NovelToon NovelToon
Penjara Emas Untuk Ratu Instagram

Penjara Emas Untuk Ratu Instagram

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Crazy Rich/Konglomerat / Angst
Popularitas:44.8k
Nilai: 5
Nama Author: Newbee

Riven Daylon Chamron adalah pria yang memiliki segalanya. Terlahir sebagai putra sulung Thomas Chamron dan Hellary Chamron, ia tumbuh di tengah kemewahan, kekuasaan, dan lingkaran pergaulan elit yang membuat namanya dikenal di banyak kalangan.

Namun, ada satu hal yang tidak pernah diajarkan oleh dunia bisnis, kekuasaan, ataupun pendidikan terbaik yang pernah ia terima: cinta.

Angelina Angie, seorang gadis yang terlihat polos dan pekerja keras demi mencapai impiannya mampu meluluhkan hati Riven.

Namun, saat perasaannya semakin dalam, Riven mulai menyadari bahwa wanita yang dicintainya mungkin tidak mencintainya dengan alasan yang sama.

Angelina Angie yang tak memiliki apapun tak membawa apapun hingga akhirnya menjadi Ratu Instagram berkat Riven, ternyata memiliki kehidupan yang penuh kontroversi. Di balik senyumnya yang memikat, tersimpan ambisi, drama, intrik, serta rahasia yang tak di ketahui.

Sebuah kisah tentang cinta, pengkhianatan, ambisi, dan harga yang harus dibayar ketika seorang pewaris konglomerat jatuh hati pada wanita yang salah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Newbee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 34

Oakley segera menghampiri Riven. Tatapan matanya langsung tertuju pada lengan kanan jas hitam sang tuan muda yang tampak sedikit kusut akibat benturan keras. Meski tidak ada bercak darah, Oakley tahu di balik kain mahal itu pasti telah muncul memar yang akan menggelap dalam hitungan menit.

“Tuan…” ucapnya pelan.

Riven tetap melangkah tanpa memperlambat ritme jalannya. “Ayah menyuruhku ke ruang kesehatan.”

Oakley mengembuskan napas lega. Setidaknya kali ini Tuan Besar tidak menghukum putranya lebih kejam seperti beberapa tahun silam. “Saya sudah menghubungi dokter perusahaan. Beliau sedang menunggu.”

“Tidak perlu dipanggil.”

“Tapi tuan muda…”

“Aku hanya butuh salep.”

Oakley terdiam, sadar bahwa membantah hanya akan sia-sia. Watak keras Riven sama sulitnya dengan Thomas. Bedanya, Thomas melampiaskan kemarahan kepada dunia, sedangkan Riven selalu mengarahkannya pada diri sendiri.

Mereka memasuki lift pribadi. Begitu pintu tertutup, keheningan langsung menyergap.

Pantulan tubuh Riven terlihat jelas pada dinding baja yang mengilap. Jasnya masih rapi dan dasinya tetap terikat sempurna, seolah tidak pernah terjadi badai apa pun beberapa menit yang lalu.

Namun, di balik pakaian itu, rasa nyeri mulai menjalar perlahan. Setiap tarikan napas membuat otot punggungnya terasa seperti disayat, dan lengan kanannya mulai bergetar halus akibat hantaman tongkat golf tadi.

Meski demikian, wajah Riven tetap datar. Bukan karena ia kebal, melainkan karena ia sudah terlalu terbiasa.

Ruang kesehatan perusahaan berada di lantai yang sama, tak jauh dari ruang direksi. Begitu pintu terbuka, seorang dokter wanita paruh baya segera bangkit dari kursinya.

“Tuan Riven.”

Riven mengangguk singkat.

“Silakan duduk.”

Pria itu melepas jasnya dengan hati-hati. Saat kain mahal itu tersingkap, Oakley refleks memalingkan wajah. Bekas pukulan pertama telah membentuk garis panjang berwarna merah gelap yang membentang di punggung Riven, sementara lengan kanannya mulai membiru.

