NovelToon NovelToon
Unseen Friend

Unseen Friend

Status: sedang berlangsung
Genre:Thriller / Horor / Misteri
Popularitas:64
Nilai: 5
Nama Author: CRZ CREW

Sejak kecil, Josh memiliki teman yang tak bisa dilihat siapa pun. Tiga belas tahun kemudian, teman itu kembali. Bersama Veron, Brandon, dan Gibran, ia mengungkap misteri yang telah terkubur selama puluhan tahun. Namun semakin dekat pada kebenaran, semakin dekat pula mereka pada kematian. Karena... tidak semua teman yang tak terlihat datang dengan niat baik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CRZ CREW, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Insiden di Kelas

Tiga hari berlalu sejak penemuan kartu identitas PT Wirawan Biotek, dan tidak ada kejadian aneh lain yang muncul cukup lama bagi Josh untuk mulai meyakinkan dirinya sendiri bahwa mungkin semua ini hanya kebetulan belaka, rangkaian kejadian yang saling tidak berhubungan namun terasa menakutkan karena trauma tiga bulan lalu masih membekas di benak mereka semua. Selama tiga hari itu, mereka mencoba menjalani rutinitas sekolah seperti biasa, meski di balik itu semua, masing-masing diam-diam terus memikirkan kemungkinan yang mengintai.

Veron menghabiskan waktu luangnya mencari informasi lebih jauh soal Dr. Hartono Wirawan, sementara Brandon mulai berlatih menahan sensasi dingin yang sesekali masih muncul di ujung jarinya tanpa peringatan. Namun keyakinan itu runtuh seketika pada hari Kamis pagi, saat sesi try out kedua sedang berlangsung di aula sekolah yang menampung seluruh angkatan sekaligus.

Josh duduk di barisan tengah, mencoba fokus pada soal fisika yang cukup rumit, ketika ia merasakan sensasi hangat yang familiar mulai menjalar dari dadanya jauh lebih kuat dari yang ia rasakan saat insiden jendela retak beberapa hari lalu. Ia mencoba menahan diri, menggenggam pensil erat-erat, tapi sensasi itu terus membesar, seperti api kecil yang perlahan berubah menjadi kobaran.

Lampu-lampu di aula mulai berkedip tidak beraturan. Beberapa murid mendongak, bingung, sebelum kedipan itu semakin cepat, semakin liar, hingga akhirnya seluruh ruangan gelap total selama beberapa detik yang terasa seperti selamanya. Suara jeritan panik mulai bersahutan dari berbagai penjuru aula.

Ketika lampu kembali menyala, Josh mendapati dirinya berdiri di tengah lorong bangku, entah sejak kapan ia beranjak dari kursinya, dengan seluruh murid di sekitarnya menatapnya dengan campuran bingung dan takut. Ujung jari-jarinya masih memancarkan kilauan samar keperakan yang perlahan meredup begitu ia menyadari betapa banyak mata yang memperhatikannya.

"Josh, lo kenapa?!" salah satu pengawas ujian berteriak, bergegas mendekat.

"Saya... saya nggak tahu,"

jawab Josh, suaranya gemetar, mencoba menyembunyikan tangannya yang masih terasa panas. Keributan pecah, beberapa murid mengeluarkan ponsel mereka merekam kepanikan yang terjadi, sementara guru-guru berusaha menenangkan situasi dan mengevakuasi murid keluar aula sebagai tindakan pencegahan. Josh berjalan gontai keluar bersama kerumunan, jantungnya berdegup kencang bukan hanya karena ketakutan, tapi karena ia tahu persis apa yang baru saja terjadi dan tidak tahu bagaimana cara menjelaskannya pada siapa pun.

...****************...

Sore harinya, di grup chat kelas, sebuah video mulai beredar rekaman singkat berdurasi sepuluh detik yang menunjukkan Josh berdiri di tengah lorong dengan cahaya keperakan samar di sekitar tangannya, tepat sebelum lampu aula kembali menyala normal.

"WOI INI JOSH KENAPA CAHAYA-CAHAYA GINI?!"

tulis salah satu murid, diikuti puluhan komentar panik lainnya. Josh menatap layar ponselnya dengan panik, jantungnya berdebar tidak karuan membayangkan video itu tersebar lebih jauh lagi. Namun tidak lama kemudian, sebuah pesan muncul di grup yang sama:

*Gibran: santai bro, gue kenal orang IT sekolah, biar gue urus videonya. jangan panik dulu semuanya, mungkin itu cuma efek kamera doang kok, kualitas video kamera hp jaman sekarang kadang emang suka aneh gitu kalo kena cahaya lampu yg kedip2* Beberapa murid tampak sedikit tenang mendengar penjelasan itu, meski tidak sepenuhnya percaya.

