Di bawah gemerlap penthouse mewah Chicago, Suzanne Klatten terjebak dalam neraka pernikahan tanpa cinta.
Enam bulan menyandang status istri sah Willem Daendels, dia hanya menerima penolakan, dihina, dan dikhianati demi wanita simpanan.
Namun, sebuah pelarian di koridor privat mengubah segalanya.
Dalam rapuhnya batin yang hancur, Suzanne menyerahkan kesuciannya kepada Aiden Luther Stone—bocah SMA berusia 18 tahun yang kehilangan kendali akibat pengaruh obat perangsang.
Saat fajar menyingsing, kepolosan runtuh dan takdir baru terajut.
Aiden yang didera rasa bersalah bersumpah akan bertanggung jawab dan menikahinya, tanpa tahu wanita misterius itu seorang istri Tetangga Apartemennya.
Di balik balutan hoodie kebesaran dan cincin pernikahan yang disembunyikan, Suzanne melangkah kembali ke neraka rumah tangganya dengan rahasia paling berdosa.
Sebuah romansa terlarang yang penuh manipulasi, dan ego yang siap membakar batas moralitas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#34
Malam perayaan di restoran fine dining itu diakhiri dengan kemenangan mutlak bagi Aiden.
Cincin berlian emerald-cut warisan dinasti Luther-Stone kini telah melingkar sempurna di jari manis Suzanne, menjadi sebuah ikatan tak kasat mata yang mengunci takdir mereka berdua.
Kendati Dr. Nora sempat menggoda putranya, persetujuan diam-diam telah diberikan.
Begitu mobil mewah yang membawa sang mommy bergerak menjauh dari pelataran restoran, Aiden tidak membuang waktu sepeser pun. Ia langsung membawa Suzanne kembali ke dalam dekapan penthouse eksklusifnya, seolah takut jika sedetik saja ia lengah, dunia akan mencoba merebut wanitanya lagi.
Namun, di balik dinding kaca penthouse yang tenang dan dipenuhi romansa, badai baru sedang disiapkan untuk esok hari.
Aiden bukanlah pria naif yang akan membiarkan nama baik kekasihnya dikotori, pun ia bukan remaja bodoh yang tidak tahu bahwa Aleonie Bethman sedang mencoba memanfaatkan namanya untuk panjat sosial.
... * * * ...
Keesokan paginya, Chicago terbangun dengan sebuah kejutan besar yang mengguncang jagat hiburan dan media sosial.
Sesuai dengan rencana matang yang tak disengaja, video amatir berdurasi dua menit yang direkam oleh paparazi magang di toilet restoran tadi malam akhirnya bocor ke publik.
Video itu tidak menampilkan sudut kamera romantis atau estetika seorang bintang.
Sebaliknya, video dengan kualitas audio yang jernih itu memperlihatkan Aleonie Bethman yang sedang kesetanan.
Wajah cantiknya yang menor tampak berkerut jelek penuh kebencian, kakinya menendang tempat sampah marmer, dan mulutnya tanpa henti memuntahkan makian kasar, kotor, serta kalimat-kalimat yang sama sekali tidak mencerminkan citra "Artis Pelajar Beradab" yang selama ini dijual oleh agensinya.
Dalam waktu kurang dari satu jam, video tersebut menjadi trending topic nomor satu di seluruh platform digital.
Reputasi Aleonie yang dibangun dengan biaya jutaan dolar runtuh instan laksana istana pasir yang dihantam ombak.
Netizen yang kemarin sempat baper dengan foto-foto "intim" di ruang ujian langsung berbalik arah, menghujat sang aktris dengan komentar-komentar yang teramat pedas.
...***...
Di dalam unit apartemennya yang serba putih, Aleonie duduk di lantai dengan rambut acak-acakan.
Ponselnya tidak henti-hentinya berdering dari pihak agensi dan manajemen kontrak iklan yang menyatakan pembatalan sepihak.
