Dulu, Adrian hanyalah seorang anak miskin yang setiap hari hidup dalam hinaan dan siksaan. Hingga suatu malam, hidupnya berubah ketika seorang Don mafia terbesar di Swiss mengangkatnya sebagai anak dan pewaris keluarga Moretti.
Kini, di usia 23 tahun, Adrian Moretti dikenal sebagai Don muda yang disegani. Dingin, kejam kepada musuh, tetapi selalu melindungi orang yang tidak bersalah.
Sampai suatu hari, ia menyelamatkan seorang gadis bernama Aurora yang dikejar para penagih utang, orang-orang yang ternyata pernah menghancurkan masa kecil Adrian.
Niatnya hanya menolong, namun semakin lama mengenal Aurora, hati Adrian yang selama ini membeku perlahan luluh. Untuk pertama kalinya, ia merasakan cinta. Sayangnya, Adrian tidak pernah belajar bagaimana mencintai dengan benar.
Baginya, mencintai berarti melindungi.
Melindungi berarti memiliki. Dan siapa pun yang berani merebut Aurora darinya... akan menjadi musuh seluruh keluarga Moretti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9 : Kelakuan Aurora
Isabel tersenyum hangat mendengar sapaan itu. "Sudah lama tidak ada yang memanggil saya seperti itu."
Aurora berkedip. "Memangnya kenapa?"
"Kebanyakan orang di sini memanggil saya Nona Isabel atau Kepala Pelayan Isabel." Ia terkekeh pelan. "Mendengar ada yang memanggil 'Kak Isabel' rasanya... lebih akrab."
Aurora ikut tersenyum. "Soalnya usiamu juga tidak jauh di atasku."
"Kau benar."
Suasana di antara mereka perlahan mencair. Mereka mulai menyusuri koridor panjang mansion.
"Lihat pintu-pintu ini," ujar Isabel sambil menunjuk deretan ruangan di sisi kanan. "Yang pertama adalah ruang tamu utama. Tempat Don Besar menerima tamu penting."
Aurora mengintip ke dalam.
Ruangan itu dipenuhi sofa kulit berwarna cokelat tua, perapian besar, serta lukisan-lukisan klasik yang tampak sangat mahal.
"Kalau ada tamu biasa?"
"Ada ruang tamu lain."
Aurora menggeleng pelan. "Bahkan ruang tamunya saja lebih besar daripada rumahku."
Isabel hanya tertawa kecil, mereka kembali berjalan. "Di sebelah sana ruang makan keluarga."
Aurora menoleh. Meja makan sepanjang belasan meter memenuhi ruangan. "Astaga..." gumamnya. "Itu bisa dipakai berapa orang?"
"Dua puluh empat orang."
Aurora langsung menutup mulutnya. "Di rumah singgahku dulu..." katanya lirih, "meja makan hanya untuk enam kursi, dan sisanya mereka makan sambil duduk di lantai, hanya beralaskan karpet.
Isabel dapat menangkap kesedihan yang sekilas muncul di wajah gadis itu. Ia tidak berkata apa-apa, beberapa menit kemudian...
Mereka tiba di sebuah taman dalam yang begitu indah. Kolam kecil dengan ikan koi menghiasi bagian tengah, sementara bunga mawar berbagai warna bermekaran di sekelilingnya.
Aurora spontan tersenyum. "Indah sekali...."
"Ini tempat favorit Don Besar."
Aurora menoleh.
"Beliau sering duduk di gazebo itu setiap sore."
"Kalau Adrian?"
Isabel berpikir sejenak. "Don Muda jarang berada di mansion."
"Kenapa?"
"Beliau lebih sering berada di markas atau mengurus pekerjaan."
Aurora mengangguk pelan. "Pantas saja semalam dia ada di markas."
Isabel tersenyum tipis tanpa memberikan penjelasan. Mereka kembali melanjutkan tur. Tak lama kemudian, seorang pelayan muda berlari kecil menghampiri Isabel.
"Nona Isabel."
"Ada apa?"
"Don Besar meminta teh herbalnya disiapkan dalam lima belas menit."
"Baik."
Pelayan itu segera pergi.
Isabel lalu menoleh kepada Aurora. "Kesempatan yang bagus."
Aurora mengernyit.
"Ikut denganku."
"Mau ke mana?"
"Dapur."
