Bagi Nazya, janda muda yang membawa trauma mendalam akibat mantan suaminya yang abusif, pernikahan adalah neraka yang tidak akan pernah ia masuki lagi. Namun, takdir berubah dalam semalam ketika mobil mewah milik Dafa Mahardika, seorang CEO dingin dan berkuasa, menabrak motor yang ia tumpangi bersama ayahnya hingga membuat Nazya mengalami cacat sementara.
Dihantam rasa bersalah sekaligus ketertarikan kuat pada pandangan pertama, Dafa langsung menyetujui tuntutan ayah Nazya untuk bertanggung jawab dengan cara menikahi putrinya. Nazya yang pasrah terpaksa menurut demi sang ayah.
Pernikahan mewah pun terjadi, namun penderitaan baru justru dimulai di kepala Nazya. Terjebak dalam trauma masa lalu, Nazya selalu ketakutan setiap kali berdua dengan Dafa—ia tak berani makan duluan, takut meminta nafkah, dan refleks menghindar karena mengira sang suami akan memukulnya.
Di tengah dinding trauma yang begitu tebal, mampukah kelembutan dan perlindungan posesif dari sang CEO menyembuhkan hati Nazya y
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nazla bibah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4: JANJI DI ATAS KERTAS PUTIH
Malam merangkak semakin larut ketika Dafa berdiri di koridor sepi rumah sakit, menempelkan ponsel ke telinganya. Di seberang sana, suara Kinanti Mahardika terdengar syok luar biasa saat mendengar putranya berniat menikah besok pagi di rumah sakit. Namun, setelah Dafa menjelaskan bahwa wanita itu adalah korban kecelakaan dari mobilnya, dan yang terpenting, wanita itu adalah sosok mandiri yang jauh dari dunia sosialita, kemarahan Kinanti melunak. Desakan untuk menimang cucu membuat wanita paruh baya itu akhirnya luluh dan menyetujui keputusan kilat sang putra.
Keesokan paginya, aroma obat-obatan masih terasa pekat, namun suasana di dalam kamar rawat VVIP nomor 402 berubah menjadi sangat khidmat. Sinar matahari pagi menembus celah gorden, menyinari sebuah meja kayu panjang yang telah disulap menjadi meja akad nikah darurat. Di atasnya, sudah tersedia selembar kertas putih bermaterai, lengkap dengan beberapa dokumen resmi.
Nazya duduk bersandar di atas ranjang tidurnya. Operasi pemasangan pen pada kaki kanannya yang berjalan selama empat jam tadi malam berjalan sukses, namun efek biusnya masih menyisakan rasa pening. Wajahnya yang polos tanpa riasan tampak begitu kontras dengan kebaya putih sederhana—yang dibelikan oleh asisten Dafa subuh tadi—yang kini melekat di tubuh rampingnya.
Kaki kanannya yang terbungkus gips tebal disembunyikan di balik selimut putih. Sepasang matanya bergerak cemas, menatap orang-orang yang mulai memenuhi ruangan. Di sudut sofa, duduk seorang wanita paruh baya berpenampilan sangat elegan dengan sanggul rapi dan perhiasan mutiara yang melingkar di lehernya. Dialah Kinanti Mahardika, ibu kandung Dafa.
Nazya menundukkan kepala, meremas jemarinya sendiri. Ia mengira ibu dari seorang CEO kaya raya akan mencaci maki dirinya yang hanya seorang janda miskin. Namun yang terjadi justru sebaliknya; sejak tiba satu jam lalu, Kinanti terus menatapnya dengan pandangan iba dan penuh kelembutan, bahkan sempat mengusap puncak kepalanya hangat. Kebaikan itu alih-alih membuat Nazya tenang, justru membuat batinnya semakin didera ketakutan. Apakah ini hanya topeng belaka? Mengapa semua orang kaya di keluarga ini tampak begitu baik? batin Nazya curiga, teringat bagaimana manisnya janji mantan suaminya dulu sebelum pernikahan dimulai.
"Baik, karena semua pihak sudah siap, bisa kita mulai prosesi akad nikahnya?" suara berat dari pak penghulu memecah lamunan Nazya.
Dafa Mahardika melangkah maju. Pria itu tampak sangat berwibawa mengenakan kemeja putih bersih dengan celana kain hitam. Potongan rambutnya yang rapi dan tatapan matanya yang tajam memancarkan aura dominasi yang kuat. Dafa mengambil posisi duduk di kursi depan meja akad, tepat berhadapan dengan Pak Handoko yang bertindak sebagai wali nikah.
Nazya menahan napasnya. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga dadanya terasa sesak. Dari atas ranjang, ia bisa melihat punggung tegap Dafa yang begitu kokoh. Pria itu sama sekali tidak terlihat gugup.
Pak Handoko mengulurkan tangannya yang gemetar, menjabat telapak tangan Dafa yang besar dan hangat. "Saudara Dafa Mahardika bin Prayoga Mahardika, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan putri kandung saya, Nazya Humaira binti Handoko, dengan maskawin seperangkat alat salat dan perhiasan emas tiga puluh gram, dibayar tunai."
Dafa mencengkeram jabat tangan itu dengan mantap. Tanpa jeda, suaranya yang bariton dan tegas menggema ke seluruh sudut kamar rawat. "Saya terima nikah dan kawinnya Nazya Humaira binti Handoko dengan maskawin tersebut dibayar tunai."
"Bagaimana para saksi? Sah?"
"Sah!"
