NovelToon NovelToon
Isi Ulang Hidup Ku

Isi Ulang Hidup Ku

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Sistem / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Anastasia

"Angka? "
angka yang muncul diatas kepala Ivy, setelah mendapatkan diagnosa dari dokter tentang batas akhir hidupnya.
Ivy yang menghargai setiap waktu, memutuskan untuk hidup untuk dirinya. karena selama ini dia setelah kembali ke keluarga Dermawan. Ivy hidup seperti boneka, membahagiakan orang lain dan bersaing dengan Oliv saudara angkatnya.
Dengan bantuan mamanya yang mengetahui penyakitnya, Ivy melepaskan diri dari otoriter ayahnya.
Hidupnya berwarna disaat akhir hidupnya, saat bersama warga desa Gemilang. sambil memikirkan cara menambah angka hidupnya, sampai suatu hari dia tidak sengaja mencium Rama cahya yang merupakan paman mantan tunangannya.
Yang bisa menambah hari angka kehidupannya,akhirnya Ivy mendapatkan cara agar dirinya bisa hidup lebih lama.
Tapi sepertinya Ivy mengalami kesulitan, karena Rama bukan pria yang mudah didekati wanita.
Bisakah Ivy terus dekat dengan Rama?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 33.Berkunjung.

Di dalam kabin mobil yang sejuk dan tenang, Ivy terus menatap lekat-lekat sosok pria di sampingnya. Matanya tak mau beralih sedetik pun, menelusuri setiap garis wajah Rama yang tampak berbeda dari biasanya. Rambut yang sedikit berantakan, kemeja yang santai namun sangat pas di badan—semuanya membuat Rama terlihat begitu muda dan mempesona, jauh lebih menarik daripada saat mengenakan jas kaku di kantor.

Rama mulai merasa tak nyaman dengan tatapan yang terus menghujani dirinya. Ia melirik sekilas ke arah Ivy, lalu bertanya pelan, “Ada apa? Apa ada yang salah dengan penampilanku hari ini?”

Ivy menggeleng kecil, namun senyum tipis mengembang di bibirnya. “Aku hanya penasaran. Apa kau sedang berusaha mengubah penampilan agar terlihat seperti anak muda sekarang? Atau apakah pemimpin perusahaan besar sepertimu mulai ikut memperhatikan tren mode pakaian?”

Wajah Rama seketika terasa hangat, ia sedikit gugup memainkan ujung kemejanya. “Ini… ini pakaian biasa saja. Aku memakainya seperti yang sering aku lakukan selama ini, tidak ada yang aneh.”

“Tidak,” potong Ivy tegas namun lembut. “Kali ini jelas berbeda. Kau terlihat jauh lebih muda dan… sangat menawan.”

Ia menarik napas panjang, lalu menatap mata Rama dengan tatapan yang serius namun penuh kelembutan. “Perubahan penampilan itu boleh saja, Rama. Tapi kau harus tahu, aku tipe wanita yang cukup protektif. Aku tidak suka membagi ketampanan pasanganku untuk dilihat dan dikagumi oleh orang lain, terlebih lagi banyak teman wanita disekolah ku tadi yang menatapmu dengan tatapan seperti itu. Jika kau masih ingin bersamaku, tolong jangan lakukan hal seperti ini lagi.”

Rama tertegun sejenak mendengar ucapan itu, lalu perlahan senyum bahagia tersembunyi di sudut bibirnya. Ia hanya mengangguk patuh, rasa bahagia yang meluap-luap memenuhi dadanya. Ternyata… dia cemburu, batinnya menahan tawa bahagia. Ivy cemburu melihatku dipuji orang lain.

Di kursi pengemudi, Larry yang sesekali melirik lewat kaca spion hanya bisa menggelengkan kepala pelan sambil tersenyum simpul. Ya ampun… Tuan Rama yang dingin dan tegas itu, sekarang benar-benar sudah jatuh cinta setengah mati pada Nona Ivy. Benar-benar bucin yang tak bisa disembunyikan, pikirnya takjub.

Mobil terus melaju mulus membelah jalanan kota yang mulai sepi, hingga akhirnya memasuki lingkungan perumahan yang tenang dan asri. Mobil mewah itu berhenti pelan tepat di depan sebuah rumah dua lantai yang tampak sederhana namun rapi dan cantik.

Rama menatap bangunan itu lewat jendela mobil, lalu menoleh ke arah Ivy. “Jadi ini rumah keluarga ibumu? Sekarang tempat tinggalmu di sini?”

