Ayu Lestari tidak pernah bermimpi menjadi miliarder. Sebagai chef muda di hotel bintang lima Jakarta, hidupnya sudah cukup sibuk — memasak rendang untuk tamu-tamu kaya sambil merindukan kampung halaman di Sumatera Barat yang sudah lama ia tinggalkan.
Tapi takdir punya rencana lain. Undian berhadiah dari sebuah bank nasional menghadiahkannya 50 miliar rupiah. Jumlah yang bisa membeli apartemen mewah, mobil sport, dan kehidupan glamor seumur hidup.
Ayu memilih pulang kampung.
Di Nagari Sungai Tanang, ia merenovasi rumah gadang peninggalan keluarga, membuka Restoran Padang dengan resep warisan ibunya, dan memulai channel TikTok yang tak disangka-sangka viral. Nenek Sari yang gila belanja online dan Datuk Harun yang pendiam menyambutnya dengan tangan terbuka — bersama seekor Golden Retriever, dua anjing lain, dan tujuh ekor kucing.
Lalu datanglah Raka Pratama.
Pria Jawa berkacamata ini memesan homestay Ayu untuk "mencari inspirasi menulis." Kenyataannya? Ia sedang melarikan diri dari keluarga yang berantakan — ayah yang menikah lagi, ibu tiri yang manipulatif, dan luka masa kecil yang tak pernah sembuh. Di NovelMe, ia dikenal sebagai KentangGila, penulis novel romantis dengan jutaan pembaca. Di dunia nyata, ia bahkan tidak berani memesan makanan sendiri.
Ayu yang blak-blakan bertemu Raka yang pemalu. Chef yang jago masak bertemu pria yang bisa membakar air. Pewaris tradisi Minangkabau bertemu anak Jakarta yang tidak tahu cara makan dengan tangan.
Tapi di balik perbedaan mereka, ada kesamaan yang lebih dalam: dua orang yang kehilangan orang tua terlalu cepat, dan sedang belajar bahwa "rumah" bukan soal alamat — tapi soal siapa yang menunggumu di depan pintu.
Antara sawah hijau, aroma rendang, dan pertengkaran soal siapa yang cuci piring malam ini — cinta tumbuh pelan-pelan. Dan kali ini, Ayu tidak perlu undian untuk tahu bahwa ia sudah menang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25
Bab 25
Pertanyaan Bayu
Bayu datang sebelum makan siang dengan cara yang membuat seluruh halaman tahu ia sudah tiba.
"Raka Pratama! Keluar, wahai pertapa rumah gadang!"
Ayu yang sedang menyusun piring di restoran hampir menjatuhkan sendok. Raka yang duduk di ruang belajar langsung menutup wajah dengan satu tangan. Dian, tentu saja, tertawa paling keras.
"Itu Bayu?" tanya Ayu.
"Sayangnya iya," jawab Raka.
Di depan gerbang, seorang laki-laki berkaus putih, jaket denim, dan ransel besar melambai seperti sedang bertemu kru televisi. Wajahnya cerah, senyumnya lebar, dan energinya memenuhi halaman bahkan sebelum ia masuk.
Luna berlari menyambut. Bayu berjongkok dan langsung membuka kedua tangan.
"Nah, ini pasti Luna. Gue sudah lihat lo di TikTok. Lebih terkenal dari Raka."
Luna menjilat tangannya. Bayu tertawa puas.
Raka keluar dengan langkah pasrah. "Bayu, kecilkan suara."
"Kenapa? Takut ketahuan lo hidup bahagia?"
"Takut ayam tetangga stres."
Bayu memeluk Raka dengan satu tangan, menepuk punggungnya keras, lalu berbalik kepada Ayu.
"Mbak Ayu, kan? Wah. Aslinya lebih bagus daripada di video."
Raka langsung menegang. "Yu."
"Apa? Aku memuji dengan sopan." Bayu menyalami Ayu dengan ramah. "Bayu. Sahabat Raka sejak kuliah. Saksi hidup bahwa manusia ini dulu makan mi instan tiga hari berturut-turut dan menyebutnya meal prep."
Ayu tertawa sebelum sempat menahan diri. "Kak Raka tidak kuat pedas, tapi dulu kuat mi instan?"
"Itu masa gelap," kata Raka.
"Bukan gelap. Murah," balas Bayu.
Nenek Sari muncul dari rumah, tertarik oleh keributan. Bayu langsung menyalami dengan hormat yang mengejutkan.
"Nenek Sari, saya Bayu. Maaf datang mendadak. Saya bawa brownies dari Jakarta."
Nenek menatapnya dari atas ke bawah. "Suaramu besar."
"Iya, Nek. Dari kecil."
"Bagus. Berarti kalau memanggil ayam hilang, bisa terdengar jauh."
Bayu terdiam satu detik, lalu tertawa. "Saya siap membantu, Nek."
Dalam waktu kurang dari sepuluh menit, Bayu sudah berbicara dengan Nenek soal Shopee, dengan Datuk soal kopi, dengan Dian soal hotel, dengan Arif soal dokumen, dan dengan Luna soal popularitas. Ia seperti tidak mengenal konsep canggung.
Raka tampak lelah hanya dengan melihatnya.
"Dia selalu begini?" bisik Ayu.
"Lebih parah kalau belum makan."
"Kalau begitu cepat kasih makan."
Makan siang menjadi panggung Bayu.
Ayu menyajikan rendang, ayam pop, gulai nangka, perkedel, dan sambal yang ia pisahkan tingkat pedasnya. Bayu mencicip rendang, memejamkan mata, lalu menunjuk Raka dengan sendok.
"Pantas lo betah."
