NovelToon NovelToon
Dua Bulan Saja, Sayang

Dua Bulan Saja, Sayang

Status: tamat
Genre:Romantis / CEO / Kisah cinta masa kecil / Nikah Kontrak / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:14.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mira K.

Naomi Liem punya satu rahasia yang tidak pernah dia ceritakan kepada siapa pun:

Dia sudah menyukai Kelvin Hartono sejak SMA.

Tapi Kelvin adalah pewaris konglomerat Hartono Group, dan Naomi? Cuma mahasiswi yang kerja sambilan di minimarket kampus, masih terjerat utang pinjol, dan punya masa lalu yang ingin dia kubur dalam-dalam.

Jadi ketika Kelvin butuh pacar palsu untuk menghindari perjodohan keluarga, Naomi melihat kesempatan — dua bulan berpura-pura pacaran, lalu dapat bayaran. Sederhana.

Yang tidak sederhana adalah:
Cara dia menatapnya terlalu lama.
Cara dia mengingat hal-hal kecil yang bahkan Naomi sendiri sudah lupa.
Cara dia bilang "Baby" — yang awalnya terdengar main-main, tapi lama-lama terasa terlalu nyata.

Dan yang paling tidak sederhana — dua bulan sudah habis. Tapi tidak ada yang bilang "selesai."

"Dulu, kamu bilang dua bulan. Sekarang, tidak ada batas waktu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 17

Bab 17: Semuanya Rasa Jeruk

Naomi tidak sadar dirinya membawa aroma jeruk ke apartemen Kelvin sampai Kelvin mengatakannya langsung.

Pagi itu, ia sedang berdiri di dapur, memeras jeruk kecil ke dalam gelas air hangat karena tenggorokannya terasa kering setelah semalaman mengerjakan terjemahan. Rambutnya masih sedikit basah setelah mandi, ujungnya menetes ke handuk kecil di bahu. Felix duduk di dekat kulkas, menatap gelasnya dengan rasa ingin tahu yang berlebihan.

"Ini bukan untuk kamu," kata Naomi.

Felix mengedip.

"Kamu sudah makan."

Felix tetap menatap.

Kelvin keluar dari kamarnya dengan rambut belum sepenuhnya rapi, memakai kaus putih polos dan celana santai. Ia berjalan ke mesin kopi, lalu berhenti di dekat Naomi.

"Kamu ini," katanya, "semuanya rasa jeruk."

Naomi menoleh. "Apa?"

Kelvin mengambil kapsul kopi dari laci. "Shampoo jeruk. Sabun cuci tangan jeruk. Permen di tasmu jeruk. Sekarang minum jeruk."

Naomi menatap gelasnya, lalu rambutnya, lalu meja dapur, seolah bukti kejahatan baru saja dibeberkan.

"Saya tidak sadar."

"Serius?"

"Yang diskon biasanya varian jeruk."

Kelvin memasukkan kapsul kopi ke mesin. "Jadi alasanmu bukan suka, tapi diskon?"

Naomi diam sebentar.

Sebenarnya ia memang suka.

Aroma jeruk membuatnya merasa bersih tanpa terasa mahal. Segar tanpa harus menjadi wangi yang rumit. Di kos, sabun jeruk murah bisa menutup bau lembap kamar mandi. Di minimarket, permen jeruk kecil di kantong bisa menahan rasa lapar beberapa menit. Jeruk adalah hal sederhana yang tidak membuatnya merasa bersalah saat menginginkannya.

"Dua-duanya," jawabnya akhirnya.

Kelvin menatapnya dari samping.

"Suka, tapi kebetulan murah."

"Itu baru jawaban."

Naomi menunduk sambil mengaduk air jeruknya. Entah kenapa kalimat sesederhana itu terasa seperti pujian.

Mesin kopi berbunyi. Felix tiba-tiba berdiri, menghampiri Naomi, lalu menyelipkan kepala ke bawah tangannya. Naomi otomatis mengusap lehernya.

"Felix juga suka jeruk?" tanya Naomi.

Kelvin mengambil cangkir kopi. "Dia suka kamu."

Gerakan tangan Naomi berhenti.

Kelvin meneguk kopi seolah tidak baru saja mengatakan sesuatu yang membuat dapur terasa terlalu sempit.

"Maksudku, dia suka semua yang kamu pegang."

"Kamu tidak perlu menjelaskan."

"Aku sedang menjelaskan untuk anjingku."

Felix menggonggong sekali.

Naomi menatap Felix. "Kamu juga jangan ikut-ikut."

Hari-hari setelah itu membuat Kelvin semakin sering menemukan jeruk di tempat-tempat kecil.

Di kamar mandi tamu, botol shampoo Naomi berwarna oranye pucat. Di rak dapur, ada sekantong jeruk manis kecil yang Naomi beli dari pasar dekat kampus karena harganya lebih murah menjelang tutup. Di tas tote bag-nya, selalu ada permen jeruk yang bungkusnya dilipat rapi agar tidak berantakan. Bahkan deterjen cair yang ia pakai untuk mencuci beberapa baju sendiri memiliki aroma citrus.

Kelvin tidak mengatakan apa-apa pada awalnya.

Ia hanya mulai tahu.

Jika pintu kamar tamu terbuka sedikit pada pagi hari, ada aroma jeruk tipis keluar bersama udara dingin AC. Jika Naomi duduk di meja makan mengerjakan tugas, sisi sofa tempat ia biasa meletakkan cardigan menyimpan wangi yang sama. Jika Felix baru saja menempel terlalu lama pada Naomi, bulu di kepalanya ikut membawa aroma jeruk.

