NovelToon NovelToon
Gadis yang Terbuang

Gadis yang Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ayu Kirana

Delapan belas tahun yang lalu, seorang gadis kecil bernama Taotao hilang di tengah keramaian festival lampion. Keluarga Wijaya — salah satu dinasti paling berkuasa di Jakarta — tidak pernah berhenti mencari.

Seline tidak ingat apa-apa tentang malam itu. Yang dia tahu: orang tua angkatnya sudah meninggal, adiknya butuh sekolah yang layak, dan satu-satunya pilihan adalah menumpang di rumah besar keluarga Hartono — bibi jauhnya yang ternyata punya agenda tersembunyi.

Di rumah itu, Seline belajar bertahan. Dari tatapan merendahkan sepupu-sepupu, dari jebakan bibinya yang ingin menjodohkannya dengan anak tiri, dari rivalnya yang cantik dan licik. Tapi juga — dari tatapan Kevin Hartono yang tidak pernah bisa dia baca.

Kevin adalah pewaris utama. Dingin. Tidak tersentuh. Semua orang takut padanya.

Tapi dia yang pertama menyadari surat palsu di kamar Seline. Dia yang berlari menembus api saat festival meledak. Dan dia yang diam-diam menyimpan lukisan karya "Tao" — tanpa tahu pelukisnya tidur di sayap rumahnya sendiri.

Ketika kebenaran akhirnya terungkap — siapa Seline sebenarnya, siapa yang mencurinya dulu, dan mengapa Kevin bersikeras mempertahankannya — seluruh Jakarta akan tahu:

Gadis yang mereka buang... adalah pewaris yang sebenarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 20

Bab 020

Reaksi

"Kenapa Ko Kevin hanya bicara dengan kamu?"

Pertanyaan Vivian menggantung di ruang makan kecil dengan sengaja. Seline bisa merasakan bagaimana kalimat itu bekerja, pelan tetapi pasti, menempatkannya di tempat yang mudah disalahpahami.

Kalau ia gugup, Vivian akan menang.

Kalau ia menjelaskan terlalu banyak, ia akan terlihat memang punya sesuatu untuk dijelaskan.

Seline menurunkan pandangan sebentar, lalu mengangkatnya kembali dengan wajah setenang mungkin.

"Karena saya kebetulan lewat di koridor sambil membawa air jahe untuk Oma," jawabnya. "Ko Kevin sedang terburu-buru. Pesannya hanya soal perjalanan dinas. Kalau Vivian yang lewat, mungkin Vivian juga akan diminta menyampaikan."

Jessica langsung menahan senyum.

Vivian tidak langsung menemukan celah. "Tapi tetap saja..."

"Atau mungkin Ko Kevin tidak ingin masuk karena tamu Wijaya sedang bersama Tante Lilian," lanjut Seline, suaranya tetap sopan. "Saya hanya menyampaikan pesan agar Tante Lilian tidak menunggu. Kalau itu dianggap salah, saya minta maaf."

Lilian menghela napas. "Tidak, kamu tidak salah. Kevin memang begitu. Kalau sudah tidak mau bertemu, dia bisa membuat satu rumah repot."

Tante Chen tersenyum tipis. "Anak muda sekarang punya cara sendiri-sendiri."

"Kevin bukan anak muda sembarangan," Lilian membalas, kali ini lebih sebagai ibu yang lelah daripada nyonya besar. "Dia hanya terlalu keras kepala."

Tante Liu tertawa kecil untuk mencairkan suasana. Jessica memanfaatkan celah itu.

"Kalau pesan dari Ko Kevin saja bisa jadi masalah, nanti kita harus pasang papan pengumuman di koridor. Siapa pun yang bertemu siapa, langsung tulis di sana."

Ryan yang baru masuk mengambil buah dari meja langsung menyahut, "Aku setuju. Biar semua tahu aku sering bertemu kulkas."

Beberapa orang tertawa.

Ketegangan turun.

Vivian tetap tersenyum, tetapi matanya tidak ikut. "Aku hanya khawatir orang luar salah paham."

"Orang luar belum sempat salah paham," kata Jessica ringan. "Orang dalam duluan terlalu rajin."

"Jess," Lilian menegur, tetapi nadanya tidak keras.

Seline menunduk. "Kalau tidak ada lagi, saya kembali ke Oma."

