NovelToon NovelToon
Menikahi Pangeran Nakal

Menikahi Pangeran Nakal

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: micemicu

Pangeran Nicholas Veer Ralph, putra bungsu dari Raja Luther pemimpin Kerajaan Tharvis, terkenal sebagai seorang yang angkuh, pemarah, dan pemberontak. Bahkan reputasinya sebagai seorang pemain wanita telah tersebar luas di seluruh negeri. Sikapnya yang sangat berbeda dari kedua saudara kandungnya membuatnya menjadi sorotan. Demi mengubah perilakunya, Raja Luther berencana menjodohkannya dengan Putri Madeleine, dengan harapan bahwa pernikahan akan membawa perubahan. Namun, Nicholas menolak dengan keras dan malah mencari pasangan yang bisa dia kendalikan. Dalam pencariannya, Nicholas bertemu dengan Anastasia Rosalie, seorang perempuan baik hati dan lembut dari kalangan bawah. Dia menjebak Anastasia agar mau menikah dengannya untuk memenuhi ambisi pribadi, tanpa memikirkan konsekuensi yang mungkin akan terjadi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon micemicu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Teduh Di Bukit Dizon

...⚜️⚜️⚜️...

Pagi yang cerah menyapa Istana Riverdale. Anastasia berdiri tenang di depan jendela kamarnya yang terbuka lebar, menghirup dalam-dalam udara segar yang seketika melegakan pernapasannya. Cuaca pagi itu sedikit berangin, menerbangkan beberapa helai dedaunan kering di pelataran. Di atas langit biru yang bersih, kawanan burung beterbangan bebas sembari memperdengarkan siulan merdu, memantik seulas senyum tipis di bibir Anastasia.

Namun, hanya berselang beberapa menit, memorinya mendadak memutar kembali untai kalimat kasar yang dilontarkan Nicholas saat fajar menyingsing tadi sebelum suaminya itu bertolak pergi.

Anastasia membatin, apakah dirinya terlalu berlebihan karena terus memikirkan hal itu? Ia hanya tidak terbiasa mendengar seseorang bertutur kata sekasar itu kepadanya. Selama bertahun-tahun tinggal di Erast, keluarga Duke Harold selalu memperlakukannya dengan penuh kelembutan. Bahkan dalam kondisi murka sekalipun, kaum aristokrat Erast itu selalu menjaga lisan mereka agar tetap tertata dan tidak melukai harga diri lawan bicaranya.

Anastasia mengembuskan napas perlahan, mencoba berdamai dengan keadaan. Tidak ada gunanya juga terus bersungut-sunggut meratapi nasib. Bagaimanapun, ia harus bersyukur karena setidaknya Nicholas tidak pernah bermain fisik untuk menyakitinya.

Tok! Tok! Tok!

Ketukan di daun pintu seketika membuyarkan lamunan Anastasia. "Ya, silakan masuk," sahutnya sembari melangkah cepat untuk membukakan pintu.

"Mohon maaf jika kehadiran saya mengganggu waktu Anda, Putri Anastasia. Nama saya Irene. Mulai hari ini, saya adalah pelayan baru yang ditugaskan secara langsung oleh Yang Mulia Baginda Raja untuk menjadi pelayan pribadi Putri Anastasia," ujar seorang gadis muda dengan postur tubuh yang tidak terlalu tinggi dan berambut hitam lebat.

Gadis itu tampak mungil, terlebih dengan gaun seragam pelayan istana yang terlihat sedikit kebesaran di tubuhnya. Usianya diperkirakan baru menginjak sembilan belas tahun.

"Oh? Iya. Halo, Irene," sapa Anastasia hangat, menyambut pelayan barunya dengan senyuman ramah.

Irene kembali membungkukkan tubuhnya dalam-dalam guna menunjukkan rasa hormat. "Putri Anastasia, menu sarapan apa yang kiranya ingin Anda santap pagi ini agar segera Irene siapkan di dapur?"

"Ah, tidak perlu repot-repot, Irene. Tadi aku sudah sempat makan sesaat setelah Pangeran Nicholas berangkat."

