Lim Meiran terbangun dengan ingatan tentang kematiannya sendiri — dan sebuah sistem misterius yang memberinya satu peluang terakhir.
"Nilai Cinta target: -80. Naikkan ke 100, atau mati."
Target-nya? Lo Hafeng. Pewaris konglomerat yang paling membencinya di dunia ini.
Di kehidupan sebelumnya, Meiran adalah "wanita jahat" yang dihancurkan oleh takdir. Kali ini, dengan Sistem Predator di tangannya, dia memilih jalan yang berbeda — bukan mengemis cinta, tapi menaklukkan pria yang seharusnya menjadi musuhnya.
Dimulai dari taruhan bodoh, dilanjutkan dengan satu bulan menjadi "majikan"-nya, Meiran perlahan mengubah kebencian Lo Hafeng menjadi obsesi yang tak bisa dia kendalikan sendiri.
Tapi Kekuatan Takdir tidak tinggal diam. Setiap kali Nilai Cinta naik, takdir membalas — krisis bisnis, kecelakaan, bahkan hilangnya ingatan.
Dan di tengah semua itu, dua pria lain datang memperebutkan hatinya.
Siapa yang akan menang — sang predator, atau takdir yang ingin menghancurkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25
Bab 025
Keesokan paginya, Meiran menemukan Hafeng sudah berdiri di depan gerbang kampus delapan menit sebelum waktu yang ia sebut sendiri.
Mobilnya berhenti di jalur drop off dengan rapi. Tidak ada sopir. Tidak ada alasan tambahan. Hafeng bersandar di pintu mobil dengan kemeja putih yang lengannya digulung sampai siku, wajahnya setenang orang yang tidak sedang melakukan sesuatu yang terlalu aktif.
Meiran berjalan mendekat sambil membawa tote bag berisi sketsa.
"Kamu terlalu pagi."
"Kamu yang biasanya membuat orang menunggu?"
"Aku belum pernah terlambat untuk urusan penting."
Hafeng membuka pintu penumpang. "Kalau begitu masuk."
Meiran menatap pintu itu, lalu menatapnya. "Aku punya tangan."
"Aku tahu."
"Jadi?"
"Pintu ini berat."
Pintu sedan itu sama sekali tidak terlihat berat.
Meiran masuk tanpa membantah lebih jauh, hanya karena ia ingin melihat sampai sejauh mana Hafeng bisa mempertahankan alasan buruknya. Saat ia duduk, ia melihat botol air mineral dingin di cup holder, roti kecil di atas dashboard, dan satu kotak pensil baru di kursi belakang.
Ia mengambil botol itu. "Ini untuk siapa?"
"Untuk orang yang sering lupa minum."
"Aku?"
"Aku tidak menyebut nama."
"Roti itu juga kebetulan?"
"Toko roti ada di jalan."
Meiran menahan tawa. "Kamu membeli pensil juga?"
Hafeng menyalakan mesin. "Pensilmu kemarin pendek."
**【Sistem Predator】Respons target: perhatian detail meningkat. Alasan masih buruk, tetapi fungsi nyata.**
"Sisi, jangan ikut menikmati ini."
"Kamu bicara dengan siapa?" tanya Hafeng.
"Dengan kesabaranku."
"Kesabaranmu jarang menjawab."
"Karena orang di sebelahku sering membuatnya mati."
Hafeng meliriknya sekilas. Sudut bibirnya bergerak terlalu tipis untuk disebut senyum, tetapi Meiran melihatnya.
Perjalanan menuju showroom material di kawasan Kebayoran tidak terlalu jauh, hanya cukup lama untuk membuat udara di dalam mobil terasa berbeda. Bukan canggung. Lebih mirip ruang kecil yang penuh hal-hal yang tidak dikatakan.
Hafeng tidak memutar musik. Ia hanya bertanya dua kali tentang presentasi, satu kali tentang supplier, dan satu kali tentang apakah Meiran sudah sarapan. Setiap pertanyaan terdengar seperti bagian dari daftar teknis. Setiap pertanyaan juga terlalu tepat untuk disebut kebetulan.
