Di kehidupan pertamanya, Li Yuexin adalah "Mutiara Kekaisaran Shenghua" yang lembut, tulus, dan terlalu mudah percaya. Ia menyerahkan harta, kedudukan, dan cintanya kepada Gu Wenhao, pria yang ia kira adalah belahan jiwanya. Namun, balasan atas kesetiaannya adalah racun diam-diam, pengkhianatan oleh sahabat masa kecil, dan kematian menyedihkan di tangan suami dan anak angkatnya sendiri.
Ketika matanya terbuka kembali, Yuexin menemukan dirinya kembali ke masa lalu, tepat sebelum jebakan itu tertutup rapat.
Kali ini, Mutiara itu tidak lagi bersinar karena pantulan cahaya orang lain. Ia telah berubah menjadi es yang tajam dan perhitungan yang dingin.
"Belas kasih diberikan kepada yang pantas. Keadilan diberikan kepada yang bersalah. Dan kali ini... aku hanya akan duduk santai, sambil menikmati pertunjukan kehancuran kalian."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anaya Barnes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10
Tiga hari telah berlalu sejak pemeriksaan kamar,
Suasana di istana tampak tenang di permukaan, namun arus bawahnya semakin deras. Putri Li Yuexin menghabiskan waktu itu dengan mempelajari daftar nama penjaga dan kasim yang dikumpulkannya.
Dari sana, dia mendeteksi pola tentang Kapten Zhao, pemimpin penjaga yang memeriksa kamarnya, sering terlihat menerima amplop tebal dari seorang pelayan berpakaian hijau tua yaitu pelayan pribadi Selir Rong.
Ini adalah celah,
Putri Li Yuexin tidak langsung menyerang Kapten Zhao. Itu akan terlalu mencolok. Sebaliknya, dia memilih untuk menggunakan Kapten Zhao sebagai saluran disinformasi. Jika Marquis Han dan Selir Rong mencari "tikus", Putri Li Yuexin akan dengan senang hati akan memberi mereka tikus palsu.
Sore itu,
Putri Li Yuexin mengundang Gu Wenhao ke Taman Bambu. Bukan karena dia merindukannya, tapi karena dia tahu Gu Wenhao sedang putus asa. Setelah insiden hujan dan penolakan lamaran Han Zixuan yang dibatalkan secara halus oleh Permaisuri, posisi Gu Wenhao sangat rapuh. Dia butuh penyelarasan dan dia juga butuh keyakinan bahwa Putri Li Yuexin masih bisa dimanipulasi.
Gu Wenhao datang dengan wajah lelah, namun matanya berbinar saat melihat Putri Li Yuexin duduk sendirian di paviliun, menyajikan teh.
"Tuan Putri," sapa Gu Wenhao, membungkuk hormat dengan berlebihan. "Hamba tidak menyangka Tuan Putri memanggil hamba."
"Duduklah, Gu Wenhao," kata Putri Li Yuexin lembut, menunjuk kursi di hadapannya. "Aku ingin meminta maaf padamu."
Gu Wenhao terkejut. "Meminta... maaf?"
"Ya," Putri Li Yuexin menghela napas, menatap cawan tehnya dengan ekspresi sedih. "Perlakuanku beberapa hari terakhir mungkin terlalu keras. Aku sedang stres karena urusan keluarga. Kakekku marah besar pada Paman Mingyuan, dan aku terjepit di tengah-tengahnya. Aku melampiaskan kemarahanku padamu. Itu pasti tidak adil."
Itu adalah kebohongan yang indah. Kakek Shen Guotai tidak pernah marah pada Paman Shen Mingyuan. Tapi Gu Wenhao tidak tahu itu. Dia hanya mendengar apa yang ingin dia dengar, Putri Li Yuexin memang lemah dan merasa bersalah serta dia pikir Putri Li Yuexin masih bisa dikuasai.
Wajah Gu Wenhao berubah menjadi penuh simpati palsu. "Oh, Tuan Putri... hamba mengerti. Beban keluarga Kekaisaran memang sangat berat dan hamba tidak pernah menyalahkan Tuan Putri akan hal tersebut."
Putri Li Yuexin tersenyum tipis, lalu mendorong sebuah cawan teh kecil ke arah Gu Wenhao. "Minumlah. Ini teh osmanthus madu, ini resep khusus ibuku. Katanya bisa menenangkan pikiran yang gelisah."
Gu Wenhao ragu sejenak, instingnya berteriak bahwa ada sesuatu yang salah. Tapi ego dan ambisinya lebih keras. Dia ingin membuktikan bahwa dia masih memiliki pengaruh atas Putri. Dia mengambil cawan itu dan meminumnya dalam satu tegukan.
Rasanya manis tapi terlalu manis.
"Aku punya sesuatu untukmu," kata Putri Li Yuexin tiba-tiba, suaranya rendah. Dia mengeluarkan sebuah gulungan kertas kecil dari lengan bajunya.
Gu Wenhao menerimanya dengan tangan gemetar, dan dia membukanya. Isinya adalah salinan jadwal patroli penjaga di Gerbang Barat, jalur yang sama digunakan penyusup malam itu. Di sampingnya, ada catatan kecil "Kapten Zhao bisa dibeli. Harga: 50 tael emas."
