NovelToon NovelToon
Cinta Lama, Dendam Baru

Cinta Lama, Dendam Baru

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cintapertama / CEO
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Cilia

Tujuh tahun lalu, Kirana Ayu Pradipta ditinggalkan tanpa penjelasan oleh kekasihnya, Raditya Alamsyah Wibowo. Kirana pergi tanpa tahu kebenaran, membangun hidup dan kariernya dari nol, tumbuh jadi perempuan tegar yang tak lagi percaya cinta. Tujuh tahun kemudian, mereka bertemu kembali. Bukan sebagai sepasang kekasih, tapi sebagai rival bisnis dalam tender proyek properti terbesar di Jakarta. Radit yang dingin berusaha merebut kembali hati Kirana, sementara Kirana harus memilih antara membalas dendam, melindungi perusahaannya, atau membuka hatinya lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

XXIV - Kerapuhan

Kirana tidak pergi ke kantor selama tiga hari setelah pertemuan dengan Radit di taman itu. Tiga hari ia mengurung diri di apartemennya, membiarkan Nadia dan tim kantornya menangani semua keputusan yang biasanya ia tangani sendiri.

**Hari pertama**, ia menangis — menangis di kamar mandinya, di atas kasurnya, di sofa yang terasa terlalu besar untuk satu orang. Ia menangis sambil membaca ulang pesan-pesan lama dari Radit yang dulu ia anggap tulus, menyadari setiap kata di dalamnya mungkin cuma kebohongan yang disamarkan dengan kata-kata manisl. Ia menghitung berapa kali Radit bilang "aku sayang kamu” di sepanjang pesan lama itu, lalu berhenti menghitung begitu angkanya terasa terlalu menyakitkan untuk terus diingat.

Hari kedua, ia marah. Marah pada Radit, marah pada Hartono Wibowo, marah pada dirinya sendiri karena begitu mudah dimanipulasi.

BRAK.

Kirana sedang mengetik pesan penuh amarah untuk Radit, menghapusnya, mengetik lagi, menghapus lagi, sampai tubuhnya terlalu lelah untuk terus marah dan ia jatuh tertidur di lantai kamarnya, terlalu lelah bahkan untuk berjalan menuju kasurnya yang berada hanya berjarak beberapa langkah dari sana.

Hari ketiga, ia cuma duduk diam, menatap kosong ke arah jendela apartemennya, ke arah jalanan Jakarta yang begitu indah, mencoba memahami kehidupan yang selama ini ia jalani sampai saat ini, ternyata sebagian besarnya adalah hasil rencana kejam seorang pengusaha yang tidak pernah benar-benar ia kenal.

TRRT. TRRT.

Ponselnya bergetar berkali-kali di atas meja — panggilan dari Nadia, pesan dari anggota tim, dan beberapa panggilan dari nomor yang tidak ia kenal. Ia membiarkan semuanya berdering sampai layar itu mati dengan sendirinya, Kirana masih belum siap untuk bicara dengan siapa pun.

Tapi, ada satu pesan dari Nadia berhasil menembus keheningan yang ia bangun.

Kir, gua tau lu lagi ngerasa berat banget sekarang. Gua nggak akan maksa lu buat cerita sama gua. Tapi tolong kabarin gua kalau lu masih hidup, oke? Sekali aja.

Kirana menatap pesan itu lama, jarinya mengambang di atas layar, tapi ia tidak sanggup untuk mengetik balasan apa pun. Ia meletakkan ponsel itu menghadap ke bawah, membiarkan rasa bersalah menumpuk bersama semua perasaan yang lain.

TOK. TOK. TOK.

Ketukan di pintu apartemennya datang di sore hari ketiga. Lewat layar interkom, Kirana melihat Dimas berdiri di depan pintu dengan tas belanja penuh makanan, ekspresinya penuh dengan kekhawatiran hingga membuat hatinya yang sudah rapuh terasa makin hancur.

Ia biarkan Dimas masuk tanpa banyak pertanyaan, Kirana terlalu lelah untuk menolak, ia hanya membukakan pintu untuk Dimas dengan gerakan yang lambat.

"Lu pasti belum makan tiga hari," Dimas berkata, mulai menyiapkan makanan di dapur dengan tangan yang terampil, seolah ini bukan kali pertama ia membantu Kirana melewati momen sulit. Suara panci beradu dengan kompor mengisi keheningan apartemen yang sejak tiga hari lalu cuma dipenuhi oleh suara napas Kirana sendiri.

"Gua nggak nafsu makan," Kirana menjawab, sambil duduk di meja makan dengan wajah yang pucat.