"Kamu menular ke anjingku," kata Kelvin suatu sore.

Naomi sedang menyisir Felix di ruang tamu. "Saya tidak melakukan apa-apa."

"Kepalanya bau jeruk."

Naomi menunduk mengendus kepala Felix, lalu tertawa kecil. "Sedikit."

Felix tampak bangga.

Kelvin duduk di sofa seberang, tablet di tangan, tapi matanya tidak berada di dokumen. Ia melihat Naomi mengikat rambutnya dengan karet hitam, lalu kembali menyisir bulu Felix dengan gerakan lembut. Ada sesuatu yang tenang dalam cara Naomi bekerja. Seolah meskipun dunia sering membuatnya terburu-buru, tangannya selalu punya waktu untuk makhluk yang sedang ia rawat.

"Besok kamu ada kelas pagi?" tanya Kelvin.

"Iya. Setelah itu ke rumah Tante Vivian untuk cek jadwal dokter hewan Felix."

"Tidak usah."

Naomi mengangkat kepala. "Kenapa?"

"Dokter hewan datang ke apartemen."

"Tapi jadwal saya..."

"Kamu tinggal di sini. Lebih masuk akal dokter datang ke sini."

Naomi menatap Felix. Felix menatap balik, seolah semua keputusan tentang hidupnya memang harus mengikuti kenyamanan Mommy.

"Baik," kata Naomi pelan.

"Jangan terlalu cepat setuju kalau sebenarnya mau bertanya."

Naomi menghela napas. "Saya hanya belum terbiasa kalau sesuatu bisa dibuat lebih mudah."

Kelvin diam beberapa detik.

"Biasakan."

Kata itu pendek. Tapi tidak terdengar seperti perintah yang menyebalkan. Lebih seperti seseorang membuka pintu dan menyuruhnya berhenti berdiri di luar.

Sore itu, saat Kelvin pulang dari luar dengan suara sedikit serak, Naomi ragu-ragu berdiri di dapur lebih lama dari biasanya. Ia memotong satu jeruk kecil, mencampurnya dengan air hangat tanpa gula, lalu meletakkannya di meja kerja Kelvin.

"Ini untuk tenggorokan," katanya cepat. "Kalau tidak suka, tidak usah diminum."

Kelvin melihat gelas itu, lalu melihat Naomi.

"Jeruk lagi."

"Saya tidak punya jahe."

"Aku belum protes."

Naomi berdiri canggung di ambang pintu. "Rasanya mungkin agak asam."

Kelvin meneguk sedikit. Wajahnya tidak berubah, tapi ia tidak meletakkan gelas itu kembali.

"Lumayan."

Untuk Kelvin, kata itu terdengar hampir seperti enak.

Naomi menunduk, menyembunyikan senyum kecil. "Kalau begitu saya buat lagi nanti."

"Jangan terlalu asam."

"Berarti kamu mau lagi."

Kelvin menatapnya.

Naomi langsung mundur. "Saya kerjakan tugas dulu."

Malam itu, Naomi menerima video call dari Sinta dan Ayu. Mereka memeriksa kamar tamu lewat layar seperti dua petugas inspeksi.

"Kasurnya besar banget," kata Sinta.

Ayu menyipitkan mata. "Pintu ada kunci?"

"Ada."

"Kelvin kamarnya jauh?"

"Di ujung sana."

"Felix tidur mana?"

Naomi mengarahkan kamera ke bawah. Felix sedang berbaring di dekat kaki ranjang, kepalanya di atas mainan kunyah.

Ayu tampak puas. "Anjingnya lebih bisa dipercaya daripada manusia."

Naomi tertawa.

Di ruang tengah, Kelvin mendengar tawa itu dari balik pintu yang setengah terbuka. Ia baru pulang dari call kerja dan hendak mengambil air, tapi langkahnya berhenti sebentar.

Tawa Naomi berbeda saat bersama teman-temannya.

Lebih lepas.

Lebih muda.

Lebih mirip gadis seusianya.

Kelvin tidak masuk. Ia mengambil air, lalu kembali ke ruang kerja.

Beberapa jam kemudian, apartemen sunyi. Naomi sudah tidur. Felix juga tidak lagi berjalan-jalan.

Kelvin keluar untuk mematikan lampu ruang tengah. Di sofa, tertinggal sebuah syal tipis milik Naomi, warna krem, terlipat setengah karena tadi dipakai saat ia mengerjakan tugas di depan laptop.

Kelvin mengambilnya.

Niatnya hanya memindahkan ke sandaran sofa.

Namun aroma jeruk manis yang sangat tipis naik dari kain itu.

Kelvin berhenti.

Ia menatap syal di tangannya beberapa detik, lalu tanpa sadar mendekatkannya sedikit ke hidung.

Jeruk.

Bersih. Hangat. Naomi.

Kelvin tersadar hampir seketika. Ia meletakkan syal itu kembali ke sofa, lebih rapi daripada sebelumnya.

Lalu ia berdiri diam di ruang tengah yang gelap separuh, dengan wajah yang sulit dibaca.

1
Anonim
Kak keren ceritanya 🙏🏼👏🏼
Norma Indah
sepertinya kelvin sudah lama suka sama naomi😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!