Aruna Cheryl Adijaya adalah anak perempuan yang diadopsi oleh keluarga konglomerat Adijaya yang tersohor. Ia diambil sebagai pengganti Aaira Beril Adijaya- si bungsu yang meninggal karena sakit.
Namun kisahnya tidak seindah yang dibayangkan, kehadirannya tidak dianggap oleh ketiga saudaranya yang lain.
Tidak sampai disitu, nasib buruk masih mengikutinya saat ia dipaksa oleh Ayana- ibu tiri ketiga saudara angkatnya itu untuk menikahi seorang pria yang berusia 15 tahun lebih tua darinya. Dalam pernikahan itu ia disiksa hingga akhirnya dibunuh oleh suaminya sendiri.
Tapi saat Aruna membuka matanya, ia kembali ke usia saat masih berusia 10 tahun, 2 tahun setelah diadopsi.
Apakah Aruna akan kembali mengalami takdir yang sama? Atau Aruna akan berjuang untuk merubah takdir hidupnya yang mengenaskan?
Di saat Aruna sudah bertekad dengan keputusannya, takdir kembali mempermainkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon QueenBwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiga
Ketika di kelas, Aruna hanya duduk termenung melihat ke arah luar jendela. Ia sama sekali tak berminat untuk memperhatikan pelajaran. Banyak hal yang Aruna pikirkan, salah satunya tentang seorang wanita bernama Ayana.
Wanita itu kelak yang akan menikahi Ayah angkatnya dan menjadi ibu tiri bagi ketiga saudaranya. Dulu Aruna pikir Ayana wanita yang baik karena hanya wanita itu saja yang memperhatikannya. Makanya ketika Ayana memaksanya menikahi Carlo, Aruna tak dapat menolak karena tak ingin mengecewakan wanita itu.
Nyatanya, Ayana adalah wanita iblis yang sengaja mengorbankan Aruna demi kepentingannya sendiri. Semua nasib buruknya terus berlanjut karena ulah Ayana. Jadi yang harus Aruna lakukan adalah menggagalkan pernikahan wanita itu bersama sang kepala keluarga. Masalahnya adalah apa yang harus ia lakukan agar rencananya berhasil?
Tidak mungkin lelaki itu akan mengabulkan keinginannya begitu saja.
Semakin dipikirkan, semakin membuat kepalanya sakit. Bagusnya ia bisa mengetahui kejadian apa yang akan terjadi nanti di masa depan, setidaknya bebannya bisa sedikit berkurang.
"Sepertinya pemandangan di luar lebih menarik ketimbang pelajaran saya, Aruna?"
Ganesha yang duduk di sebelah Aruna menyenggol lengan gadis itu pelan, membuat lamunannya buyar dan langsung menatap ke arah papan tulis di mana seorang guru wanita tengah menatapnya saat ini.
Aruna mengerjap sejenak, "Maaf, bu."
"Mungkin materi yang saya bawakan hari ini terlalu mudah, bagaimana jika kamu maju dan mengerjakan salah satu soalnya?" ucap guru itu dengan senyuman tipis. Terlihat ramah, tapi nyatanya tidak begitu.
Guru-guru di Sekolah ini tidak begitu menyukainya ketika mengetahui fakta ia merupakan anak angkat dan bukan kandung dari keluarga Adijaya. Namun, bukan berarti mereka melakukan hal buruk padanya karena nama Adijaya masih tersemat di belakang namanya.
Anak itu menghela nafas, melirik soal di papan tulis yang sudah dituliskan oleh sang guru. Bukan hal sulit karena Aruna sudah pernah mempelajarinya dulu. Dia mungkin hanya anak angkat, tapi bukan berarti ia bodoh soal pelajaran. Apa guru itu lupa jika Aruna langganan juara kelas?
Aruna bangkit berdiri dan berjalan menuju papan tulis lalu mengambil spidol hitam di sana.
"Akan sangat memalukan jika juara kelas salah menjawab. Jadi ibu harap jawabanmu benar."
Siswa-siswi lain mulai berbisik, meragukan apakah Aruna bisa menjawab dengan benar atau tidak. Materi yang diberikan hari ini belum dijelaskan sepenuhnya, terutama soal di papan.
Tanpa mengatakan apa pun, Aruna mengerjakan soal tersebut dengan cepat dan tanpa hambatan sama sekali. Tidak sampai 5 menit ia sudah menyelesaikan jawabannya tanpa ada kesalahan sama sekali. Sang guru sampai melongo dibuatnya dan menatap Aruna tak percaya.
Aruna tersenyum tipis, "Seperti kata ibu, akan sangat memalukan jika juara kelas seperti saya salah menjawab. Jadi, apakah jawaban saya salah bu?"
Sang guru memperbaiki kacamatanya sembari memeriksa jawaban Aruna. Berikutnya ia berdehem dan menatapnya, "Jawabanmu benar. Kau boleh duduk."
"Terima kasih, bu," jawab Aruna dengan senyuman tipis lalu berjalan kembali menuju tempat duduknya. Saat ia duduk Ganesha langsung mencolek lengannya pelan dan berbisik.
"Kau baik?"
"Ya, aku hanya mengantuk saja tadi," elak Aruna.
Ganesha menatap cemas sejenak sebelum mengangguk dan kembali memperhatikan pelajaran. Sementara Aruna kembali melihat ke arah luar jendela. Tak sengaja melihat Mahesa yang tengah duduk di salah satu kursi panjang sembari membaca buku. Menjadi murid kesayangan semua guru membuat Mahesa mendapat perlakuan istimewa, apalagi keluarganya termasuk salah satu donatur terbesar selain keluarga Adijaya di sekolah ini.
