Raffi adalah anak di luar nikah dari Mahesa Pratama, Presiden Direktur Pratama Group Hotel, hasil hubungannya dengan Maya Indira. Meski lahir tanpa status yang diakui keluarga, Raffi mewarisi kecerdasan, bakat kepemimpinan, dan naluri bisnis yang membuat Mahesa diam-diam berniat menjadikannya penerus kerajaan bisnisnya.
Namun, keputusan itu memicu amarah istri sah Mahesa. Demi memastikan putra kandungnya, Julian, menjadi satu-satunya pewaris Pratama Group Hotel, ia menyusun berbagai rencana licik untuk menyingkirkan Raffi. Berbagai fitnah, pengkhianatan, hingga perebutan hak waris membuat Raffi kehilangan segalanya dan dipaksa memulai hidup dari nol.
Dengan tekad yang tak pernah padam, Raffi membangun kembali kariernya dari bawah. Ia berjuang membuktikan bahwa kesuksesan bukan ditentukan oleh status kelahiran, melainkan kerja keras, kemampuan, dan keteguhan hati. Langkah demi langkah, ia bangkit untuk merebut kembali tempat yang seharusnya menjadi miliknya dan cintanya dengan dewi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velin Agustiningtias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
jebakan pilihan
Malam semakin larut. Jarum jam di ruang keluarga menunjukkan hampir pukul sebelas malam.
Mahesa yang semula masih sibuk memeriksa berkas akhirnya menutup map di hadapannya. Pandangannya beberapa kali tertuju ke arah pintu utama.
"Naura belum pulang..." gumamnya pelan.
Ia meraih ponselnya dan menghubungi istrinya. Beberapa saat kemudian, sebuah pesan masuk lebih dulu.
"Aku masih bersama teman-teman. Mungkin pulang agak malam. Jangan menungguku."
Tak lama setelah itu, Naura juga mengirimkan sebuah foto yang memperlihatkan dirinya bersama beberapa teman wanita di sebuah kafe.
Mahesa memperhatikan foto itu sekilas. Ia tidak menaruh curiga sedikit pun.
"Baik. Hati-hati di jalan," balasnya singkat.
Setelah mengirim pesan tersebut, Mahesa meletakkan kembali ponselnya. Ia memilih mempercayai penjelasan istrinya, meski di dalam hatinya terselip sedikit rasa khawatir karena waktu sudah semakin larut.
Di sisi lain, Naura menatap layar ponselnya dengan napas yang terasa berat. Semakin banyak kebohongan yang ia ucapkan, semakin besar pula beban yang harus ia tanggung.
Ia memejamkan mata sejenak, dihantui perasaan bersalah yang terus mengusik hati. Untuk sesaat, ia bertanya pada dirinya sendiri berapa lama semua rahasia itu masih bisa disembunyikan.
Di luar ruangan, malam terus berjalan tanpa suara. Namun, di balik ketenangan itu, benih-benih konflik semakin tumbuh dan perlahan mengarah pada saat ketika seluruh kebenaran tak lagi bisa disembunyikan.
Suasana di ruangan terasa hening. Setyo berdiri membelakangi Naura, jelas menunjukkan raut kesal setelah menyadari bahwa pertemuan mereka kembali dibayangi kebohongan.
"Aku lelah hidup seperti ini, Naura," ucapnya dengan nada tertahan. "Setiap kali kita bertemu, selalu ada rasa takut ketahuan."
Naura mengembuskan napas panjang. Wajahnya tampak letih, seolah beban yang dipikulnya semakin berat dari hari ke hari.
"Tolong... bersabar sedikit lagi," katanya lirih.
Setyo menoleh. "Sampai kapan?"
Naura menundukkan kepala.
"Aku belum bisa pergi begitu saja. Semuanya belum selesai."
Ia mengusap pelipisnya yang terasa berdenyut.
"Setiap hari aku menghadapi tekanan di rumah. Mertuaku terus menanyakan kapan aku memberi mereka cucu, terutama anak laki-laki. Rasanya aku tidak pernah benar-benar tenang."
Suaranya mulai bergetar.
"Aku sudah lelah dengan semua tuntutan itu. Apa pun yang kulakukan selalu kembali pada pertanyaan yang sama."