"Sialan! Bagaimana bisa ada kamera di dalam toilet itu?!" jerit Aleonie frustrasi, melemparkan vas bunga kristal ke arah dinding hingga hancur berkeping-keping.
"Jeremy! Di mana kau?! Bersihkan berita ini sekarang juga!"
Jeremy, sang asisten yang baru saja masuk dengan wajah sepucat mayat, hanya bisa menggelengkan kepala lemah.
"Tidak bisa, Ale. Kali ini kita tidak bisa menggunakan uang atau koneksi. Firma hukum yang menyebarkan dan mengunci algoritma video ini adalah milik Luther Corporation. Mereka tidak membiarkan tim kita menghapus satu video pun dari internet."
Mendengar nama 'Luther', jantung Aleonie seolah berhenti berdetak.
... * * * ...
Beberapa Hari kemudian, di SMA elite Chicago High Academy, hari itu adalah hari pengumuman kelulusan resmi.
Koridor sekolah tampak riuh oleh ratusan siswa kelas akhir yang mengenakan seragam yang sudah dipenuhi coretan tanda tangan.
Namun, pusat perhatian semua orang hari ini tertuju pada sebuah mobil sport Bugatti hitam yang baru saja membelah halaman parkir khusus.
Pintu mobil terbuka, dan Aiden Hayes Stone melangkah turun.
Pemuda delapan belas tahun itu tidak lagi mengenakan seragam sekolah. Ia memakai kemeja kasual hitam dengan lengan yang digulung hingga ke siku, menampilkan urat-urat tangan yang tegas dan jam tangan Rolex yang berkilau.
Di sebelah kirinya, Suzanne Klatten melangkah turun dengan keanggunan yang memukau, mengenakan gaun terusan kasual berwarna biru dongker yang membuat kulit putihnya tampak bercahaya.
Cincin berlian di jari manisnya sengaja terekspos, berkilau di bawah sinar matahari pagi.
Kehadiran Suzanne di samping Aiden langsung memicu kasak-kusuk hebat dari para siswa dan paparazi sekolah yang berkumpul di gerbang.
"Lihat! apa wanita itu yang ada difoto?"
"Dia memakai cincin dari keluarga Stone! Jadi rumor bersama Aleonie itu benar-benar bohong!"
Aiden tidak memedulikan bisikan-bisikan itu. Tangan kanannya dengan posesif merangkul pinggang Suzanne, menuntun wanita itu melewati kerumunan.
Di tengah koridor, mereka berpapasan dengan Kent dan Cole yang sudah menunggu dengan seringai lebar.
"Wow, lihat siapa yang datang. Tuan Muda Stone yang sudah resmi mengikat wanitanya," goda Kent, memberikan salam tinju hangat pada Aiden.
Matanya beralih ke arah Suzanne dengan hormat. "Selamat atas kebebasanmu, Anne. Dan selamat karena telah resmi menjinakkan singa mesum ini."
Suzanne terkekeh geli, wajahnya merona merah. "Terima kasih, Kent."
"Di mana bocah menor itu?" tanya Cole dengan nada malas, melirik ke arah papan pengumuman digital sekolah yang kini sedang menayangkan pengumuman kelulusan akademik.
Sesuai dengan prediksi, tak lama kemudian, sosok Aleonie Bethman muncul dari ujung koridor dengan langkah kaki yang terburu-buru, dikawal oleh beberapa sekuriti sewaan.
Wajahnya ditutupi oleh kacamata hitam besar untuk menyembunyikan matanya yang sembap. Namun, begitu matanya menangkap sosok Aiden dan Suzanne yang sedang berdiri bersama Kent dan Cole, langkah Aleonie terhenti.
Aiden menyadari kehadiran Aleonie.
Bukannya menghindar, Aiden justru memberikan isyarat mata kepada Kent dan Cole untuk tetap di tempat.
Dengan langkah tegap yang memancarkan dominasi mutlak, Aiden menuntun Suzanne berjalan mendekat, memotong jalur jalan Aleonie.
