NovelToon NovelToon
Bertemu di Puncak: Skandal Cinta Sang Bintang

Bertemu di Puncak: Skandal Cinta Sang Bintang

Status: tamat
Genre:Showbiz / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Aruna Senja

"Bukan Laknat, namaku Rahmat."

Di usia 9 tahun, seorang anak laki-laki bernama Laknat — "Si Terkutuk" — bertemu dengan seorang gadis kecil di lokasi syuting. Gadis itu memberinya kotak bekalnya, sebuah gelang persahabatan, dan sebuah nama baru: Rahmat, yang artinya "anugerah dari Tuhan."

15 tahun kemudian, Rahmat telah menjadi REYN — penyanyi nomor satu Indonesia, dijuluki "Ice Prince" yang tak pernah melirik wanita mana pun. Gadis kecil itu telah menjadi Wenny Santoso — aktris nasional dengan lesung pipi yang memikat jutaan penggemar.

Ketika sebuah insiden di red carpet memaksa mereka berdua masuk ke reality show kencan Skandal Cinta, REYN tahu: ini adalah kesempatan yang telah ia tunggu selama 15 tahun. Tapi Wenny tidak tahu bahwa pria di hadapannya adalah anak laki-laki yang pernah ia selamatkan.

Di bawah sorotan kamera dan tatapan 50 juta penonton, rahasia demi rahasia mulai terungkap. Identitas masa kecil. Konspirasi berbahaya. Penculikan. Dan sebuah nama yang tersembunyi di balik gemerlapnya panggung.

Apakah cinta yang tertunda 15 tahun cukup kuat untuk menghadapi kebenaran yang menyakitkan?

"Bertemu di Puncak" — janji dua anak kecil yang akhirnya terwujud di panggung terbesar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aruna Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 34

Bab 34: Rosa Bergerak

Rosa baru saja menemukan senjata yang lebih efektif daripada rumor.

Ia duduk di tepi ranjang, punggung tegak, wajah tenang seperti sedang membaca jadwal syuting. Di layar ponselnya, kata `Gluten` terlihat dingin di tengah catatan kecil yang ia susun sejak episode Bali.

Wenny alergi.

Bukan alergi ringan yang hanya membuat kulit gatal.

Rosa sudah melihat bagaimana REYN bereaksi setiap kali makanan Wenny dibahas. Ia melihat label gluten free yang selalu muncul lebih dulu di dekat Wenny. Ia melihat kru dapur diberi daftar khusus. Ia melihat REYN tidak pernah menganggap hal itu sepele.

Berarti itu titik lemah.

Dan titik lemah yang dijaga terlalu ketat selalu berarti sesuatu yang mahal jika disentuh.

Rosa menggulir folder lain.

Ada tangkapan layar komentar fans, potongan video REYN menatap Wenny, artikel kecil tentang jadwal syuting masa kecil Wenny, dan satu file video yang tidak ada hubungannya dengan Wenny sama sekali.

File itu bernama `N_BACKSTAGE_FINAL`.

Rosa menekan play.

Di layar, Natasha terlihat di ruang makeup sebuah kampanye lama. Wajahnya lebih muda beberapa bulan, tetapi suaranya jelas. Ia sedang bicara dengan seseorang dari tim agensi, membahas angka engagement palsu, pembayaran tambahan yang tidak tercatat, dan bagaimana seorang asisten diminta menanggung kesalahan jika kerja sama brand itu bermasalah.

Video itu tidak cukup untuk membuat seseorang masuk penjara.

Tetapi cukup untuk menghancurkan citra Natasha sebagai selebritas manis yang selalu berbicara tentang kerja keras dan kejujuran.

Cukup untuk membuat brand besar menarik kontrak.

Cukup untuk membuat Natasha patuh.

Rosa mematikan video.

Lalu ia berdiri.

***

Natasha membuka pintu kamarnya dengan wajah lelah.

"Rosa? Sudah malam."

"Aku tahu."

Rosa tidak menunggu dipersilakan masuk. Ia melangkah melewati Natasha, menutup pintu dari dalam, lalu duduk di kursi dekat meja rias seolah kamar itu miliknya.

Natasha menegang. "Ada apa?"

Rosa meletakkan ponsel di meja.

Layar masih menampilkan thumbnail video backstage.

Warna wajah Natasha berubah.

"Kamu..." Suaranya langsung melemah. "Dari mana kamu dapat itu?"

"Itu pertanyaan yang salah."

"Rosa, itu bukan seperti yang terlihat."

"Semua skandal selalu begitu." Rosa tersenyum tipis. "Bukan seperti yang terlihat. Dipotong konteks. Disalahpahami. Ada orang lain yang lebih bersalah. Kalimat-kalimatnya sudah hafal, kan?"

Natasha menggenggam ujung lengan bajunya. "Kamu mau apa?"

Akhirnya.

Rosa menyilangkan kaki. "Aku butuh bantuan kecil."

"Kalau soal voting atau komentar di depan kamera, aku bisa bantu. Tapi kalau kamu mau menjatuhkan Wenny lagi, aku tidak mau."

Rosa menatapnya datar. "Lagi?"

Natasha sadar ia salah bicara.

Rosa berdiri pelan. "Kamu pikir kamu punya posisi untuk menolak?"

"Aku tidak mau melukai orang." Suara Natasha bergetar. "Apa pun masalahmu dengan Wenny, itu urusan kalian. Jangan tarik aku."

Rosa tertawa kecil, pendek dan tanpa hangat. "Kamu pikir aku minta kamu menusuk orang?"