“Iya,” jawab Ivy pelan, lalu menatapnya ragu. “Apakah kau mau masuk sebentar?”

Rama terdiam sejenak, membuat Ivy mengira ia ragu atau sibuk dengan urusan pekerjaannya. Ivy pun segera menambahkan sambil tersenyum mengerti, “Jika kau masih sibuk, silakan langsung pergi saja. Terima kasih banyak sudah mengantarku pulang hari ini.”

Mendengar itu, Rama segera membuka pintu mobil dan menatapnya dengan senyum hangat yang menenangkan. “Kata siapa aku sibuk? Hari ini waktuku sepenuhnya kosong dan sengaja aku luangkan untukmu.”

Mata Ivy berbinar bahagia. Ia segera turun dari mobil mengikuti langkah Rama, lalu mereka berdua melangkah masuk ke dalam rumah dengan tangan yang saling bergandengan erat, seolah tak ingin terpisahkan sedetik pun.

Larry tetap duduk di kursi pengemudi, memperhatikan tuannya yang berjalan masuk dengan tatapan penuh kasih sayang. Benar-benar mabuk cinta yang parah, batinnya sambil tersenyum menggelengkan kepala.

Begitu masuk ke dalam rumah, Bibi Nora yang sudah mengurus rumah tangga keluarga ibunya sejak lama segera menyambut mereka dengan senyum ramah dan hangat. “Selamat datang, Nona Ivy. Selamat datang, Tuan Rama. Silakan masuk, silakan duduk.”

Rama menatap sekeliling ruangan. Rumah itu memang tidak mewah dan megah seperti rumahnya, namun terasa sangat hangat, rapi, dan menenangkan—sesuatu yang jarang ia temukan di rumah besarnya yang dingin.

Ivy mendekat ke arah Bibi Nora, lalu bertanya lembut, “Bibi sedang repot ya menyiapkan sesuatu?”

“Tidak repot sama sekali, Nona,” jawab Bibi Nora sambil tersenyum. “Tadi sebelum Nyonya berangkat, beliau berpesan ingin mengadakan pesta kecil-kecilan untuk merayakan kelulusan Nona nanti malam.”

“Perlu Ivy bantu menyiapkannya, Bi?” tawar Ivy sopan.

“Tidak usah, Nona. Lebih baik Nona temani saja Tuan Rama dulu. Bibi sanggup mengerjakannya sendiri,” tolak Bibi Nora halus.

“Baiklah, Bi. Kalau Bibi butuh bantuan, panggil Ivy saja ya,” ucap Ivy lembut.

“Siap, Nona,” jawab Bibi Nora sambil tersenyum.

Ivy lalu berjalan kembali ke arah Rama, menarik tangannya pelan. “Ayo kita ke kamarku saja dulu. Ruang tamu ini kursinya belum sempat diganti dan masih kurang nyaman untuk duduk lama.”

Jantung Rama berdegup kencang tak beraturan mendengar ajakan itu. Ke kamar gadis… untuk pertama kalinya dalam hidupnya ia akan masuk ke kamar pribadi seorang wanita. Ia hanya mengangguk pelan, mengikuti langkah Ivy menaiki tangga menuju kamar di lantai atas.

Sesampainya di dalam kamar yang rapi namun sederhana itu, Ivy menunjuk sebuah kursi empuk di samping tempat tidur. “Duduklah sebentar ya. Aku ambilkan minum dan sedikit camilan dulu di dapur.”

Tanpa menunggu jawaban, Ivy segera keluar kamar meninggalkan Rama sendirian. Rama duduk di tepi tempat tidur, matanya tak sengaja mengamati setiap sudut kamar yang penuh dengan barang-barang milik Ivy. Namun baru saja ia hendak menggeser duduknya, kakinya terasa menginjak sesuatu yang lembut dan halus di atas karpet dekat kasur.

Rama menundukkan pandangannya, lalu mengangkat benda itu dengan ragu dan bingung. Ia memegang benda berbentuk kain tipis berwarna putih itu di udara, menatapnya dengan dahi berkerut. Apa ini benda? batinnya bertanya-tanya.

Tepat saat itu, pintu kamar terbuka dan Ivy masuk membawa nampan berisi minuman dan piring camilan. Matanya terbelalak melihat apa yang sedang dipegang Rama.

“Letakkan itu!” seru Ivy keras, bukan karena marah, tapi karena sangat malu hingga wajahnya seketika memerah padam.