"Udah, sekarang lu pokoknya harus makan," Dimas berkata, suaranya lembut tapi tegas, sembari menyajikan mangkuk sup hangat di depannya. "Lu butuh tenaga sekarang."

Kirana menyendokkan sup itu ke mulutnya karena Dimas memintanya.

"Gua udah tau semua yang Radit certain ke lu," Dimas berkata begitu Kirana selesai makan. "Gua udah curiga kalau perpisahan kalian dulu bukan sekadar putus biasa.."

Kirana menatapnya, matanya masih kosong, belum sepenuhnya kembali dari kegelapan yang ia selami selama tiga hari terakhir. "Kenapa lu kasih tau gua soal dokumen itu tiba-tiba banget? Lu tau nggak, seberapa sakitnya itu?" Kirana mengulang pertanyaan itu, pertanyaan yang sama ketika mereka bertemu di Simetri Coffee beberapa saat yang lalu.

"Gua tau," Dimas menjawab, suaranya penuh dengan penyesalan. "Gua nyimpen itu dua tahun, Kir, dan nggak ada satu hari pun gua nggak nyesel. Tapi gua lebih nyesel kalau terus biarin lu nggak tau, biarin lu nyerah gitu aja sama Radit yang selalu ngebohongin lu."

"Radit nggak —" Kirana memulai, tapi Dimas memotongnya cepat.

"Dia bohongin lu bertahun-tahun, Kir," Dimas berkata, suaranya makin tajam. "Nggak peduli apa alasannya, fakta bahwa dia milih untuk tetap diam soal keterlibatan ayahnya dalam kehancuran bisnis ayah lu. Milih biarin lu hidup dalam ketidaktahuan. Itu belum cukup buat bikin lu sadar dia nggak ngerti seberapa serius yang udah ayahnya lakuin?"

“Lu salah paham,” Jawab Kirana ketus. “Dia baru tau tentang kejahatan ayahnya baru-baru ini. Dulu, dia kira, dengan dia mutusin hubungan dengan gua, dia bisa nyelamatin keluarga gua.”

Kirana merasa napas di dadanya semakin sesak, tidak sanggup untuk lanjut membantah perkataan Dimas.

"Lu berhak dapet keadilan, Kir," Dimas melanjutkan, suaranya kini lebih lembut. Ia tampak tidak mau setuju dengan bantahan yang baru saja Kirana lontarkan. "Bukan cuma buat diri lu, tapi juga buat ayah lu. Hartono Wibowo harus tanggung jawab atas apa yang udah dia lakuin. Dan sekarang gua udah punya bukti buat ngehancurin Kerajaan mereka.”

"Gua?" Kirana bertanya, matanya akhirnya fokus kembali pada Dimas.

"Gua dan beberapa orang yang peduli sama lu," Dimas menjawab, duduk lebih dekat. "Orang-orang yang percaya kalau kebenaran harus keluar, kalau Hartono nggak bisa terus jalan bebas di luar sana tanpa Nerima konsekuensi. Banyak orang yang siap bantu bawa ini ke media, ke polisi kalau perlu. Lu nggak perlu sendirian ngadepin ini."

"Media mana?" Kirana bertanya, mencoba berpikir jernih di tengah kekacauan emosinya. "Maksud lu gimana, sih? Lu nggak pernah cerita soal ini sebelumnya, Dim."

"Gua belum berani cerita detailnya," Dimas menjawab cepat. "Sekarang yang penting lu udah tau, kalau lu nggak sendirian. Semuanya udah gua urus."

Kirana merasakan sesuatu bergerak dalam dirinya — harapan dan kemarahan, rasa di mana ia harus melakukan sesuatu yang nyata daripada cuma duduk diam membiarkan dirinya semakin hancur.

"Seberapa deket kalian sama semua ini?" Kirana bertanya, suaranya masih lemah tapi ada kepercayaan baru mulai tumbuh.

"Deket banget," Dimas menjawab, menggenggam tangannya lembut. "Kami udah punya koneksi ke media besar, udah punya pengacara yang siap belain lu, udah punya strategi buat mastiin bukti-bukti itu nggak bisa disanggah. Sekarang, kami tinggal nunggu tanda dari lu. Tinggal nunggu lu siap buat bangkit dan lawan balik."

Kirana memandang wajah Dimas, mencoba mencari ketulusan di matanya — ketulusan yang, ia yakini, membedakannya dari Radit yang selama ini cuma sembunyi demi lindungin kenyamanannya sendiri. Tapi ada sesuatu dalam caranya bicara yang sekilas terasa aneh — terlalu rapi, terlalu terorganisir untuk seseorang yang katanya baru saja "curiga". Tapi Kirana menepis pikiran itu. Ini Dimas. Sahabat yang selama lima tahun terakhir tidak pernah sekali pun mengkhianatinya.

