Jiang Yuan—18 tahun, hidup terasing di Desa Daun Hijau. Ketika desanya dihancurkan oleh kelompok misterius dari Aula Jiwa, ia terpaksa melarikan diri demi menyelamatkan nyawanya.
Di ambang kematian, Jiang Yuan diselamatkan oleh Wang Ning, seorang tetua kuat dari Sekte Bulan Kabut. Melihat bakat dalam dirinya, Wang Ning menjadikan Jiang Yuan sebagai murid dan membawanya memasuki dunia kultivasi.
Kini, Jiang Yuan harus bertahan di dunia yang kejam dan penuh bahaya, menempuh jalan menuju puncak kekuatan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chizella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Pertarungan di Hutan
Hutan di luar Kota Xing terbentang gelap dan lebat, pepohonan menjulang tinggi menutupi langit malam yang hanya diterangi oleh cahaya bulan yang samar.
Dedaunan kering bergemerisik di bawah langkah kaki dua wanita yang berlari sekencang mungkin, napas mereka terengah-engah karena kelelahan.
Ruan Mei dan Feng Yun melesat di antara pepohonan, menghindari akar-akar yang menjulang dan semak-semak berduri.
Mereka tidak terbang, itu akan membuat mereka menjadi sasaran yang mudah terlihat di langit yang terang oleh cahaya bulan. Berlari adalah pilihan yang lebih bijak, memungkinkan mereka untuk menyimpan Dou Qi untuk pertarungan jika diperlukan.
"Sial, di mana sebenarnya Jiang Yuan!" seru Ruan Mei di antara napasnya yang tersengal.
Wajahnya yang cantik kini dipenuhi oleh keringat dan ekspresi marah yang bercampur kekhawatiran. Matanya yang biru jernih terus menyapu kegelapan hutan, mencari-cari sosok pemuda itu.
Feng Yun mengikutinya dengan wajah serius. Rambut ungunya yang panjang berkibar-kibar tertiup angin malam, sesekali tersangkut di dahan-dahan rendah yang ia lewati.
"Orang-orang itu dari Keluarga Tang," ucap Feng Yun, suaranya rendah namun penuh kewaspadaan. "Kekuatan mereka tak diragukan lagi. Jika terlibat pertarungan langsung, sulit untuk kita menang. Terlebih lagi, Tang Wu sendiri sudah berada di puncak Ranah Da Dou Shi."
Ruan Mei menoleh sekilas, langkahnya tidak melambat.
"Untuk apa memikirkan itu?" balasnya dengan nada tegas. "Yang terpenting saat ini adalah mencari dia. Meski aku tidak tahu kenapa, tapi rasanya akan menyesal jika tidak menemukannya."
Feng Yun menatap Ruan Mei dengan raut wajah penasaran. Matanya yang hitam pekat berkilauan di bawah cahaya rembulan yang tembus di antara dedaunan.
"Kau..." Feng Yun memulai dengan hati-hati. "Jangan-jangan kau juga menyukainya?"
Ucapan itu seketika membuat langkah Ruan Mei terhenti. Wanita itu berhenti begitu mendadak hingga Feng Yun hampir menabraknya dari belakang.
"Ha—hahh!" seru Ruan Mei, suaranya meninggi karena terkejut. Wajahnya yang tadinya pucat karena kelelahan kini memerah. "Apa yang kau bicarakan!"
Feng Yun ikut berhenti, menatap Ruan Mei dengan senyuman kecil yang penuh makna.
"Oh, aku tidak bermaksud buruk," ucapnya dengan nada lembut. "Hanya saja kau begitu mengkhawatirkannya. Apa dia penting untukmu?"
Ruan Mei membuang muka, tangannya terangkat untuk menyapu rambut yang menutupi wajahnya.
"Tidak! Dia hanya bocah lemah yang kebetulan menarik perhatian Wanita Suci. Aku hanya melakukan tugas yang diberikan padaku."
Ia menggelengkan kepalanya dengan tegas.
"Ini bukan waktunya untuk menjelaskan hal-hal semacam itu. Kita harus terus—"
Ledakan!
Dari belakang mereka, ledakan besar tiba-tiba mengguncang hutan. Gelombang energi yang dahsyat menyebar ke segala arah, menumbangkan beberapa pohon di dekatnya dan menciptakan awan debu tebal yang melayang di udara. Daun-daun kering beterbangan seperti badai kecil, mengaburkan pandangan.
Saat debu mulai menghilang, tiga sosok muncul dari balik kabut. Tang Wu berdiri di tengah dengan tangan terlipat di dada, ekspresi dingin dan penuh kemenangan.
Di samping kanannya, Tang San yang kekar tersenyum sinis. Di samping kiri, Tang Ling menyilangkan tangannya di bawah puncak kembarnya yang padat, tatapan matanya tajam dan penuh ancaman.
"Kalian lari cukup cepat!" ucap Tang Ling, suaranya merdu namun dingin seperti belati.
"Tapi tetap saja tidak bisa lolos," lanjut Tang San, tinjunya mengepal dan Dou Qi mulai memancar dari tubuhnya.
Tang Wu melangkah maju satu langkah. Aura Dou Qi yang pekat dan kuat mulai bergejolak di sekujur tubuhnya, menekan udara di sekitar mereka hingga terasa berat dan sesak.
"Tidak ada gunanya melawan," ucapnya dengan nada datar. "Serahkan Tulang Phoenix Abadi, dan aku akan membiarkan kalian pergi dengan selamat. Ini kesempatan terakhir."
Ruan Mei dengan cepat menyimpan kotak berisi Tulang Phoenix Abadi ke dalam cincin penyimpanannya.
Tangannya kemudian terangkat, Dou Qi mulai berkumpul di telapak tangannya.
"Tidak ada pilihan," ucapnya, suaranya mantap meski napasnya masih terengah-engah. "Hanya bisa bertarung!"
Feng Yun berdiri di sampingnya, Dou Qi keunguannya mulai menyala. "Aku tepat di sampingmu!"