Aryo Pradana adalah seorang pengusaha sukses, namun sayang berada di puncak pencapaian dengan bergelimang harta tak lantas membuatnya jadi suami bersyukur. Ia memilih mengkhianati Sekar—istri setianya yang berasal dari garis keturunan dukun terkuat di sebuah desa terpencil asal Banyuwangi.
Demi ambisi dan gairah, Aryo menikah siri dengan Maya, gadis kota, muda, namun ambisius. Alih-alih meratap dan menangisi nasibnya, Sekar yang mengetahui pengkhianatan ini justru memilih mundur dengan keheningan yang mematikan.
Ketika Maya mulai mengandung anak Aryo dan menuntut posisi sebagai istri sah satu-satunya, teror gaib yang legendaris, Santet Pring Sedapur, mulai dikirimkan.
Di balik keputusasaan Aryo untuk menyelamatkan istri mudanya, ia harus berhadapan dengan kenyataan bahwa satu-satunya cara menghentikan teror ini adalah menyerahkan kembali jiwanya pada Sekar—atau mati bersama seluruh keturunannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 - Memutus Jangkar
Tepat pukul satu dini hari, hujan yang mengguyur Jakarta kian menderu, menghantam atap seng tua dengan irama yang memekakkan telinga.
"Siapkan mobil, Pak Aryo. Ada yang harus aku lakukan terlebih dahulu. Jika kita pergi begitu saja meninggalkan Maya, sama saja dengan membiarkannya mati perlahan."
Sang detektif merogoh tas kulit buayanya, mengeluarkan empat buah pasak kayu kecil berwarna hitam legam yang permukaannya dipenuhi ukiran rajah kuno yang rumit.
Itu adalah kayu johar jantan yang diambil dari pelataran petilasan wingit di Jawa Tengah, kayu yang memiliki densitas energi penolak bala yang sangat tinggi.
Danu berjalan ke empat sudut kamar, lalu dengan menggunakan ujung botol kuningan berat miliknya, ia menghantam pasak-pasak itu masuk ke dalam sela-sela ubin lantai.
Tok! Tok! Tok!
Setiap kali pasak itu tertanam, terdengar suara desisan halus, seolah-olah kayu tersebut sedang membakar sesuatu yang tak kasat mata di dalam tanah. Setelah pasak keempat tertanam di sudut dekat pintu, hawa anyir busuk dan belerang yang mengurung kamar tersebut mendadak sedikit mereda. Lenguhan kaku dari tenggorokan Maya pun perlahan melandai menjadi helaan napas yang putus-putuh.
"Ini benteng gaib sementara," Danu melepas sarung tangan lateksnya yang mulai menipis karena hawa panas. "Benteng ini hanya akan mengurung energi Pring Sedapur di dalam tubuh Maya agar tidak meledak keluar dan menghancurkan raganya selama kita pergi. Kita punya waktu tepat dua jam sebelum pasak-pasak ini pecah oleh hantaman energi. Bergerak sekarang, Pak Aryo. Jangan buang waktu lagi."
Aryo bangkit dengan lutut yang gemetar. Ia menatap istri mudanya sekali lagi, membisikkan kata maaf yang lirih dan tak bermakna, sebelum akhirnya melangkah mengikuti Danu menuju pintu depan.
Jalanan protokol Jakarta di tengah malam yang diguyur hujan tampak seperti aliran sungai hitam yang sepi. SUV sewaan yang dikemudikan Danu melaju kencang membelah genangan air, menuju kawasan segitiga emas Sudirman.
Di dalam kabin mobil, keheningan terasa begitu mengintimidasi. Aryo mencengkeram kepalanya kuat-kuat, tubuhnya meringkuk seperti janin. Pria itu hampir benar-benar kehinkangan kewarasannya.
Klik... klik...
"Mas Danu, jika kita berhasil menghancurkan kotak jati itu ... apakah bisnis saya bisa kembali seperti dulu? Proyek-proyek saya ... itu adalah hidup saya. Semua modal dan reputasi saya ada di sana."
Danu terkekeh kecil, sebuah tawa kering yang membuat Aryo merinding.
"Anda masih memikirkan bisnis dan lembaran saham di saat rahim istri sendiri sedang sejarah?"
Danu memalingkan wajahnya, menatap Aryo dengan pandangan yang sedingin es.
"Apa Anda masih belum paham, Pak? Ketika Anda menggunakan tanah sajen dari bawah rumpun bambu keramat Ki Demang tiga belas tahun lalu, Anda tidak sedang meminjam modal. Anda sedang menjaminkan eksistensi hidupmu. Menara beton yang Anda bangun di Sudirman itu berdiri di atas 'fondasi gaib' yang disewa dari Alas Purwo. Begitu Anda mencampakkan Sekar, pemilik sah tanah itu mencabut izinnya."
"Saya ... saya khilaf, Mas ...," bisik Aryo, air matanya kembali menetes.