Dokter menghela napas pelan. “Beliau menggunakan tongkat besi lagi?”

Riven tak menjawab, bahkan Oakley juga diam. Namun mereka sama-sama tahu, bahwa Thomas memang sering memukuli anak sulungnya jika hatinya tak puas.

Dengan telaten, dokter itu mengoleskan salep antiinflamasi pada bagian yang cedera. Walau sentuhan kapas itu sangat lembut, otot punggung Riven tetap menegang sesaat.

“Sedikit dingin,” ujar dokter.

Riven hanya mengangguk pasrah.

Setelah mengoleskan salep, dokter mengambil kompres dingin lalu menempelkannya pada lengan kanan Riven. “Untung tidak ada tulang yang retak.”

“Aku tahu batas pukulan beliau.”

Dokter tersenyum pahit. “Bukan beliau yang saya khawatirkan, Tuan. Saya lebih mengkhawatirkan Anda.”

Riven menatapnya datar.

“Orang bisa terbiasa menahan sakit di tubuh,” lanjut dokter, menghentikan gerakannya sejenak. “Tetapi jika terlalu lama menahan sakit di dalam hati, tidak ada salep yang bisa menyembuhkannya.”

Kalimat itu seketika membekukan suasana. Oakley menundukkan kepala, sementara Riven hanya menyunggingkan senyum tipis, begitu tipis hingga lebih mirip bayangan sekelebat.

“Aku baik-baik saja.”

Dokter tahu itu dusta. Dulu sudah bertahun-tahun ia merawat luka Riven, dan ia sangat hafal, memar di tubuh pria itu akan selalu sembuh dalam hitungan hari. Namun, sorot matanya, bagian itu tidak pernah benar-benar pulih.

Beberapa menit kemudian, Riven kembali mengenakan jasnya. Meski kain itu menekan punggungnya yang cedera, ia tidak menunjukkan gestur tidak nyaman sedikit pun.

Oakley melangkah maju sambil menyerahkan sebuah tablet. “Tuan Yamamoto sudah kembali ke hotel sebentar lagi akan kembali ke Jepang.

Riven menerima gawai tersebut.

“Dan…” Oakley menelan ludah, ragu-ganggam. “Beliau membatalkan seluruh agenda kerja sama.”

Tatapan Riven seketika menajam. “Ada alasan?”

“Beliau merasa perusahaan kita tidak menghargai waktunya. Atau lebih tepatnya anda.”

Riven mengembuskan napas perlahan, mencoba mengurai ketegangan di dadanya. “Aku akan menemuinya.”

Oakley membelalak. “Sekarang?”

“Ya.”

“Tapi kondisi Anda.@

“Aku masih bisa berjalan.”

“Bukan itu maksud saya,” Oakley menggeleng cepat.

“Tuan Thomas baru saja menghukum Anda. Jika beliau tahu Anda keluar…”

“Ayah menghukumku karena aku lalai,” potong Riven dingin. Ia mengambil ponselnya. “Justru karena itu aku harus memperbaiki kesalahan ini sendiri. Aku harus bertanggung jawab meski pun aku tidak menyesalinya, karena baru kali ini aku merasa bahagia, saat aku mengambil keputusanku sendiri.”

Riven mencari sebuah nama di daftar kontak, lalu menekan tombol panggil. Beberapa detik kemudian, nada sambung terputus dan digantikan oleh suara berat dengan aksen Jepang yang kental.

“Halo.”

Riven menarik napas dalam-dalam. “Selamat malam, Tuan Yamamoto. Saya Riven.”

Keheningan sempat menyelimuti sambungan telepon sebelum akhirnya terdengar tawa kecil yang sinis. “Jadi… akhirnya pewaris keluarga itu ingat bahwa saya masih berada di negara ini.”

Riven tidak terusik. “Saya datang untuk meminta maaf secara langsung.”

“Permintaan maaf?” Suara di seberang sana berubah datar. “Kalau begitu, datanglah ke Jepang.”

