NovelToon NovelToon
Sistem Kekayaan Menyiksaku

Sistem Kekayaan Menyiksaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Crazy Rich/Konglomerat / Action
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Tri Wahyuni92

Satu lembar uang sepuluh ribu rupiah terakhir di dompet Satria sudah berubah bentuk menjadi gumpalan lecek.
Di depannya, layar mesin ATM berkedip-kedip, menampilkan menu penarikan tunai yang terasa mengejek.

Satria menghela napas berat. Ia menekan tombol "Informasi Saldo". Dia sudah tahu angkanya akan mengenaskan, tapi dia tetap perlu melihatnya untuk memastikan seberapa jauh dia harus menahan lapar minggu ini.

Layar berganti. Angka yang muncul membuat jantungnya seolah berhenti berdetak.
SALDO REKENING ANDA:
Rp 270
Bukan 270 ribu. Bukan pula 270 juta. Hanya dua ratus tujuh puluh rupiah.

[SISTEM TOTAL KEKAYAAN]
Sisa Waktu: 00:58:42
Target Pengeluaran: Rp 50.000.000,00
Status Saat Ini: Rp 0 / Rp 50.000.000,00
Peringatan: Kegagalan akan mengakibatkan sanksi 'Kemiskinan Absolut' (Saldo dipotong menjadi Rp 27).

“Lima puluh juta. Satu jam."

"Kepala bapak kau ambyar!” umpat Satria,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode: 28

Halaman rumah Baskoro yang biasanya sepi mendadak berubah menjadi arena gladiator yang sangat tidak seimbang.

Setidaknya, itulah yang ada di dalam benak Goliath Sitorus dan belasan anak buahnya. Di mata mereka, Satria hanyalah seorang pemuda necis bermodal jas murah yang sedang mencoba berlagak menjadi pahlawan di depan anak gadis orang kaya.

"Sikat bajingan itu! Hancurin jas murahnya!" teriak si tangan kanan yang hidungnya masih diperban, berdiri paling belakang dekat jip karena masih trauma dengan bayang-bayang sandal jepit maut kemarin.

Dua orang preman berbadan seukuran lemari dua pintu merangsek maju paling depan.

Salah satunya mengayunkan balok kayu tebal berukuran satu meter tepat ke arah pelipis kanan Satria dengan kecepatan yang bisa memecahkan batok kelapa manusia normal.

Di dalam rumah, Freya yang mengintip dari balik tirai jendela kaca sudah menutup matanya rapat-rapat, tidak sanggup melihat kepala pengawal barunya itu hancur.

Namun, di detik yang sama, Sistem di dalam otak Satria mendadak memancarkan grafik simulasi pertahanan tiga dimensi dengan warna hijau neon yang menyala.

[SISTEM TOTAL KEKAYAAN - SENSOR GERAKAN AKTIF]

Analisis Serangan: Kecepatan balok kayu 45 km/jam. Sudut kemiringan 35 derajat.

Peringatan Ketiak: Jika Anda mengangkat tangan kanan lebih dari 90 derajat untuk menangkis, jahitan ketiak jas seharga Rp 700.000,00 Anda dipastikan robek total (Indikator Kerugian Estetika).

Saran Solusi: Gunakan gerakan 'Menghindar Sambil Kayang Amatir' untuk memanfaatkan momentum berat badan musuh.

Satria yang tidak punya pilihan lain demi menyelamatkan jasnya terpaksa mengikuti panduan sistem.

Dengan gerakan yang sangat absurd dan jauh dari kesan koreografi film aksi Hollywood, Satria mendadak menekuk lututnya ke dalam dan menjatuhkan punggungnya ke belakang hingga posisi tubuhnya hampir sejajar dengan tanah persis seperti bapak-bapak yang sedang encoknya kambuh saat membetulkan mesin pompa air.

WUSS!

Balok kayu raksasa itu berdesing tajam, hanya melewati beberapa milimeter di atas ujung hidung Satria.

Karena ayunannya terlalu bertenaga dan tidak mengenai sasaran, si preman lemari dua pintu itu kehilangan keseimbangan. Tubuh besarnya terdorong ke depan oleh momentumnya sendiri.

