guild Scar Horizon, Kael dilarikan ke alam liar di luar Dinding Peradaban.
Bersama persekutuan empat jiwa abnormal penguasa Anomali—Phoenix Api, Mammoth Purba, dan Kraken Kinetik—Kael menempa jiwanya untuk menguasai energi Kematian murni.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kausafiksi.id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SIMFONI SCAR HORIZON DAN DUEL DUA SKALA EMAS
BAB 26: SIMFONI SCAR HORIZON DAN DUEL DUA SKALA EMAS
Dua ekor Beast Peringkat Tinggi berwujud Beruang Kembar mendadak menghentikan pergerakan mereka. Sepasang mata merah menyala milik kedua monster setinggi delapan meter itu memalingkan fokus, merasakan dua tekanan aura masif yang meluncur deras dari dua arah berbeda.
Kapten Gareth dan Jenderal Veron melesat tanpa ragu!
ROOOOOOARRRRR!
Raungan dahsyat dari sepasang Beruang Kembar itu memecahkan keheningan, mengguncang fondasi bumi di sekitar gerbang. Duel sengit antar-petarung tingkat Emas melawan penguasa labirin tak lagi bisa dihindarkan.
Namun, di saat pimpinan puncak mereka saling mengunci, situasi di garis tengah justru semakin brutal.
Ratusan Beast Peringkat Menengah yang merasa terdesak bertindak makin beringas. Mereka merangsek maju secara liar, memutar haluan untuk meremukkan barisan prajurit Volcania dan sisa anggota tim Scar Horizon.
BRUSSSSSHHHH!
Melihat Hugo yang mulai limbung dan terisolasi setelah memaksakan kekuatan elemen tanahnya, Elena yang melayang di angkasa menjerit nyaring menembus gemuruh perang.
"Hugo! Telan pil pemulih jiwamu, Bodoh! Cepat lari ke sini, biar aku bukakan jalan!" seru Elena, matanya menyapu tajam ke bawah.
"A-Ah! Ya, Elena!" gagap Hugo.
Pemuda tambun itu merogoh saku jubahnya dengan tangan gemetar, mengambil pil pemulih jiwa dan langsung menelannya bulat-bulat. Hawa hangat instan langsung menyiram sistem sarafnya yang sempat terkoyak.
"Pyrael! Sapu barisan musuh di depan Hugo!" perintah Elena lugas.
BOOOOM! BOOOOM! BOOOOM!
Rentetan bola api neraka meluncur deras dari kepakan sayap Phoenix Pyrael. Hantaman api itu membakar puluhan Beast Peringkat Menengah di sekeliling Hugo, meledakkan barisan monster dan melapangkan jalur evakuasi secara instan.
Hugo tidak membuang kesempatan itu. Ia memacu langkahnya yang berat, berlari melintasi puing-puing tanah yang terbakar lurus menuju formasi tim utama.
Di saat yang bersamaan, Suna telah kembali dari posisinya usai menyerahkan pil pemulih jiwa kepada Jenderal Veron. Gadis berambut pendek itu mendarat mulus di samping Hugo, sepasang belati kinetiknya memancarkan arus kilat yang menyambar-nyambar.
Beberapa prajurit Volcania yang berada di dekat mereka menatap bingung dan cemas. Tanpa komando langsung dari Kapten Gareth yang kini sedang bertarung di titik terpisah, mereka meragukan apakah tiga remaja ini sanggup menahan gelombang ratusan monster batu yang kian mendekat.
Namun, tim Scar Horizon telah terlatih untuk saling melengkapi tanpa perlu untaian kata yang panjang.
Gelombang Beast Peringkat Menengah merangsek makin dekat, menebarkan hawa intimidasi yang mencekik.
"Hugo... sekarang!" teriak Elena dari udara.
Hugo mengangguk seketika, matanya memancarkan ketegasan yang tak tergoyahkan.
"Morgrath!"
KRAAAAAKKK! BRASH!
Mammoth Purba raksasa kembali memanifestasikan energinya secara utuh. Hugo menghentakkan kedua telapak tangannya ke tanah.
Tembok-tembok batu raksasa mencuat beringas dari bawah permukaan, menjulang tinggi dan saling menyilang secara presisi. Manuver elemen tanah tersebut secara taktis menyempitkan ruang gerak kawanan Beast, mengunci mereka ke dalam lorong-lorong batu sempit yang terisolasi.
Tanpa menunggu jeda sedetik pun, Elena langsung mengambil alih giliran eksekusi.
"Pyrael, bombardir celah itu!"
BOOOOM! BOOOOM! BOOOOM!
