Pernikahan adalah tentang kepercayaan. Setidaknya itu yang diyakini oleh Arini selama lima tahun pernikahannya dengan Galang. Namun saat kenyataan itu terungkap secara tidak sengaja, ternyata pernikahan mereka hanyalah sebuah lelucon yang dibuat oleh suami dan selingkuhannya selama ini. Dan dia hanyalah wanita bodoh yang tidak tau apa-apa, dan sudah bekerja keras untuk membangun reputasi suaminya sebagai istri yang baik selama ini.
Hancur dan merasa di bohongi sudah pasti, lalu apa yang akan dilakukan Arini setelah mengetahui semua kebohongan suaminya?
Apakah dia bisa bertahan di kerasnya hidup tanpa Galang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eys Resa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Serangan Balik
Pagi itu, Arini berdiri di depan cermin dengan sorot mata yang berbeda. Tidak ada lagi keraguan atau kesedihan yang biasanya membayang. Ia mengenakan setelan blazer berwarna biru navy yang tajam, rambutnya disanggul rapi, memancarkan aura otoritas yang selama ini sering ia redam demi menjaga ego Galang. Di ruang tamu ia melihat Kevin yang terlihat rapi dengan beberapa berkas di meja.
"Kamu sudah datang, Apa kamu tidak punya pekerjaan lain? "
"Tidak ada, untuk saat ini klien utamaku adalah kamu. Jadi, kamu adalah prioritas utamaku sekarang. "
Arini hanya geleng-geleng kepala, melihat Kevin yang selalu membuntutinya seperti ular.
"Ingat, Rin. Begitu layar monitor itu mati, peranmu selesai sepenuhnya," ujar Kevin mengingatkan
Arini mengangguk mantap. "Aku tahu apa yang harus kulakukan, Vin. Ini adalah panggung terakhirku di sana."
Sementara itu, di rumah Galang, suasana terasa kontras. Galang bersenandung kecil sambil merapikan dasinya. Ia merasa di atas angin. Baginya, tanda tangan di atas surat cerai agama kemarin hanyalah formalitas untuk menyenangkan Pak Bayu. Fakta bahwa Arini setuju datang ke kantor hari ini adalah bukti baginya bahwa Arini masih peduli, atau setidaknya, tidak bisa lepas dari tanggung jawab profesional yang ia tanamkan.
"Mas, kamu mau berangkat sekarang?" tanya Dita dengan nada cemas dari ambang pintu kamar.
Galang bahkan tidak menoleh. "Ya. Arini kembali hari ini. Semuanya akan kembali normal. Kamu di rumah saja, urus Galih. Jangan hubungi aku kalau tidak penting."
Dita hanya bisa terpaku melihat suaminya pergi dengan semangat yang meluap-luap. Ada rasa sesak di dadanya, ia tahu bahwa bagi Galang, Arini adalah mesin uang yang tak tergantikan, sementara dirinya hanyalah tempat pelarian yang kini mulai diabaikan kembali.
Begitu mobil Galang memasuki area parkir perusahaan, ia melangkah keluar dengan dagu terangkat. Di lobby, bisik-bisik karyawan mulai terdengar. Sania yang sudah menunggu segera menghampiri dengan wajah lega sekaligus bingung.
"Pak, Bu Arini sudah ada di ruang rapat?" tanya Sania.
"Sudah. Dia pasti datang. Saya yang memintanya," jawab Galang dengan nada sombong, seolah-olah dialah pemegang kendali penuh atas kembalinya Arini.
Saat pintu ruang rapat terbuka, Galang melihat Arini sudah duduk di kursinya, sedang memeriksa beberapa dokumen digital di tabletnya. Wajahnya dingin, tanpa senyum sedikit pun. Galang masuk dengan langkah lebar dan membusungkan dada di depan staf senior yang hadir.
"Selamat pagi, semuanya. Seperti yang kalian lihat, kabar burung itu tidak benar. Bu Arini tetap bersama kita untuk menyelesaikan proyek besar ini," ujar Galang lantang, mencoba menanamkan kepercayaan diri pada timnya.
Arini hanya melirik sekilas tanpa menyahut. Ia fokus pada jam dinding. Tepat pukul sembilan pagi, layar besar di ruang rapat menyala, menampilkan wajah Mr. Chen dan timnya dari Singapura.
"Selamat pagi, Mr. Chen. Senang bertemu Anda kembali," sapa Galang dengan bahasa Inggris yang dipaksakan terdengar ramah.
"Selamat pagi, Tuan Galang. Kami sedikit khawatir dengan rumor yang beredar kemarin, tapi melihat Nyonya Arini ada di sana, kami merasa lebih tenang," sahut Mr. Chen dalam bahasa Inggris yang fasih. "Mari kita mulai pembahasannya."
Rapat berlangsung selama dua jam. Arini menunjukkan kelasnya sebagai otak di balik perusahaan itu. Ia memaparkan detail teknis, proyeksi finansial, hingga mitigasi risiko dengan sangat brilian. Mr. Chen berkali-kali mengangguk puas. Galang yang duduk di sampingnya sesekali mencoba menimpali, namun ia tampak seperti anak sekolah yang hanya mengekor pada penjelasan gurunya.