Satria yang masih dalam posisi setengah kayang dengan santai mengangkat kaki kanannya, membiarkan ujung sepatu pantofel lokalnya yang keras berada tepat di jalur selangkangan pria tersebut.

DUG!

"AAAGHHH!"

Sebuah lengkingan suara soprano yang sangat tinggi dan menyedihkan memecah keheningan malam.

Preman raksasa itu langsung menjatuhkan balok kayunya, matanya melotot keluar, dan tubuhnya ambruk ke atas rumput dengan posisi meringkuk seperti udang rebus, memegangi masa depannya yang baru saja hancur ditabrak pantofel lokal.

"Satu tumbang.Kain jas di bagian selangkangan masih aman terkendali," gumam Satria sembari melompat berdiri kembali dengan gerakan memutar pinggang yang elastis berkat bantuan energi kuantum sistem.

Melihat temannya langsung lumpuh dalam satu gerakan konyol, tiga orang preman lainnya menjadi naik pitam.

Mereka maju bersamaan dari arah kiri, kanan, dan depan, mengunci jalur pergerakan Satria dengan sabetan senjata tajam jenis pisau belati.

Satria mundur dua langkah, punggungnya kini hampir menyentuh tiang teras rumah. Ia melirik saku jasnya. Ponselnya bergetar lagi.

[SISTEM TOTAL KEKAYAAN - PERINTAH OPERASI SENYAP]

Notifikasi Korporat: Wahyu dan Nisa baru saja mengirimkan laporan bahwa 100% aset piutang Bos Goliath Sitorus di tiga bank swasta nasional telah berhasil dibekukan oleh Satria Corporation atas tuduhan pencucian uang dan pendanaan terorisme jalanan melalui koordinasi OJK.

Tugas Fisik: Bertahanlah selama 60 detik lagi sebelum efek kebangkrutan finansial menghantam ponsel Goliath.

'Oke, satu menit menderita di dalam jas sempit ini,' batin Satria.

Preman di depannya menusukkan pisau ke arah perut Satria. Dengan ketangkasan yang luar biasa, Satria tidak menangkis dengan tangan, melainkan memutar tubuhnya ke kanan seperti penari balet yang kelebihan berat badan.

Pisau itu hanya merobek udara, namun ujung jaket kulit si preman justru tersangkut di kancing jas Satria.

"Eh, Mas, jangan pegang-pegang, kita belum mukadimah!" seru Satria panik.

Sembari memutar tubuhnya kembali untuk melepaskan diri, Satria menggunakan pantatnya untuk melakukan dorongan bertenaga (hip thrust) ke arah perut preman kedua yang baru saja mau menyergapnya dari belakang.

BOOM!

Dorongan pantat bertenaga sistem itu membuat preman kedua terpental sejauh tiga meter, menabrak pot bunga gelombang cinta milik Baskoro hingga hancur berkeping-keping sebelum akhirnya pingsan dengan posisi kepala tertancap di tanah.

Sementara preman yang pisau tersangkut tadi, akibat putaran tubuh Satria yang cepat, lengannya terpelintir secara otomatis dan pisaunya terlepas, mengenai kaki temannya yang ketiga.

"Aduh! Kaki gua tertusuk pisau lu sendiri, bego!" teriak preman ketiga, melompat-lompat dengan satu kaki seperti pemain engklek di tengah lapangan.

Dalam waktu kurang dari empat puluh lima detik, halaman rumah yang tadinya penuh intimidasi kini berubah menjadi panggung komedi slapstik yang penuh jeritan kesakitan.

Empat preman terkapar di tanah dengan berbagai pose yang tidak estetis, sementara Satria masih berdiri tegak di tengah halaman, sibuk merapikan dasi dan menyeka debu imajiner di bahu jasnya.

"Gila... mas-mas itu pakai ilmu apa sih? Kok setiap kali kita mau mukul, malah kita yang sial?!" bisik salah satu preman tersisa yang badannya mulai gemetar ketakutan, menolak untuk maju lagi.

Goliath Sitorus yang menyaksikan seluruh anak buah pilihannya dipecundangi dengan cara yang sangat memalukan langsung naik pitam.

