Louisa Hartono tidak pernah menyangka bahwa malam terburuk dalam hidupnya akan menjadi awal dari segalanya.
Setelah sepuluh tahun mengejar cinta yang tidak pernah berbalas, dia mabuk — dan tanpa sadar melamar seorang pria yang bahkan tidak dia kenal dengan baik.
Nathanael Susanto. CEO muda dari keluarga konglomerat Susanto. Dingin, misterius, dan... langsung bilang "iya."
Mereka menikah dengan perjanjian: satu tahun, tanpa perasaan, bisa cerai kapan saja.
Tapi Nathanael selalu pulang tepat waktu. Selalu menyiapkan bunga di meja kerjanya. Selalu tahu makanan favoritnya tanpa pernah bertanya.
Dan Louisa mulai bertanya-tanya — apakah suami kontraknya ini... sudah mengenalnya jauh lebih lama dari yang dia kira?
Sementara itu, Kevin Tanuwijaya — pria yang Louisa kejar selama sepuluh tahun — akhirnya sadar bahwa dia sudah kehilangan satu-satunya orang yang benar-benar mencintainya.
Tapi sudah terlambat.
Karena Nathanael Susanto sudah menunggu sepuluh tahun untuk momen ini.
Dan dia tidak akan melepaskannya.
🌹 Nikah kontrak. Cinta rahasia sepuluh tahun. Mantan yang menyesal seumur hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zara Melati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34
Bab 034
Tangan di Halilintar
Untuk pertama kalinya hari itu, Louisa merasa mungkin Stella tidak bercanda saat menyuruhnya realistis.
Antrean Halilintar bergerak maju sedikit demi sedikit. Di depan mereka, sekelompok anak kuliah tertawa sambil merekam video. Di belakang, seorang pasangan muda berdebat kursi mana yang paling menegangkan. Suara roda kereta di lintasan terdengar seperti logam yang menggesek udara.
Nathanael berdiri di sisi Louisa.
Terlalu diam.
Biasanya diam Nathanael terasa stabil. Diam yang memberi ruang. Diam yang membuat orang di sekitarnya ikut tenang. Tapi diam yang satu ini berbeda. Bahunya tidak kaku secara mencolok, wajahnya juga tetap rapi, namun jari-jarinya berkali-kali menyentuh jam Coisíní di pergelangan tangan.
Louisa memperhatikan gerakan itu.
"Kamu yakin mau naik?"
"Iya."
"Kalau tidak mau, kita bisa pilih wahana lain."
"Kamu mau naik."
"Aku bisa naik sendiri."
Nathanael menoleh. "Tidak."
Jawaban itu cepat.
Terlalu cepat.
Louisa menahan senyum kecil. "Kamu takut aku hilang di roller coaster?"
"Tidak lucu."
"Aku belum bercanda."
"Itu tetap tidak lucu."
Petugas memanggil rombongan berikutnya. Mereka maju melewati pagar besi. Semakin dekat ke platform, semakin jelas suara rem kereta, suara orang turun dengan lutut lemas, dan teriakan dari kereta yang baru meluncur naik. Angin dari lintasan membawa bau logam panas dan debu tipis.
Louisa merasakan kegembiraan naik ke dadanya.
Lalu ia melihat Nathanael menelan ludah.
Sangat kecil.
Tetapi ada.
"Nathanael."
"Hm?"
"Kamu pucat."
"Panas."
"Kita di tempat teduh."
"Mungkin AC mobil tadi terlalu dingin."
"Itu sudah dua jam lalu."
Nathanael tidak menjawab.
Louisa akhirnya benar-benar menahan tawa. Bukan menertawakan ketakutannya. Hanya karena pria yang bisa mengatur perusahaan, menghadapi Jason, dan membeli jam limited edition bertahun-tahun tanpa menjelaskan apa pun, sekarang berdiri di depan roller coaster sambil membuat alasan yang semakin tidak masuk akal.
"Kalau kamu takut, bilang saja."
"Aku tidak takut."
Kereta kosong datang ke platform dengan suara keras.
Nathanael diam satu detik terlalu lama.
"Sedikit," tambahnya.
Louisa menoleh cepat. "Sedikit?"
"Tidak banyak."
"Takut apa?"
Petugas membuka palang.
Nathanael melihat lintasan yang naik tajam di depan mereka, lalu berkata dengan suara rendah, "Ketinggian."
Louisa hampir berhenti berjalan.
"Kamu takut tinggi?"
"Sedikit."
"Nathanael."
"Cukup untuk tidak perlu dibahas di platform."
Mereka duduk bersebelahan. Petugas menurunkan pengaman. Louisa masih memproses informasi itu ketika Nathanael menarik napas pelan, sangat teratur, seperti orang sedang memimpin rapat internal dengan sistem sarafnya sendiri.
"Kita turun saja," kata Louisa tiba-tiba.
Nathanael menoleh. "Tidak."
"Aku serius."
"Aku juga."
"Kamu tidak perlu membuktikan apa-apa."
"Aku tidak sedang membuktikan." Ia menatap depan. Rahangnya masih tegang, tetapi suaranya tetap rendah. "Aku menemani kamu."
Kalimat itu membuat Louisa kehilangan kata.
Kereta mulai bergerak.
