Vincent Lawson rela meletakkan pistolnya demi menggenggam tangan wanita yang ia cintai. Ia percaya, cincin itu akan menjadi awal dari selamanya. Namun pada malam yang sama, wanita itu mengganti janjinya dengan sepasang borgol.
Di tengah raungan sirene dan hancurnya seluruh impian, Vincent tak lagi mempertanyakan mengapa ia ditangkap. Ia hanya ingin tahu...
“Di antara ribuan senyum yang kau berikan selama dua tahun... adakah satu saja yang lahir karena cinta, bukan karena tugas?” 💔
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Its Efa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
[ Melawan Dunia ]
Sejak menemukan buku hitam dan flashdisk di rumah Vincent, Zhava hampir tidak pernah pulang. Selama tiga hari berturut-turut, ia menghabiskan waktunya di ruang arsip, ruang forensik digital, dan berbagai panti asuhan yang namanya tercatat dalam buku itu. Semakin jauh ia menyelidiki, semakin banyak fakta yang membuat dadanya sesak.
Semua catatan Vincent ternyata benar.
Setiap transfer uang benar-benar masuk ke rekening panti asuhan. Biaya operasi anak-anak yang tertulis di buku itu juga sesuai dengan data rumah sakit. Bahkan beberapa yayasan sosial mengaku menerima bantuan anonim selama bertahun-tahun tanpa pernah mengetahui siapa pengirimnya.
Vincent memang seorang mafia.
Namun di balik nama yang ditakuti banyak orang, ada sisi lain yang tidak pernah diketahui siapa pun.
Zhava berdiri di depan papan investigasi yang penuh foto dan dokumen. Tatapannya berhenti pada satu nama.
Leon Ardian.
Semua transaksi ilegal yang melibatkan Black Raven selalu bersinggungan dengan nama itu. Anehnya, setiap kali operasi kepolisian dilakukan, Leon selalu menghilang beberapa jam sebelumnya.
"Itu bukan kebetulan..." gumam Zhava.
Ia segera mengambil semua berkas dan berlari menuju ruang Komandan.
"Masuk."
Zhava membuka pintu tanpa menunggu izin kedua.
"Komandan, saya menemukan sesuatu."
Komandan mengangkat wajah dari tumpukan laporan.
"Apa lagi?"
Zhava meletakkan seluruh dokumen di atas meja.
"Leon Ardian."
Komandan tampak datar.
"Lalu?"
"Nama ini muncul di hampir seluruh operasi Black Raven."
"Dia hanya kurir."
"Bukan."
Zhava menggeleng tegas.
"Saya yakin dia jauh lebih besar dari itu."
Komandan menutup map di tangannya perlahan.
"Zhava."
"Saya sudah memeriksa seluruh data transaksi."
"Semua jalur senjata selalu berakhir pada orang yang sama."
"Dan setiap operasi kita..."
"...selalu gagal menangkap Leon."
Komandan berdiri.
"Cukup."
"Tapi, Komandan—"
"Aku bilang cukup!"
Suara itu menggema di seluruh ruangan.
Zhava terdiam.
Komandan menatapnya tajam.
"Vonis Vincent sudah dijatuhkan."
"Tugasmu selesai."
"Tidak."
Zhava menggenggam map itu erat.
"Tugas saya belum selesai selama dalang sebenarnya belum tertangkap."
Untuk beberapa detik, keduanya saling menatap tanpa berkedip.
Komandan akhirnya berbicara dengan nada dingin.
"Kalau kau terus memaksakan penyelidikan ini..."
"...aku akan mencabut lencanamu."
Zhava membeku.
"Lencana bisa saya lepaskan."
Ia menarik napas panjang.
"Tapi hati nurani saya..."
"...tidak bisa."
Komandan mengepalkan tangannya.
"Keluar."
Zhava mengambil kembali seluruh berkasnya, lalu melangkah keluar tanpa menoleh lagi.