Setyo menarik napas dalam. Amarahnya perlahan mereda, berganti dengan kekhawatiran melihat kondisi Naura.
"Kebohongan yang terus dipertahankan hanya akan membuat semuanya semakin rumit," ujarnya pelan. "Semakin lama ditunda, semakin besar pula akibatnya."
Naura terdiam. Ia tahu ucapan itu benar. Namun, ia juga merasa telah terjebak dalam pilihan-pilihan yang semuanya tampak membawa luka.
Malam itu, tidak ada lagi yang mampu mereka ucapkan. Keheningan justru menjadi pengingat bahwa rahasia yang mereka simpan perlahan berubah menjadi beban yang mengancam menghancurkan kehidupan mereka sendiri.
Keesokan paginya, Maya berdiri cukup lama di depan kontrakannya. Koper kecil berada di samping kakinya, sementara map kontrak kerja masih digenggam erat.
Ia menarik napas panjang berulang kali, berusaha menenangkan kecemasan yang sejak semalam memenuhi pikirannya.
"Ini kesempatan besar, Maya," bisiknya pada diri sendiri. "Jangan mundur hanya karena takut."
Dengan tekad yang mulai menguat, ia akhirnya menaiki taksi menuju kediaman keluarga Pratama.
Sesampainya di sana, gerbang megah perlahan terbuka. Maya kembali dibuat takjub melihat luasnya halaman, taman yang tertata indah, serta bangunan utama yang tampak semakin megah di bawah sinar matahari pagi.
Ratih sudah berdiri di teras rumah, seolah memang menunggu kedatangannya.
"Selamat datang, Maya," ucap Ratih dengan senyum hangat.
Maya segera menundukkan kepala dengan hormat.
"Selamat pagi, Bu Ratih."
Ratih mengangguk kepada para pelayan.
"Tolong bawakan koper dan tas Maya ke kamar yang sudah disiapkan."
"Baik, Nyonya."
Dua orang pelayan langsung mengambil koper dan tas milik Maya. Gadis itu sempat terkejut dan refleks ingin menolak.
"Tidak usah, saya bisa membawanya sendiri."
Ratih tersenyum lembut.
"Mulai hari ini kamu bagian dari tim yang bekerja untuk keluarga ini. Biarkan mereka menjalankan tugasnya."
Maya hanya bisa mengangguk pelan. Ia mengikuti langkah Ratih memasuki rumah yang begitu luas. Langit-langit tinggi, lampu kristal, dan interior mewah membuatnya merasa seolah sedang berada di hotel berbintang, bukan di sebuah rumah.
"Jadi... mulai hari ini aku benar-benar tinggal di sini?" gumamnya dalam hati, masih sulit mempercayai kenyataan yang ada di depan matanya.
Di saat yang sama, Mahesa baru saja menuruni anak tangga. Langkahnya terhenti ketika melihat seorang gadis asing mengikuti ibunya.
"Ibu," panggil Mahesa. "Siapa dia?"
Ratih menoleh sambil tersenyum.
"Namanya Maya. Dia yang bekerja saat acara keluarga beberapa hari lalu."
Mahesa mengamati Maya sejenak. Wajah gadis itu terasa familiar, lalu ia teringat pernah melihatnya sibuk melayani tamu.
"Bukankah dia salah satu karyawan hotel?"
"Benar," jawab Ratih tenang. "Mulai hari ini Maya akan membantuku."
Mahesa mengernyit.
"Membantu Ibu?"
Ratih mengangguk.
"Besok kalian berdua akan berangkat ke vila keluarga di Puncak. Ada beberapa urusan administrasi dan persiapan yang harus dibereskan di sana. Maya akan membantu mengurus semuanya bersamamu."
Ucapan itu membuat Mahesa sedikit terkejut, tetapi tidak sebesar keterkejutan Maya.
Maya spontan mengangkat wajahnya.
"Maaf, Bu... ke... ke Puncak?" tanyanya dengan nada gugup.
"Iya," jawab Ratih mantap. "Kamu tidak perlu khawatir. Aku sudah melihat kemampuanmu. Anggap saja ini bagian dari tugas barumu."