Lilian mengangguk. "Terima kasih sudah menyampaikan."

Seline keluar dari ruang makan kecil dengan langkah yang tidak terlalu cepat. Baru di lorong ia membiarkan bahunya turun sedikit. Di balik punggungnya, ia masih bisa mendengar Vivian berbicara pelan dengan Tante Chen, tetapi kata-katanya tidak jelas.

Di ujung lorong, Kevin berdiri di dekat meja konsol, mengambil map hitam dari Anton.

Seline berhenti.

Jadi ia belum pergi.

Kevin menatapnya. Anton berdiri di samping, wajah profesional seperti biasa, tetapi matanya bergerak cepat ke arah ruang makan kecil.

"Sudah disampaikan?" tanya Kevin.

"Sudah, Ko Kevin."

"Ada masalah?"

Seline memikirkan Vivian, Tante Chen, Lilian, dan semua mata di ruangan itu. Lalu ia menjawab dengan kalimat yang sama amannya seperti tadi.

"Tidak. Hanya pesan perjalanan dinas."

Kali ini, sudut mulut Kevin benar-benar bergerak. Masih kecil, masih cepat hilang, tetapi cukup jelas untuk membuat Seline ragu apakah ia salah lihat.

"Bagus."

Anton menunduk sedikit, seolah tiba-tiba sangat tertarik pada map di tangannya.

Kevin melangkah pergi bersama Anton. Seline tetap berdiri di lorong, mencoba mengatur napasnya. Ia tidak tahu mengapa satu kata bagus dari Kevin terasa lebih mengganggu daripada satu ruangan penuh pertanyaan.

Oma Mei memanggilnya dari ruang utama sebelum ia sempat berpikir lebih jauh.

"Seline."

Seline cepat masuk. "Iya, Oma."

Oma duduk di kursi favoritnya, selimut tipis menutupi lutut. Di meja ada cangkir teh yang belum disentuh.

"Air jahe tadi enak?"

"Oma belum minum."

"Oma bertanya karena kamu yang bawa, bukan karena Oma sudah minum."

Seline mengerti. Oma sudah tahu ada sesuatu.

"Tidak ada apa-apa, Oma. Ko Kevin hanya menitip pesan."

Oma Mei menatapnya lama, lalu mengambil cangkir. "Di rumah ini, kata hanya sering kali tidak kecil."

Seline diam.

"Tapi kamu menjawab dengan baik?"

"Saya harap begitu."

"Kalau Vivian masih bicara?"

"Jess membantu."

Oma mengangguk, puas bukan karena masalahnya selesai, tetapi karena Seline tidak sendirian. Setelah itu ia tidak bertanya lagi. Ia meminta Seline membacakan satu artikel bisnis, seolah seluruh kejadian tadi hanya debu kecil yang lewat di jendela.

Sore itu, setelah Kevin benar-benar berangkat ke Surabaya, Anton kembali sebentar membawa beberapa dokumen untuk William. Dalam perjalanan keluar, ia dipanggil Oma Mei.

"Anton."

Anton berhenti di ambang pintu ruang utama. "Iya, Oma?"

"Hari ini Kevin tersenyum berapa kali?"

Pertanyaan itu membuat Anton diam setengah detik. Seline yang sedang merapikan majalah di meja hampir menjatuhkan satu eksemplar.

Anton menjawab dengan wajah tetap lurus. "Kalau senyum tipis dihitung, dua kali, Oma."

Oma Mei mengangkat alis. "Dua?"

"Iya."

"Pada siapa?"

Anton melirik Seline hanya sepersekian detik, cukup cepat tetapi tidak cukup untuk luput dari Oma.

"Dua-duanya saat bicara dengan Nona Seline."

Majalah di tangan Seline akhirnya benar-benar jatuh ke meja.

"Saya tidak memperhatikan," katanya terlalu cepat.

Oma Mei menoleh padanya. "Oma belum bertanya apakah kamu memperhatikan."

Wajah Seline terasa panas. Ia cepat mengambil majalah itu lagi, tetapi halaman-halamannya terbalik sehingga ia makin terlihat bersalah.

Jantungnya ikut tidak tenang.

Anton menunduk lebih dalam, jelas berusaha tidak ikut tersenyum.

Oma Mei tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya tersenyum kecil, lalu memandang Seline lama sekali, seolah baru menemukan benang yang menarik untuk diikuti.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!