Tidak semua bidak catur bermimpi menjadi Raja. Yudi hanya ingin satu hal: bertahan hidup dan membangun wilayah kecilnya sendiri untuk kaum yang terbuang. Menjadi Pawn rendahan bagi Sona Sitri adalah langkah pertamanya. Dengan [Imperial Tiger Mantle] yang terikat di jiwanya, ia menahan auman sang harimau dan mengubahnya menjadi keheningan yang mencekik lawan.
update Harian 1 bab per harinya sambil menunggu keputusan kontrak., semoga berhasil ya, kalau udah fix dapet kontrak akan kembali normal. Kalau kelewat mungkin akan tambah satu bab di besoknya. semoga gak pernah terjadi dan kalian semua bisa terus membaca kisah ini dengan tenang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyudi0596, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 20
Sona tidak memberikan kesempatan bagi Saji untuk memulihkan napasnya. Ia terus menekan, menguliti sisa-sisa ego pemuda tersebut tanpa ampun.
"Lalu..." Suara Sona kini mendesis pelan, lebih menyerupai bisikan ular yang siap menerkam. "...dengan bermodalkan ingatan yang kau manipulasi sendiri, kau dengan lantangnya mengayunkan pukulan berkekuatan nagamu sambil berteriak: 'Jangan pernah menyentuh orang yang aku suka?'"
Sona merapatkan giginya, menciptakan garis rahang yang sangat tajam di wajahnya. Ia menatap Saji yang berlutut dari atas ke bawah. "Saji Genshirou. Jawab aku dengan jujur. Pernahkah kau, walau hanya satu kali saja seumur hidupmu, mengungkapkan perasaanmu itu padaku secara langsung? Menatap mataku dan menyatakannya?"
Saji menelan ludah. Kepalanya menggeleng sangat pelan dengan gerakan patah-patah.
"Aku bahkan tidak ingat kapan pastinya kau pernah mengatakan secara langsung bahwa kau menyukaiku," lanjut Sona, suaranya dipenuhi dengan nada ketidakpercayaan dan penghinaan.
"Lalu... dari mana kau mendapatkan hak tersebut? Bagaimana bisa kau tiba-tiba bertingkah dan bersikap arogan seolah-olah aku ini adalah barang milikmu secara mutlak?"
Sona menarik napas tajam melalui hidungnya. Tangannya yang terkepal di sisi tubuhnya bergetar pelan.
"Sebagai ketua dari kelompok ini, dan terlebih lagi, sebagai seorang wanita yang memiliki otonomi atas dirinya sendiri... aku merasa tindakanmu hari ini sudah sangat keterlaluan dan menjijikkan."
Tuduhan itu menghantam dada Saji laksana palu godam. Bahunya merosot drastis. Napasnya tersendat.
"Kau menyerang seorang pemula yang tidak bersalah secara pengecut dari titik butanya," rentetan kalimat Sona mengalir deras, mematahkan setiap logika yang sempat Saji yakini. "Kau mengabaikan fakta sebenarnya dari rentetan kejadian hari ini, dan kau menutup telingamu tanpa mau mendengar sedikit pun penjelasannya. Kalau kau memang benar-benar menyukaiku dan merasa keberatan dengan kejadian pagi tadi, seharusnya kau datang menemuiku. Kau seharusnya berdiri di depanku, menatap mataku, dan bertanya secara tegas sebagai seorang pria apa maksud dari tindakanku pagi tadi!"
Sona mengangkat tangan kanannya, menuding wajah Saji yang terus menunduk. "Kau seharusnya membiarkan aku menjelaskan kebenaran dari tindakan itu padamu! Tapi apa yang kau lakukan?! Alih-alih bertanya dan berdialog, kau malah mengambil tindakan kekerasan yang brutal dan serampangan! Kau menyerang kawanmu sendiri hanya karena kau terbakar api cemburu buta tanpa mau mencari tahu kebenarannya terlebih dahulu!"
Napas Sona mulai terdengar sedikit memburu. Pendaran aura ungu di sekitarnya semakin tidak stabil, mencerminkan gejolak emosi di dalam dadanya. Ia tidak pernah berbicara sepanjang dan seemosional ini sebelumnya.
"Dan yang paling tidak bisa kumaafkan..." Sona menurunkan tangannya, menatap Saji dengan sorot merendahkan. "...secara sepihak, kau mengklaim bahwa aku adalah milikmu di depan semua anggota kelompok, padahal jelas-jelas kau belum pernah sekalipun berani menyatakan perasaanmu itu secara langsung di hadapanku. Aku rasa... itu adalah sebuah hal yang paling memalukan, paling pengecut, dan paling menyedihkan yang pernah kulihat dari seorang pria."
