Genre: Dark Romance / Reverse Harem / Thriller Psikologis.
Premis Utama: Althea, seorang gadis yatim piatu yang bekerja sebagai pengarsip dokumen kuno, terjebak di dalam "Septem Foundation"sebuah yayasan elit rahasia di bawah kendali tujuh pria berkuasa dan manipulatif yang terinspirasi dari pesona member BTS.
Kehadiran Althea di mansion tersebut ternyata bukan kebetulan, melainkan sebuah jaring laba-laba yang sudah disiapkan sejak lama. Ketujuh pria ini memiliki masa lalu kelam yang terikat dengan Althea, dan kini mereka bersaing secara dingin sekaligus obsesif untuk saling memperebutkan hak "memiliki" dirinya. Cinta mereka yang awalnya terasa seperti perlindungan mewah perlahan berubah menjadi sangkar emas yang posesif, berbahaya, dan mematikan.
Ketegangan psikologis saat Althea mencoba mengungkap misteri ingatan masa lalunya yang hilang, sembari bertahan hidup di antara dominasi, manipulasi, dan cinta gila dari tujuh pria
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aera_yong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Senyum yang Menyembunyikan Belati
Malam pertama di 'Septem Foundation' dilewati Althea dengan perasaan gelisah. Kamar yang disediakan untuknya sangat luas, bahkan lebih mirip kamar putri bangsawan dengan dominasi warna hijau zamrud dan perabotan kayu berwarna hitam. Namun, perasaan seperti selalu diawasi dari sudut-sudut ruangan yang gelap membuat Althea tidak bisa memejamkan mata hingga fajar menyingsing.
Keesokan paginya, Althea turun ke ruang makan dengan langkah ragu. Bau aroma kopi mahal dan roti panggang mentega menyeruak, menuntun langkah kakinya ke sebuah meja panjang dari kayu mahoni di ujung aula.
Di sana, seorang pria sedang duduk dengan tenang sambil mengoleskan selai ke rotinya. Mendengar suara ketukan sepatu Althea, pria itu menoleh.
Althea sempat menahan napas selama beberapa detik. Pria di depannya memiliki ketampanan yang tidak masuk akal, garis rahang yang tegas, bibir yang penuh, dan proporsi wajah yang terlalu sempurna hingga tampak seperti pahatan marmer yang hidup.
Suaranya terdengar lembut, renyah, dan penuh kehangatan, sangat kontras dengan hawa dingin intimidatif yang Althea rasakan dari Rm semalam.
"Selamat pagi," sapa Althea canggung, lalu memilih duduk di kursi yang agak jauh di ujung meja.
Pria itu terkekeh pelan. Dia bangkit dari kursinya, berjalan anggun mendekati Althea, lalu memindahkan piring sarapan ke meja tepat di hadapan gadis itu.
"Jangan duduk terlalu jauh, Althea. Aku tidak menggigit. Nama saya Kim Seokjin. Kamu bisa memanggilku Jin."
"Terima kasih, Tuan Jin. Di mana... Tuan Rm?"
tanya Althea pelan sambil menerima secangkir teh hangat yang dituangkan oleh Jin.
"Rm sedang ada urusan luar yayasan. Mulai hari ini, aku yang bertanggung jawab atas seluruh kenyamanan dan keperluanmu di rumah ini. Pastikan kamu menghabiskan sarapanmu, Althea. Kamu terlihat agak kurus," ujar Jin.
Sepasang matanya menatap Althea dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan binar kepuasan yang aneh saat melihat Althea mulai meminum teh buatannya. Sentuhan perhatiannya terasa begitu intens, seolah dia sedang merawat sebuah boneka porselen yang sangat rapuh.
Setelah sarapan selesai, Jin mengantar Althea menuju ruang arsip bawah tanah—tempat di mana Althea akan menghabiskan waktu kerjanya. Ruangan itu sangat masif, dipenuhi ribuan dokumen tua berselimut debu tipis dan dikelilingi jeruji besi dekoratif di beberapa sudutnya.
"Tugasmu sederhana. Kelompokkan dokumen ini berdasarkan tahun dan kasusnya, terutama dokumen dari tahun 2010," Jin melangkah mendekat, lalu mengusap lembut pucuk kepala Althea.
Sentuhan itu... terasa sangat familiar bagi Althea. Sebuah kilatan memori samar yang asing mendadak melintas di kepalanya, membuat dadanya berdenyut nyeri secara tiba-tiba. Althea meringis kecil dan memegangi kepalanya.
"Ada apa? Kamu sakit?"
Jin langsung menyambar dan menggenggam pergelangan tangan Althea.
Cengkeramannya mendadak berubah sangat erat, bahkan terlalu kuat untuk seseorang yang sejak tadi bersikap ramah dan lembut. Althea tersentak kaget.
"T-tidak, Tuan Jin. Saya tidak apa-apa. Hanya sedikit pusing," jawab Althea, mencoba menarik tangannya kembali.
Namun, Jin tidak melepaskannya. Pria itu justru menunduk, menatap pergelangan tangan Althea yang mulai memerah akibat cengkeraman jarinya sendiri dengan tatapan yang gelap dan terpaku. Kulit putih Althea yang bernoda merah seolah menyalakan sesuatu yang berbahaya di dalam diri Jin.
"Baguslah kalau begitu," Jin tiba-tiba melepaskan tangannya dan kembali tersenyum manis seolah tidak terjadi apa-apa beberapa detik lalu.
Dia merapikan jas hitamnya. "Oh ya, satu hal lagi yang harus kamu ingat, Althea. Jam kerjamu berakhir tepat pukul lima sore. Setelah itu, kamu harus langsung kembali ke kamarmu di lantai tiga."
"Kenapa? Apakah ada ruangan tertentu yang tidak boleh saya masuki?" tanya Althea penasaran, mengusap pergelangan tangannya yang berdenyut.
Jin berjalan mundur menuju pintu keluar ruang arsip. Sebelum menutup pintu besi tebal yang menjadi satu-satunya akses keluar dari sana, dia menatap Althea dengan senyuman indahnya yang kini terasa begitu mencekam dan dingin.
"Bukan cuma ruangan, Althea. Tapi jika kamu masih berkeliaran di koridor mansion setelah jam lima sore... aku terpaksa harus mengunci mu dari luar demi keselamatanmu sendiri. Aku sangat tidak suka jika milikku... lecet atau disentuh oleh orang lain tanpa izin."
'KLIK.'
Pintu besi itu tertutup rapat dan mengunci otomatis, menyisakan Althea yang berdiri mematung sendirian di tengah keheningan ruang arsip bawah tanah yang dingin, ditemani detak jantungnya yang berpacu liar karena ketakutan.
Bersambung~