Maya terdiam. Baru hari pertama ia menginjakkan kaki di rumah keluarga Pratama, kini ia langsung mendapat tugas pergi ke vila bersama Mahesa. Jantungnya kembali berdegup kencang. Semua perubahan dalam hidupnya terjadi begitu cepat hingga ia belum sempat menyesuaikan diri.
Seorang pelayan mengantar Maya menuju kamar yang telah disiapkan untuknya. Begitu pintu dibuka, Maya hanya mampu terdiam.
Kamar itu jauh lebih luas daripada kamar kontrakan yang selama ini ia tempati. Tempat tidurnya berukuran besar dengan seprai putih yang rapi, lemari pakaian dari kayu jati memenuhi salah satu sisi ruangan, sementara di dekat jendela terdapat meja kerja dan sofa kecil. Bahkan kamar mandi di dalamnya tampak lebih mewah daripada seluruh isi kontrakannya.
"Ini... untuk saya?" tanya Maya lirih, masih tak percaya.
"Iya, Nona Maya," jawab pelayan itu ramah. "Mulai hari ini kamar ini menjadi tempat tinggal Anda."
Maya mengusap lembut seprai di atas ranjang. Perasaan haru bercampur gugup memenuhi dadanya. Ia tak pernah membayangkan hidupnya berubah secepat ini.
---
Tak lama kemudian, Ratih mengetuk pintu kamar.
"Maya, boleh masuk?"
"Tentu, Bu."
Ratih masuk sambil membawa sebuah map berisi beberapa dokumen.
"Ada satu tugas yang ingin kujelaskan sebelum kalian berangkat besok."
Maya segera duduk dengan rapi.
"Vila keluarga di Puncak sedang dalam tahap akhir renovasi. Selama tiga hari ke depan, Mahesa harus berada di sana untuk memeriksa hasil pekerjaan dan menyelesaikan beberapa urusan."
Ratih membuka salah satu lembar dokumen.
"Tugasmu adalah membantu menyiapkan vila agar kembali layak ditempati. Pastikan seluruh ruangan bersih, perlengkapan rumah tertata, dan kebutuhan sehari-hari tersedia. Kalau memungkinkan, kamu juga bisa menyiapkan makanan selama berada di sana."
Maya mengangguk pelan.
"Baik, Bu. Saya akan berusaha sebaik mungkin."
Ratih tersenyum puas.
"Aku memilihmu karena aku percaya kamu mampu."
---
Di ruang keluarga, Ratih kemudian menyampaikan rencana itu kepada Mahesa.
"Besok Maya akan ikut denganmu ke vila."
Mahesa mengangguk tanpa banyak protes.
"Aku tidak keberatan. Justru akan lebih mudah kalau ada yang membantu menyiapkan vila setelah renovasi."
Ratih tersenyum tipis.
"Naura belum perlu ikut."
Mahesa menoleh.
"Kenapa?"
"Renovasinya memang hampir selesai, tetapi masih ada beberapa bagian yang harus dirapikan. Biarkan Maya membantu menyiapkan semuanya terlebih dahulu. Kalau vila sudah benar-benar bersih dan nyaman, barulah Naura bisa menyusul jika memang ingin datang."
Mahesa memahami alasan ibunya.
"Itu juga lebih baik. Aku tidak ingin Naura merasa tidak nyaman karena rumahnya masih berdebu dan belum siap ditempati."
Ratih mengangguk pelan.
"Kalau begitu, besok pagi kalian berangkat lebih awal."
Di lantai atas, Maya yang baru selesai merapikan pakaiannya sama sekali tidak mengetahui bahwa penugasan selama tiga hari di vila keluarga Pratama akan menjadi awal dari berbagai peristiwa yang perlahan mengubah jalan hidupnya.
Menjelang siang, Naura akhirnya tiba di rumah. Baru saja memasuki ruang keluarga, ia mendengar percakapan Ratih dan Mahesa mengenai keberangkatan ke vila keluarga di Puncak.
"Besok pagi kalian berangkat lebih awal," ujar Ratih.
Naura yang semula hendak menaiki tangga langsung menghentikan langkahnya.