Kata "sah" yang diucapkan secara serempak itu seketika menjatuhkan palu takdir baru di atas kepala Nazya. Air mata wanita muda itu menetes tanpa bisa dibendung, membasahi pipinya yang pias. Mulai detik ini, statusnya telah berubah. Ia bukan lagi seorang janda yang bebas, melainkan istri siri dari seorang CEO Mahardika Global Group. Pernikahan yang tidak pernah ia inginkan, kini telah mengikat lehernya kembali.
Setelah doa selesai dipanjatkan, pak penghulu meminta Dafa untuk mendekati ranjang Nazya guna menandatangani surat keterangan nikah di bawah tangan, sekaligus melakukan prosesi penyerahan mahar dan pemasangan cincin.
Dafa melangkah mendekat dengan perlahan. Langkah kakinya yang mantap terdengar beritme di atas lantai. Begitu Dafa duduk di sisi ranjang, Nazya secara refleks menggeser tubuhnya sedikit menjauh, membuat gips di kakinya bergesekan dengan seprai. Rasa takut yang murni kembali terpancar dari sepasang mata jernih itu.
Dafa berpura-pura tidak melihat penolakan fisik tersebut. Ia meraih sebuah kotak beludru merah dari asistennya, membukanya, lalu mengambil sebuah cincin berlian yang berkilau indah. "Nazya, ulurkan tanganmu," ucap Dafa pelan, mencoba melembutkan suaranya yang tegas.
Dengan tangan yang gemetar hebat, Nazya perlahan mengangkat tangan kanannya. Ketika jari-jari dingin Dafa menyentuh kulitnya untuk menyematkan cincin, tubuh Nazya tersentak kecil. Sentuhan itu terasa asing, dingin, dan mengancam bagi sistem sarafnya yang dipenuhi trauma masa lalu. Cincin berlian itu kini melingkar pas di jari manis Nazya, sebuah simbol kepemilikan mutlak dari seorang Dafa Mahardika.
"Sekarang, giliran istri mencium tangan suaminya," tuntun pak penghulu dengan senyum ramah.
Nazya menatap telapak tangan Dafa yang terbuka di hadapannya. Tangan itu besar, dengan urat-urat tegas yang menonjol. Di dalam kepala Nazya, tangan laki-laki adalah alat untuk memukul, menampar, dan menyakiti. Ia menelan ludahnya yang terasa berpasir. Demi ayahnya yang sedang menonton di belakang dengan senyum lega, Nazya memaksa tubuhnya bergerak maju.
Ia meraih tangan Dafa, lalu perlahan mendekatkan wajahnya. Namun, alih-alih menempelkan kening atau bibirnya dengan lembut, Nazya hanya menempelkan ujung hidungnya sekilas pada punggung tangan Dafa dengan tubuh yang kaku seperti batu, sebelum akhirnya menarik diri secepat kilat dan kembali menunduk dalam.
Dafa tertegun. Jarak sedekat ini membuat Dafa bisa mendengar detak jantung Nazya yang berpacu liar karena ketakutan. Bahkan, Dafa bisa merasakan getaran halus di jemari istrinya yang baru saja ia lepaskan. Dia benar-benar takut padaku, batin Dafa, ada rasa tidak nyaman yang mencubit hatinya melihat reaksi ketakutan yang begitu nyata itu. Namun, ego posesifnya justru berbisik lebih keras; Dafa bertekad akan menjinakkan ketakutan itu, apa pun caranya.
Setelah pak penghulu dan keluarga berpamitan keluar untuk mengurus penyelesaian berkas di luar ruangan, kamar rawat mewah itu mendadak menyisakan keheningan yang pekat. Pak Handoko sedang tertidur di sofa karena kelelahan, meninggalkan Dafa dan Nazya dalam kecanggungan yang mencekam.
Dafa berdiri, merapikan kemejanya, lalu menatap Nazya yang masih setia menunduk, menyembunyikan wajahnya di balik helaian rambut hitamnya.
"Mulai hari ini, kamu adalah istriku, Nazya. Setelah pihak rumah sakit mengizinkanmu pulang dua hari lagi, kamu dan ayahmu akan langsung pindah ke rumah pribadiku," ucap Dafa dengan nada final yang tidak menerima bantahan. "Aku sudah menyiapkan kamar khusus untukmu di lantai bawah agar kamu tidak perlu menaiki tangga dengan kursi rodamu."
Nazya meremas selimutnya semakin kuat hingga kukunya memutih. Kamar khusus? Rumah pribadi? Pikirannya langsung melayang pada skenario mengerikan di mana ia akan dikurung di dalam rumah besar milik pria kaya ini, tanpa ada tetangga yang bisa mendengar jika suatu saat ia berteriak meminta tolong akibat siksaan.
Dafa melangkah mendekati ranjang, bermaksud untuk membetulkan letak selimut Nazya yang sedikit melorot. Namun, begitu lengan Dafa bergerak naik dan mendekat ke arah wajahnya—
SREKK!
Nazya memejamkan matanya rapat-rapat dengan sangat histeris. Kepalanya reflek menunduk dalam-dalam hingga dagunya menyentuh dada, sementara kedua bahunya naik tinggi menutupi lehernya. Kedua tangannya terangkat di depan wajah, membentuk posisi menyilang sempurna untuk menangkis.
"Jangan... jangan pukul saya... mohon jangan pukul..." bisik Nazya dengan suara yang bergetar hebat penuh ketakutan murni, seolah-olah hantaman keras akan mendarat di wajahnya pada detik itu juga.
Dafa terpaku di tempatnya berdiri. Tangannya menggantung di udara, membeku menatap reaksi defensif luar biasa dari wanita yang baru saja sah menjadi istrinya.
Oke kita lanjut ke bab berikutnya.