Sekar Sie bukan siapa-siapa.
Dia gadis biasa dari keluarga sederhana — ayah sudah meninggal, ibu sakit, adiknya masih kecil. Hidupnya hancur ketika Nyonya Tan, wanita paling berkuasa di keluarga Tan, memaksanya menyamar sebagai **Felicia Tan** — putri keempat keluarga Tan — untuk menikah masuk ke keluarga konglomerat Liem.
Alasannya? Felicia yang asli mengidap penyakit parah dan harus bersembunyi dari dunia.
Sekar tidak punya pilihan. Keluarganya dijadikan sandera. Satu langkah salah, identitas palsunya terbongkar, dan semua orang yang dia cintai akan menderita.
Tapi malam pertunangan, segalanya berubah.
Di lorong gelap Hotel Mulia, Sekar yang mabuk tanpa sengaja menyentuh orang yang paling tidak boleh dia sentuh — **Renard Liem**. Bukan tunangannya Kevin, tapi sepupu Kevin. Pewaris sejati keluarga Liem. Pria paling berbahaya di Jakarta.
Dan Renard... tidak melepaskannya.
Di balik wajah dinginnya, Renard menyimpan rahasia sendiri — dia **tahu** Sekar bukan Felicia. Tapi alih-alih membongkar kebohongannya, dia justru melindunginya. Membelikannya cincin rubah berlian merah. Mempertaruhkan nyawa untuknya. Menyerahkan seluruh kekayaannya atas nama Sekar.
Tapi cinta Renard datang dengan harga.
Sekar terjebak di antara pertarungan warisan keluarga Liem yang brutal — Darren si sepupu licik, Jesslyn si menantu yang menyimpan pisau di balik senyum, dan Engkong Liem yang memainkan semua orang seperti bidak catur. Belum lagi jantung Sekar yang semakin lemah, dan masa lalu Renard yang bisa menghancurkan segalanya...
Termasuk sebuah kebenaran tentang kematian ayah Sekar — kebenaran yang mengarah langsung ke tangan pria yang paling dia cintai.
**Bisakah cinta bertahan ketika semua yang kamu percaya ternyata kebohongan?**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laras Cinta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34
Bab 34: Tarian di Kegelapan
Rumah Tua menjadi tempat Sekar bernapas.
Ia tidak mengatakan itu kepada siapa pun. Bahkan kepada dirinya sendiri pun ia jarang berani mengakuinya. Tetapi setiap kali ia membuka gerbang kecil dengan kunci besi tua, ada bagian di dalam dadanya yang berhenti bersiap diserang.
Malam itu, Renard bekerja di ruang tengah. Berkas-berkas tersebar di meja rendah. Lampu berdiri menyala hangat. Di luar, kebun yang mulai hidup mengirim aroma tanah dan melati melalui jendela terbuka.
Sekar datang dengan sepatu balet lama di tas.
"Aku boleh memakai ruang itu?" tanyanya, menunjuk ruang kosong dekat jendela besar.
Renard mengangkat mata dari berkas. "Kalau kamu tidak menabrak meja."
"Aku tidak seburuk itu."
"Aku belum menilai."
Sekar ingin membalas, tetapi sudut mulutnya bergerak lebih dulu.
Ia mengganti sepatu di sudut ruangan. Kainnya sudah pudar. Solnya tidak sempurna. Namun ketika ujung kakinya menyentuh lantai kayu, tubuhnya mengingat lebih cepat daripada kepalanya.
Musik tidak menyala. Ia hanya menghitung pelan dalam hati.
Satu. Dua. Tiga. Empat.
Gerakan pertama kaku. Tubuhnya terlalu lama dipakai untuk bertahan, bukan menari. Bahunya tegang. Napasnya pendek. Tetapi perlahan, lantai menerima beratnya. Tangan yang biasanya mencengkeram rahasia mulai membuka. Kakinya meluncur, berputar kecil, berhenti, lalu mencoba lagi.
Di kaca jendela, ia melihat pantulan dirinya. Bukan Felicia Tan dengan gaun mahal. Bukan alat Lilian. Bukan tunangan Kevin. Hanya seorang perempuan dengan sepatu lama dan tubuh yang masih ingat cara mencari garis indah di tengah hidup yang bengkok.
Sekar hampir menangis karena hal sesederhana itu.
Ia menelan rasa itu dan berputar lagi.
Renard tidak berkomentar.
Ia membaca berkas.
Atau pura-pura membaca.
Sekar bisa merasakan pandangannya sesekali naik, mengikuti gerak pergelangan, garis punggung, dan cara ia menarik napas ketika hampir kehilangan keseimbangan.
Anehnya, tatapan itu tidak membuatnya ingin berhenti.
Mungkin karena Renard tidak melihatnya seperti Kevin melihat barang yang merepotkan. Tidak seperti Celine melihat kelemahan. Tidak seperti Lilian melihat alat.
Renard melihat seolah gerakan itu adalah bahasa asing yang ingin ia pahami.
Setelah beberapa putaran, Sekar berhenti di dekat jendela. Napasnya hangat. Keringat tipis muncul di pelipis.
"Siapa yang mengajarimu?" tanya Renard.
"Guru tari pertama. Lalu sekolah. Lalu Papa."
