seorang wanita yang mencintai sahabat kecilnya, dia merelakan cinta pertamanya bersama dengan wanita pilihannya. dalam diamnya dia harus memendam perasaan yang teramat menyiksa, tapi cinta yang teramat besar dengan sahabatnya menjadikan dia harus mengorbankan semuanya untuk laki laki yang dia cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na_1411, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
terasa asing.
Neta menatap monitor di depannya, dia terlihat sangat fokus melihat beberapa huruf dan angka di layar monitor. Konsentrasinya seakan terlihat penuh, dia seperti berada di dunianya sendiri saat ini.
Pintu ruang kerja James perlahan terbuka, terlihat James yang akan keluar dengan memakai setelah kerjanya yang terlihat rapi. Dia menatap Neta sekilas, melihat Neta yang terlihat tidak memperhatikannya, James berjalan melewatinya tanpa menegurnya sama sekali.
Neta tidak menyadari jika James baru saja melewatinya, detik pun berlalu menit pun berganti dan jam pun mulai berganti angka.
Seperti biasa Eric akan menghampiri Neta saat jam makan siang, Eric bisa melihat Neta yang sedang asik memainkan barisan Tut di Ats keyboard.
"Neta..." panggil Eric yang membuat atensi Neta teralihkan.
"Eric ..?" sapa Neta terlihat terkejut.
"makan yuk...?" ajak Eric sopan.
"emang sudah masuk jam makan siang ..?"
Neta melihat jam tangan yang ada di pergelangan tangannya, kedua mata Neta membuka sempurna. Dia terkejut melihat barisan angka yang tampak membuatnya sedikit syok.
"ternyata hampir jam satu siang, ya tuhan... Kerjaanku membuat perutku seakan terasa kenyang "
Keluh Neta yang membuat Eric tersenyum melihat ke arah kekasih pura puranya.
"kita makan di kantin untuk menghemat waktu, bagaimana...?" ajak Eric yang mendapat anggukan kepala dari Neta.
Berbeda dengan James, kini dia makan siang bersama Clara di kafe yang tak jauh dari perusahaannya.
beberapa jam yang lalu, Clara menghubungi James. Dia mengajaknya untuk makan siang bersama di tempat langganan mereka, James tampak tidak bersemangat menikmati makan siangnya bersama Clara.
"sayang... Kamu kog terlihat tidak bersemangat...? Apa yang kamu pikirkan...?" tanya Clara menatap James yang menundukkan kepalanya.
"enggak... Enggak apa apa, sepertinya aku baru saja ingat. Jika ada berkas yang harus aku cek ulang, dan ada satu berkas belum aku tanda tangani."
Kilah James yang ingin Clara percaya dengan semua alasan yang dia buat.
Clara mengerucutkan bibirnya, dia tampak keberatan dengan ucapan James.
"padahal habis ini aku mau ajak kamu belanja tas di mall, ada tas keluaran terbaru yang aku incar."
James menghela nafasnya berat, dia seakan capek dengan permintaan yang terdengar membosankan bagi James.
James merogoh dompet dari saku celananya, dia menggambil kartu berwarna hitam dari dompetnya.
"belilah apa yang kamu inginkan, tapi untuk hari ini aku tidak menghantarkan kamu."
Clara menatap kartu hitam di atas mejanya, wajahnya terlihat berbinar melihat kartu yang di tahu isi di dalamnya.
"benarkah ..? Aku bisa belanja apapun yang aku mau...?" ucap Clara memastikan.
"ya belanjalah, aku akan mengantarkan kamu ke mall. Tapi maaf aku tidak bisa menunggumu, banyak kerjaan yang menumpuk yang harus butuh perhatianku saat ini."
Tangan James terulur menggambil gelas yang masih berisi setengah, dia segera minumnya sampai tak tersisa.
"kita berangkat sekarang...?" ajak James yang mendapat anggukan dari Clara.
mereka kini memilih keluar dari kafe dan menuju ke arah mall yng Clara maksud, beruntung Clara memiliki kekasih seorang James pemilik perusahaan tempatnya bekerja. Jadi dia tidak akan bingung dan kawatir dengan semua pekerjaannya.
