Judul lama : Diagnosis: Falling For You
dr. Narendra Adiwijaya, Sp.B adalah putra tunggal dari keluarga konglomerat, Narendra dipersiapkan sejak kecil untuk menjadi penerus Adiwijaya Healthcare Group. Tuntutan tinggi tersebut membentuk Narendra menjadi pria kaku, dominan, dingin.
dr. Nayla Kartikasari, Sp.A adalah anak pertama dari pasangan Arga Dewantara dan Citra Kirana, memiliki seorang adik bernama Bintang. Nayla memiliki sifat yang hangat, ekspresif, namun bermental baja menjadikannya dokter yang disukai oleh anak anak
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naila fitri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebohongan yang Direncanakan
Ruang lorong lantai empat poliklinik anak mendadak diselimuti keheningan yang tegang. Narendra mengepalkan kartu perak bernoda tinta emas itu di dalam genggamannya hingga kertas tebal tersebut remuk tak berbentuk di dalam remasan tangannya.
Nayla menatap tunangannya dengan mata berbinar penasaran sekaligus cemas. "Naren... maksud kartu itu apa? Kenapa dia bawa-bawa nama Mama Widya dan kata kematian di sana? Sebenarnya ada rahasia apa di keluarga kamu?"
Narendra menarik napas panjang, meredam gejolak amarah yang mendidih di dadanya. Sepasang mata elangnya melunak saat bertatap muka dengan Nayla. Ia meraih kedua jemari dingin Nayla, menggenggamnya erat-erat, seolah ingin menegaskan bahwa tidak ada satu hal pun di dunia ini yang bisa memisahkan mereka.
"Jangan pernah dengarkan provokasi dari pria brengsek itu, Nayla," suara bariton Narendra terdengar sangat rendah, mantap, dan dalam. "Mama Widya adalah ibu kandung aku. Beliau melahirkan aku, merawat aku dari bayi, dan kamu sendiri bisa lihat betapa sehat dan bahagianya beliau waktu nemenin kamu fitting baju pengantin kemarin."
Narendra menatap lurus ke dalam manik mata Nayla, mempererat genggaman tangannya. "Aku anak tunggal dari Papa Arsenio dan Mama Widya. Tidak ada ibu tiri, tidak ada rahasia kelam tentang kematian ibu di keluarga aku. Mama Widya yang kamu panggil 'Mama' itu adalah sosok yang sama yang menyusui aku dan yang sekarang sibuk nyiapin kado pernikahan buat kita. Julian Alistair cuma sedang menggunakan permainan kata psikologis yang busuk untuk bikin kamu panik dan meragukan aku."
"Tapi kenapa dia tulis soal kematian ibu kamu, Naren?" tancap Nayla, menuntut penjelasan. "Kenapa dia kelihatan dendam banget sama Papa Arsenio dan Adiwijaya Group?"
Narendra tidak langsung menjawab di tempat umum. Ia melirik Rania yang berdiri kaku di dekat meja resepsionis, lalu menatap Nayla lekat-lekat. "Ikut aku ke ruang kerja. Aku bakal ceritakan semuanya, tanpa ada yang ditutupi."
Di dalam ruang kerja Narendra yang tertutup rapat, aroma kopi hitam dan kayu cendana menyambut mereka. Narendra mendudukkan Nayla di sofa kulit, lalu meletakkan cangkir air hangat di depan wanita itu sebelum ia sendiri duduk rapat di sebelahnya.
"Sepuluh tahun lalu," Narendra mulai bercerita dengan nada tenang namun kaku, "Julian Alistair adalah Kepala Tim Riset Bedah Saraf di rumah sakit ini. Dia sangat genius, tapi ambisinya gelap. Dia secara ilegal melakukan uji klinis obat eksperimental pada pasien-pasien tidak mampu tanpa persetujuan komite etik."
Nayla membelalakkan mata, refleks menutup mulutnya dengan tangan. "Uji klinis ilegal... pada manusia?"
Narendra mengangguk kaku. "Dan yang paling gila, salah satu subjek eksperimen gagalnya adalah ibunya sendiri—ibu kandung Julian—yang saat itu menderita tumor otak stadium akhir. Julian memaksakan terapi eksperimental itu hingga ibunya mengalami pendarahan otak hebat dan meninggal di meja operasi."
Nayla tersentak. Rasa dingin seketika merayap di tengkuknya. Jadi itu maksud tulisan di kartu mawar hitam tadi... Julian memutarbalikkan fakta kematian ibunya sendiri dan mencoba menyertakan narasi palsu seolah-olah keluarga Adiwijaya yang bertanggung jawab!
"Saat Papa mengetahui kejahatan medis dan manipulasi data rekam medis itu," lanjut Narendra dengan kilatan dingin di matanya, "Papa langsung memecat Julian secara tidak hormat, mencabut seluruh akses risetnya, dan melaporkannya ke dewan medis internasional hingga dia melarikan diri ke Eropa. Sejak hari itu, Julian yang gila itu menyalahkan Papa atas kegagalan kariernya dan bersumpah akan menghancurkan Papa serta seluruh keturunan Adiwijaya."
Nayla menghembuskan napas lega yang panjang, menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa. Kebingungan dan rasa curiga yang sempat menyusup ke dadanya sirna sepenuhnya, berganti menjadi rasa lega sekaligus keprihatinan atas manipulasi kejam yang dirancang Julian.
Nayla mengulurkan tangannya, menyentuh rahang tegas Narendra yang masih mengeras. "Kenapa kamu gak cerita dari awal sama aku, Naren? Kamu gak perlu menanggung ancaman dari orang gila itu sendirian."
Narendra menoleh, menatap wajah cantik tunangannya. Ia memiringkan kepalanya, mengecup telapak tangan Nayla yang mengusap pipinya, lalu menggenggam jemari mungil itu di dadanya.
"Karena aku gak mau pikiran kamu terbebani oleh sampah masa lalu keluarga aku, Nayla," bisik Narendra, suaranya sarat akan kehangatan yang amat posesif. "Tugas kamu cuma satu fokus pada pasien-pasien kamu, jaga kesehatan kamu, dan bersiap untuk berjalan di samping aku menuju altar pernikahan bulan depan. Sisa masalahnya... biar aku yang selesaikan."
Nayla tersenyum, membalas genggaman tangan Narendra. Namun, jauh di dalam hatinya, Nayla tahu bahwa dr. Julian Alistair bukan musuh yang mudah menyerah. Simposium medis internasional minggu depan akan menjadi medan pertempuran berikutnya.
**
Sementara itu, di sebuah penthouse mewah di kawasan Sudirman, dr. Julian Alistair sedang berdiri di dekat jendela kaca besar yang menyorot gemerlap lampu kota Jakarta malam hari.
Pintu ruangan terbuka. Seorang pria bersetelan rapi melangkah masuk dan memberikan sebuah berkas tebal.
"Dokter Julian, ini seluruh data rekam medis dan jadwal harian dr. Nayla Kartikasari selama tiga minggu ke depan," ujar pria itu.
Julian menerima berkas tersebut, mengulas senyuman tipis yang sangat beracun saat melihat foto wajah Nayla yang tertera di lembar pertama.
"Sempurna," gumam Julian seraya menyesap sloki wiskinya. "Narendra pikir dia bisa melindungi 'permata' cantiknya hanya dengan memperketat pengawalan di rumah sakit? Kita lihat seberapa tenang Narendra saat dia harus memilih antara menyelamatkan lisensi medis tunangannya atau reputasi ayahnya di depan ratusan dokter internasional minggu depan."
Like & Comment nya juseyoo
Tandain typo friends
Happy Reading!