Dari sudut elevasi udara yang sempurna, Elena menumpahkan badai api ke dalam lorong batu buatan Hugo. Asap panas dan ledakan terkunci rapat di dalam celah sempit tersebut, membakar dan meretakkan zirah batu para Beast secara masif.
"Suna!" seru Elena memberi sinyal akhir.
WUUUSHHH!
Menggunakan pemicu akselerasi penuh dari Anima Cheetah Kinetik, Suna melesat masuk ke dalam celah-celah batu yang dipenuhi asap ledakan.
Ia berpindah dari satu dinding batu ke dinding lainnya bagaikan kilatan hantu. Belati kinetiknya menebas titik-titik lemah di leher para Beast yang zirahnya telah retak akibat gempuran api Elena.
SRAAK! SRAAK! BRUK!
ROOOOOOARRRRR!
Meski menghadapi ratusan Beast Peringkat Menengah bukanlah hal yang mudah bagi tingkat Perak dan Perunggu, kerja sama taktis itu secara ajaib memaksa gelombang monster terdorong mundur kekacauan.
Bahkan, beberapa ekor Beast Menengah roboh tak bernyawa secara tragis di tangan Suna!
Pemandangan itu membuat para prajurit Volcania terperangah takjub. Mereka menyadari sebuah kenyataan berharga: pertarungan ini bukan sekadar tentang siapa yang memiliki kasta Anima Mitologi lebih tinggi, melainkan tentang bagaimana mereka memanfaatkan keunikan dan sinergi taktis secara jenius di medan tempur!
Di sisi lain, pertempuran tingkat atas meledak dengan kegenitan yang teramat brutal.
Kapten Gareth dan Jenderal Veron kini berdiri berhadapan langsung satu lawan satu melawan sepasang Beruang Kembar Peringkat Tinggi.
BOOOOOOM!
Banteng Tanduk Baja milik Kapten Gareth menabrakkan diri secara frontal dengan cakar berujung baja milik Beruang Kembar pertama. Hantaman dua kekuatan bernilai Emas itu menciptakan gelombang kejut fisik yang membumihanguskan tanah berdebu di sekitar mereka.
Kapten Gareth memutar pedang besarnya dalam lingkaran horizontal, mengincar celah perut sang Beruang. Namun, monster Peringkat Tinggi itu membalas dengan ayunan telapak raksasanya yang sanggup meruntuhkan bukit batu.
TRANK! BRASH!
Darah merah menyembur dari bahu Kapten Gareth saat zirah besinya tergores dalam, tetapi sang veteran hanya membalasnya dengan raungan beringas. Ia mengayunkan sikunya yang dilapisi aura Emas murni, menghantam rahang monster tersebut hingga giginya patah berhamburan!
Di titik sebelahnya, Jenderal Veron bertarung tak kalah gila.
Serigala Zirah Besi miliknya mencabik paha Beruang Kembar kedua. Veron melompat tinggi ke udara, menggalang seluruh pasokan energi Emas yang baru saja terisi dari pil pemulih jiwa, lalu menancapkan pedang besarnya tepat di punggung raksasa monster tersebut.
ROOOOARRR!
Beruang Kembar itu meraung kesakitan, memutar tubuhnya secara liar dan melempar Jenderal Veron menghantam reruntuhan dinding benteng. Namun, Veron kembali bangkit dari debu, menyapu darah di sudut bibirnya dengan seringai ksatria yang menyala.
Pertarungan dua petarung Ranah Emas itu berlangsung teramat sengit, penuh tebasan berdarah, benturan energi fisik murni, dan saling tukar pukulan mematikan yang menggentarkan jiwa siapa pun yang menyaksikannya.
Tepat di saat pertempuran di seluruh penjuru gerbang berada di puncak titik kritis...
Dari arah ngarai timur yang diselimuti sisa-sisa debu, dua siluet pemuda berlari melesat dengan kecepatan penuh. Derap langkah mereka mantap, membawa pendaran energi jiwa yang telah pulih sepenuhnya usai menyerap pil ramuan.
Kael Ardyn dan Ren akhirnya tiba di batas luar medan pertempuran!
Elena, yang melayang tinggi di udara seraya mengawasi seluruh penjuru arena, menjadi orang pertama yang menangkap kedatangan mereka berdua.
Mata merah Elena berkedip cerah. Urat-urat kecemasan di wajah cantiknya menguap seketika, digantikan oleh sudut bibir yang terangkat membentuk senyuman lega yang tak bisa disembunyikan.
"Itu mereka!" seru Elena nyaring dari angkasa, suaranya memberi sinyal kebangkitan bagi seluruh tim Scar Horizon di bawah sana.