Wajahnya yang hitam legam berubah menjadi merah keunguan.

"Dasar sekumpulan sampah tidak berguna! Mundur semua! Biar gua sendiri yang patahin leher bocah berjas ini!"

Goliath melangkah maju dengan bobot tubuhnya yang berat, membuat rumput halaman seolah bergetar. Ia menarik sebilah golok panjang yang berkilau tajam dari balik jaket kulitnya.

Aura membunuh yang terpancar dari raksasa rentenir ini benar-benar berada di tingkat yang berbeda dari anak buahnya.

Satria tidak bergerak. Ia hanya berdiri tenang sembari melirik jam tangan digital murahnya.

"Lima... empat... tiga... dua... satu... TEPAT WAKTU."

Telolet! Telolet! Telolet!

Tepat saat Goliath mengangkat goloknya tinggi-tinggi di udara bersiap untuk membelah bahu Satria, ponsel pintar berukuran jumbo milik sang bos rentenir yang disimpan di saku celananya mendadak berdering dengan nada dering yang sangat keras dan bising.

Goliath menghentikan gerakannya sejenak, alisnya yang tebal menyatu.

"Siapa bajingan yang berani telepon gua di jam pembantaian begini?!" bentaknya kesal.

Dengan tangan kiri, ia meraba saku dan mengangkat telepon tersebut tanpa menurunkan goloknya.

"Halo?! Siapa ini?! Gua lagi sibuk nyembelih orang!"

Namun, suara dari seberang telepon yang ternyata adalah direktur keuangan utama dari markas operasional rentenirnya terdengar sangat histeris dan penuh kepanikan, bahkan suaranya sampai terdengar keluar dari speaker ponsel.

"B-Bos! Gawat, Bos! Kantor kita baru saja digerebek oleh Polisi! Seluruh rekening bank atas nama Bos, nama perusahaan, sampai rekening simpanan tunai kita di brankas tersembunyi baru saja disita dan dibekukan total!"

Golok di tangan kanan Goliath mendadak terasa sangat berat.

"Apa lu bilang?! Dibekukan?! Siapa yang berani membekukan duit gua yang jumlahnya ratusan miliar itu, hah?!"

"S-Satria Corporation, Bos! Mereka baru saja membeli seluruh aset surat utang kita dari bank kustodian, lalu melaporkan seluruh aktivitas pinjol ilegal kita ke pusat!"

"Kita bangkrut total, Bos! Bahkan mobil jip yang Bos pakai sekarang sudah masuk daftar sitaan per sepuluh menit yang lalu! Kabur, Bos, polisi lagi menuju ke posisi Bos sekarang!"

PIP.

Sambungan telepon terputus.

Goliath Sitorus berdiri mematung di tengah halaman, wajah raksasanya mendadak kehilangan seluruh sisa keberaniannya.

Matanya melotot kosong menatap layar ponselnya yang kini menampilkan grafik merah pemblokiran akun.

Seluruh imperium bisnis haram yang ia bangun selama dua puluh tahun runtuh total dalam hitungan detik oleh kekuatan bayangan yang bernama Satria Corporation.

Satria yang berdiri dua langkah di depannya hanya bisa mengulum senyum puas. Ia berjalan mendekat, lalu menepuk pundak Goliath yang sudah lemas dengan sangat ramah, mengabaikan golok yang kini sudah terancam jatuh dari tangan sang rentenir.

"Gimana, Bos Goliath? Ternyata berita dari telepon tadi lebih tajam daripada golok Anda, ya?" bisik Satria dengan nada penuh simpati yang sangat menyebalkan.

"Saran gua sih, mending goloknya disimpan dulu, terus jipnya diparkir yang rapi. Kasihan itu bapak-bapak polisi di depan gang udah pada bawa borgol ukuran jumbo khusus buat pergelangan tangan Anda."

Goliath menoleh ke arah Satria dengan tatapan mata yang dipenuhi rasa ngeri yang teramat sangat.

Di dalam otaknya yang tumpul, ia tiba-tiba teringat laporan Budi Hendarso siang tadi tentang kejatuhan perusahaannya yang juga diakibatkan oleh Satria Corporation.