"Kalau begitu, apakah ada hal lain yang bisa Irene bantu untuk memenuhi keperluan Tuanku Putri hari ini?"

Anastasia merenung sejenak, menimbang agenda yang sempat terlintas di kepalanya kemarin. Ia teringat bahwa dirinya sangat ingin mengunjungi Kuil Agung. Sejak melangkah masuk dan menetap di istana, belum sekali pun ia memiliki waktu untuk pergi berdoa akibat padatnya rangkaian persiapan upacara pernikahan kemarin.

Padahal, Anastasia adalah sosok yang sangat taat kepada Yang Maha Suci. Selama hidup di Erast, ia tidak pernah absen mengunjungi kuil suci di wilayah tersebut.

"Aku berniat pergi ke Kuil Agung. Kudengar letaknya tidak terlampau jauh dari kompleks istana, benar begitu?"

"Benar, Putri. Perjalanan menuju ke sana hanya memakan waktu sekitar satu jam dengan menggunakan kereta kuda."

Anastasia mengangguk puas. "Kalau begitu, aku ingin pergi ke sana sekarang. Aku akan bersiap-siap terlebih dahulu."

"Baik, Tuanku Putri." Irene membungkuk patuh. "Apakah Putri berkenan jika Irene menyiapkan beberapa kotak kue lemon sebagai camilan untuk menemani perjalanan nanti?" tanyanya menawarkan.

"Wah, tentu saja boleh. Itu ide yang sangat bagus," sahut Anastasia dengan sepasang mata yang seketika berbinar cerah setiap kali mendengar hal yang berkaitan dengan makanan.

Irene tidak dapat menahan senyum geli menyaksikan ekspresi polos nan menggemaskan dari sang putri baru. Ia kembali menunduk sebelum akhirnya berbalik pergi untuk menyiapkan segala keperluan.

Setelah menghabiskan waktu beberapa menit untuk mematut diri, Anastasia akhirnya bertolak pergi bersama Irene. Kereta kuda yang mereka tumpangi melaju tenang, menyusuri jalan setapak yang membelah kawasan hutan lebat yang sejuk dan rimbun.

Kuil Agung dibangun megah oleh jajaran raja terdahulu di atas puncak Bukit Dizon—bukit yang dinilai paling indah dari seluruh bentang alam yang menghampar di Negeri Tharvis. Atmosfer di sekitar kuil terasa begitu dingin, diselimuti kabut tipis berembun dengan berbagai varietas bunga indah yang bermekaran cantik di sekeliling pelataran batu.

Anastasia menatap takjub dari balik jendela kereta. Kuil Agung yang selama ini hanya bisa ia dengar melalui dongeng dan cerita para pelancong, rupanya memang nyata berdiri dengan arsitektur yang teramat megah sekaligus menawarkan keteduhan yang menenangkan jiwa.

Sebagai rumah ibadah terbesar, Kuil Agung bertindak sebagai pusat spiritualitas utama bagi seluruh lapisan masyarakat Tharvis, melengkapi dua ratus tujuh puluh lima kuil kecil lainnya yang tersebar di negeri masyhur tersebut.

Meskipun secara tertulis bangunan suci ini terbuka untuk umum, pada kenyataannya, pihak yang paling sering datang untuk memanjatkan doa di sini adalah keluarga besar kerajaan dan kaum bangsawan tinggi yang bermukim di sekitar distrik istana. Sebaliknya, masyarakat dari kalangan biasa cenderung merasa segan untuk menginjakkan kaki ke sana, sehingga mereka lebih memilih untuk mendatangi kuil-kuil kecil di pinggiran kota.

Lambaian ranting pohon yang bergesekkan tertiup angin seolah ikut menyambut kedatangan Anastasia saat ia turun dari kereta kuda. Seulas senyum secerah mentari terbit terukir jelas di wajah cantiknya. Baginya, momen ini laksana impian yang menjadi kenyataan, ia sudah sejak lama mendambakan kesempatan untuk bersimpuh di tempat suci ini.

