NovelToon NovelToon
Gairah Sang Duda Mandul

Gairah Sang Duda Mandul

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / CEO / Mafia
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: By.DarkRose

Bagi Alice Gracellyn, hidup adalah tentang kerja keras dan utang budi. Ia dipaksa menjadi tulang punggung keluarga pamannya yang serakah, dengan dalih membalas jasa karena telah menampungnya sejak yatim piatu. Namun, Alice tidak pernah tahu bahwa paman yang ia hormati adalah dalang di balik kematian orang tuanya demi merebut harta, termasuk rumah yang saat ini mereka tinggali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By.DarkRose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bahagia Sang Mafia

Lorong rumah sakit swasta yang semula terasa sesak oleh aura kematian, mendadak berubah hening.

Elvano masih berlutut di depan Alice, menggenggam jemari wanita itu dengan cengkeraman yang tidak lagi menyakiti, melainkan mendekapnya seolah Alice adalah satu-satunya wanita yang tersisa di bumi.

Untuk beberapa saat, sang Bos mafia yang paling ditakuti di seantero ibu kota itu hanya diam membeku.

Otaknya yang biasa memproses strategi perang bisnis dan mengalahkan musuh dalam hitungan detik, mendadak menjadi diam total.

Kalimat Dokter Hendra berputar-putar di kepalanya bagai kaset rusak. Hanya Alice yang bisa melahirkan anakmu, Elvano.

Alice menatapnya dengan sisa-sisa air mata yang mengering di pipi, bingung melihat Elvano tiba-tiba kehilangan kata-kata.

Lalu, sebuah pemandangan langka yang belum pernah disaksikan oleh satu pun anggota klan Salvatore terjadi.

Perlahan, raut wajah kaku dan dingin di wajah tampan Elvano mengendur.

Sudut-sudut bibirnya tertarik ke atas, membentuk sebuah senyuman lebar, senyuman tulus yang begitu lepas dan dipenuhi oleh binar kebahagiaan yang nyaris terlihat mustahil dalam hidupnya.

Ia terkekeh rendah, suara baritonnya bergetar hebat oleh rasa lega luar biasa yang membuncah di dada.

"Kau tidak berbohong," bisik Elvano, suaranya serak namun terdengar begitu lembut.

"Anak ini... dia benar-benar darah dagingku. Kau membawa penerusku, Alice."

Tanpa menunggu jawaban dari Alice yang masih kebingungan, Elvano langsung bangkit dan menyusupkan kedua tangan besarnya ke balik punggung dan pinggang Alice.

Dengan satu hentakan pelan, ia membawa tubuh ringkih itu ke dalam pelukannya.

Sangat erat, hingga Alice bisa merasakan detak jantung Elvano yang berdegup kencang di balik kemeja hitamnya.

"Maafkan aku... maafkan aku karena telah meragukanmu, Alice." bisik Elvano berkali-kali di celah rambut ikal cokelat muda Alice, menghujani puncak kepala wanita itu dengan kecupan-kecupan dalam penuh pemujaan.

"Aku buta oleh ketakutanku sendiri. Demi Tuhan, aku bersumpah tidak akan pernah menatapmu dengan pandangan seperti tadi lagi. Kau aman bersamaku. Kau dan anak kita."

Alice terpaku di dalam dekapan hangat itu.

Rasa takut yang sempat melumpuhkannya perlahan menguap, digantikan oleh kebingungan yang luar biasa atas perubahan drastis pria di hadapannya.

Namun, pelukan Elvano terasa begitu kokoh, melindunginya dari dinginnya malam, membuat sisi lain di dalam dirinya kembali bergejolak, membisikkan bahwa di dalam sangkar emas milik Elvano, ia adalah ratunya.

Perubahan sikap Elvano tidak berhenti sampai di situ.

Begitu mereka kembali ke kamar rawat eksekutif VVIP untuk beristirahat sebelum pulang ke mansion esok pagi, kepribadian Elvano langsung berputar balik 180 derajat.

Sifat posesifnya yang semula penuh kegelapan dan mengancam, kini berubah menjadi komedi keposesifan seorang "suami siaga" yang luar biasa berlebihan dan tidak masuk akal.

Pagi harinya, saat fajar baru saja menyingsing, Alice berniat turun dari ranjang rumah sakit untuk melangkah ke kamar mandi.

Kakinya baru saja menyentuh lantai marmer yang dingin ketika sebuah suara bariton menggelegar dari arah sofa.

"Jangan bergerak satu inci pun, Alice!"

Alice tersentak kaget, menahan napasnya.

Elvano, yang rupanya tidak tidur semalaman suntuk demi menjaganya, langsung melompat berdiri.

Jasnya sudah dilepas, menyisakan kemeja yang lengannya digulung hingga siku.

Dengan langkah lebar yang tergesa-gesa, ia menghampiri ranjang dan langsung menyambar sepasang sandal tidur berbulu tebal yang telah disediakan.

Tanpa memedulikan harga dirinya sebagai pemimpin mafia tertinggi, Elvano berlutut di lantai, memegang pergelangan kaki Alice yang mungil dengan sangat hati-hati, lalu memakaikan sandal itu ke kaki Alice.

"Lantainya dingin. Dokter bilang janin di trimester pertama sangat rentan terhadap perubahan suhu," omel Elvano dengan rahang mengeras, seolah-olah lantai marmer itu adalah ladang ranjau yang siap meledak.

