NovelToon NovelToon
DEKEKOUI

DEKEKOUI

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Matabatin / Vampir
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: Muka Kanvas

Ketika penyihir dan Pemburu Penyihir bertemu dalam satu wilayah yang tak pernah mereka sangka. Satu berburu dan yang lain diburu, bagaimana jika akhirnya mereka jatuh cinta?

Dua makhluk Kekal bertikai sejak berabad-abad silam dan tak pernah mampu berdamai, berperang, bersembunyi dan akhirnya tertangkap, berulang tanpa pernah istirahat.

Apakah pada akhirnya mereka mampu bersatu? atau malah menjadi alasan peperangan terjadi lagi, seperti dulu Dekekuoi hancur lebur.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muka Kanvas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12 : Upacara Sakral II

“Apa yang mereka lakukan pada kalian, kenapa kalian belum kembali?” Lira bertanya, dia tahu suara itu muncul dari celah Sila yang bolong.

Ini adalah hari kelima mereka masih disekap entah di mana.

“Aku terus memanggil kalian berharap ada yang mendengar, mereka menutup mulut dan mata kita, mengikat tangan dan kaki, lalu didudukkan entah di mana, ruangannya dingin dan lembab, itu yang aku rasakan.”

“Lalu kenapa kau bisa bicara?” Lira bertanya.

“Karena mulutku tidak dibungkam lagi, tapi mata tetap ditutup dan tanganku diikat. Aku terus memanggil kalian, kau salah satunya dan begitu aku sebut namamu, kau merespon, adakah yang lain mendengar suaraku juga?”

“A-aku ....” Sssttt! Lira meminta orang itu menutup mulutnya, sala satu Dekekuoi yang juga mendengan suara panggilan dengan menyebut nama, tapi samar, dia pikir salah dengar atau sedang tertekan karena disekap.

“Kenapa?” Nenek tua itu bertanya, tapi hanya gerakan bibir, Lira mendekatkan telunjuk pada bibirnya.

“Tidak ada yang dengar selain aku, hanya aku yang dengar, keadaanmu bagaimana? Yang lain bagaimana?”

“Kami aman, tapi lelah saja.”

“Apa yang mereka lakukan.”

“Tidak tahu.”

“Apa yang kau rasakan saat mereka melakukan sesuatu?”

“Tidak tahu, Lira, apa suaraku jelas?”

“Apa mereka mengambil ....”

Suara derap kaki berjalan terdengar kencang, tentu saja penjaganya.

 “Dengar baik-baik, abaikan semua panggilan dari dinding, aku mohon percaya padaku, pasukan itu pasti sekarang akan membawaku, itu tadi jebakan, mereka ingin memastikan, entah apa yang mereka lakukan tapi yang pasti itu adalah jebakan untuk mulai mengklasifikasikan kemampuan kita, jadi diam, dan jangan membalas panggilan apapun paham!

Sava! Jangan bicara apapun juga pada Sava!”

“Lira!” Seorang penjaga berteriak memanggil namanya, yang lain mundur, mereka terkejut, pemuda yang tadi hampir mengaku kalau dia juga mendenga panggilan kemarin saat namanya dipanggil, menahan napas, beruntung Lira menghentikannya.

Nenek tua buru-buru mendekatinya dan menulis dengan jari telunjuk di telapak tangan Lira, sebuah mantra yang langsung Lira paham maksudnya, dia mengangguk.

Seorang penjaga menariknya dan menyeretnya keluar, sebelum dibawa pergi, mulut Lira ditutup, karena saat disel semua Dekekuoi dilepas penutup mulutnya, sedang mata dan tangan diikat. Saat akan dibawa, mulut dan mata ditutup sedang tangan diikat, kaki dibiarkan agar bisa berjalan sendiri.

Lira berjalan tanpa bisa melihat, sementara wangi Dekekuoi tercium, telinga dan hidungnya masih berfungsi dengan baik, ini ruangan lain dari sel besar seperti yang mereka miliki, Lira tak bisa menghitung pasti, tapi dia yakin ada begitu banyak Dekekuoi di sini.