"Mari kita masuk ke dalam," ajak Anastasia, membalikkan tubuhnya menatap Irene dan kelima pengawal berbaju zirah yang ditugaskan untuk mengawal perjalanannya.

Mendengar ajakan tersebut, para pengawal justru saling melempar pandangan canggung satu sama lain.

"Uhm... tanpa mengurangi rasa hormat kami kepada Tuanku Putri, izinkanlah kami semua untuk berjaga dan menunggu Tuanku Putri di luar area kuil saja," ucap salah satu pengawal perwakilan dengan segan yang kentara.

Anastasia seketika menangkap maksud tersirat dari penolakan halus tersebut. Mereka pasti merasa rendah diri dan enggan untuk melangkah masuk ke dalam area sakral kaum bangsawan. "Begitu rupanya? Baiklah kalau begitu. Aku akan masuk terlebih dahulu. Namun, jika nanti kalian juga ingin memanjatkan doa, jangan pernah sungkan untuk menyusul masuk ke dalam, ya?"

Para pengawal itu mengangguk hormat, tersentuh oleh kepekaan sang putri.

Anastasia perlahan melepas kasutnya, melangkah tanpa alas kaki memasuki koridor kuil yang sunyi dan lengang. Suasana di dalam begitu hening, hingga gema langkah kakinya sendiri terdengar. Dengan penuh khidmat, Anastasia mulai menyalakan lilin-lilin doa di depan altar, lalu segera bersimpuh pasrah untuk mengucapkan untai doanya.

Ada begitu banyak hal yang ingin ia adukan kepada Yang Maha Suci, termasuk untai doa keselamatan untuk kelangsungan rumah tangganya bersama Nicholas, serta permohonan agar suaminya itu selalu berada dalam perlindungan selama berburu dan dapat pulang ke istana dalam kondisi sehat tanpa kurang suatu apa pun.

Tanpa terasa, akibat saking khusyuk dan panjangnya untai rasa syukur serta permohonan yang ia rapalkan, waktu satu jam telah bergulir begitu saja. Saat Anastasia melangkah keluar melintasi pintu besar kuil, ia mendapati Irene dan para pengawalnya terduduk di anak tangga batu hingga tertidur lelap karena terlampau lama menanti.

"Maafkan aku... sepertinya aku berdoa terlalu lama di dalam," tutur Anastasia lembut, memecah keheningan pelataran.

Mendengar suara lembut Anastasia, Irene seketika membuka matanya lebar-lebar. Gadis itu terperanjat kaget dan langsung bangkit berdiri tegap, sembari bergegas menyenggol pelan lengan para pengawal di sampingnya agar ikut terjaga. Merupakan hal yang teramat tidak sopan bagi seorang abdi istana sampai tertidur saat sedang mengawal anggota keluarga kerajaan.

"Ah, sama sekali tidak apa-apa, Putri Anastasia," jawab Irene gugup, buru-buru merapikan pakaiannya. "Mohon ampun atas kelalaian kami yang sampai tertidur seperti ini, Putri."

Anastasia melayangkan tawa kecil yang terdengar laksana genta perak. "Tidak ada yang salah dengan beristirahat sejenak saat lelah. Tenang saja, jangan terlalu cemas," ucapnya lembut dengan sisa senyuman ramah yang menenangkan. "Irene, ada berapa kotak kue lemon yang masih tersisa di dalam kereta?"

Irene bergegas memeriksa kotak perbekalan mereka. "Masih tersisa empat kotak lagi, Putri."

"Uhm... bolehkah aku meminta bantuanmu untuk menyerahkan dua kotak di antaranya kepada pendeta atau penjaga kuil yang bertugas? Sampaikan saja bahwa itu adalah bentuk ucapan terima kasihku karena telah diizinkan berdoa dengan tenang di sini."

"Baik, Putri Anastasia. Perintah Anda akan segera saya laksanakan," Irene memberi hormat patuh sebelum melangkah pergi menjalankan tugasnya.