"Luar biasa, Nyonya Arini. Anda benar-benar memahami visi kami. Kami siap menandatangani kontrak final ini secara digital sekarang juga," ujar Mr. Chen dengan senyum lebar.
Galang hampir saja melompat dari kursinya karena kegirangan. "Terima kasih, Mr. Chen! Ini adalah awal dari kerja sama baru bagi kita semua!"
Namun, sebelum Mr. Chen menutup sesi tersebut, Arini mengangkat tangannya sedikit, memberi isyarat bahwa ia belum selesai bicara.
"Mohon maaf, Mr. Chen. Sebelum kita mengakhiri pertemuan ini, ada satu hal penting yang harus saya sampaikan sebagai bagian dari integritas profesional saya terhadap Anda dan perusahaan Anda," ucap Arini dengan nada suara yang tenang namun sangat jernih.
Galang mengernyitkan dahi. "Arini, apa yang kamu lakukan? Kontraknya sudah deal."
Arini mengabaikan Galang sepenuhnya. Matanya lurus menatap kamera. "Mr. Chen, saya ingin menginformasikan secara resmi di hadapan Anda dan seluruh pimpinan di ruangan ini, bahwa per hari ini, saya bukan lagi bagian dari perusahaan ini. Surat pengunduran diri saya sudah diproses secara administratif kemarin."
Suasana di ruang rapat mendadak senyap. Galang merasa jantungnya berhenti berdetak sesaat. "Arini! Jangan bercanda!" bisiknya kasar, mencoba meraih tangan Arini di bawah meja, namun Arini dengan sigap menghindar.
"Maksud Anda, Nyonya Arini?" Mr. Chen tampak terkejut, wajah ramahnya berubah menjadi serius.
"Benar, Mr. Chen. Kehadiran saya hari ini hanyalah bentuk tanggung jawab terakhir saya untuk memastikan seluruh data dan strategi yang saya susun tersampaikan dengan baik kepada Anda. Selanjutnya, seluruh pelaksanaan proyek ini akan ditangani langsung oleh Tuan Galang sebagai pimpinan perusahaan," lanjut Arini. "Saya ingin Anda tahu ini sekarang agar tidak ada kesalahpahaman di kemudian hari. Saya sudah melimpahkan semua wewenang saya kepada tim internal."
"Tunggu, tunggu!" potong Galang dengan suara yang mulai meninggi dan bergetar. "Mr. Chen, ini hanya... ini hanya masalah komunikasi internal! Arini sedang sedikit lelah, kami akan menyelesaikannya!"
"Tuan Galang," suara Mr. Chen kini terdengar dingin. "Anda tahu alasan utama kami menginvestasikan jutaan dolar di sini adalah karena rekam jejak dan kepercayaan kami pada cara kerja Nyonya Arini. Jika pilar utama proyek ini tidak ada, bagaimana Anda menjamin konsistensi kualitasnya?"
"Saya bisa menanganinya, Mr. Chen! Saya bosnya di sini!" pekik Galang, wajahnya mulai memerah karena malu sekaligus panik.
Arini berdiri dari kursinya, merapikan dokumen di depannya dengan tenang. "Saya sudah memberikan semua 'resep' suksesnya di dalam dokumen final tadi, Mr. Chen. Namun, masalah kepemimpinan dan integritas adalah hal lain. Saya pamit. Terima kasih atas kerja samanya selama ini."
Arini menatap Galang yang kini menatapnya dengan pandangan penuh kebencian dan ketakutan. "Aku sudah menepati janjiku untuk datang dan memastikan kontrak ini ditandatangani. Perusahaanmu selamat untuk hari ini, Galang. Tapi untuk hari esok... itu bukan lagi urusanku."
Tanpa menoleh lagi, Arini melangkah keluar dari ruang rapat. Sania dan staf lainnya hanya bisa terpaku melihat pimpinan tim mereka baru saja meninggalkan gedung itu untuk selamanya.
Di dalam ruangan, Galang masih harus menghadapi layar monitor yang menampilkan wajah Mr. Chen yang tampak sangat kecewa.
"Tuan Galang," kata Mr. Chen sebelum mematikan sambungan. "Kami akan meninjau kembali klausul kontrak ini dengan tim hukum kami. Integritas dan kejujuran adalah kunci utama kami. Kenapa Anda tidak memberi tahu kami sejak awal tentang perubahan posisi ini? Ini adalah bentuk penipuan informasi bagi kami."
Layar menjadi hitam. Galang terduduk lemas di kursinya. Semua mata staf di ruangan itu tertuju padanya, bukan dengan rasa hormat, melainkan dengan keraguan. Kesombongan yang ia bawa tadi pagi runtuh dalam hitungan menit.
Galang menyadari satu hal yang terlambat, Arini tidak menghancurkan perusahaannya dengan kemarahan, tapi dengan memberikan apa yang Galang inginkan, yaitu perusahaan itu sendiri. Namun tanpa kehadirannya di sana. Dan itu adalah pukulan telak bagi Galang