Albie Putra Dewangga dan Qistina Aulia, pasangan muda yang tengah berbahagia dengan kehadiran bayi perempuan yang mereka beri nama Eloise Humaira Alqista.
Namun ditengah kebahagiaan itu, mereka terpaksa menerima kenyataan pahit.
Hasil biopsi dan aspirasi sumsum tulang Qistina keluar. Vonis Leukemia Myeloid akut bersarang ditubuhnya. Kondisinya sangat agresif. Dalam kondisi tersebut, produksi ASI-nya menurun. Sedang putri kecilnya alergi sufor.
Khalisa Hanifa hadir dalam hidup mereka. Perempuan malang yang kehilangan bayinya setelah menjadi korban pelecehan, rela menjadi ibu susu putri Qistina. Ketulusannya membuat Qistina percaya, jika suatu hari ajal menjemput, Khalisa adalah satu-satunya wanita yang tulus mencintai putrinya seperti darah daging sendiri.
Dengan hati yang hancur, Qistina membuat keputusan paling menyakitkan. Menikahkan suaminya dengan Khalisa.
Bagaimana kisah pengorbanan cinta mereka? Akankah Albie menerima keputusan Qistina?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tulisan_nic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencari Pendonor ASI
*
*
*
“Assalamualaikum, kenapa kalian menangis dan berpelukan?”
Anin dan Khalisa perlahan melepaskan pelukan. Keduanya buru-buru menyusut air mata, kemudian menoleh ke arah pintu. Qistina berdiri di sana bersama Albie.
“Wa'alaikumsalam,” jawab mereka serempak.
Anin memperhatikan Qistina dari atas sampai bawah. Tatapannya berhenti cukup lama pada wajah pucat perempuan itu. “Qis, bukannya kamu masih harus istirahat. Kenapa kemari?” tanya Anin, dengan wajah khawatir.
Qistina tidak langsung menjawab. Ia menoleh sebentar kepada Albie yang masih berdiri di belakangnya. Pria itu hanya diam, kemudian mengangguk kecil.
Qistina melangkah masuk dan duduk di sofa yang sama dengan Anin dan Khalisa. Albie menyusul, memilih kursi yang tak jauh dari tempat istrinya duduk.
Beberapa detik berlalu tanpa suara. Qistina meremas jarinya sendiri di atas pangkuan. “Aku kemari, karena ada hal penting yang ingin aku bicarakan pada kalian.”
Anin mengangkat wajah. Dahinya berkerut, “Hal penting?”
Qistina mengangguk pelan. Ia menarik nafas, tetapi kalimat berikutnya seperti tertahan di ujung lidah.
“Aku harus menjalani pengobatan, mungkin setelah ini waktuku lebih banyak di rumah sakit. Jadi …”
Anin yang langsung mencondongkan tubuhnya. Khalisa ikut mengerutkan kening.
"Pengobatan apa?" tanya Anin yang mulai merasa ada sesuatu yang tidak biasa. "Memangnya kamu sakit apa?"
Qistina terdiam. Albie juga diam.
Khalisa menatap wajah Qistina lebih lekat. “Mbak nggak kenapa-kenapa kan?” tanyanya khawatir.
Qistina menunduk. Beberapa saat tatapannya jatuh pada permukaan lantai, ada sesuatu yang sedang ia susun di dalam kepala sebelum akhirnya sanggup mengucapkannya. Ia menghela nafas panjang. Baru kemudian wajahnya kembali terangkat.
“Leukemia.”
Satu kata itu cukup membuat keheningan jatuh. Tidak ada yang langsung menyahut. Suara pendingin ruangan yang sejak tadi terdengar samar, mendadak terasa begitu jelas. Bahkan suara langkah kaki dari luar ruangan pun seakan ikut menjauh. Waktu seperti berhenti berputar di ruangan yang didominasi warna putih gading itu.
Khalisa mengerjapkan mata. Ia tidak benar-benar memahami seberapa berat penyakit itu. Namun tatapannya perlahan beralih kepada Albie.
