⚠️ PERINGATAN
Cerita ini mengandung unsur Dark Romance & Visualisasi Horor.
Dipaksa menikah dengan pembunuh berdarah dingin demi menyelamatkan klan yang dibencinya.
Aiko Kurogawa hanya ingin hidup normal, jauh dari dunia kelam Yakuza yang mengalir di darah keluarganya.
Namun keinginan sang ayah yang sekarat memupuskan semua itu, ia dinikahkan paksa dengan Ren Tachibana, pemimpin muda Yakuza yang dingin, kejam, dan hidup hanya untuk membalas dendam.
Ren memperlakukannya sebagai aset, bukan istri. Sementara Aiko harus menyembunyikan satu rahasia besar yang bisa membuatnya dianggap gila. sejak lahir, ia dikutuk untuk bisa melihat arwah orang-orang mati.
Dan di sekeliling Ren, arwah-arwah itu tidak pernah berhenti berbisik.
Ketika bisikan para arwah mulai mengungkap rahasia kelam masa lalu.
Aiko dihadapkan pada pilihan.
bertahan diam demi keselamatannya, atau menggali lebih dalam dan mempertaruhkan nyawa demi kebenaran yang mengikat mereka berdua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 19
"Pamanku mengincar nyawamu di kampus kemarin karena dia takut kemampuan matamu bisa membongkar busuknya belasan tahun lalu," Ren mencondongkan tubuhnya sedikit, membuat jarak di antara mereka mengikis di dalam mobil. "Sekarang kau tahu rahasia terbesar klan Tachibana. Jika kau keluar dari gerbang rumahku, kau bukan hanya diincar oleh Kaito, tapi juga oleh klan lain yang ingin memanfaatkan informasi darimu Kau adalah titik lemah yang aku miliki saat ini."
"Aku bukan tawananmu lagi, Ren," ucap Aiko, mencoba menegakkan punggungnya dengan sisa keberaniannya. "Kita sepakat melakukan gencatan senjata. Aku memberikan apa yang kau cari, dan kau memberikan perlindungan."
Seringai tipis muncul di wajah Ren. "Tepat sekali. Tapi kau harus tahu perlindungan terbaik di dunia bawah adalah tetap berada di sisi pria yang akan melindungimu."
**
Mobil mereka melambat saat memasuki gerbang kediaman utama Tachibana. Namun, suasana di kediaman sore ini terasa berbeda. Beberapa mobil mewah milik para tetua klan tampak terparkir di halaman depan.
Daichi, yang mengemudikan mobil melirik spion tengah dengan wajah serius. "Bos, Kaito Tachibana sudah berada di dalam kediaman. Dia mengumpulkan beberapa tetua untuk mempertanyakan tindakanmu yang membawa Nyonya Muda keluar tanpa izin dewan."
Ren melepaskan sisa ketegangannya, memperbaiki letak kemeja hitamnya yang sedikit kusut. Matanya beralih menatap Aiko yang tampak kembali tegang.
"Pasang wajah angkuhmu, Aiko," ucap Ren rendah. "Duri di dalam rumah ini... mari kita cabut perlahan-lahan bersama."
Pintu mobil itu terbuka. Ren melangkah turun terlebih dahulu, membiarkan gerimis tipis Kyoto membasahi kemeja hitamnya yang kini tak lagi tertutup jas. Tanpa sepatah kata pun, ia berbalik dan mengulurkan telapak tangannya ke arah kabin mobil.
Aiko menatap telapak tangan itu sesaat. Ada keraguan yang melintas, namun mengingat peringatan Ren tentang situasi di dalam, ia memantapkan hati. Jemarinya mendarat di atas kulit tangan Ren. Genggaman Ren mengencang, menarik Aiko keluar dari mobil dengan satu gerakan.
Jas milik Ren masih tersampir di bahu Aiko, menyembunyikan noda darah di kimononya.
"Tetap di belakangku," bisik Ren rendah, sebelum menuntun Aiko melangkah menaiki tangga batu menuju selasar utama kediaman Tachibana.
Daichi berjalan dua langkah di belakang mereka, tangan kanannya siaga di balik saku mantel, mengawasi setiap sudut koridor. Beberapa pelayan dan pengawal berjas hitam yang berpapasan dengan mereka langsung membungkuk, dengan pancaran mata mereka yang dipenuhi ketegangan.
Srak.
Daichi mendorong pintu geser ruang pertemuan utama klan Tachibana.
Suasana di dalam ruangan itu langsung terasa mencekam, di ujung ruangan, duduk melingkar lima orang pria paruh baya, dan di posisi paling tengah, duduk seorang pria dengan setelan yukata abu-abu yang terlihat mewah.
Kaito Tachibana. Sang paman yang memiliki gurat wajah mirip dengan mendiang ayah Ren, namun dengan sorot mata yang penuh kelicikan dan ambisi.
"Kau akhirnya pulang, Keponakanku," Suara Kaito menggelegar tenang, memecah kesunyian ruangan sembari meletakkan cangkir tehnya ke atas meja kayu. Matanya beralih lambat ke arah Aiko yang berdiri di samping Ren, lalu menyipit tajam. "Dan kau membawa putri Kurogawa itu berkeliaran di luar tanpa izin dari dewan tetua. Apakah kau lupa aturan dasar klan kita setelah memakai lencana pemimpin, Ren?"
Ren tidak langsung menjawab. Ia menuntun Aiko untuk duduk di kursi kayu berukir di sudut ruangan, mencoba menjauhkannya dari jangkauan para tetua, setelah memastikan Aiko aman, Ren melangkah tenang menuju kursi kebesarannya di ujung meja.