Saat mereka sampai, Yanting sudah menunggu di lobi showroom.
Ia mengenakan jas tipis warna abu-abu dan berbicara dengan staf sambil memegang tablet. Ketika melihat Meiran turun dari mobil Hafeng, ekspresinya tidak berubah. Hanya tatapannya turun sebentar ke pintu penumpang yang ditutup Hafeng dari luar.
"Pagi, Meiran."
"Pagi, Ko Yanting."
Yanting tersenyum pada Hafeng. "Tepat waktu."
Hafeng menjawab datar, "Tentu."
"Saya kira Jakarta macet."
"Karena itu berangkat lebih pagi."
Meiran melewati mereka berdua. "Kalau kalian mau adu strategi lalu lintas, lakukan sambil berjalan."
Showroom itu lebih besar daripada yang ia bayangkan. Dari luar hanya tampak seperti bangunan kaca dua lantai, tetapi di dalamnya berderet panel kayu, beton ringan, terrazzo, kaca buram, kain akustik, dan sample logam dengan ukuran berbeda. Bau lem, kayu baru, dan debu halus bercampur dengan aroma kopi dari pantry kecil di sudut ruangan.
Staf showroom menjelaskan bahwa area belakang sedang dipakai untuk pemindahan stok, jadi mereka harus berhati-hati di jalur sample besar. Meiran mengangguk, lalu langsung tenggelam dalam daftar yang ia bawa.
Ia bukan datang untuk bermain cantik di antara dua pria. Ia datang untuk membuat proposalnya terlihat bisa dibangun.
"Aku butuh tiga sample," katanya. "Permukaan duduk, dinding pembatas akustik, dan lantai transisi. Semua harus masuk biaya masuk akal."
Yanting langsung membawa mereka ke rak material lokal. "Untuk permukaan duduk, ini cukup kuat. Tidak terlihat semahal material impor, tetapi finishing-nya bersih."
Hafeng menyentuh permukaannya dengan punggung jari. "Terlalu licin kalau pengguna meletakkan tas. Pilih yang teksturnya lebih matte."
"Matte biasanya terlihat lebih berat di panel," jawab Yanting.
"Kalau panel bagus tapi dipakai tidak nyaman, itu hanya gambar cantik."
Meiran mengambil dua sample dan menaruhnya di bawah lampu. "Keduanya benar. Yang licin masuk render, yang matte masuk detail konstruksi. Aku akan pilih setelah lihat warna."
Yanting tertawa pelan. "Kamu selalu mengambil bagian yang paling menguntungkan dari setiap orang."
"Tentu. Kalau tidak, untuk apa kalian datang?"
Hafeng mengangkat alis. "Jadi kami alat?"
"Alat yang mahal, cerewet, dan datang sendiri."
Yanting tidak menyembunyikan tawanya kali ini.
Hafeng mendengus, tetapi ia tetap mengambil sample berikutnya dari rak, membaliknya, memeriksa bagian belakang, lalu meletakkannya di depan Meiran.
"Ini lebih baik."
Meiran melihat kode produknya. "Lebih mahal."
"Tapi sambungannya rapi. Kamu bisa mengurangi biaya di panel akustik."
Yanting membuka data harga. "Bisa. Untuk panel akustik, ada produk lokal yang cukup baik. Saya minta staf menyiapkan tiga pilihan."
Dalam dua puluh menit, meja tinggi di tengah showroom penuh dengan material. Yanting menyusun berdasarkan harga dan pemasok. Hafeng menyusun ulang berdasarkan fungsi. Meiran menyusun lagi berdasarkan kebutuhan presentasi.
Staf showroom beberapa kali melihat mereka seperti sedang menonton rapat kecil yang terlalu tegang untuk sekadar memilih sample.
Saat mereka pindah ke area belakang, suara roda troli mulai terdengar lebih keras. Beberapa pekerja memindahkan lembaran kaca buram dan panel komposit besar. Jalurnya sempit, lantainya tertutup plastik pelindung, dan cahaya dari atap kaca membuat beberapa permukaan tampak menyilaukan.