Di lorong markas, beberapa rekan polisi langsung menghampirinya.
"Kami dengar kau membela Vincent?"
"Serius?"
"Kau jatuh cinta sama mafia?"
Pertanyaan-pertanyaan itu datang silih berganti.
Zhava tidak menjawab.
Ia terus berjalan.
Namun seseorang menarik lengannya.
"Jawab!"
Zhava perlahan menoleh.
"Aku tidak membela seorang mafia."
Lalu ia melepaskan genggaman tangan rekannya.
"Aku membela kebenaran."
Tanpa berkata apa-apa lagi, ia meninggalkan lorong itu.
Semua orang hanya bisa memandang punggungnya.
Sore harinya, Zhava menemui Damian yang baru saja dibebaskan karena terbukti hanya membantu urusan administrasi perusahaan-perusahaan legal milik Vincent.
Damian tampak terkejut melihat Zhava datang.
"Nona Zhava."
"Aku butuh bantuanmu."
Damian terdiam beberapa saat.
"Tentang Bos?"
Zhava mengangguk.
"Aku menemukan nama Leon Ardian."
Wajah Damian langsung berubah.
"Jadi... akhirnya kau menemukannya."
Zhava membelalakkan mata.
"Kau mengenalnya?"
Damian mengangguk pelan.
"Leon bukan anak buah Bos."
"Dia partner?"
"Bukan."
Damian menatap Zhava dengan sorot mata serius.
"Dia musuh terbesar Bos."
Jantung Zhava berdetak semakin cepat.
"Maksudmu?"
"Selama bertahun-tahun..."
"...Bos diam-diam mencoba menghentikan jaringan Leon."
"Tapi kalau Bos melapor ke polisi..."
"...Black Raven akan lebih dulu dihancurkan."
Zhava mulai memahami sesuatu.
"Jadi Vincent..."
"...memerangi organisasi lain dari dalam?"
Damian mengangguk.
"Bos memang penjahat."
"Tapi ada garis yang tidak pernah ia lewati."
"Leon tidak punya garis itu."
Zhava mengepalkan kedua tangannya.
"Kenapa Vincent tidak pernah mengatakan semua ini di persidangan?"
Damian tersenyum pahit.
"Karena Bos tahu..."
"...tak seorang pun akan mempercayai pengakuan seorang mafia."
Malam itu, Zhava kembali mengunjungi Vincent di penjara.
Vincent duduk tenang di balik kaca pembatas ruang kunjungan.
Begitu melihat Zhava membawa setumpuk berkas, ia langsung mengerti.
"Kau masih mencari kebenaran."
Zhava mengangguk.
"Aku bertemu Damian."
Senyum Vincent perlahan menghilang.
"Kenapa dia ikut campur..."
"Karena aku berhak tahu."
Zhava menatap Vincent dengan mata yang memerah.
"Leon Ardian siapa?"
Ruangan mendadak sunyi.
Untuk pertama kalinya sejak ditangkap...
Ekspresi Vincent berubah.
Tatapannya tidak lagi tenang.
"Siapa yang memberitahumu nama itu?"
"Jawab aku."
Vincent memejamkan mata.
Beberapa detik kemudian, ia mengembuskan napas panjang.
"Lupakan nama itu."
"Aku tidak akan melupakannya."
"Zhava."
Suara Vincent berubah tegas.
"Dengarkan aku."
"Jangan pernah mencari Leon Ardian."
"Kenapa?"
"Karena..."
Vincent menatap langsung ke mata Zhava.
"...kalau dia tahu kau sedang mencarinya..."
"...orang berikutnya yang akan mati adalah kau."
Kalimat itu membuat darah Zhava seakan berhenti mengalir.
Namun bukannya mundur...
Tekad di matanya justru semakin kuat.
Ia sadar, rahasia terbesar dalam kasus ini akhirnya mulai terbuka.
Dan mungkin...
Leon Ardian adalah kunci yang akan mengubah takdir Vincent Lawson.