Hening seketika menyelimuti ruangan. Tidak ada bantahan, tidak ada suara perlawanan. Hanya terdengar suara dengusan napas Sona yang perlahan mulai teratur.
Sona memejamkan matanya selama dua detik. Ia merapikan kerah seragamnya, berusaha mengembalikan sisa-sisa persona rasionalnya. Ketika ia kembali membuka mata, tatapannya tidak lagi memancarkan kemarahan yang meluap-luap, melainkan sebuah kedinginan absolut yang mengkristal.
"Dan satu hal lagi yang harus kau masukkan ke dalam kepalamu, Saji."
Sona berjalan menyamping, melewati Saji yang
berlutut, lalu berhenti tepat di samping meja bundar. Matanya melirik lurus ke arah tubuh Yudi yang masih ditangani oleh Tsubaki.
"Selama satu tahun kau berada di bawah kepemimpinanku, kau tidak pernah sekalipun... tidak pernah satu kali pun... membuat diriku terpaku dan terdiam karena sebuah jawaban. Kenapa?" Sona menoleh kembali ke arah Saji.
"Karena jawaban-jawaban yang selalu kau berikan padaku adalah jawaban yang mencari aman. Kau selalu menghindar, kau tidak pernah mau beradu argumen sedikit pun denganku, dan kau selalu berlindung di balik tameng alasan klise 'aku sangat menghormatimu, Kaichou'."
Sona menunjuk ke arah Yudi dengan gerakan kepala. "Sedangkan Yudi... pemuda yang kau benci itu... dia sama sekali tidak pernah berpikir kerdil seperti itu. Sejak menit pertama ia menginjakkan kaki di ruangan ini, ia memandang diriku sepenuhnya setara secara intelektual. Ia berani membantah, berani bernegosiasi, tanpa mempedulikan statusku sebagai tuannya yang memegang kendali atas hidup dan matinya."
Sona melipat lengannya kembali, menatap Saji lekat-lekat.
"Karena bagiku, keberanian untuk beradu argumen secara logis dan mempertahankan prinsip di hadapan atasan adalah sebuah bentuk pembuktian. Itu adalah ujian untuk melihat apakah seseorang benar-benar memiliki integritas yang ia junjung tinggi. Sifat itulah yang membedakan dirimu dari Yudi. Dan orang yang memiliki integritas berani menantang otoritas tersebut... memiliki batas potensi perkembangan yang sangat sulit untuk ditebak secara logis."
Sona mengambil napas dalam-dalam. "Jika aku boleh jujur di hadapan kalian semua sekarang... meskipun aku baru berinteraksi dan bercengkerama dengan Yudi belum genap satu hari penuh, ada sensasi kewaspadaan dan stimulasi pemikiran yang kurasakan saat berinteraksi dengannya. Sebuah hal yang... sejujurnya, belum pernah sekalipun kudapatkan selama satu tahun penuh berinteraksi denganmu."
Kata-kata terakhir itu meluncur lambat, namun menghunjam tepat di titik paling vital dalam kewarasan Saji.
"Jadi, mulai sekarang..." Sona memutar tubuhnya, membelakangi Saji. Suaranya kembali membeku, mengakhiri sesi interogasi dan penghakimannya dengan tatapan menerkam dari atas bahunya. "...perhatikan dengan baik setiap tindakan, ucapan, dan emosimu, Genshirou Saji."
Di atas lantai kayu yang dingin, pertahanan fisik dan mental Saji runtuh total. Ia menjatuhkan kedua telapak tangannya ke lantai, menahan berat bagian atas tubuhnya yang tidak lagi bertenaga.
Kepalanya tertunduk sangat dalam hingga rambut pirangnya menyapu lantai. Tidak ada suara isakan, namun tetesan air mata mulai jatuh berjatuhan membasahi permukaan kayu di bawah wajahnya.
Hancur sudah hati pemuda itu pada sore hari ini. Ia benar-benar telah dilucuti sepenuhnya, ditelanjangi baik secara fisik, argumen, maupun mental oleh dua sosok wanita yang paling ia segani.
Fakta yang paling menyakitkan bagi Saji bukanlah karena tindakannya terbukti keliru di mata hukum kelompok, melainkan karena ia menyadari bahwa seluruh kehancuran ini bermula hanya karena ia terlalu gegabah dalam mengambil kesimpulan buta, tanpa sempat menggunakan akal sehatnya untuk mencari tahu apakah kenyataannya memang seperti itu atau bukan.