Ia menatap setelan jas hitam tujuh ratus ribu rupiah milik Satria, lalu beralih ke arah sorot mata pemuda itu yang begitu tenang dan dingin di balik senyumannya.

Sebuah realitas yang mengerikan mendadak menghantam kesadaran Goliath: 'Jangan-jangan... bocah berjas murah di depan gua ini adalah...'

Belum sempat Goliath menyelesaikan pikirannya, suara sirine mobil polisi berkekuatan tinggi sudah menggema dari ujung jalan, lampu rotator merah-biru mulai memantul di dinding-dinding rumah warga.

"P-Polisi... Sialan! Ayo kabur! Mundur semua!" teriak Goliath dengan suara parau, menjatuhkan goloknya begitu saja ke atas rumput lalu berlari pontang-panting menuju pagar luar diikuti oleh sisa anak buahnya yang masih bisa berjalan, meninggalkan jip-jip mewah mereka yang kini resmi menjadi milik negara.

Pintu rumah Baskoro perlahan terbuka. Freya melangkah keluar dengan ragu, matanya melebar menatap halaman rumahnya yang kini kosong dan berantakan, lalu beralih menatap Satria yang sedang sibuk membetulkan letak kancing jasnya yang sempat longgar.

"Mas Satria... mereka... mereka beneran pergi? Dan tadi itu... polisi?" tanya Freya dengan suara yang masih bergetar, namun matanya memancarkan rasa takjub yang luar biasa dalam.

Satria berbalik, menyengir lebar tanpa beban sembari berkacak pinggang.

"Iya, Mbak Freya. Kan gua udah bilang, mereka itu cuma menang di badan besar doang."

"Begitu denger suara sirine polisi, langsung pada inget kalau belum bayar zakat. Skenario soto mie malam ini... resmi selesai dengan kemenangan mutlak bagi pengawal berjas Anda!"

Freya tidak sanggup menahan perasaannya lagi. Ia berlari menuruni undakan teras, lalu tanpa memedulikan gengsi atau aroma minyak rambut murah Satria, gadis itu langsung memeluk tubuh Satria dengan erat, menyembunyikan wajahnya di dada jas hitam pemuda itu sembari menangis lega.

Satria tertegun, tangannya menggantung di udara dengan canggung, sementara sistem di otaknya kembali berbunyi dengan nada meledek:

[Status Jomblo Legendaris Anda mendeteksi adanya getaran anomali pada detak jantung target. Pertahankan penyamaran, atau Anda akan berakhir menjadi ninja daster terkeren di ibu kota.]

1
herupratama_
denda nya banyak banget.. itu mah bukan denda tapi pemerasan🤭🤣
BaekTae Byun
masa saldonya kaga nambah nambah
BaekTae Byun
setiap misi nya ngga ada hadiah uang trs kalo uang nya habis gmna
❤️⃟Wᵃf✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ🤎❥␠⃝ ͭ🍁𝓷𝓲ѕ⍣⃝✰
boleh tuh
miilieaa
semangat yaa author
Gege
masih menjalankan misi tanpa ada hadiah ini Thor.. apa sistemnya korslet apa bijimane ini?
Dav Nana: uang yang masuk kesaldo mc, harusnya hadiah dari sistem nya, dia sistem yang kelebihan uang tentu aja hanya bisa memberi uang saja sebagai hadiah, kurang inisiatif beli barang lain nih sistem nya haha
total 1 replies
Gege
piyee kalimat Iki Thor... ga jelas banged..trus biaya denda ini dikasih siapa? kalo MC ga Nerima duitnya..
Dav Nana: uang dendanya dialokasikan buat pasang kaca film kak, biar dari luar gak keliatan daster bu miminya haha, jadi sama aja MC nya rugi karena yang untung kan perusahaan nya dapat keuntungan pemasangan kaca film geratis dari mc
total 1 replies
Gege
menjalankan misi tapi ga dapat hadiah Thor... 🤣
Gege
gaasss 10k kata di luncurkan...bawa santai ringan kocak...jangan dikit dikit mafia..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!