"Seberapa yakin lu ini bakal berhasil?" Kirana bertanya, keraguan masih terdengar di suaranya.

"Seratus persen," Dimas menjawab, nadanya begitu yakin. "Hartono Wibowo udah terlalu percaya diri sama rencana-rencana busuknya. Dia nggak pernah nyangka ada orang kayak gua yang udah nyimpen bukti ini, nunggu saat yang tepat untuk ngejatuhin ddia. Dan sekarang, adalah saat itu, Kir, udah tiba. Lu nggak bisa terus sembunyi di balik ketakutan lu sendiri."

"Gua... gua butuh waktu buat mikir," Kirana berkata pelan, meski suaranya sudah jauh lebih kuat dari sebelumnya.

"Gua ngerti," Dimas menjawab, menyisir rambut Kirana lembut dengan jemarinya. "Tapi jangan kelamaan, ya? Setiap hari yang lu lewatin, ngasih Hartono kesempatan lebih lama buat nyembunyiin jejaknya, kesempatan lebih lama buat ngerencanain hal buruk berikutnya."

Kirana terdiam, merasakan bobot tanggung jawab itu mulai menekan dadanya, tapi kali ini bersama sesuatu yang lebih kuat — semangat untuk akhirnya bertindak dan berhenti menjadi korban pasif dari rencana orang lain.

Ketika Dimas akhirnya pulang malam itu, ia meninggalkan makanan lebih di dapur dan nomor telepon seseorang yang katanya “pengacara terbaik” untuk kasus seperti ini, Kirana duduk di ranjangnya dengan perasaan campur aduk, ia hampir menyetujui rencana Dimas untuk membongkar semuanya ke publik.

Tapi, ada satu keraguan yang menahannya.

Apakah ia benar-benar siap menjalani konsekuensi dari tindakan yang akan mengubah segalanya, bukan cuma untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk Radit, untuk ibunya, untuk ratusan orang yang menggantungkan hidup mereka pada Wibowo Group.

Dan entah kenapa, di sela-sela keraguan itu, wajah Dimas yang begitu meyakinkan terus muncul Kembali.

Tapi di tengah keraguan itu, ada satu hal yang mulai menguat.

Kemarahan yang ia rasakan... Duka itu kini sudah berubah jadi tekad.

Dan semangat di dalam dirinya muncul untuk akhirnya berhenti membiarkan orang lain menentukan nasibnya sendiri.

1
Dian Meilani
bagus kk , pnasaran alurnya gimana
m.marsela
kalau masih sayang, kenapa melepaskan sih duit, kepo banget sama alasannya ninggalin kirana
Ade Chubi
Radit hebat 👍
Ade Chubi
selalu nyerang pihak perempuan nya ,kalo menyerang Radit , Valerie tau akan konsekuensinya 😂😂
Cilia: Radit punya kuasa ka😂
total 1 replies
m.marsela
padahal ada orang baru yang siap untuk selalu ada
tapi orang yang pernah memberi luka justru masih selalu memenangkan ruang di hati.
Cilia: Terlsdang masa lalu selalu menang ka… huhu
total 3 replies
Raudhatul Zannah
buat penasaran kak ceritanya, semangat ya kak
Ery Sithi Badriyyah
seru bgt ceritanya
Ery Sithi Badriyyah
seru ceritanya lanjut yuk
white star ⭐
bikin ketagihan membacanya
mary dice
Nah gitu dong Kirana 🔥🔥 ditunggu gebrakan-gebrakanya melawan m
para musuh 💪💪
Arni Arlinawati pratiwi
semangat anak ku sayang..
helena
lanjut thoor
m.marsela
Fix lanjut baca, penasaran banget
Putri Ayu/PqxxyZ
Sangat merekomendasi ceritanya... Yang belum baca wajib baca sih ini
Cilia
Penjelasannya bisa dibaca di bab-bab selanjutnya! Makin seru loh😆
Putri Ayu/PqxxyZ
terjadi salah paham ya...tapi kenapaa gak dijelasin sih malah ilang 😊
Putri Ayu/PqxxyZ
yuk bisa yuk cari cowok selain Raditya...💪💪 🤭
Cilia
Terimakasih atas dukungannya kak❤️
Raudhatul Zannah
semangat kak
Wawan
Satu iklan dan mawar buat mu Thor 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!