"Bukan lo yang mutusin buat nolak gue. Gue sendiri yang mutusin apa yang bakal gue lakuin ke lo!"
Arshaka Rumi Wiraguna adalah Presiden BEM yang arogan dan urakan. Bagi Lyana, bendahara BEM yang kaku, Rumi adalah definisi "salah gaul" yang harus dihindari. Namun, takdir memaksa mereka terus bergesekan.
Saat demonstrasi besar membakar kampus, Rumi mempertaruhkan nyawa demi melindungi Lyana. Sejak hari itu, tembok formalitas "Mas" dan "Mbak" pun retak. Apalagi saat KKN memaksa mereka tinggal satu atap di pelosok desa. Tanpa birokrasi kampus, sisi posesif Rumi muncul. Lyana yang awalnya hanya ingin fokus pada beasiswa, perlahan terseret dalam obsesi sang Presiden BEM.
Di antara politik kampus dan ego yang tinggi, mampukah Lyana bertahan? Atau justru ia akan tunduk pada aturan main Arshaka Rumi Wiraguna?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Debu Panggung dan Aturan yang Membisu
Aroma serbuk gergaji dan cat semprot yang belum kering menguar tajam di udara, memenuhi seisi Auditorium Graha Bintang. Suara dengung statis dari pelantang suara yang sedang diuji coba memekakkan telinga, disusul ketukan mikrofon dari atas panggung yang baru setengah jadi.
Lyana duduk bersila di barisan kursi penonton paling depan, menjadikan paha kirinya sebagai meja dadakan untuk memangku laptop yang mulai panas. Layarnya menampilkan spreadsheet dengan ratusan baris data—anggaran vendor tenda, konsumsi tamu VIP, hingga alokasi dana untuk peluncuran program Beasiswa Fajar. Jari-jarinya bergerak lincah di atas papan tik, meskipun lingkaran hitam di bawah matanya bercerita banyak tentang jatah tidur yang terus dipangkas selama dua minggu terakhir.
H-3 Dies Natalis. Ritme kehidupan BEM tidak lagi berjalan, melainkan berlari dalam sprint yang menguras napas.
"Mbak Lyan!"
Seruan Dito mengalahkan suara bising mesin bor dari arah panggung. Pemuda itu berlari kecil menghampirinya, napasnya terengah, menenteng sebuah map merah yang sudah lecek di ujungnya. Kacamata Dito merosot hingga ke ujung hidung karena keringat.
"Vendor katering minta tanda tangan pencairan DP termin kedua sekarang, Mbak. Kalau nggak ditransfer sebelum jam tiga sore, mereka ngancam mau batalin pesanan seribu kotak nasi bakar buat peserta bazar besok lusa," lapor Dito panik.
Lyana tidak ikut panik. Dua minggu bekerja di bawah tekanan persiapan acara skala raksasa telah menumpulkan saraf terkejutnya. Ia meraih map itu, membaca kuitansinya dengan teliti dari atas ke bawah, memastikan nominalnya sesuai dengan draf yang ia buat semalam. Setelah yakin tidak ada mark-up sepeser pun, ia membubuhkan tanda tangannya di atas kertas itu menggunakan pulpen hitam andalannya.
"Bilang ke mereka, transfernya diproses jam dua siang ini. Aku harus ke bank dulu buat validasi token," Lyana menyerahkan map itu kembali. "Jangan mau diancam, To. Posisi tawar kita kuat, mereka yang butuh portofolio acara universitas kita."
Dito tersenyum lega, mengangguk cepat. "Siap, Bendahara andalan!"
Saat Dito berlari menjauh, sebuah botol teh melati dingin menempel di pipi kanan Lyana. Sensasi dinginnya membuat gadis itu berjengit kaget. Ia menoleh dan mendapati Rumi berdiri di samping kursinya, sudah menanggalkan jaket almamaternya, menyisakan kaus hitam yang bagian punggungnya basah oleh keringat. Laki-laki itu tersenyum dengan lesung pipi yang samar terlihat.
"Minum dulu. Dari tadi pagi aku perhatiin kamu cuma minum air putih sisa rapat semalam," Rumi duduk di kursi kosong sebelah Lyana, menyodorkan botol teh tersebut.
Lyana menerimanya dengan gumaman terima kasih. Ia meneguk teh manis itu perlahan, membiarkan rasa dinginnya membasuh tenggorokannya yang kering. Rumi tidak langsung berbicara, ia membiarkan keheningan yang nyaman menyelimuti mereka berdua di tengah hiruk-pikuk orang-orang yang berlalu-lalang di auditorium.
"Gimana trial ngajarnya kemarin sore?" tanya Rumi memecah keheningan. Ia melirik sekilas ke arah layar laptop Lyana, menatap deretan angka yang seolah tak ada habisnya.