Ren mendudukkan diri dengan gaya dominannya. menyandarkan punggungnya sembari bersedekap. Matanya menatap Kaito lurus-urus.
"Aku adalah pemimpin tertinggi Tachibana-gumi, Paman," ucap Ren dengan nada rendah. "Ke mana aku membawa istriku pergi, dan apa yang kulakukan di luar gerbang ini, bukan urusan dewan kolot seperti kalain."
Seorang tetua berambut putih langsung menggebrak meja. "Sombong sekali kau, Ren! Pernikahan politikmu dengan klan Kurogawa adalah kesepakatan bersyarat. Gadis itu adalah tawanan pengawas! Membawanya keluar tanpa pengawalan ketat dewan sama saja dengan membocorkan rahasia internal klan kita pada musuh!"
"Rahasia internal?" Ren terkekeh hambar, ia mencondongkan tubuhnya ke depan, bertumpu pada kedua lengannya di atas meja. "Atau kalian takut... ada rahasia busuk yang ikut terbawa keluar dari rumah ini?"
Mendengar kalimat itu, sudut mata Kaito bergerak samar. Kedutan kecil di rahangnya tidak luput dari pandangan mata Aiko yang mengawasi dari sudut ruangan. Dari tempat duduknya, Aiko bisa merasakan suasana ruangan yang perlahan berubah memuakkan. Hawa dingin ketakutan yang menguar dari tubuh Kaito mengonfirmasi kebenaran ucapan Harada di rumah teh tadi.
Klak.
Tanpa peringatan, Ren merogoh saku kemejanya dan melempar sebuah benda ke tengah meja kayu. Benda itu adalah sebuah cincin emas dengan ukiran lambang klan Harada, bernoda cairan merah yang masih agak basah.
Wajah Kaito memucat selama satu detik sebelum ia berhasil menguasai ekspresinya kembali.
"Klan Barat mencoba bermain api dengan menyentuh milikku di kampus kemarin," ucap Ren datar, matanya menatap tajam Kaito tanpa lepas. "Maka sore ini, aku baru saja membersihkan kediaman mereka hingga ke akarnya. Harada saat ini berada di ruang bawah tanahku, sedang belajar bagaimana cara berbicara dengan benar tanpa kuku di jemarinya."
Para tetua lainnya mulai saling berbisik panik, saling melempar pandangan cemas. Mereka tahu seberapa brutal metode interogasi Ren jika sudah menyangkut pengkhianatan.
Kaito perlahan berdiri, mencoba mempertahankan wibawanya meski batinnya terguncang hebat karena tahu Harada ditangkap hidup-hidup. "Jika kau menghancurkan klan Barat hanya karena masalah pribadi, kau bisa memicu perang wilayah, Ren! Dewan tidak akan mendukung tindakan gegabahmu!"
Ren ikut bangkit berdiri. Postur tubuhnya yang tinggi seketika menenggelamkan aura Kaito di dalam ruangan. Tangan kanannya bergerak ke balik pinggang kemeja hitamnya, menarik sebuah pistol hitam berlaras pendek, lalu meletakkannya di atas meja kayu dengan ketukan keras yang menggema di ruangan.
Klak.
"Aku tidak butuh dukungan dewan untuk mengeksekusi tikus yang mencoba mengusik rumahku, Paman," desis Ren. "Aku meletakkan ini di sini hanya sebagai pengingat... siapa pun yang mempertanyakan otoritas atau keberadaan istriku lagi, mereka yang akan bertukar tempat dengan Harada di bawah sana."
Ren beralih menatap Aiko, lalu mengisyaratkan istrinya itu untuk berdiri. "Pertemuan selesai."
Aiko mencengkeram erat pinggiran kursi kayunya sebelum bangkit berdiri, mengikuti langkah kaki Ren yang lebar, mereka keluar dari ruangan tanpa memedulikan protes para tetua yang tertahan.
Langkah kaki Ren menggema di sepanjang koridor kayu menuju paviliun pribadi mereka. Di belakangnya, Aiko setengah berlari kecil untuk mengimbangi langkah pria itu, sementara Daichi tetap tinggal di area depan untuk memastikan para tetua tidak berbuat nekat setelah pembubaran paksa tadi.
Begitu pintu geser kamar mereka ditutup rapat dan dikunci dari dalam oleh Ren, keheningan langsung menyergap.
Srak.
Jas hitam besar milik Ren yang sejak tadi menutupi bahu Aiko merosot jatuh ke atas lantai. Bersamaan dengan itu, kedua lutut Aiko mendadak lemas.
Sebelum tubuhnya menyentuh lantai, sepasang lengan menangkap pinggangnya dengan sigap.
Ren menahan tubuh Aiko, membimbing gadis itu untuk duduk di tepi tempat tidur miliknya. Pria itu berlutut dengan satu lutut di hadapan Aiko, matanya menyipit memperhatikan wajah istrinya yang pucat dengan keringat dingin yang membasahi pelipis.
"Tubuhmu gemetar," ucap Ren, tangan kanannya bergerak menyentuh dagu Aiko, memaksa gadis itu menatap lurus ke arah matanya. "Apa hawa di ruangan tadi mengganggumu?"
penulisannya rapi, enak dibaca, gak bertele-tele.
alurnya juga jelas dan bikin penasaran.
btw aku naksir sama ren. dia tipikal male lead yang aku suka wkwk
good job author 👌🫶
hana kan gak tau aiko itu nyonyah
jodoin aja, niar besok2 bisa double date bareng aiko-ren