Raka menatap tajam. "Karena makanannya enak."
"Aku belum bilang alasan lain."
Dian menutup mulut, bahunya bergetar. Arif memilih minum air. Nenek Sari memperhatikan semuanya dengan mata berbinar.
Bayu tidak berhenti. Ia bercerita tentang Raka di kampus: Raka yang selalu duduk paling belakang tapi nilainya bagus, Raka yang menulis bab novel di sela kuliah, Raka yang kalau ditanya perempuan hanya menjawab dengan kalimat akademis.
"Serius, Mbak Ayu," kata Bayu. "Dulu ada yang naksir dia. Cantik, anak hukum juga. Diajak ngobrol, Raka malah bahas pasal."
Ayu menoleh kepada Raka. "Pasal apa?"
Raka menutup mata. "Saya tidak ingat."
"Pasal tentang wanprestasi!" Bayu tertawa. "Bayangkan, orang mau flirting, dia dijawab wanprestasi."
Dian memukul meja pelan karena tertawa terlalu keras.
Raka menghela napas. "Aku menyesal mengizinkan kamu datang."
"Lo tidak mengizinkan. Aku datang."
Setelah makan, mereka pindah ke teras belakang. Angin membawa udara sejuk dari sawah. Bayu duduk bersila di tikar, terlalu cepat merasa seperti keluarga. Ia memuji rumah gadang, bertanya soal restoran, minta izin merekam Luna, lalu mengaku ingin menginap semalam kalau masih ada kamar.
"Ada kamar kosong," kata Ayu.
"Wah, rezeki. Tapi jangan kamar sebelah Raka. Aku takut dengar dia menghafal TWK tengah malam."
"Aku tidak seberisik itu," kata Raka.
"Lo menghafal dengan wajah menderita. Itu sudah berisik secara spiritual."
Ayu tertawa. Raka menatapnya, dan ekspresinya langsung melunak. Bayu melihat itu.
Tentu saja Bayu melihat itu.
Ia juga melihat hal-hal kecil setelahnya.
Ketika Ayu berdiri untuk mengambil piring tambahan, Raka lebih dulu bangun dan mengambilkannya. Ketika Ayu batuk kecil karena sambal terlalu dekat uap panas, Raka langsung menggeser gelas air ke depannya tanpa menghentikan percakapan. Ketika Nenek meminta seseorang mengambil kotak keripik dari ruang makan, Raka pergi sebelum Ayu sempat bergerak.
Bayu bersandar ke tiang teras, matanya mengikuti sahabatnya dengan ekspresi seperti orang baru menemukan bahan gosip emas.
"Dia selalu begini di sini?" bisiknya kepada Dian.
Dian tersenyum miring. "Lebih parah kalau Ayu belum makan."
"Wah."
"Iya."
Arif yang mendengar hanya menggeleng. "Jangan mulai."
"Aku belum mulai," kata Bayu.
Dian menyesap teh. "Itu kalimat orang yang sebentar lagi mulai."
Ia menunggu beberapa menit, memberi waktu seolah sedang menyusun strategi. Ketika Nenek membawa teh dan semua orang berkumpul lagi, Bayu tiba-tiba mencondongkan badan ke arah Ayu.
"Mbak Ayu."
Ayu merasa sesuatu buruk akan terjadi. "Iya?"
"Aku mau tanya langsung."
Raka langsung duduk tegak. "Bayu."
"Diam. Ini pertanyaan sosial penting."
Dian menatap seperti penonton konser yang mendapat kursi depan.
Bayu menunjuk Raka dengan dagu. "Mbak, kamu suka nggak sama si Raka?"
Teras itu mendadak hening.
Benar-benar hening.
Luna yang tadi mengunyah mainan pun berhenti.
Raka membeku. Wajahnya berubah merah dari leher sampai telinga. "Bayu, kamu gila?"
"Nama pena lo KentangGila, bukan aku."
"Itu tidak relevan."
"Sangat relevan."
Ayu membuka mulut, tapi tidak ada suara keluar. Di sebelahnya, Dian menahan tawa dengan wajah menderita. Arif mengusap dahi, jelas ingin menasihati Bayu tapi juga penasaran dengan jawabannya. Nenek Sari duduk sangat tenang, terlalu tenang, seperti orang yang sudah menunggu pertanyaan itu sejak lama.
"Bayu," kata Raka lagi, suaranya rendah.
Bayu mengangkat kedua tangan. "Oke, oke. Kalau tidak mau jawab, tidak apa-apa. Aku cuma memastikan sahabatku tidak berhalusinasi sendirian."
Ayu akhirnya menemukan suaranya, meski tipis. "Halusinasi apa?"
Bayu menoleh padanya dengan wajah polos yang jelas palsu.
"Bahwa dia di sini bukan cuma karena CPNS, naskah, rendang, dan Wi-Fi."
Raka berdiri. "Aku ambil air."
"Air apa? Kamu sudah minum tiga gelas."
"Air untuk menenggelamkan kamu."
Bayu tertawa, tapi Raka benar-benar masuk ke rumah, meninggalkan Ayu dengan pertanyaan yang masih menggantung di teras.
Nenek Sari menyesap tehnya pelan.
"Pertanyaannya memang kurang halus," kata Nenek.
Ayu menoleh, berharap diselamatkan.
Dian sudah menutup wajah dengan bantal kursi. Arif pura-pura memeriksa ponsel. Bayu duduk paling santai, jelas puas karena seluruh teras kini menunggu satu jawaban dari Ayu.
Pipi Ayu terasa panas sekali.
Sangat panas.
Nenek tersenyum.
"Tapi Nenek juga ingin tahu jawabannya."