"Lancar," Lyana tersenyum tipis, merapikan anak rambut yang jatuh menutupi dahinya. "Anak-anak bimbelnya lumayan koperatif, walaupun ada satu-dua anak SMA yang ngeyel nanya rumus fisika padahal jadwalnya bahasa Inggris. Tapi bayarannya lumayan, Mas. Kalau aku ambil empat shift seminggu sampai bulan depan, ditambah honor panitia Dies Natalis, kayaknya aku bisa bayar cicilan pertama UKT semester depan tanpa harus utang ke mana-mana."
Rumi menatap Lyana lama. Ada rasa kagum yang membuncah di dadanya setiap kali melihat ketangguhan gadis ini. Kehilangan beasiswa tidak membuat Lyana patah arang; gadis itu justru mengubah dirinya menjadi mesin yang tak kenal lelah. Pagi hingga siang berkutat dengan angka-angka BEM, sore hingga malam mengajar anak sekolah, dan sisa malamnya dihabiskan untuk merevisi tugas-tugasnya yang mulai terbengkalai.
"Kamu hebat, Lyan," bisik Rumi pelan, nyaris tenggelam oleh suara uji coba bas dari sound system. "Tapi janji sama aku, kalau kamu capek, bilang. Jangan paksain diri sampai tumbang. BEM butuh kamu, tapi aku... maksudku, kita semua, lebih butuh kamu sehat."
Rona merah tipis menjalar di pipi Lyana. Ia membuang muka, pura-pura fokus menatap spreadsheet di layarnya. "Iya, Bapak Presiden. Lagipula, aku nggak mungkin tumbang sebelum peluncuran Beasiswa Fajar sukses."
Mendengar nama itu, raut wajah Rumi berubah menjadi lebih lembut. Peluncuran Beasiswa Fajar akan menjadi puncak acara Dies Natalis. Mereka telah mengundang puluhan alumni sukses, termasuk Hendrik Wiraguna, untuk hadir di malam puncak. Rencana crowdfunding yang mereka susun sudah disetujui dekanat. Semua penderitaan, kesalahpahaman, dan kehilangan di bulan-bulan sebelumnya akan bermuara pada momen tersebut. Sebuah momen penebusan untuk seorang sahabat yang tak pernah sempat meminta maaf.
"Ayah bilang dia bakal bawa beberapa rekan bisnisnya ke malam puncak," ucap Rumi. "Mereka tertarik banget sama konsep beasiswa solidaritas yang dikelola langsung oleh mahasiswa. Ini bakal jadi besar, Lyan."
"Amiin," gumam Lyana, matanya berbinar penuh harap. Segala rasa lelah di sekujur tubuhnya seolah terbayar lunas membayangkan betapa bangganya ibu Fajar jika program ini berhasil menyekolahkan puluhan mahasiswa yang nyaris putus kuliah.
Malam harinya, kampus diguyur gerimis tipis. Udara Solo yang biasanya gerah berubah menjadi basah dan dingin. Lyana baru saja kembali dari bank untuk mengurus transfer vendor terakhir. Ia memarkir motornya di depan gedung rektorat, berniat menyerahkan salinan laporan mutasi hari ini ke ruang administrasi kemahasiswaan sebelum pulang ke kos.
Lobi rektorat sudah sepi. Lampu-lampu utama telah dipadamkan, hanya menyisakan pendar lampu neon di sepanjang lorong. Langkah kaki Lyana menggema pelan di atas lantai marmer. Saat ia berbelok menuju ruang BAAK (Biro Administrasi Akademik dan Kemahasiswaan), ia melihat pintu ruangan itu masih terbuka sedikit.
Suara perdebatan yang tertahan terdengar dari dalam.
"...Bapak tidak bisa melakukan ini di H-3, Pak. Seluruh kontrak vendor sudah ditandatangani, dana sudah cair separuh. Kalau kita bekukan sekarang, universitas yang akan dituntut ganti rugi miliaran rupiah!"
Itu suara Rumi. Lyana menghentikan langkahnya. Nada suara Rumi terdengar begitu tegang, sebuah intonasi yang sangat jarang ia gunakan kecuali situasinya benar-benar kritis.
"Saya tidak punya pilihan, Rumi. Ini bukan wewenang dekanat lagi. Ini instruksi langsung dari Senat Akademik Universitas."
Balasan itu datang dari Pak Haris. Sang Wakil Dekan terdengar sama lelahnya.
Jantung Lyana mulai berdegup lebih cepat. Tangannya meremas map plastik berisi laporan mutasi. Secara refleks, ia mendekat ke arah celah pintu yang terbuka, menahan napas agar kehadirannya tidak disadari.