Pelan dulu. Roda mengait di rel, naik satu takik demi satu takik. Suara klik-klik-klik mengisi udara. Di depan mereka, langit Jakarta terbuka semakin lebar. Gedung, pepohonan, lintasan lain, semua turun sedikit demi sedikit di bawah kaki.
Tangan Nathanael berada di pegangan samping.
Jari-jarinya memutih.
Louisa menatap tangannya, lalu tanpa berpikir terlalu lama, meletakkan tangannya di atas tangan Nathanael.
"Hei."
Nathanael menoleh.
Matanya, yang biasanya tenang, terlihat gelap dan terlalu fokus.
"Kalau takut, pegang aku saja."
Ia berkata begitu dengan maksud menenangkan.
Namun begitu kalimat itu keluar, wajahnya sendiri panas.
Nathanael tidak sempat menjawab.
Kereta mencapai puncak.
Sesaat, semuanya berhenti.
Angin menekan wajah mereka. Louisa bisa melihat garis laut Ancol di kejauhan, langit pucat, dan tangan Nathanael yang berada di bawah tangannya.
Lalu kereta jatuh.
Teriakan memenuhi udara.
Louisa ikut berteriak, bukan karena takut, lebih karena tubuhnya dilempar ke dalam kecepatan yang membuat dadanya pecah oleh adrenalin. Di sebelahnya, Nathanael tidak berteriak. Itu justru lebih mengkhawatirkan.
Satu detik kemudian, tangan yang tadi berada di bawah tangannya berbalik menggenggam.
Kuat.
Hangat.
Hampir putus asa.
Louisa terkejut, lalu tertawa di tengah angin.
"Nathanael!"
Ia tidak menjawab. Matanya tertutup rapat saat kereta berbelok tajam. Tangan kirinya menggenggam pegangan, tangan kanannya menggenggam tangan Louisa seolah itu satu-satunya benda stabil di dunia.
Louisa seharusnya merasa sakit karena genggamannya terlalu kuat.
Tetapi yang ia rasakan justru sesuatu yang aneh dan lembut.
Selama ini, Nathanael selalu menjadi orang yang menyediakan pegangan untuknya. Pintu mobil. Air hangat. Tisu. Bunga. Bubur. Catatan kecil yang membuatnya tidak perlu menjelaskan diri.
Di atas Halilintar, untuk pertama kalinya, ia yang menjadi pegangan Nathanael.
Kereta meluncur turun, naik lagi, berbelok, lalu akhirnya melambat memasuki platform. Ketika rem bekerja, seluruh tubuh Louisa masih bergetar oleh tawa dan angin. Nathanael membuka mata perlahan.
Tangannya masih menggenggam tangan Louisa.
Mereka sama-sama sadar pada saat yang sama.
Nathanael melepaskan lebih dulu, terlalu cepat.
"Maaf."
Louisa melihat bekas tekanan di jari-jarinya, lalu menatap wajah Nathanael yang lebih pucat dari tadi. Rambutnya sedikit berantakan, bibirnya terkatup rapat, dan telinganya merah.
Ia tidak tahan.
Ia tertawa.
Nathanael menatapnya seperti dikhianati.
"Kamu tertawa."
"Maaf." Louisa menutup mulut dengan punggung tangan. "Aku tidak bermaksud."
"Kamu jelas bermaksud."
"Aku hanya..." Ia menarik napas, tetapi tawa masih keluar. "Kamu benar-benar takut."
Mereka turun dari platform. Nathanael berjalan lebih pelan dari biasanya. Di dekat area keluar, ia berhenti di sisi pagar, mengambil air mineral dari tas, lalu meminumnya seteguk.
Louisa berdiri di sampingnya.
"Kamu baik-baik saja?"
"Iya."
"Kamu mau duduk?"
"Tidak."
"Kamu yakin?"
Nathanael menatap botol air seolah sedang mempertimbangkan negosiasi dengan harga dirinya.
"Mungkin sebentar."
Mereka duduk di bangku dekat taman kecil. Louisa masih tersenyum. Nathanael menatap lurus ke depan, mencoba mendapatkan kembali citra CEO yang mungkin tertinggal di tikungan pertama Halilintar.
Louisa membuka tutup botol airnya sendiri dan menyerahkannya kepada Nathanael.
"Minum lagi."
"Aku sudah minum."
"Minum lagi."
Mungkin karena suaranya terdengar seperti perintah yang tidak bisa dinegosiasikan, Nathanael menerimanya. Ia minum dua teguk, lalu mengembalikan botol itu dengan wajah yang masih terlalu serius untuk seseorang yang baru saja menggenggam tangan orang lain di roller coaster.
Louisa memandangi jari-jarinya sendiri. Bekas genggaman Nathanael sudah mulai hilang, tetapi sensasinya belum. Hangat. Kuat. Tidak seperti saat ia dulu berusaha menggenggam sesuatu yang tidak pernah benar-benar berhenti untuknya.
"Aku tidak akan cerita ke Stella," katanya.
Nathanael menoleh cepat.
Reaksi itu membuat Louisa kembali hampir tertawa. "Kecuali dia bertanya langsung."
"Louisa."
"Aku belajar dari Jason."
Nathanael memejamkan mata sebentar. "Kalian semua jahat."
"Kami realistis."
"Jadi," kata Louisa, "takut tinggi?"
Nathanael menghela napas.
Kali ini tidak ada alasan AC mobil, panas, atau antrean.
"Iya."