"Area ini sebentar saja," kata Yanting. "Sample ukuran kecil ada di rak ujung."
Meiran berjalan lebih dulu. Ia sedang membandingkan warna panel akustik dengan foto lokasi yang ada di tabletnya, jadi pandangannya lebih sering turun ke layar daripada ke lantai. Hafeng berjalan di sisi kirinya, terlalu dekat untuk ukuran orang yang mengaku hanya ikut melihat sample.
"Lihat jalan," katanya.
"Aku melihat."
"Kamu melihat tablet."
"Tabletku berisi jalan menuju kemenangan."
"Lantainya berisi plastik licin."
Meiran baru hendak menjawab saat staf di belakang mereka berseru, meminta ruang untuk troli besar. Suara roda besi menghantam sambungan lantai. Dari arah kanan, panel kaca buram bergerak melewati rak, lebih cepat daripada perkiraan.
Meiran mundur setengah langkah untuk memberi ruang.
Tumit sepatunya menyentuh tepi plastik pelindung yang terlipat.
"Meiran."
Suara Hafeng rendah, tetapi tangannya lebih cepat daripada suaranya.
Ia meraih pergelangan tangan Meiran, lalu genggamannya turun, menutup telapak tangannya dengan telapak sendiri. Tarikannya tidak kasar. Justru terlalu pasti. Meiran tertarik ke samping, bahunya hampir menyentuh dada Hafeng ketika troli kaca lewat kurang dari satu lengan dari tempatnya berdiri tadi.
Udara di sekitarnya berhenti sesaat.
Meiran bisa merasakan panas tangan Hafeng, ruas jarinya yang keras, tekanan ibu jarinya di sisi telapak, dan napasnya yang tertahan tepat di atas kepalanya.
Troli itu lewat. Staf meminta maaf berkali-kali. Yanting melangkah mendekat.
"Meiran, kamu baik-baik saja?"
"Aku baik."
Suara Meiran keluar lebih stabil daripada denyut di lehernya.
Hafeng belum melepaskan tangannya.
Meiran menurunkan pandangan ke genggaman itu. "Bahaya sudah lewat."
"Belum."
"Panelnya sudah lewat."
"Lantainya masih licin."
Ia melihat ke lantai. Plastik pelindung itu memang masih ada, tetapi bagian di bawah kaki mereka sudah rata.
"Kamu bisa lepas."
Hafeng melihat tangan mereka seolah baru sadar. Namun bukannya melepas, genggamannya malah berubah lebih rapi. Jari-jarinya menyelip di antara jari Meiran, tidak keras, tetapi jelas.
"Jalan dulu," katanya.
Yanting berdiri di depan mereka, ekspresinya tetap tenang, tetapi senyum tipisnya hilang.
Meiran seharusnya menarik tangan. Ia bisa. Ia selalu bisa.
Namun di antara bau lem, suara troli, dan tatapan dua pria yang sama-sama menahan sesuatu, ia membiarkan Hafeng menuntunnya melewati jalur sempit itu.
Satu langkah.
Dua langkah.
Tangan Hafeng tetap hangat, telapaknya sedikit kasar di bagian jari. Ia berjalan setengah langkah di depan, tubuhnya otomatis menahan sisi yang berdekatan dengan jalur pekerja. Tidak ada kata manis. Tidak ada pengakuan. Hanya tangan yang tidak mau melepaskan.
**【Sistem Predator】Kontak fisik aktif terdeteksi. Target memulai, mempertahankan, dan menggunakan alasan keselamatan untuk memperpanjang kontak.**
Nilai Cinta: 15.
Angka itu muncul di sudut pandang Meiran seperti lampu kecil yang menyala di ruangan gelap.
Lima belas.
Bukan karena taruhan. Bukan karena dipaksa. Bukan karena ia hampir mencium atau memojokkannya.
Karena Hafeng memilih menyentuhnya lebih dulu, lalu memilih tidak segera menjauh.
Meiran menggigit bagian dalam pipi, menahan reaksi yang terlalu cepat naik ke wajah.