"Aku tidak tahu kamu mau apa."

"Justru karena itu kamu akan mendengarkan."

Natasha mundur setengah langkah ketika Rosa mendekat. Ada sesuatu dalam ketenangan Rosa yang lebih menakutkan daripada teriakan. Orang yang marah bisa kehilangan kendali. Rosa tidak. Ia menghitung setiap kata seolah sudah menulis hasil akhirnya.

"Beberapa hari lagi ada segmen makanan lagi," kata Rosa. "Tim dapur akan menyiapkan bahan khusus untuk Wenny. Gluten free, tentu saja."

Natasha langsung mengangkat wajah. "Jangan."

"Aku belum bilang apa-apa."

"Kamu tidak perlu bilang. Aku tahu arahmu." Mata Natasha mulai basah. "Itu alergi, Rosa. Kalau parah, dia bisa masuk rumah sakit."

"Mungkin."

"Kamu gila."

Tamparan tidak terjadi.

Rosa hanya tersenyum lebih tipis.

"Hati-hati. Video ini bisa dikirim ke produser malam ini juga."

Natasha menutup mulut dengan tangan. Napasnya mulai cepat.

"Aku tidak akan melakukan itu," bisiknya. "Aku tidak mau."

"Kamu hanya perlu membuka akses."

"Akses apa?"

"Ruang penyimpanan bahan." Rosa berjalan kembali ke meja, mengambil ponselnya. "Besok setelah briefing, kamu akan diminta membantu mengambil properti untuk segmen berikutnya. Kamu bilang kepada kru bahwa kunci loker bahan tertinggal, lalu minta salah satu staf baru mengambilnya. Sisanya bukan urusanmu."

"Kamu sudah mengatur staf?"

"Aku mengatur banyak hal."

"Siapa?"

Rosa tidak menjawab.

Natasha menggeleng. "Tidak. Kalau Wenny kenapa-kenapa, ini bukan permainan."

"Memang bukan permainan."

Kalimat itu membuat Natasha semakin pucat.

Rosa mencondongkan tubuh. "Dengar baik-baik. Kamu tidak menyentuh makanan. Kamu tidak mengganti apa pun. Kamu hanya membuat pintu yang tepat terbuka pada waktu yang tepat. Kalau ada masalah, kamu bahkan bisa menangis paling keras di depan kamera."

"Aku tidak sekejam itu."

"Tapi kamu cukup takut untuk patuh."

Natasha menggigit bibir sampai hampir berdarah.

Di luar kamar, langkah kru lewat sebentar, lalu menjauh. Suara itu membuat Natasha memandang pintu, seperti ingin berteriak minta tolong. Namun ponsel di tangan Rosa menyala lagi, menampilkan thumbnail video yang sama.

Rosa tahu ia menang.

"Besok," katanya. "Jangan salah waktu."

Natasha menatapnya dengan mata merah. "Kalau aku bilang ke REYN?"

"Video keluar. Kariermu selesai. Dan kamu tahu, orang akan tetap bertanya kenapa kamu menunggu sampai sekarang untuk bicara." Rosa berhenti di depan pintu. "Selain itu, apa kamu yakin REYN akan percaya kamu sebelum sempat percaya Wenny hampir celaka?"

Natasha tidak punya jawaban.

Rosa keluar dari kamar itu dengan langkah tenang.

***

Kembali di kamarnya, Rosa mengunci pintu lagi.

Ia membuka daftar kontak yang tidak tersimpan dengan nama jelas. Hanya angka dan satu huruf.

`H.`

Panggilan tersambung setelah beberapa nada.

Suara di seberang rendah, kasar, dan sedikit serak. Di belakangnya terdengar denting gelas, teriakan laki-laki, dan bunyi mesin permainan dari tempat yang terlalu ramai untuk disebut kantor.

"Ada urusan apa malam-malam?"

Rosa menatap pantulan wajahnya di cermin meja rias. "Aku butuh orang yang bisa masuk ke dapur produksi tanpa banyak tanya."

"Mahal."

"Aku bayar."

"Barangnya apa?"

"Bukan barang." Rosa membuka catatan bahan makanan di ponselnya. "Hanya menukar satu jenis tepung dengan yang lain. Labelnya tetap sama."

Ada tawa pendek di seberang, kasar dan tidak enak didengar. "Kamu makin kreatif."

"Aku makin muak."

Suara di seberang menjadi lebih pelan. "Target?"

Rosa memejamkan mata sebentar. Di kepalanya muncul senyum Wenny di depan ruang piano. Cara REYN menunduk ketika Wenny tertawa. Cara seluruh negara seperti sudah memutuskan bahwa mereka berdua pantas bahagia.

Saat Rosa membuka mata, tidak ada ragu di wajahnya.

"Wenny."

Hening sekejap.

Lalu suara itu berkata, "Atur waktunya."

Rosa menutup catatan dan menatap layar yang mulai menggelap.

Pagi nanti Natasha akan gemetar.

Kru akan sibuk.

Wenny akan percaya pada label yang selalu melindunginya.

Rosa tersenyum dingin.

"Lakukan apa yang kukatakan," katanya, seolah Natasha masih berdiri di depannya. "Urusan tepung, aku yang atur."

Ia memutus panggilan.

Di detik terakhir sebelum layar mati, suara kasar dan riuh latar tempat judi itu masih sempat terdengar, seperti tanda bahwa bahaya sudah bergerak dari luar villa menuju dapur yang tampak bersih.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!