"Berangkat?" tanyanya heran. "Ke mana?"
Ratih menoleh.
"Mahesa akan ke vila di Puncak selama tiga hari untuk memastikan renovasi hampir selesai. Maya juga ikut membantu menyiapkan vila."
Raut wajah Naura langsung berubah.
"Maya? Karyawan hotel itu?"
"Iya," jawab Ratih singkat.
Naura memandang Mahesa dengan nada kecewa.
"Kenapa aku baru diberi tahu sekarang?"
Mahesa mendekatinya dengan tenang.
"Karena semuanya diputuskan tadi pagi."
"Aku juga bisa ikut."
Mahesa tersenyum tipis sambil menggeleng.
"Renovasinya belum benar-benar selesai. Masih banyak debu, beberapa ruangan masih harus dibersihkan dan ditata."
"Lalu?"
"Aku tahu kamu tidak terlalu suka berada di tempat yang masih berantakan. Membersihkan rumah juga bukan pekerjaan yang kamu nikmati."
Ucapan itu membuat Naura terdiam sejenak.
Mahesa melanjutkan dengan nada lembut, tanpa bermaksud menyalahkan.
"Aku ingin kamu datang saat vilanya sudah benar-benar rapi dan nyaman. Setelah semuanya selesai, kita bisa menghabiskan waktu di sana bersama."
Ratih ikut menimpali.
"Itu juga alasanku meminta Maya membantu. Dia memang ditugaskan untuk memastikan vila siap ditempati."
Naura memaksakan senyum kecil, tetapi hatinya tetap dipenuhi rasa tidak nyaman. Entah mengapa, kehadiran Maya di rumah ini sejak hari pertama sudah membuatnya merasa tersisih. Kini, wanita itu bahkan akan mendampingi Mahesa mengurus vila keluarga selama beberapa hari.
Meski Mahesa menjelaskan semuanya sebagai urusan pekerjaan, Naura tetap menyimpan kegelisahan yang sulit ia jelaskan. Untuk pertama kalinya, ia merasa posisinya sebagai istri mulai terusik, meski belum ada alasan nyata yang dapat ia tunjukkan.
Naura menatap layar ponselnya cukup lama. Jemarinya berkali-kali bergerak di atas papan ketik, lalu berhenti. Pikirannya masih dipenuhi berbagai kejadian dalam dua hari terakhir.
Ia akhirnya mengirim sebuah pesan singkat kepada Setyo.
"Mahesa besok berangkat ke vila keluarga selama beberapa hari. Kita tidak boleh gegabah. Semakin sering bertemu, semakin besar risikonya."
Tak lama kemudian balasan datang.
"Aku mengerti. Tapi aku juga lelah terus hidup dalam bayang-bayang ketakutan."
Naura mengembuskan napas panjang. Dadanya terasa sesak.
"Aku juga. Akhir-akhir ini semuanya terasa semakin rumit. Mertuaku terus menekan soal keturunan, sementara Mahesa mulai lebih sering sibuk dengan urusan vila dan pekerjaan."
Setyo membaca pesan itu beberapa saat sebelum membalas.
"Mungkin ini saatnya kamu memikirkan apa yang benar-benar kamu inginkan."
Naura terdiam. Pertanyaan itu justru membuatnya semakin bimbang. Selama ini ia merasa mampu mengendalikan keadaan, tetapi kini ia mulai menyadari bahwa setiap kebohongan hanya membuat dirinya semakin terjebak.
Ia menatap keluar jendela kamar. Langit mulai menggelap, sama seperti pikirannya. Untuk pertama kalinya, ia bertanya dalam hati apakah semua yang telah ia lakukan masih bisa diperbaiki, atau justru sedang membawanya menuju kehancuran yang tak dapat dihindari.
Setyo... aku benar-benar masih kepikiran semalam. Rasanya sulit dilupakan. Besok Mas ada waktu, kan?
pesan Naura \=
Suamiku besok berangkat ke vila keluarga selama tiga hari. Aku baru akan menyusul di hari ketiga, jadi kita punya waktu dua hari untuk bertemu tanpa terburu-buru.
kita atur semuanya dari sekarang. Aku sudah tidak sabar bertemu lagi.