Sejak pertama kali bertemu, pria itu memang tidak pernah benar-benar terlihat tenang. Dan kini, saat Khalisa melihat wajahnya dari jarak sedekat ini, ia baru menyadari ada sesuatu yang berbeda pada tatapan dokter tersebut. Qistina juga terlihat semakin pucat.
“Mbak…” bibir Khalisa nyaris bergerak, tetapi suara Anin lebih dulu terdengar.
“Qis …” suara Anin berbisik lirih.
Qistina sesaat memejamkan mata. Kemudian ia membukanya kembali. “Aku akan mulai menjalani kemoterapi.”
Tangan Anin perlahan naik menutup mulutnya. Matanya kembali berkaca-kaca. Ia menunduk sebentar, berusaha mengendalikan air mata yang mulai memenuhi pelupuk.
Qistina justru tersenyum. Senyum kecil yang sering digunakan, namun tak mampu mengusir pucat dari wajahnya. “Jangan nangis, Nin. Aku belum mati “
“Jangan ngomong begitu.” Albie langsung menyahut. “Kamu nggak boleh bicara seperti itu.”
Tangannya bergerak dari sisi tubuh, meraih jemari Qistina yang berada di atas pangkuan.
Qistina menoleh. Mata keduanya bertemu. Namun Qistina lebih dulu mengalihkan pandangan. Tenggorokannya bergerak saat ia menelan ludah dengan susah payah.
Sejak kemarin, ia tidak pernah benar-benar sanggup menatap mata Albie terlalu lama. Ada sesuatu di sana yang selalu membuat dadanya ikut terasa penuh. Ia tahu, kalau suaminya lah yang paling duluan merasa terpukul dengan vonis ini.
“Bu ... Sepertinya Eloise mau menyusu. Sejak pagi setelah mandi tadi dia belum menyusu.”
Suara Rani dari arah pintu membuat perhatian semua orang beralih..Rani masuk sambil menggendong Eloise. Bayi itu menggeliat kecil dalam pelukannya. Bibir mungilnya bergerak-gerak, disusul rengekan kecil yang semakin terdengar jelas.
Qistina langsung mengulurkan tangan. “Kemari Ran …”
Rani mendekat dan menyerahkan Eloise. Begitu berada dalam pelukan ibunya, bayi itu kembali mencari dengan bibir mungilnya.
Qistina menatap wajah putrinya sebentar. Senyum tipis kembali muncul. Ia membuka kancing blouse, kemudian membiarkan Eloise mendapatkan apa yang sejak tadi dicarinya. Tangisan kecil itu perlahan mereda.
Anin menarik napas panjang. Tatapannya berpindah dari Eloise kepada Qistina.
“Kalau kamu mulai kemoterapi, gimana dengan Eloise? Bukankah kemarin dia alergi protein susu sapi?”
Qistina menggeleng. “Aku sama Mas Albie juga sedang memikirkan ini. Kami sempat berkonsultasi dengan dokter Nabila, bertanya tentang persediaan donor Asi di rumah sakit. Tapi, sampai sekarang dokter Nabila bilang masih belum ada pendonor.”
Khalisa sejak tadi tidak ikut bersuara. Ia hanya duduk dengan kedua tangan bertumpu di atas pangkuan. Namun setelah mendengar kalimat terakhir Qistina, jarinya perlahan bergerak. Saling bertaut. Kemudian semakin erat.
Pandangan Khalisa turun ke ujung hijab yang menutupi dadanya. Ia menggenggam kain itu, menariknya sedikit tanpa sadar. Bibirnya terbuka.
Tertutup lagi. Matanya sempat terpejam sebelum akhirnya ia mengangkat wajah.
“Mbak …”
Semua mata menatap Khalisa.
*
*
*
~Salam hangat dari Penulis 🤍
apa... gaada yang curiga? selain anggota keluarganya?🤔🤔