***
Ketika sekolah usai, Aruna sedang berdiri di depan toilet perempuan menunggu Ganesha yang berada di dalam. Beberapa siswa yang berseliweran secara terang-terangan menatapnya tidak suka, tapi mereka tidak bisa melakukan apa pun padanya. Rata-rata dari mereka tidak terima karena anak yatim piatu sepertinya bisa sampai di adopsi oleh salah satu keluarga terhormat. Lagipula, bukan keinginan Aruna untuk masuk kedalam keluarga mereka, kenapa menyalahkannya?
"Hai!" sapa sebuah suara ceria.
Seorang anak lelaki berdiri di hadapannya dengan senyuman lebar juga paper bag di tangan kanannya. Sebelah alis Aruna terangkat karena merasa tidak mengenali anak itu. Mungkin terlihat dari raut wajah Aruna, anak lelaki itu mengerjapkan matanya lalu menatap tak percaya.
"Kau tidak tahu aku?"
Aruna menggeleng, "Tidak. Kau siapa?"
"Wah! Serius? Kau orang pertama yang mengatakannya!"
"Umm, apa seharusnya aku mengenalmu?" tanya Aruna hati-hati.
Anak lelaki itu tertawa, "Tidak, sih. Tapi kebanyakan orang yang mempunyai TV juga ponsel pasti tahu aku."
"Oh, kau artis? Maaf kan aku, aku terlalu sibuk belajar hingga tidak sempat menonton televisi—dulu," ucap Aruna dengan mengatakan kata terakhir dalam hati.
"Bukan artis tapi aku lebih terkenal di banding mereka, mungkin lebih tepatnya keluargaku, sih."
"Ah," Aruna hanya menjawab seadanya dan berharap Ganesha selesai dengan cepat.
"Sepertinya kau tidak tertarik dengan latar belakangku. Tapi aku ingin tetap memberitahumu. Namaku Abaskara Bumi Allaric, terdengar tidak asing ditelingamu?"
Allaric?
Keluarga yang mengelola tambang emas dan Batu bara terbesar di Asia?
Wah! Pantas saja semua orang mengenalnya, karena hampir setiap saat keluarga mereka akan muncul di berita atau di tabloid harian. Tapi, kenapa anak itu mengajaknya bicara? Padahal dulu Aruna terlalu sibuk belajar hingga tidak mengetahui berita apa pun, anak lelaki itu juga tak pernah mendekatinya dan mengajaknya bicara begini. Wajar saja jika Abaskara tidak ada di dalam ingatannya. Pantas sedari awal tadi setiap anak memperhatikan mereka dengan penasaran.
Abaskara tertawa lagi, "Dari raut wajahmu sepertinya kau sudah tahu aku siapa. Kau bisa memanggilku Abas saja."
Belum sempat Aruna menjawab, Ganesha sudah keluar dan terkejut karena mendapati Abaskara di sana.
"Maaf membuatmu menunggu lama, Una."
"Tak masalah," jawabnya lalu kembali menatap anak lelaki tadi, "Jadi kau ada perlu denganku?"
Anak itu langsung menyerahkan paper bag yang ia bawa sedari tadi sembari melirik seragam putih Aruna yang masih terdapat noda makanan.
"Untukmu. Pasti tidak nyaman memakai seragam itu seharian ini," katanya.
"Oh, kau melihat tadi?"
"Ya, aku bahkan tertawa terbahak-bahak," akunya polos.
Ah, jadi dia anak lelaki yang tertawa tadi saat Aruna menyiram air pada Paula.
"Terima kasih tapi tidak usah. Lagipula bukan kah agak terlambat untuk itu? Ganesha juga sudah menawarkan seragamnya yang lain padaku tapi aku menolak. Maaf merepotkanmu, kami pergi dulu. Ayo, Ganes," ajaknya dan langsung menarik Ganesha pergi tanpa memperdulikan paper bag yang di sodorkan itu. Abaskara mengerjap lalu terkekeh lagi sembari mengelus belakang lehernya.
"Abas," panggil anak lainnya.
Abas menoleh dan mendapati Mahesa yang berjalan ke arahnya, "Sudah?" tanya Abas.
Mahesa bergumam tanda iya dan melirik ke arah anak itu, "Sedang apa di depan toilet perempuan?"
"Tidak ada," jawab Abas acuh. Ia merangkul pundak Mahesa dan sesekali tersenyum ramah ketika bertemu dengan siswi lainnya. Namun karena tak mendapat respon apa pun, Abas langsung menoleh ke arah Mahesa dan mendapati anak itu sedang menatapnya curiga.
"Kenapa melihatku begitu?"
"Aku tak tahu kau punya hobby seperti itu," celetuk Mahesa di ikuti helaan napas pelan. Awalnya Abas tidak mengerti sebelum ia melotot kaget saat sadar.
"Hey! Jangan sembarangan!"
"Aku takkan menghakimimu tapi kurangi sedikit kegiatan tidak bermoral itu temanku," kata Mahesa lagi lalu melepas rangkulan Abas dan berjalan lebih dulu.
Abas menatap temannya tak percaya, "Kau salah paham, Mahes! Yak! Mahesa!" teriaknya sebal dan mengejar Mahesa.