Atmosfer di koridor sekolah seketika mendingin laksana es.
Semua siswa menahan napas, menantikan konfrontasi langsung di antara sang pangeran sekolah, sang kekasih asli, dan sang aktris yang reputasinya beberapa hari ini hancur.
Aiden berhenti tepat dua langkah di depan Aleonie. Ia menundukkan kepalanya sedikit, menatap tajam ke balik kacamata hitam gadis itu dengan pandangan yang sarat akan penghinaan.
"Kau merombak kursi ujianmu, menyuap staf administrasi, dan menggunakan kamera media untuk membuat rumor murahan bersamaku," ucap Aiden, suaranya terdengar begitu bariton, tenang, namun bergaung kuat di sepanjang koridor yang mendadak hening.
"Aku membiarkanmu bermain selama seminggu ini hanya karena wanitaku membutuhkan pengalihan isu untuk sidang perceraiannya."
Aiden maju satu langkah lagi, membuat sekuriti sewaan Aleonie otomatis mundur karena ketakutan melihat aura gelap dari pewaris tunggal Stone tersebut.
Aiden merapatkan tubuh Suzanne ke dadanya, lalu mengangkat tangan kiri Suzanne yang dihiasi cincin berlian tepat di hadapan wajah Aleonie.
"Tapi, saat kau berani membuka mulut kotormu untuk memfitnah dan menghina tunanganku di toilet restoran malam itu..." Aiden menjeda kalimatnya, sebuah seringai dingin yang teramat kejam terukir di bibirnya.
"Di situlah kau menetapkan tanggal kematian untuk seluruh karier dan masa depanmu, Aleonie Bethman."
Aleonie bergetar hebat di tempatnya berdiri. Ia melepaskan kacamata hitamnya, menampilkan sepasang mata yang dipenuhi air mata ketakutan dan keputusasaan.
"Aiden... aku... aku melakukan itu karena aku mencintaimu! Wanita bekas seperti dia tidak pantas bersamamu! Aku yang selalu ada di kastae yang sama denganmu!"
Mendengar kalimat putus asa itu, Suzanne yang sejak tadi diam akhirnya melangkah maju dari balik dada Aiden.
Ia menatap Aleonie dengan pandangan mata yang teramat dingin dan dewasa—tatapan seorang wanita yang telah melewati badai hidup yang sesungguhnya dan tidak akan pernah tergoyahkan oleh gertakan anak kecil.
"Cinta tidak dibangun dari obsesi murahan dan fitnah, Nona Bethman," ucap Suzanne dengan intonasi suara yang begitu tenang namun berwibawa, membuat seluruh siswa di koridor terkesima dengan kedewasaannya.
"Kau menyebutku wanita bekas, namun faktanya, hari ini aku berdiri di sini dengan perlindungan hukum mutlak dari keluarga Stone, sementara kau... kau hanya berdiri di sini sebagai seorang pecundang yang karirnya baru saja dihancurkan oleh kelakuanmu sendiri di balik cermin toilet."
Suzanne menoleh ke arah Aiden dengan senyuman manis yang mematikan. "Ayo pergi, Aiden. Pengumuman kelulusanmu sudah keluar, dan kita memiliki janji dengan desainer gaun pernikahan siang ini."
Aiden membalas senyuman Suzanne dengan tatapan pemujaan yang teramat intens. "Tentu saja, Sayang. Apapun perintahmu."
Tanpa memedulikan Aleonie yang kini jatuh terduduk di atas lantai koridor sambil menangis histeris karena menyadari bahwa hidupnya di Chicago telah berakhir hari itu juga, Aiden menggandeng erat tangan Suzanne.
Mereka berjalan beriringan meninggalkan koridor sekolah menuju masa depan baru yang benderang, melangkah mantap menuju hari pernikahan yang akan meresmikan kepemilikan mereka secara abadi di bawah langit Chicago.