"Ardy mengajar balet?"
Sekar tersenyum kecil. "Tidak. Papa mengajar musik. Tapi dia tahu kapan aku salah menghitung ketukan. Dia duduk di ruang tamu dengan piano tua dan berkata, lagi dari awal, Kar."
Nama kecil itu keluar begitu saja.
Renard menangkapnya. "Kar."
Sekar menoleh cepat.
"Jangan."
"Kenapa?"
"Itu bukan untukmu."
Renard menatapnya sesaat. Lalu mengangguk. "Baik."
Jawaban itu membuat Sekar lebih terkejut daripada jika ia mengejek.
"Kamu selalu berhenti kalau diminta berhenti?" tanya Sekar.
"Tidak."
"Lalu kenapa sekarang?"
"Karena nama kecil bukan barang yang boleh dicuri."
Sekar tidak tahu harus berkata apa.
Ia duduk di lantai, melepas sepatu. "Papa percaya musik bisa membuat orang tidak kehilangan diri."
"Berhasil?"
"Dulu." Sekar menggulung tali sepatu di jari. "Setelah dia meninggal, musik justru membuat rumah terasa terlalu kosong."
Renard menutup berkas.
Untuk beberapa saat, hanya suara kertas dan angin yang terdengar.
"Kamu pernah bekerja di rumah Ong," katanya.
Tubuh Sekar menegang sebelum ia sempat mengendalikan diri.
Renard melihatnya. "Kamu tidak perlu menjawab."
Sekar memandang sepatu di pangkuan. "Aku tidak lama di sana."
"Wira juga pernah di sana."
"Aku tahu."
"Elvin tahu kamu?"
Pertanyaan itu lembut, tetapi tajam.
Sekar mengingat lorong luas Kediaman Ong. Lantai dingin. Seragam pelayan yang selalu terasa salah di tubuhnya. Tatapan beberapa orang yang tidak menganggap pekerja rumah sebagai manusia utuh. Wira yang terlalu sering berdiri di dekat dapur. Dan di kejauhan, sesekali, Elvin Ong berjalan melewati rumah itu dengan wajah tenang.
"Mungkin," jawabnya. "Aku tidak yakin."
"Kamu takut pada rumah itu."
Sekar tertawa pelan tanpa humor. "Aku takut pada banyak rumah."
Renard tidak menuntut penjelasan.
Karena ia juga punya rumah yang penuh pintu terkunci.
Keheningan setelah itu tidak canggung. Aneh, tetapi benar. Renard kembali membuka berkas, Sekar kembali mengenakan sepatu, dan selama beberapa menit mereka berada dalam ruang yang sama tanpa saling menuntut apa pun. Bagi orang lain, mungkin itu bukan kedekatan. Bagi Sekar, itu hampir seperti tempat beristirahat.
Ia mencoba satu rangkaian gerak yang dulu selalu gagal ia kuasai saat remaja. Putaran kecil, lalu langkah mundur, lalu tangan membuka seperti menahan cahaya. Dulu Ardy selalu tertawa setiap kali ia jatuh ke sofa.
Jangan buru-buru jadi indah, Kar. Benar dulu. Indah datang belakangan.
Ingatan itu datang begitu jelas sampai Sekar hampir kehilangan keseimbangan.
Sebelum ia jatuh, tangan Renard sudah berada di dekat sikunya.
Ia tidak benar-benar menyentuh.
Hanya siap menangkap jika perlu.
Sekar menatap tangan itu, lalu menatap Renard.
"Aku baik-baik saja."
"Aku tahu."
"Lalu kenapa berdiri?"
"Karena tahu tidak sama dengan membiarkan."
Kalimat itu membuat napas Sekar tersangkut.
Renard kembali ke kursinya seolah tidak mengatakan apa pun yang bisa mengubah suhu ruangan.
Sekar berdiri lagi. Kali ini ia tidak menari teknik. Ia hanya bergerak mengikuti melodi yang muncul di kepala. Lagu lama yang dulu sering dimainkan Ardy saat malam listrik padam. Nada sederhana, sedikit sedih, tetapi hangat seperti lampu minyak di meja makan.
"Lagu ini kesukaan Papa," katanya, lebih kepada dirinya sendiri.
Renard sangat diam.
Sekar berhenti bergerak. "Apa?"
Renard menatap jendela, bukan kepadanya.
"Aku pernah mendengar ayahmu memainkannya."
Sekar merasa seluruh ruangan berhenti.
"Kapan?"
Renard tidak langsung menjawab.
"Di Surabaya?" Sekar bertanya. "Atau di Jakarta? Sebelum Papa meninggal?"
Wajah Renard tertutup perlahan, seperti pintu yang didorong dari dalam.
"Sebelum semuanya."
"Itu bukan jawaban."
"Itu satu-satunya jawaban yang bisa kuberi malam ini."
Sekar ingin marah. Tetapi ia baru saja menari dengan bayangan ayahnya di ruangan yang sama dengan pria yang membawa bagian lain dari masa lalu itu. Kemarahan terasa terlalu kasar untuk momen yang belum selesai.
Di luar, melati bergerak tertiup angin malam.
Dan sekali lagi, masa lalu berdiri di antara mereka, terlalu dekat untuk diabaikan, terlalu jauh untuk disentuh.