"Khilaf itu satu kali, Pak. Kalau sampai menikah siri dan menelantarkan istri tua yang sudah memberikan segalanya, itu namanya pilihan sadar yang bodoh," timpal Danu tanpa ampun. "Sekarang, nikmati konsekuensi dari pilihanmu."
Gedung menara perkebunan dan properti milik Aryo di kawasan Sudirman berdiri megah namun tampak mati di tengah kegelapan malam.
Gedung kantor pusat ini hanya dijaga oleh dua orang petugas keamanan di lobi depan.
Aryo dan Danu melangkah masuk melewati pintu kaca berputar. Dua petugas keamanan yang mengenakan seragam biru langsung berdiri tegak, terkejut melihat kedatangan sang pemilik perusahaan di jam yang tidak wajar.
"Selamat malam, Pak Aryo," sapa salah satu petugas dengan ragu, matanya sempat melirik pakaian Danu yang tampak asing dengan mantel panjang cokelatnya.
"Saya ada dokumen penting yang tertinggal di lantai paling atas. Jangan ada yang naik atau mengganggu saya dalam satu jam ke depan," ujar Aryo dengan nada dingin yang dipaksakan, mencoba mempertahankan wibawa eksekutifnya yang sebenarnya sudah runtuh.
"Baik, Pak. Silakan," petugas itu menekan tombol lift khusus eksekutif untuk mereka.
Begitu pintu lift tertutup dan bergerak naik menuju lantai 30, Danu langsung mengeluarkan alat EMF Meter-nya. Indikator digital pada gawai tersebut mulai merayap naik seiring dengan bertambahnya ketinggian mereka.
"Bahkan di gedung modern ber-AC penuh seperti ini pun, getaran energinya tetap terasa pekat," gumam Danu, menempelkan telapak tangannya pada dinding lift yang terbuat dari baja antikarat. "Kutukannya sudah meresap ke dalam struktur bangunan ini. Sekar benar-benar menenun kematianmu dengan sangat rapi, Pak Aryo."
Ting.
Pintu lift terbuka, menampilkan lorong lantai eksekutif yang sunyi dan gelap. Cahaya lampu darurat berwarna hijau memancar samar, memberikan kesan angker pada deretan kubikel kerja yang kosong.
Aryo melangkah cepat memimpin jalan menuju ruang kerja pribadinya yang terletak di ujung lorong. Ruangan itu sangat luas, dengan dinding kaca besar yang langsung menghadap ke arah lanskap gedung-gedung pencakar langit Jakarta yang benderang oleh lampu kota.
Di pojok ruangan, di balik sebuah lukisan abstrak besar, terdapat sebuah brankas besi setinggi dada orang dewasa. Dengan tangan yang gemetar hebat, Aryo memutar kombinasi angka kode brankas tersebut.
Klik ... klik ... klik ... sreeet.
Pintu brankas tebal itu terbuka. Di dalam rak paling bawah, di antara tumpukan sertifikat tanah bernilai miliaran rupiah dan batangan emas, terletak sebuah kotak kayu jati kecil yang permukaannya tampak kusam dan dipenuhi lapisan debu tipis.
Kotak itu memancarkan aroma yang sangat kontras dengan wewangian ruangan kantor: bau tanah basah setelah hujan di pedalaman desa.
"Ini kotaknya, Mas Danu," ucap Aryo, mengangkat kotak itu dengan kedua tangannya seolah sedang memegang bom waktu yang siap meledak.
Danu mendekat, memakai sarung tangan lateks hitam barunya. "Letakkan di atas meja kaca itu."
Aryo menuruti perintah tersebut. Danu membuka tas kulitnya, mengeluarkan sebuah pisau taktis kecil yang bilahnya telah diolesi minyak mistis.
Dengan menggunakan ujung pisau, Danu mencongkel paksa gembok kuningan kuno yang mengunci kotak jati tersebut hingga patah.
Krak!
Begitu tutup kotak itu terbuka, sebuah fenomena ganjil langsung terjadi di dalam ruangan kantor ber-AC tersebut. Angin dingin yang sangat kencang mendadak berembus dari arah dalam kotak, menerbangkan kertas-kertas di atas meja kerja Aryo hingga berserakan di lantai.
Di dalam kotak itu, terbaring sepasang cincin kuningan kuno yang telah menghitam, dan selembar kain mori hitam yang dilipat rapi.
Danu menggunakan pisaunya untuk mengangkat kain mori hitam tersebut. Ketika kain itu terbentang, tampak untaian aksara Jawa kuno yang ditulis dengan warna merah kecokelatan yang kusam—darah ayam cemani yang telah mengering selama belas tahun.
Namun, perhatian Danu langsung tertuju pada bagian tengah kain mori tersebut. Di sana, goresan darah itu membentuk gambar sebuah rumpun bambu kecil dengan satu batang utama yang tampak patah di tengahnya.