Neta dan Eric yang terlihat makan di kantin tampak tertawa kecil, mereka terlihat menikmati obrolan yang Eric ciptakan.
"bagaimana dengan orang tua kamu, apakah mereka sudah tahu jika kamu sudah memiliki kekasih...? Maksutku kekasih pura pura "
James berusaha meralat ucapannya, dia melihat Neta yang memberikan senyum termanisnya.
"belum, Minggu depan kamu ada waktu nggak...? aku ajak kamu ketemu orang tua aku di bandung."
tatapan mata Eric menatap ke arah Neta, dia ingin memastikan jika Neta serius dengan ucapannya.
"aku serius Eric, katanya kamu mau membantuku...?"
Neta memelankan ucapannya, dia ingin agar Eric segera memberikan jawaban.
"oke... Aku akan menjemputmu, lalu kita berangkat jam berapa...?"
Neta tersenyum senang mendengar jawaban dari Eric.
beberapa hari sudah berlalu, kini tibalah hari dimana Neta dan Eric akan pergi ke bandung bersama.
Mobil Eric terlihat berhenti tepat di depan apartemen Neta, melihat jam di pergelangan tangannya Eric segera menggambil ponselnya.
Nama Neta segera Eric cari di kontak yang telah dia simpan, setelah menemukannya dengan segera Eric menekan tombol hijau di layar handphone.
Bunyi nada sambung terdengar jelas di indra pendengaran Eric, tak lama suara Neta terdengar sangat lembut menjawab panggilan dari Eric.
"Oke aku turun sebentar lagi, kamu tunggu ya...?"
sambil menunggu Neta, Eric memutar lagu yang ada di play list music di dalam audio mobilnya, terdengar lantunan lagu milik Bruno mars yang mulai mengalun pelan.
pandangan mata Eric terfokus melihat seorang wanita yang berjalan mendekat ke arah mobil Eric, senyuman Eric mengembang sepenuhnya melihat Neta yang berjalan sedikit cepat ke arah mobilnya.
"hai... Lama nunggunya ya...?"
Tanya Neta setelah mesuk ke dalam mobil, dia melihat Eric yang menatapnya sambil tersenyum manis.
"belum juga lima belas menit." goda Eric yang membuat Neta setengah tidak enak hati.
"maaf ya, maklum cewek." jawab Neta yang membuat Eric tertawa lepas.
"kita berangkat sekarang tuan putri...?"
Anggukan dari Neta menjawab pertanyaan Eric, sabuk pengaman di samping Neta segera di tarik ke depan tubuhnya. Bunyi klik yang terdengar menjadi pertanda jika Neta siap untuk berangkat sekarang.
Pedal gas segera Eric injak perlahan, mobil yang bergerak perlahan membawa kedua pasang muda mudi tersebut segera menuju ke arah bandung.
pagi yang indah dan cuaca yang terlihat cerah seakan mendukung perjalanan mereka, jalanan yang tidak terlalu padat membuat mereka sampai ke tempat tujuan lebih cepat.
"akhirnya kita sampai." lirih Neta melihat arah jalan yang akan masuk ke dalam sebuah perumahan mewah di depannya.
"bagaimana perasaanmu saat ini Neta..?"
Eric sekilas menatap Neta, terlihat Neta yang tampak gugup.
"aku.. Baik baik saja, hanya gugup saja. Baru pertama kali ini aku pulang bersama orang yang tidak mereka kenal, dan mereka akan lebih terkejut lagi setelah tahu jika kamu adalah kekasihku. Maksudku kekasih pura pura ku."
Neta segera meralat ucapannya, dia memainkan jari jemarinya. Kegugupan yang di rasakan Neta semakin dia rasakan, saat dia melihat pintu gerbang yang terlihat terbuka lebar.
tatapan mata Neta membuka sempurna, melihat mobil yang sangat dia kenal.
sedangkan Eric yang ada di samping Neta tampak bingung melihat Neta yang terlihat tidak baik baik saja.
"kamu baik baik saja...?" tanya Eric melihat ke arah Neta.
"oh... Iya... Aku tidak apa apa, ayo kita turun."
Neta menghentikan gerakkannya setelah tatapan matanya melihat ke arah depan teras rumahnya, terlihat James yang berdiri sambil menatap ke arah mobil Eric.