Anastasia kemudian membalikkan tubuh, menatap kelima pengawal yang kini berdiri tegap bersiaga di hadapannya. "Dua kotak yang tersisa adalah untuk kalian. Ambil dan nikmatilah. Kalian pasti merasa lapar setelah menempuh perjalanan jauh dan lelah menungguku selama sejam di sini," ujarnya manis.

"Jangan, Putri Anastasia. Kami sungguh tidak apa-apa. Menjaga dan menunggu Anda sudah menjadi kewajiban dari tugas kami," tolak salah seorang pengawal dengan kepala menunduk dalam, merasa tidak pantas menerima pemberian tersebut.

Mereka paham betul betapa mulianya hati wanita di hadapan mereka, namun mereka juga sadar akan batasan status sosial mereka yang terlampau jauh dari sang putri saat ini.

"Kuharap kalian tidak menolaknya kali ini. Jika kalian menolak, aku akan merasa sangat sedih. Aku hanya tidak ingin menyantap makanan sendirian, meskipun harus kuakui bahwa makan adalah salah satu kegiatan favoritku," bujuk Anastasia diakhiri dengan sedikit gurauan jujur tentang dirinya sendiri.

Para pengawal itu spontan tertawa kecil mendengar pengakuan jenaka sang putri. Mau tidak mau, mereka akhirnya bersedia menerima dua kotak kue lemon tersebut dengan perasaan penuh rasa hormat.

Di dalam hati, jajaran prajurit itu tidak henti-hentinya melayangkan pujian setinggi langit untuk Anastasia. Mereka membatin, betapa beruntungnya Pangeran Nicholas karena dikaruniai seorang istri berhati emas seperti Anastasia. Walaupun wanita itu berasal dari kalangan rakyat biasa, sikap, serta tutur katanya sama sekali tidak pernah mencerminkan status yang rendah, ia justru berkali-kali lipat lebih anggun dan terhormat dibandingkan jajaran wanita bangsawan berdarah biru yang sesungguhnya.

Kereta kuda yang membawa Anastasia dan Irene bergerak membelah jalanan setapak yang teduh, meninggalkan ketenangan Bukit Dizon untuk kembali menuju istana. Di dalam kereta yang sunyi, Anastasia menyandarkan punggungnya pada bantalan kursi beludru. Pikirannya kembali mengembara, terlempar pada alasan penolakan mentah-mentah yang dilayangkan Nicholas fajar tadi.

Anastasia melirik Irene yang duduk tenang di hadapannya. Setelah menimbang argumen di dalam kepala beberapa saat, ia akhirnya memutuskan untuk membuka suara.

“Irene," panggilnya lembut.

"Ya, Tuanku Putri?" Irene segera menegakkan posisi duduknya.

"Apakah Hutan Barat letaknya jauh dari kompleks istana?"

Irene mengangguk pelan. "Benar, Putri. Perjalanan dari gerbang istana menuju Hutan Barat bisa menghabiskan waktu sekitar tiga jam dengan kereta kuda tercepat. Medannya cukup menantang karena merupakan kawasan hutan purba yang masih sangat asri."

Anastasia terdiam sejenak, mencerna informasi tersebut. Tiga jam perjalanan pergi, ditambah tiga jam pulang. Pantas saja Nicholas begitu terburu-buru dan enggan diganggu.

"Lalu... apakah di sana memang sering diadakan kompetisi berburu? Dan benarkah sama sekali tidak ada wanita yang diperbolehkan untuk ikut serta?"

"Kompetisi di Hutan Barat adalah agenda besar yang berkala, Putri," jawab Irene. "Dan mengenai larangan itu... memang benar bahwa wanita sangat jarang, bahkan hampir tidak pernah diperbolehkan ikut berburu ke dalam hutan sebagai peserta. Namun, bukan berarti tidak ada satu pun wanita yang menginjakkan kaki di sana."

Irene menggantung kalimatnya, membuat Anastasia menaikkan sebelah alisnya. "Maksudmu?"