Setelah berjalan cukup lama, Lira akhirnya didudukkan pada bangku, benar kata wanita Dekekuoi yang tadi berbicaar padanya di dinding yang mungkin bercelah itu. Lembab, dingin dan tak ada cahaya matahari, kemungkinan ini juga sel yang tertutup.

“Gadis ini memiliki kemampuan Slukala, telinganya sangat peka.” Salah seorang penjaga berkata, sedang yang lain hanya melihat padanya. Lira bisa merasakan itu.

“Tapi Silanya tak terlalu tinggi,” ucap penjaga lain.

“Bisa jadi hanya Slukala yang dia miliki. Makanya Silanya rendah,” ucap penjaga satunya lagi.

Lira menghitung dari suara, gerakan dan hembusan napas, setidaknya ada 10 penjata. 10 penjaga untuk satu Dekekuoi, mereka benar-benar takut pada Dekekuoi.

“Mulai upacaranya, meski sedikit, tapi jenis Sila yang dia kuasai sangat langka. Panggil tetua untuk melakukannya.” Seorang penjaga yang berbicara layaknya pemimpin itu memerintah, 2 orang berlari keluar dan tak lama kemudian seorang lelaki tua gemuk memakai jubah berwarna putih dan berbagai ornamen masuk.

Lira menahan napas, hidungnya tak ditutup dan yang dia cium adalah bau busuk yang khas, bau Dekekuoi yang mempraktekan sihir gelap akan memiliki bau busuk yang khas. Amis bercampur bau bangkai itu tidak bisa ditandingi oleh apapun dan hanya sesama Dekekuoilah yang mampu mencium bau itu.

Lelaki itu berjalan hingga telah sampai di hadapan Lira, tentu saja mereka butuh Dekekuoi pengkhianat untuk melakukan upacara sakral, upacara yang menghabisi sesama saudaranya.

Lira dibuka matanya dan mulutnya, dia melihat sekitar, memang benar sel lain yang sama besarnya dengan sel milik dia, tapi di sekeliling sel itu ditutup tembok dengan motif khasm mereka, motif yang bercelah-celah, tentu celah itu untuk jalurnya Sila, memberi energi kehidupan pada dinding itu untuk bisa melaksanakan perintah pada Jagabaya Kasipin.

“Kau membantu mereka? Bukankah seharusnya kau bersama kami!” Lira berteriak, lelaki tua itu tersenyum dan berkata.

“Aku tidak akan seperti kalian, menjadi bodoh dan akhirnya mati sia-sia, hadapi takdirmu dengan gagah dan aku akan menghadapi dosaku kelak, aku tak peduli, yang aku pedulikan adalah, hidup megah dan kaya raya, tidak seperti kalian, lari, bersembunyi dan akhirnya mati sia-sia, untuk siapa? Untuk apa? Dasar Dekekuoi bodoh!”

“Kau pun Dekekuoi!” Lira berteriak dengan mengeluarkan air mata karena sangat marah.

“Bukan, aku penyihir jahat, Dekekuoi hanya menurunkan Sila, sisanya aku yang berlatih dan menjadi hebat, aku bukan Dekekuoi, camkan itu!”

Seketika Penyihir jahat itu membaca mantra, seluruh tubuh Lira sakit bukan kepalang, bola matanya ditarik dengan kencang, seolah akan keluar, tidak, bukan dengan alat, tapi dengan Sila yang tarik-tarikan, lalu lidah, telinga, kulit dan semua organ dalamnya terasa ditarik dengan kencang, dia kesakitan berteriak, semua orang hanya memperhatikan, bukan orang, tapi iblis jahanam.

Mereka melihat Lira kesakitan seolah dia adalah tontonan yang seru untuk dilewatkan, penyihir jahat itu terus membaca mantra dengan berdiri di hadapan Lira, dia juga melakukan gerakan tarik, bagi orang awam, dia hanya seperti pantomim yang menarik sesuatu yang berat tanpa terlihat apa yang ditarik.