"Ini bukan sekadar jimat penglaris," bisik Danu, matanya menyipit tajam meneliti garis-garis rajah tersebut. "Ini adalah peta kutukan. Rupanya Ki Demang sudah mengantisipasi pengkhianatanmu sejak awal, Pak Aryo. Kain mori ini adalah 'salinan jiwa' dari sumpah yang Anda ucapkan."
Tiba-tiba, dari arah luar dinding kaca besar yang menghadap ke kota Jakarta, terdengar suara hantaman keras yang membuat kaca tebal itu bergetar hebat.
Brakkk!
Aryo menjerit ketakutan, langsung tiarap di atas lantai ubin karpet. Ketika ia memberanikan diri untuk mendongak, matanya membelalak ngeri. Di balik kaca lantai 30 itu, di tengah hujan lebat dan kegelapan malam, tidak ada pemandangan lampu kota. Yang ada hanyalah hamparan ribuan batang bambu hitam raksasa yang tumbuh vertikal menembus langit, bergoyang kaku mengikuti embusan angin badai.
Suara gesekan daun-daun bambu yang kaku terdengar menembus dinding kedap suara gedung kantor—sreeek ... sreeek ... sreeek ... seolah gedung mewah itu telah dipindahkan secara gaib ke tengah-tengah jantung Alas Purwo.
Di balik rimbunnya daun bambu hitam di luar kaca, sesosok wanita berkonde besar dengan kebaya beludru hitam tampak berdiri diam melayang di udara.
Wajahnya yang rata tanpa mata dan mulut menempel tepat di permukaan kaca, menatap lurus ke arah Aryo yang sedang merangkak ketakutan di bawah meja.
"Sekar ...!!! Ampun, Sekar ...!!!" jerit Aryo histeris, menyembunyikan wajahnya di antara kedua tangannya.
Danu tidak bergeming. Ia langsung meraih botol berisi sampel tanah merah Banyuwangi yang dibawanya dari tas, lalu menumpahkan seluruh isi tanah keramat itu di atas kain mori hitam di meja kaca.
"Dengan tanah asalmu, kembalilah pada hukumnya!" seru Danu dengan suara bariton yang menggelegar, memotong distorsi suara gaib di ruangan itu. Ia memantik pemantik kuningan tuanya, lalu melemparkan api menyala itu tepat ke atas tumpukan tanah dan kain mori hitam yang telah disiram minyak atsiri rahasia.
Blasss!
Api biru keunguan langsung berkobar hebat di atas meja kaca, membakar kain mori hitam itu dengan cepat. Suara pekikan melengking tinggi yang sangat menyayat hati terdengar bergema dari arah luar kaca luar, bersamaan dengan retaknya permukaan kaca tebal lantai empat puluh dua tersebut.
Pranggg!!!
Kaca besar itu pecah berkeping-keping, namun bukan angin badai Jakarta yang masuk, melainkan gelombang hawa dingin yang masif yang langsung memadamkan kobaran api di atas meja, menyisakan abu hitam dari kain mori yang telah hancur total.
Seketika itu juga, pemandangan hutan bambu hitam di luar jendela lenyap, kembali menampilkan kerlip lampu kota Jakarta di bawah guyuran hujan. Sosok wanita rata berkonde itu pun menghilang tanpa bekas.
Danu mengatur napasnya yang sedikit memburu, memasukkan kembali pemantiknya ke dalam saku.
"Jangkarnya sudah putus, Pak Aryo."
Aryo mendongak perlahan dengan tubuh yang gemetar hebat. "Artinya ... artinya Maya sudah selamat, Mas?"
Danu melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul dua lebih 45 menit pagi. Wajah sang detektif tidak menunjukkan kelegaan, melainkan ketegangan baru yang jauh lebih pekat.
"Jangan senang dulu. Menghancurkan jangkar di sini berarti kita baru saja menabuh genderang perang terbuka. Pasak kayu johar di rumah tadi pasti sedang menerima hantaman balik yang luar biasa dari Banyuwangi sekarang," Danu meraih tas kulitnya dengan cepat, melangkah menuju lift. "Kita harus kembali ke rumah sebelum jam 3 pagi."
Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, Aryo bangkit dan berlari menyusul Danu membelah lorong kantor yang sunyi.
Seseorang yang bisa memutus santett Pring sedapur Ki demangkah ??
Dia tidak mau "menjatuhkan" dirinya di hadapan Sekar.
tapi ....
pada akhirnya azab yang akan memaksa dia untuk "jatuh" ..... sejatuh jatuhnya
dasar laki laki tidak tau diri
Rumah Sekar? atau
alas Purwo?
Aryo yang berbuat
tapi Maya yang menanggung siksa jiwa dan raga atas ulah Aryo.
Aryo menderita dan hampir gila dengan menyaksikan semua penderitaan Maya yang terkena santett Pring Sedapurr
Maya sudah hampir menjadi Pring/bambu yang kering dan mati .