Dan pada sore hari ini, seluruh ilusi kepercayaan dan citra diri yang telah ia bangun dengan susah payah selama satu tahun penuh untuk menjadi orang 'spesial' di mata Sona Sitri... hancur lebur tak bersisa hanya dalam waktu kurang dari setengah hari, mutlak karena kebodohannya sendiri.
Melihat kondisi Saji yang sudah kehilangan seluruh daya perlawanannya, anggota perempuan lainnya tidak menunjukkan sedikit pun rasa belas kasihan. Hukuman sosial dari rekan sejawat adalah paku terakhir untuk peti mati ego Saji.
Reya Kusaka menyilangkan kedua lengannya di dada. Ia memutar wajahnya ke arah jendela, menolak melihat sosok Saji yang berlutut di lantai. "Aku sangat berharap kau menggunakan sisa otakmu dan tidak melakukan tindakan agresif memalukan seperti ini lagi di masa depan, Saji," ucap Reya dengan nada ketus yang menyayat.
Momo Hanakai berdiri tegak, matanya menatap Saji dengan sorot tajam yang menusuk. Ia memegang siku tangannya sendiri dengan kuat. "Kau harus tahu dan mengingat ini dengan jelas. Kami semua di ruangan ini tidak akan pernah melupakan tindakan bodoh dan brutalmu hari ini," sambung Momo dengan suara dingin.
Tomoe Meguri, yang biasanya menjadi penengah yang ceria, kini menatap Saji dari atas bahunya dengan tatapan sinis. Sudut bibirnya tidak melengkung ke atas. "Setidaknya, lain kali cobalah gunakan isi kepalamu untuk berpikir jernih sebelum ototmu bertindak secara serampangan," tambah Tomoe dengan nada mengejek.
Di dekat meja, Nimura Ruruko masih berlutut merapikan map-map dokumennya. Saat Saji tanpa sadar sedikit mengangkat wajahnya yang basah oleh air mata, Nimura seketika menghentikan aktivitasnya. Gadis mungil itu memutar kepalanya, memalingkan wajahnya ke arah berlawanan dengan gerakan cepat.
Bibirnya mengerucut membentuk ekspresi kecut, matanya ditutup rapat-rapat, enggan memandang sosok kakak kelasnya itu. Tidak ada ucapan pedas, tidak ada makian yang keluar dari mulutnya.
Namun, gerakan penolakan bisu tersebut justru merupakan bentuk kekesalan dan penghinaan tertinggi dari sosok gadis yang paling imut dan lugu di kelompok tersebut.
Di tengah ruang OSIS yang kini dipenuhi oleh aura penolakan, rasa bersalah, dan kehancuran mental yang pekat, Tsubaki Shinra seolah mengisolasi dirinya sendiri dalam sebuah gelembung konsentrasi.
Gadis berkacamata itu tetap diam membisu. Ia tidak menoleh ke arah Saji, tidak mempedulikan tangis penyesalan pemuda itu, dan tidak pula menambahkan komentar apa pun setelah Sona mengambil alih situasi.
Kedua telapak tangan Tsubaki masih direntangkan dengan stabil di atas dada Yudi. Cahaya hijau zamrud dari sihirnya terus berpendar tanpa henti, perlahan-lahan mengembalikan rona wajah Yudi menjadi normal.
Di balik ekspresinya yang selalu sedingin pualam, alis Tsubaki sesekali berkedut kecil.
Ia memfokuskan pandangannya pada luka-luka Yudi, mengabaikan dunia luar, sembari otaknya memproses sebuah anomali aneh yang bergemuruh di dalam dadanya.
Ia mencoba meraba-raba dan mencari tahu akar logis dari sebuah pertanyaan kecil: Kenapa perasaannya tadi bisa mendadak menjadi begitu kesal dan meledak-ledak hingga kehilangan kendali, hanya karena melihat anak baru yang baru saja ia kenal ini mendapatkan perlakuan tidak adil dari Saji—seseorang yang notabene seharusnya jauh lebih ia kenal sebagai sesama pelayan setia ketuanya?
Tsubaki tidak menemukan jawaban dari pertanyaan itu. Ia menutup matanya sesaat, menghembuskan napas pelan dari hidungnya, dan menekan energi sihirnya sedikit lebih kuat, menenggelamkan sisa-sisa kebingungannya ke dalam aliran sihir penyembuhan hijau yang tenang.
...* * *...