"Dan mau ke mana kau? Berjalan kaki? Tidak boleh. Biar aku yang menggendongmu."

"T-Tuan Elvano, saya hanya ingin ke kamar mandi untuk membasuh muka," protes Alice, wajahnya memerah karena malu.

"Jaraknya tidak sampai lima langkah dari kasur."

"Lima langkah adalah jarak yang terlalu jauh untuk seorang wanita hamil berwajah pucat," bantah Elvano.

Tanpa menerima penolakan, ia langsung mengangkat tubuh Alice ke dalam gendongannya, membawanya masuk ke kamar mandi, dan mendudukkannya di atas kloset yang tertutup dengan kehati-hatian yang luar biasa, seolah Alice terbuat dari kaca tipis yang bisa pecah jika terkena angin.

Sikap protektif Elvano mencapai puncaknya saat mereka tiba kembali di mansion Salvatore menjelang siang hari.

Kaiven, yang sudah menunggu di ruang tengah dengan tumpukan berkas, hanya bisa melongo dengan mulut terbuka lebar menyaksikan bosnya turun dari mobil sembari menggendong Alice yang menyembunyikan wajahnya karena malu di dada Elvano.

"El, kau tahu ada kursi roda di bagasi—"

"Diam, Kaiven. Kursi roda rumah sakit tidak memiliki bantalan yang cukup baik untuk tulang belakang Alice," potong Elvano tajam, melangkah melewati tangan kanannya begitu saja tanpa dosa.

Elvano mengumpulkan seluruh pelayan mansion, mulai dari Mbok Nem, Tari, hingga belasan koki dan kepala kebersihan, berbaris di aula utama.

Aura garangnya kembali keluar, namun kali ini topiknya benar-benar membuat Kaiven ingin membenturkan kepalanya ke dinding marmer.

"Dengar semuanya," suara Elvano menggema dingin, menatap tajam ke arah barisan pelayan.

"Mulai hari ini, menu makanan untuk Alice harus diubah total. Aku hanya ingin bahan-bahan organik bersertifikat internasional yang diterbangkan langsung dari perkebunan Swiss setiap dua hari sekali. Air minumnya harus memiliki kadar pH seimbang yang diuji oleh laboratorium pribadi kita setiap pagi."

Elvano berjalan mondar-mandir di depan mereka dengan tangan terlipat di belakang punggung, persis seperti jenderal yang sedang memberikan perintah perang.

"Dan untuk tim kebersihan..." Elvano menghentikan langkahnya, matanya menyipit berbahaya menatap kepala pelayan kebersihan.

"Kamar utama, balkon tanaman Alice, dan setiap koridor yang akan dilewati oleh Alice harus steril. Jika aku menemukan sebutir debu pun di atas nakas, atau jika ada sehelai daun kering yang membuat Alice tersandung di taman... aku tidak akan segan-segan memecat kalian semua dalam waktu satu detik dan memastikan kalian tidak akan pernah mendapatkan pekerjaan lagi di negara ini. Paham?!"

"P-Paham, Tuan Besar!" jawab para pelayan serempak dengan tubuh gemetar, ketakutan setengah mati pada standar higienitas baru Bos mereka.

Kaiven melangkah mendekat, memijat pelipisnya yang mulai berdenyut nyeri.

"El, demi Tuhan, kau bertingkah seolah-olah dia sedang mengandung seorang kaisar dari dinasti kuno. Dia hanya hamil empat minggu, bukan sedang terinfeksi virus mematikan."

Elvano menoleh, menatap Kaiven dengan pandangan yang begitu dingin hingga sang tangan kanan langsung bungkam.

"Dia memang sedang mengandung seorang kaisar, Kaiven. Dia mengandung pewaris tunggal Salvatore. Dan jika kau tidak bisa menghormati protokol keselamatan ibunya, aku akan memindahkanmu untuk menjaga gudang senjata di perbatasan Papua malam ini juga."

Kaiven mengangkat kedua tangannya, tanda menyerah kalah.

"Oke, oke. Hidup Sang Ratu."

Dari atas lantai dua, berdiri di dekat pagar pembatas, Alice memperhatikan seluruh keributan itu dengan seulas senyum tipis yang tak bisa ia bendung lagi.

Sifat protektif Elvano yang berlebihan ini memang sangat merepotkan, namun di balik itu semua, ada sebuah rasa aman yang tak tergoyahkan yang kini melingkupi hatinya.

Sang penculik kejam itu kini telah sepenuhnya bertekuk lutut di bawah kakinya, menjelma menjadi seorang pelindung yang siap menghancurkan dunia demi dirinya dan rahasia dua garis merah yang kini menjadi pengikat abadi takdir mereka.

1
Mia Camelia
sah🥰🥰🥰
Enz99
bagus
Qil Qilla
ayoo semangatt untuk up cerita inii sayanggg😍😍
Mia Camelia
tuh kan baru yakin tuh klo itu anak nya🤔
Mia Camelia
ehhm jujur aja sih 🤣🤣🤣
Mia Camelia
hamil kah ??😂😂😂
Mia Camelia
elvano udh serius banget nih🥰
Mia Camelia
ayolah el jangan jdi balok es mulu🤣🤣🤣kaku banget deh😂
Mia Camelia
elvano goood👍👍👍
Mia Camelia
ih jahat banget si paman albert, klo sampe elvano tau, langsung di ceburiin ke laut inimah🤣🤣🤣
Mia Camelia
lanjut thor🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!