Josh menatap pesan Gibran dengan perasaan lega yang bercampur bingung bagaimana bisa sahabatnya itu punya akses ke

"orang IT sekolah" secepat itu, dan kenapa ia begitu percaya diri video itu bisa dihapus semudah yang ia janjikan? Ia tidak sempat memikirkannya lebih jauh, karena tak lama kemudian, video itu memang benar-benar menghilang dari grup bukan hanya dihapus oleh pengirimnya, tapi seolah lenyap begitu saja dari sistem, bahkan dari riwayat percakapan orang-orang yang sempat mengunduhnya ke galeri ponsel masing-masing.

"Videonya beneran ilang dari galeri gue,"

lapor salah satu murid, kebingungan.

"Padahal gue udah save tadi."

Gibran tidak menjawab pertanyaan itu di grup, hanya mengirim emoji jempol tanpa penjelasan lebih lanjut. Beberapa murid lain mulai mengajukan pertanyaan serupa, penasaran bagaimana caranya video itu bisa lenyap begitu rapi dari berbagai perangkat berbeda dalam waktu yang hampir bersamaan, namun tidak ada satu pun jawaban memuaskan yang muncul di grup malam itu.

...****************...

Malam harinya, Veron menelepon Josh, suaranya terdengar tegang di ujung sambungan.

"Lo tau nggak gimana caranya video itu bisa ilang secepat itu? Bahkan dari galeri orang yang udah download?"

tanya Veron langsung tanpa basa-basi.

"Kata Gibran dia kenal orang IT sekolah,"

jawab Josh, meski nada suaranya sendiri terdengar ragu mengucapkannya.

"Josh, itu nggak masuk akal. Orang IT sekolah nggak punya akses buat hapus file dari galeri pribadi orang lain, apalagi dari jarak jauh kayak gitu. Itu butuh sistem yang jauh lebih canggih."

Veron terdiam sejenak sebelum melanjutkan, suaranya lebih pelan.

"Gue nggak lagi nuduh siapa-siapa. Tapi ini bikin gue mikir, siapa sih sebenernya yang punya kemampuan buat ngelakuin hal kayak gitu?"

Josh terdiam, memikirkan kata-kata Veron dalam-dalam. Ia teringat kembali pada PT Wirawan Biotek, pada divisi riset dan pengembangan yang tertulis di kartu identitas itu, pada kemungkinan teknologi canggih yang mungkin mereka miliki untuk memantau atau bahkan menghapus jejak digital seseorang dari jarak jauh.

"Lo pikir ini PT Wirawan Biotek yang ngelakuin?" tanya Josh akhirnya.

"Entahlah," jawab Veron.

"Tapi kalau bener, itu berarti mereka udah mengawasi kita lebih dekat dari yang kita kira. Dan itu artinya, mereka juga tahu soal kekuatan lo yang baru aja lepas kendali tadi pagi."

Sambungan telepon itu terdiam sejenak, hanya suara napas keduanya yang terdengar di kedua ujung line, sebelum Josh akhirnya berbisik pelan, lebih pada dirinya sendiri daripada pada Veron.

"Kalau gitu, kita bener-bener lagi diawasin."

"Josh," sambung Veron pelan,

"gue nggak mau nakut-nakutin lo lebih dari ini, tapi menurut lo, apa kekuatan lo yang lepas kendali tadi pagi juga ada hubungannya sama semua ini? Kayak, mereka sengaja mancing sesuatu supaya kekuatan kita keluar?"

Josh terdiam, mempertimbangkan kemungkinan itu untuk pertama kalinya.

"Gue nggak tau, Ron. Tapi kalau bener, itu artinya kita udah jadi bagian dari eksperimen mereka tanpa kita sadari."

"Kita harus lebih hati-hati mulai sekarang," lanjut Veron.

"Jangan share hal-hal pribadi sembarangan, apalagi soal kekuatan kita. Kita nggak tau siapa lagi yang mungkin lagi ngawasin."

"Oke,"

jawab Josh pelan, meski di dalam hatinya ia bertanya-tanya apakah kewaspadaan itu sudah datang terlambat. Di kamar sebelah rumahnya yang gelap, tanpa Josh sadari, sosok kecil yang sudah lama menjadi bagian dari hidupnya kembali muncul di sudut ruangan diam, mengamati, seolah mencoba menyampaikan sesuatu yang tidak bisa diungkapkan lewat kata-kata sebelum akhirnya luruh kembali ke dalam bayangan begitu Josh mengakhiri panggilan teleponnya.

Josh meletakkan ponselnya di meja, menatap langit-langit kamarnya yang gelap, mencoba menenangkan pikirannya yang dipenuhi terlalu banyak pertanyaan sekaligus. Antara PT Wirawan Biotek, kekuatannya yang lepas kendali, dan bayang-bayang yang selalu muncul di sudut matanya ia tidak tahu lagi harus mulai dari mana untuk mencari jawaban. Malam itu, Josh tidur dengan gelisah, bermimpi tentang lorong-lorong gelap yang tidak pernah berujung, dan suara langkah kaki kecil yang selalu terdengar beberapa meter di belakangnya, tidak pernah cukup dekat untuk terlihat jelas, namun juga tidak pernah cukup jauh untuk benar-benar hilang.

...****************...

1
CRZ CREW
Good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!