Klik. Sambungan terputus.

Riven menurunkan ponselnya perlahan. Tatapannya kini jauh lebih tajam dan fokus dari sebelumnya. Apa pun yang akan ia hadapi, ia sudah membulatkan tekad untuk menanggungnya sendiri.

Namun, jauh di sudut lain kota, Angie sama sekali tidak mengetahui bahwa pria yang beberapa jam lalu menggenggam tangannya dengan hangat, kini tengah berjalan menahan nyeri di sekujur tubuh demi mempertanggungjawabkan satu keputusan: tetap bertahan di sisi gadis itu.

Riven menurunkan ponselnya perlahan setelah sambungan telepon berakhir. Ruangan seketika kembali sunyi. Oakley yang sejak tadi berdiri setia di sampingnya tidak berani membuka suara. Hanya dari melihat raut wajah Riven yang mengeras, ia tahu pembicaraan itu sama sekali tidak berjalan mudah.

Beberapa detik berlalu sebelum Riven akhirnya memecah keheningan. “Beliau ingin aku datang ke Jepang.”

Oakley langsung mengangkat kepalanya, terkejut.

“Besok?”

Riven mengangguk pelan.

Oakley mengembuskan napas lega. Setidaknya tubuh Riven masih memiliki sedikit waktu untuk bernapas setelah hukuman fisik yang baru saja diterimanya.

“Apa kata Tuan Yamamoto?”

Riven menatap ke luar jendela, memaku pandangannya pada gemerlap lampu kota yang mulai menyala karena diselimuti pekatnya senja.

“Jika kau benar-benar ingin memperbaiki kesalahanmu, jangan hanya meminta maaf lewat telepon. Datanglah menemuiku di Jepang. Aku ingin melihat seberapa besar kesungguhanmu.”gumamnya, menirukan ucapan sang taipan.

Oakley terdiam. Kalimat itu memang terdengar sederhana, tetapi maknanya menghantam telak.

Tuan Yamamoto tidak sedang menuntut formalitas; ia sedang menguji karakter dan mentalitas Riven.

“Apakah beliau masih memberi kesempatan untuk kerja sama itu?” tanya Oakley hati-hati.

“Beliau belum menolaknya, tapi juga belum menerimanya.” Riven menggenggam ponselnya sedikit lebih erat. “Kesempatan itu masih ada. Tergantung apakah aku mampu meyakinkannya atau tidak.”

Oakley berpikir sejenak sebelum menimpali, “Kalau begitu saya akan segera menyiapkan jet pribadi untuk besok pagi.”

“Siang.”

Langkah Oakley tertahan. “Siang, Tuan?”

“Aku berangkat setelah makan siang.”

Padahal, Oakley tahu betul bahwa semakin cepat Riven tiba di Jepang, semakin baik kesan profesional yang akan ia berikan. Namun, ia memilih urung bertanya. Ia tahu tuannya tidak pernah mengambil keputusan tanpa alasan yang matang.

Apalagi Riven jauh lebih paham karena ia tinggal di Jepang lama.

Bersambung

1
afifah
geram udah ih angie repot hidup lu
Mahendra
sip up byk thor👍
evanindia
harus brngkattt riven...nnti d amuk lagii am ayahmu
z੩ckุ
Drpd cri pnykit mndng cri aman🤣 lowprofile pun msh jd inceran gembong
z੩ckุ
Skali ny viral di ig lgsung ddatengi kpk y riv🤣
Hanima
Lanjut Rivvv
Ass Yfa
udah kayak segitunya..diratukan Riv...Angie teganya berselingkuh...heh
z੩ckุ
Zudah jelaz
Awal perselingkuhan
z੩ckุ
Up
z੩ckุ
Lnjt
z੩ckุ
🫩😮‍💨
z੩ckุ
Next
k
iyaa
divana
lnjutkn
mouse
😍
ekarisma
lnjut
fernandez
up rif
jessy
iyala 😄
mellyhidayat
👍 thor
sadam
nexttt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!