Begitu pintu dapur utama dibuka, Aurora langsung tertegun. Ruangan itu hampir sebesar restoran, belasan koki sibuk memasak. Beberapa pelayan memotong sayuran. Yang lain sedang memanggang roti, menyusun makanan penutup, dan menyiapkan berbagai minuman. Semua bergerak cepat namun teratur.
"Selamat pagi, Nona Isabel."
"Selamat pagi."
Aurora hanya bisa memandang ke segala arah. "Ini dapur... atau hotel?"
Beberapa koki tersenyum mendengar gumamannya.
Isabel mengajak Aurora mendekati salah satu meja. "Don Besar setiap pagi selalu minum teh herbal."
"Setiap hari?"
"Ya."
"Harus teh yang sama?"
"Benar."
Aurora mengangguk sambil memperhatikan Isabel yang mulai memilih daun-daun herbal dengan sangat teliti.
"Lihat baik-baik."
Aurora memperhatikan setiap gerakan Isabel.
"Takarannya tidak boleh salah. Don Besar memiliki kondisi kesehatan yang harus dijaga."
Aurora menjadi lebih serius. "Baik."
Beberapa menit kemudian teh itu selesai disiapkan. "Nah," kata Isabel sambil menyerahkan nampan kepada Aurora.
"Coba kau yang mengantarnya."
Aurora membelalakkan mata. "Aku?"
"Tenang saja."
"Tapi kalau tumpah bagaimana?"
"Aku ada di belakangmu."
Aurora menelan ludah. Dengan hati-hati ia menerima nampan berisi secangkir teh hangat.
"Semoga saja tanganku tidak gemetar...."
Di saat yang sama, di lantai dua. Ruang kerja Don Besar. Leonardo duduk di balik meja kerjanya, sementara Adrian berdiri di depan jendela besar.
"Bagaimana keadaan organisasi?" tanya Leonardo.
"Semuanya terkendali."
"Bagaimana dengan keluarga Dragovic?"
"Mereka mulai bergerak lagi."
Leonardo mengangguk pelan. "Aku sudah menduganya."
Beberapa detik suasana menjadi hening.
Lalu Leonardo membuka suara kembali. "Adrian."
"Ya, Ayah."
"Kau membawa gadis itu bukan hanya karena rasa kasihan, bukan?"
Adrian tetap memandang keluar jendela. "Tidak."
"Lalu?"
Adrian terdiam sesaat. "Ada sesuatu yang ingin kupastikan."
Leonardo memperhatikan putranya. "Karena Panti Asuhan Kasih Bunda?"
Adrian akhirnya menoleh. Tatapan ayah dan anak itu saling bertemu.
Leonardo tersenyum tipis. "Ayah mengenalmu, Adrian. Sejak melihat cara kau memandang gadis itu kemarin... Ayah tahu ada alasan lain."
Adrian tidak membantah. "Aku menemukan hubungan antara Aurora dan Maria Laurent."
Mendengar nama itu, wajah Leonardo berubah sedikit serius. "Maria..."
"Wanita yang dulu membelaku."
Leonardo mengembuskan napas pelan. "Sudah lama sekali."
"Maria yang membesarkan Aurora."
Tatapan Leonardo kembali mengarah ke pintu. "Kalau begitu... mungkin memang bukan kebetulan gadis itu datang ke hidupmu."
Adrian tidak menjawab, namun jauh di lubuk hatinya. Ia juga mulai mempertanyakan hal yang sama. Apakah pertemuannya dengan Aurora Bellini benar-benar hanya sebuah kebetulan. Atau justru awal dari rahasia besar yang selama bertahun-tahun tersembunyi?
Tok... tok...
Ketukan pelan terdengar di depan ruang kerja Don Besar.
"Masuk," ujar Leonardo.
Pintu terbuka perlahan.
Aurora masuk dengan langkah hati-hati sambil membawa nampan berisi secangkir teh herbal. Di belakangnya, Isabel mengikuti dengan tenang.
Begitu memasuki ruangan, Aurora langsung merasakan suasana yang berbeda. Rak buku menjulang memenuhi dinding, meja kerja besar dari kayu berdiri di tengah ruangan, sementara jendela tinggi memperlihatkan taman belakang mansion.
Adrian berdiri di dekat jendela. Tatapan dinginnya langsung beralih kepada Aurora. Aurora yang menyadari itu langsung menggerutu dalam hati.
"Kenapa sih dia selalu melihatku begitu?"
Isabel membungkukkan badan. "Don Besar, ini teh herbal Anda."