"Sisi," batinnya pelan, "catat. Yang ini penting."
**【Sistem Predator】Sudah dicatat. Host juga menunjukkan respons fisiologis tidak stabil.**
"Hapus catatan terakhir."
**【Sistem Predator】Ditolak.**
Mereka sampai di area sample kecil. Hafeng akhirnya melepas tangan Meiran, tetapi tidak langsung menjauh. Seolah jarak di antara mereka sudah berubah ukuran dan ia belum tahu cara mengembalikannya.
Yanting mengambil satu sample panel akustik dari rak dan menyerahkannya pada Meiran. "Yang ini sesuai anggaran. Warnanya juga tidak bertengkar dengan material duduk."
Nada suaranya tetap sopan. Terlalu sopan.
Meiran menerima sample itu. "Terima kasih."
Yanting melihat Hafeng sebentar. "Kamu benar. Jalur belakang memang kurang aman."
Hafeng menjawab, "Aku tahu."
"Tapi kalau kamu terus memegang tangannya, dia akan sulit mencatat."
Hafeng diam.
Meiran hampir tertawa, tetapi ia menahan diri. "Ko Yanting benar. Aku masih butuh dua tangan untuk bekerja."
Kalimat itu membuat Hafeng mundur setengah langkah. Wajahnya kembali dingin, tetapi telinganya sedikit merah.
"Aku hanya mencegah kecelakaan."
"Tentu," kata Meiran.
Yanting menambahkan, "Pencegahan yang sangat tekun."
Hafeng menatapnya. "Kamu mau membahas keselamatan atau sample?"
"Sample."
"Bagus."
Mereka kembali bekerja, tetapi setelah itu, semuanya tidak bisa kembali benar-benar normal.
Setiap kali Meiran mendekati jalur pekerja, Hafeng bergerak lebih dulu ke sisinya. Setiap kali ia mengangkat sample berat, Hafeng mengambil bagian ujung tanpa bertanya. Ketika staf membawa kotak kecil berisi potongan material yang boleh dipinjam, Hafeng memeriksa tepinya sebelum menyerahkannya pada Meiran.
Yanting melihat semua itu. Ia tidak mengganggu, tetapi ia juga tidak mundur sepenuhnya. Ia memilih sample warna, meminta kontak pemasok, dan mengirimkan daftar harga ke ponsel Meiran. Kompetisinya tidak berisik, tetapi tetap ada.
Di akhir kunjungan, Meiran mendapatkan empat sample fisik, dua kontak supplier, satu sketsa detail sambungan dari Hafeng di belakang brosur, dan satu angka baru yang terasa lebih mengganggu daripada semua data harga.
Saat mereka keluar dari showroom, panas Jakarta siang menyambut dari balik pintu kaca.
Yanting berhenti di samping mobilnya. "Saya akan kirim file lengkap malam ini. Untuk seleksi kampus, kamu tinggal rapikan narasi."
"Seleksi kampus?"
Yanting tampak sedikit heran. "Kamu belum menerima email?"
Ponsel Meiran bergetar seolah menjawab.
Ia membuka layar. Email dari fakultas muncul di bagian atas.
`Pengumuman Seleksi Internal Kompetisi Desain Ruang Urban`
Di bawahnya, ada jadwal presentasi awal, daftar peserta, dan daftar panitia pendamping.
Nama Lim Meiran ada di nomor tiga.
Nama Lo Hafeng tercatat sebagai peserta lain di nomor lima.
Dan di kolom panitia pendamping acara, satu nama berdiri terlalu rapi untuk disebut kebetulan.
Soe Wanyu.
Hafeng membaca layar dari samping. Wajahnya langsung mengeras.
**【Sistem Predator】Peringatan: jalur kompetisi utama terbuka. Rival lama memasuki arena publik.**
Meiran memasukkan ponsel ke tas, lalu menatap pintu kaca yang memantulkan wajah mereka bertiga.
"Baik," katanya pelan. "Kalau panggungnya sudah disiapkan, kita lihat siapa yang akan tersandung pertama."