"Alasannya tidak masuk akal, Pak Haris," Rumi membalas, kali ini setengah berdesis. "Lyana adalah bendahara terbaik yang pernah BEM punya. Bapak tahu sendiri bagaimana dia membersihkan kekacauan yang dibuat Satria. Kenapa tiba-tiba posisinya dipermasalahkan?"
Nama Lyana disebut. Gadis itu mematung di balik dinding lorong. Hawa dingin dari lantai marmer seolah menjalar perlahan dari telapak kakinya hingga ke dada.
Terdengar suara helaan napas berat dari Pak Haris. Gesekan kertas disodorkan di atas meja memecah keheningan ruangan.
"Dua hari yang lalu, tembusan surat pencabutan beasiswa Lyana dari Yayasan Lentera Bangsa resmi masuk ke sistem administrasi kampus," jelas Pak Haris dengan nada yang sarat akan penyesalan. "Dalam surat itu, yayasan secara eksplisit menyebutkan bahwa Lyana dicabut beasiswanya karena 'pelanggaran kontrak dan indisipliner tingkat berat'."
"Itu hanya karena dia bekerja paruh waktu di kafe, Pak! Bukan karena dia mencuri!" Rumi setengah berseru.
"Bagi birokrasi, pelanggaran kontrak tetaplah sebuah catatan hitam, Rumi!" Pak Haris memotong tegas, mengingatkan posisinya sebagai representasi universitas. "Dan kamu tahu persis Peraturan Rektor Nomor 14 tentang Organisasi Kemahasiswaan. Pasal tujuh dengan jelas menyatakan bahwa setiap mahasiswa yang sedang menjalani sanksi akademis, memiliki catatan indisipliner dari lembaga donor, atau bermasalah dengan etika kampus, secara otomatis kehilangan haknya untuk memegang jabatan strategis di organisasi mahasiswa tingkat universitas."
Keheningan yang sangat pekat menguasai ruangan itu. Di luar ruangan, Lyana menutup mulutnya dengan sebelah tangan. Jantungnya serasa berhenti berdetak. Pasal tujuh. Sebuah aturan usang yang jarang ditegakkan, kini bangkit dari kubur hanya untuk menjerat lehernya di saat-saat terakhir.
"Senat Akademik baru menyadari status Lyana sore ini saat mereka melakukan audit akhir untuk pencairan dana tahap ketiga Dies Natalis," Pak Haris melanjutkan, suaranya kini merendah. "Mereka menyatakan bahwa semua dokumen anggaran, proposal, dan kontrak vendor yang ditandatangani oleh Lyana sejak beasiswanya dicabut... dianggap tidak sah secara hukum tata usaha kampus."
"Tidak sah?" suara Rumi terdengar parau. "Pak, dana tahap ketiga itu tiga ratus juta rupiah. Itu untuk panggung utama, sound system, dan lighting. Kalau dana itu tidak turun besok pagi..."
"Acara Dies Natalis batal," Pak Haris menyelesaikan kalimat itu dengan kejam. "Dan bukan cuma itu. Kalau acara batal karena kesalahan administratif BEM, program Beasiswa Fajar yang kalian rancang itu... tidak akan pernah diizinkan untuk diluncurkan."
Lyana menyandarkan punggungnya ke dinding lorong yang dingin. Kakinya terasa lemas. Beasiswa Fajar. Satu-satunya monumen penebusan yang ia bangun untuk sahabatnya, kini berada di ujung tanduk. Dan yang lebih menyakitkan, dirinyalah yang menjadi ancaman terbesar bagi program itu.
"Ada satu jalan keluar," ucap Pak Haris memecah keputusasaan di ruangan itu. "Senat Akademik bersedia menganulir pembekuan dana dan memutihkan tanda tangan di kontrak sebelumnya, dengan satu syarat yang tidak bisa diganggu gugat."
"Apa syaratnya, Pak?"
"Besok pagi, pukul delapan tepat, Lyana harus menyerahkan surat pengunduran diri resminya dari jabatan Bendahara Umum BEM. Dia harus mundur sepenuhnya dari semua kepanitiaan, dan dilarang naik ke panggung saat malam puncak peluncuran program."
Di lorong yang remang itu, map plastik di tangan Lyana terlepas dari genggamannya. Map itu jatuh membentur lantai marmer dengan suara keras. Laporan mutasi bank berserakan di atas lantai, berantakan, persis seperti masa depan yang baru saja ia perjuangkan mati-matian.
Dari dalam ruangan, langkah kaki Rumi dan Pak Haris terdengar terburu-buru mendekat ke arah pintu, menyadari ada seseorang yang baru saja mendengar kenyataan terburuk yang disembunyikan oleh aturan kampus.