"Justru di sekitar perkemahan utama dan paviliun peristirahatan, ada banyak sekali wanita-wanita bangsawan yang datang untuk menonton jalannya kompetisi. Mereka berkumpul di sana sejak hari pertama dimulai, dan..." Irene mendadak menghentikan untai kalimatnya. Bibirnya terkatung rapat, seolah baru saja menyadari bahwa ia hampir melintasi batas aman.

"Dan apa, Irene?" desak Anastasia, menatap pelayan mudanya dengan penuh perhatian.

Irene tampak gelisah di atas kursinya. Ia menundukkan kepala dalam-dalam, meremas jemarinya sendiri dengan raut wajah yang mendadak pias. "Mohon ampun, Putri Anastasia... saya tidak enak hati untuk melanjutkannya. Saya hanyalah seorang gadis dari kalangan rakyat biasa yang beruntung bisa bekerja di istana. Tidak baik dan tidak benar bagi hamba untuk berbicara apa pun yang sekiranya dapat menjelekkan nama baik kaum bangsawan tinggi.”

Suasana di dalam kereta kuda mendadak dilingkupi kesunyian. Anastasia memilih diam. Ia sangat memahami posisi Irene yang penuh ketakutan, di negeri seperti Tharvis, salah berucap tentang kaum aristokrat bisa berujung pada hukuman yang fatal bagi rakyat biasa.

Namun, Anastasia bukanlah wanita yang naif. Sebagai seseorang yang tumbuh di lingkungan wilayah perkebunan Erast, ia tahu betul bagaimana tabiat sebagian kaum aristokrat pria kelas atas jika berkumpul dalam acara-acara seperti itu yang jauh dari pengawasan hukum istana.

Anastasia menatap lurus ke dalam manik mata Irene yang masih diliputi kecemasan. Dengan nada suara yang tenang, ia menebak, "Apakah... wanita-wanita itu datang ke sana untuk menjajakan diri mereka kepada para pemenang?"

Irene tersentak, seketika bungkam seribu bahasa. Ia tidak berani mengiyakan lewat kata-kata, namun sepasang matanya yang melebar sempurna dan binar kegugupan yang terpancar dari sana sudah lebih dari cukup untuk memberikan jawaban yang dicarinya. Anastasia tahu, tebakannya seratus persen tepat.

Melihat respons sang putri yang tetap tenang namun menyorotkan tatapan sendu, Irene akhirnya memberanikan diri untuk menjelaskan realitas yang terjadi di luar sana dengan sisa keberaniannya.

"Kompetisi berburu di Hutan Barat adalah salah satu ajang paling bergengsi di negeri ini, Tuanku Putri," tutur Irene. "Kalaulah ada pria—terutama dari kalangan lord atau pangeran—yang berhasil menumbangkan binatang buruan paling langka dan memenangkan kompetisi, dia akan disanjung secara hebat sebagai pria yang perkasa dan gagah berani."

Irene menjeda sejenak, menatap Anastasia. "Wanita-wanita bangsawan dari klan tingkat bawah sangat menyukai reputasi seperti itu. Mereka akan merasa teramat tersanjung dan terhormat, jika bisa berada di dalam pelukan sang pemenang pada malam perayaan pasca-berburu. Bagi mereka, memenangkan hati sang juara adalah tiket emas untuk menaikkan pamor dan status sosial keluarga mereka."

Mendengar penuturan tersebut, Anastasia kembali mengalihkan pandangannya ke luar jendela kereta. Hutan lebat yang hijau di luar sana mendadak terlihat begitu abu-abu di matanya.

1
Mymy Zizan
q nunggu Anastasya tau kelakuan nik
micemicu: wait and see kak😍
total 1 replies
Red Blossom
Thor Anastasia biar sama Lord Alfred aja.
micemicu: 🤭 nanti ceritanya jadi kisah cinta yg berbeda dong kak.. tp entar dipikirkan yaa
total 1 replies
paijo londo
kyaknya yg bakalan jadi budak cinta nih pangeran Nicholas deh sekarang kelihatan yg posesif sama Anastasia istri polosnya🤭🤭🤭
micemicu: iyaa nih, mulai rada rada diaaa
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!