Leonardo mengangguk. "Taruh di meja."
Aurora melangkah perlahan. Tangannya sedikit menegang karena takut melakukan kesalahan di hari pertamanya. Setelah meletakkan cangkir di atas meja dengan hati-hati, ia mengembuskan napas lega.
"Silahkan, Tuan."
Leonardo memperhatikan gadis itu beberapa detik, lalu tersenyum tipis. "Terima kasih."
Aurora membalas dengan senyum sopan. "Sama-sama."
Leonardo mengambil cangkir itu, meniup pelan permukaannya sebelum meminum seteguk.
"Hm..." Ia menoleh kepada Isabel. "Rasanya sama seperti biasanya."
Isabel tersenyum. "Hari ini Aurora yang membantu menyiapkannya, Don Besar."
Leonardo kembali memandang Aurora. "Oh begitu?"
Aurora langsung mengangkat kedua tangannya. "Saya hanya membantu sedikit. Yang meraciknya tetap Kak Isabel."
Isabel terkekeh pelan. "Dia cepat belajar."
Aurora tersenyum malu. "Saya hanya mengikuti petunjuk."
Leonardo mengangguk pelan. "Itu sudah bagus."
Ucapan sederhana itu membuat Aurora sedikit lega. Setidaknya... orang yang disebut-sebut sangat disegani ini ternyata tidak seseram yang ia bayangkan.
Namun suasana kembali berubah ketika Adrian melangkah mendekati meja kerja. "Ayah."
Leonardo menoleh. "Hm?"
"Aku ingin keluar sebentar."
"Ada urusan?"
"Sedikit pekerjaan."
Leonardo memahami maksud putranya. "Dragovic?"
Adrian hanya menganggukkan kepala singkat.
Aurora yang mendengar nama itu mengernyit. "Dragovic lagi..."
Nama itu sudah beberapa kali ia dengar sejak berada di keluarga Moretti. Rasa penasarannya semakin besar, tetapi ia memilih diam.
Leonardo meletakkan cangkir tehnya. "Hati-hati."
"Aku selalu begitu."
Leonardo tersenyum tipis. "Itulah yang paling Ayah khawatirkan."
Adrian tidak menjawab, ia hanya mengambil jas hitam yang terlipat di sandaran kursi, lalu mengenakannya dengan tenang. Sebelum keluar dari ruangan, langkahnya berhenti tepat di samping Aurora.
"Apa kau sudah memahami pekerjaanmu?"
Aurora mendongak. "Baru sedikit."
"Belajar dengan sungguh-sungguh."
Aurora spontan mendengus pelan. "Iya, Don Muda."
Adrian menatapnya selama beberapa detik. "Lalu..."
Aurora menunggu kelanjutan ucapannya.
"Kalau ada yang membuatmu tidak nyaman, laporkan kepada Isabel."
Aurora sedikit terkejut. Ia tidak menyangka Adrian akan mengatakan hal seperti itu. "O... oke."
Adrian mengangguk singkat. Kemudian ia berjalan keluar bersama Johan yang sudah menunggu di depan pintu.
Pintu kembali tertutup.
Aurora masih menatap ke arah pintu beberapa saat.
Leonardo yang memperhatikan itu tiba-tiba tersenyum kecil. "Jangan terlalu dipikirkan."
Aurora tersentak. "Hah?"
"Sifat Adrian memang seperti itu."
Aurora menggaruk pipinya. "Jujur saja, saya masih sulit memahami beliau."
Leonardo terkekeh pelan. "Itu wajar. Dia selalu bicara singkat."
"Iya... selalu memerintah dan keras kepala."
Leonardo justru tertawa kecil. "Kau benar."
Aurora membelalakkan mata. "Tuan setuju?"
Leonardo mengangguk sambil tersenyum. "Sejak kecil Adrian memang seperti itu. Kalau sudah mengambil keputusan, bahkan aku sebagai ayahnya pun sering tidak bisa mengubah pikirannya."
Aurora langsung menghela napas panjang. "Berarti memang tidak ada obatnya."
Isabel spontan menutup mulutnya, berusaha menahan tawa.
Leonardo sendiri malah tertawa lebih lepas. "Sudah lama mansion ini tidak seramai sekarang."
Aurora berkedip bingung.
Leonardo memandang gadis itu dengan tatapan hangat. "Kehadiranmu membuat rumah ini terasa sedikit berbeda, Aurora."