Tapi yang Lira rasakan adalah Silanya ditarik keluar, sakit, sungguh sangat sakit, Dekekuoi tanpa Sila adalah seperti manusia tanpa jiwa, mati adalah hal yang akan dia hadapi.

Setelah 1 jam membaca mantra, penyihir itu terduduk karena kelelahan, Sila yang berhasil di panen dari tubuh Lira tidak terlalu banyak.

“Bagaimana?” Seorang pemimpin penjaga bertanya.

“Silanya sedikit, tapi menariknya sulit sekali, kemungkinan karena jarang dipakai, tapi cukup untuk ditaruh di wadah Sila simpanan kita.” Penyihir jahat itu menyebut kata ‘kita’ seolah dia juga adalah Jagabaya Kasipin.

Tubuh Lira terkulai lemas, sudah pasti dia MATI, Kasipin rendahan memeriksa nadi dan napasnya, benar, Lira telah mati.

Maka dia diangkat dari sana dan akan ditumpuk dengan tumpukan mayat lain. Mayat perempuan yang tadi memanggilnya, mayat yang sebenarnya telah mati saat memanggil karena penyihir jahat itulah yang menggunakan Sila milik wanita itu untuk memancing Lira atau Dekekuoi yang lain agar dia dapat mengklasifikasikan kemampuan para Dekekuoi, seperti kecurigaan Lira, karena dia sudah dilatih untuk tidak pernah membuka jati diri dalam kondisi apapun, aneh bagi seorang Dekekuoi bertanya, siapa lagi yang mendengar panggilanku, seolah mengkonfirmasi identitas dan itu haram hukumnya, setidaknya bagi kelompok keluarga Lira.

Maka Lira langsung curiga dan meminta Dekekuoi untuk diam, beruntung semua paham.

Tapi Lira ... bagaimana dengannya? Apakah dia mati sia-sia?

1
Vie Vie Sue
/Good/
Vie Vie Sue: iya. sama2 kk. aku masih disini cuma nungguin karya² kk. sukses selalu ya
total 2 replies
Betri kardina
berarti jagabaya kasipin jahat ya
Muka Kanvas: nah, akhirnya ada yang ngeh
total 1 replies
Tini Nurhenti
alurnya maju mundur ea thor,😁🤭💪💪💪
Muka Kanvas: Iya nih, stuck di 1965 dulu yaaaa
total 1 replies
Tini Nurhenti
penuh misteri 👍💪💪💪
Tini Nurhenti
hadir thor, cepy story lanjutane to ??
Tini Nurhenti: ok kk
total 2 replies
Arla
mungkin Dani atau orangtuanya
Muka Kanvas: bukan kok, bukan.
total 1 replies
Dea Suci
zombie ya kak
Muka Kanvas: Hampir
total 1 replies
Dea Suci
mei
Dea Suci
wadidaw,,, ternyata ohhh ternyata,, Dani pun sama.
Zakia
sambil nunggu PKJ3 baca ini dulu, sebenarnya heran kok eps beda karena sebelumnya sudah aku baca semua thor
Muka Kanvas: Sudah ganti judul, setelah melalui pertimbangan yang cukup berat, akhirnya aku memutuskan membawa kisah Dekekuoi jadi novel yang panjang.
total 1 replies
Arla
kenapa dihapus kak thor,, pantesan error tadi pas aku mau like🤭
Yosh Pontoh: Pantesan barusan aku cari di rak buku gak ada.
total 2 replies
Damn Nwtch
curiga sama pamannya,Napa Dani g boleh ikut
Muka Kanvas: Lanjt ya, udah ada part selanjutnya
total 1 replies
Tini Nurhenti
/Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob/
Arla
kasihannya dokter itu
Arla
ngeri jiwa psikonya...
Ayuk Witanto
hiii serem
Ayuk Witanto
gila dia
Ayuk Witanto
bagus
Ayuk Witanto
seru sih...tapi gantung🤭
Wahyu ningsing: lha yaitu...gak enak digantung....pastinya sakit
total 3 replies
Tini Nurhenti
kek cerpen kk👍💪💪
Muka Kanvas: Iya betul, tapi lebih tepatnya antologi horor
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!