Ia segera berjalan cepat menghampiri Rama, meletakkan nampan di meja samping tempat tidur. Rama yang terkejut langsung meletakkan benda itu kembali ke kasur dengan wajah yang juga memerah padam menahan malu. Ivy segera menyambar benda itu, lalu dengan cepat menyelipkannya ke dalam lemari pakaian dan menutup rapat pintunya.

“Maafkan aku… tadi pagi aku buru-buru sekali saat bersiap, jadi lupa memasukkannya ke tempatnya,” jelas Ivy dengan suara tertahan, menundukkan wajah agar Rama tidak melihat wajahnya yang merah merona.

Rama hanya diam mematung, tak berani menatap mata Ivy sedikitpun. “Lain kali… jika menaruh barang-barang seperti itu, jangan taruh sembarangan,” ucapnya pelan, suaranya terdengar berat dan canggung.

“Aku juga tidak berencana mengajakmu masuk ke kamar sejak awal,” sahut Ivy sedikit kesal namun sebenarnya masih menahan rasa malu yang luar biasa.

Kejadian itu membuat suasana di kamar menjadi canggung. Mereka berdua hanya duduk diam, mata saling menghindar, tak ada yang berani membuka suara lebih dulu. Hening menyelimuti ruangan itu cukup lama, hingga akhirnya Ivy memberanikan diri memecah keheningan.

“Rama… apakah kau sedang dalam perjalanan urusan bisnis beberapa hari lalu?” tanyanya pelan.

“Iya, hari ini aku sengaja meluangkan waktuku,” jawab Rama, lalu ia menatap Ivy dengan tatapan khawatir. “Ngomong-ngomong, apakah angka sisa waktumu sudah berkurang banyak saat aku pergi?”

Ivy mengangguk pelan. Ia berpikir sejenak, ternyata hanya bergandengan tangan saja belum cukup untuk menambah angka itu secara signifikan. Ia menarik napas panjang, lalu menatap Rama dengan keberanian yang dikumpulkan sekuat tenaganya.

“Rama… bolehkah aku meminta sesuatu padamu?” tanyanya ragu.

“Katakan saja, apa itu?” jawab Rama lembut.

“Bolehkah aku menciummu?” tanya Ivy dengan suara bergetar, matanya tak lepas menatap wajah pria itu. “Jika kita berciuman, angka sisa hidupku akan bertambah jauh lebih banyak.”

Rama terdiam sesaat, lalu bertanya balik, “Berapa banyak yang akan bertambah?”

“Semakin lama kita melakukannya, semakin banyak pula angkanya bertambah,” jawab Ivy jujur.

Mendengar itu, Rama perlahan memutar tubuhnya menghadap penuh ke arah Ivy, lalu memejamkan matanya rapat-rapat dengan tegas. “Lakukanlah,” ucapnya mantap dan jelas.

Hati Ivy berdebar kencang mendengar izin itu. Ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan emas yang ada di hadapannya, apalagi Rama sendiri yang mengizinkannya. Dengan tangan yang sedikit gemetar, Ivy mengangkat kedua tangannya dan menangkup lembut wajah tampan itu. Dalam hatinya ia bergumam, Aku juga tidak akan rugi mencium pria setampan ini.

Perlahan bibir mereka saling bersentuhan. Awalnya hanya sekadar menempel lembut, namun Rama yang awalnya menahan diri, tiba-tiba merasakan kehangatan yang membuatnya sadar betapa ia sangat menyukai sentuhan fisik dengan wanita ini. Ia perlahan membuka matanya, lalu membalas ciuman itu dengan lembut namun penuh rasa sayang, ingin merasakan sepenuhnya kelembutan bibir Ivy.

Ivy terkejut sejenak, ia mengira hanya sekadar menempel sebentar. Namun saat Rama membalasnya, ia merasakan angka di atas kepalanya bertambah dengan sangat cepat. Ivy pun tak mau kalah, ia mulai membalas ciuman itu dengan penuh perasaan.

Tanpa sadar, tangan Rama merangkul pinggang Ivy dan menariknya mendekat hingga tubuh mereka saling menempel erat, sementara ciuman itu tak terputus, menjadi semakin mesra dan penuh cinta yang tak terucapkan.

1
Musdalifa Ifa
sangat mengesankan
🦋⃞⃟𝓬🧸𝓩𝓮𝓵𝓵𝔂𝓷
lnjt
Musdalifa Ifa
semangat up Thor 💪, cerita nya ok
Alia Chans
lanjut, like + 🌹🤭😉



kalo berkenan mampir juga thor🤭😉
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!