Mata Gu Wenhao melebar. "Ini... dari mana Tuan Putri mendapatkan ini?"
"Dari sumber tepercaya," jawab Putri Li Yuexin ambigu. "Aku tahu kau sedang dalam kesulitan, Gu Wenhao. Ayah Lin Mei terus menekanmu untuk uang, Marquis Han juga tampaknya tidak puas dengan progresmu dan Aku hanya ingin membantu. Jika kau bisa menyelipkan dokumen palsu ke arsip Kementerian Pekerjaan Umum melalui jalur ini... masalah keuanganmu akan selesai. Dan posisimu sebagai calon menantu Keluarga Shen akan kembali kuat."
Ini adalah jebakan mematikan.
Putri Li Yuexin sengaja memberikan informasi palsu tentang Kapten Zhao. Faktanya, Kapten Zhao sudah di bawah pengawasan diam-diam oleh Kasim Zhou. Jika Gu Wenhao mencoba menyuap Kapten Zhao atau menggunakan jalurnya, Kapten Zhao akan melaporkan semuanya kepada Kaisar atau Shen Guotai.
Selain itu, dokumen yang diminta Putri Li Yuexin untuk "diselipkan" sebenarnya adalah dokumen yang sudah ditandai dengan tinta tak terlihat yang hanya bereaksi terhadap cahaya matahari tertentu. Jika dokumen itu masuk ke arsip resmi, jejaknya akan mudah dilacak kembali ke Gu Wenhao.
Gu Wenhao menelan ludah, sebenarnya tawaran ini terlalu menggoda untuk ditolak. Dia melihat Putri Li Yuexin sebagai sekutu yang akhirnya sadar akan "kebutuhan praktis" pria.
"Tuan Putri... hamba tidak tahu harus berkata apa. Kebaikan Tuan Putri sungguh tak terhingga."
"Tidak perlu berterima kasih," kata Putri Li Yuexin dingin, meski senyumnya tetap hangat. "Anggap saja ini sebagai pertaruhan. Aku pertaruhan semua padamu, Gu Wenhao. Jangan buat aku rugi."
Kalimat terakhir itu diucapkan dengan penekanan yang membuat bulu kuduk Gu Wenhao berdiri. Ada ancaman terselubung di baliknya, tapi karena dia terlalu serakah untuk mendengarkannya.
"Hamba tidak akan mengecewakan Tuan Putri," janji Gu Wenhao, menyembunyikan gulungan itu di dalam bajunya.
Setelah Gu Wenhao pergi, Putri Li Yuexin segera memerintahkan Qingyu untuk membersihkan cawan teh yang digunakan Gu Wenhao.
"Nona," tanya Qingyu pelan. "Apakah teh itu...?"
"Tidak beracun," potong Putri Li Yuexin. "Tapi aku menambahkan sedikit akar valerian dosis tinggi. Itu akan membuatnya mengantuk dan kurang waspada malam nanti. Saat dia melakukan tindakan bodohnya, dia akan lambat bereaksi jika tertangkap."
Qingyu mengerjap. "Sungguh, Nona benar-benar memikirkan segalanya."
"Aku tidak membunuhnya, Qingyu," kata Putri Li Yuexin sambil menatap langit yang mulai gelap. "Aku hanya memberikannya tali, biar dia sendiri yang mengikat lehernya."
Malam itu,
Seperti yang diduga oleh Putri Li Yuexin, Gu Wenhao mencoba mendekati Kapten Zhao di pos jaga Gerbang Barat. Dia membawa kantong emas kecil.
Namun, sebelum dia sempat berbicara, lampu sorot menyala. Kakek Shen Guotai, didampingi oleh Kepala Penjaga Istana yang setia (bukan Zhao), muncul dari kegelapan.
"Gu Wenhao," suara Kakek Shen Guotai dingin seperti es. "Apa yang kau lakukan di sini pada jam malam? Dan apa isi kantong di tanganmu?"
Gu Wenhao membeku, wajahnya langsung pucat pasi. Dia menoleh ke arah kegelapan, mencari sosok Putri Li Yuexin, berharap ini adalah bagian dari rencana. Tapi sayangnya tidak ada siapa-siapa, yang ada hanya kegelapan dan tatapan menghakimi Perdana Menteri.
Di Istana Bulan Giok, Putri Li Yuexin mendengar laporan dari Kasim Zhou tentang penangkapan itu. Dia tidak tersenyum, dia hanya mengangguk.
"Jangan bertaruh," perintah Putri Li Yuexin pada Kasim Zhou. "Biarkan Kakekku menanyainya dan biarkan Gu Wenhao panik. Dalam kepanikan, dia akan menyebut nama Lin Mei. Dan dari Lin Mei, kita akan sampai pada Marquis Han."
Kasim Zhou tersenyum kagum. "Tuan Putri... kau benar-benar Phoenix yang bangkit."
Putri Li Yuexin menutup jendela kamarnya. Di luar, angin berhembus kencang, membawa daun-daun kering yang berguguran.
Satu bidak telah jatuh, tapi permainan baru saja memasuki babak tengah. Dan Selir Rong... dia belum menyadari bahwa rajanya sedang dalam bahaya.