Raditya Baskara tahu cara mengelola bisnis mode bernilai miliaran, tapi dia sama sekali tidak tahu cara bersikap "normal". Dia adalah tipe bos yang bisa mendadak mengadakan lomba balap kursi roda di koridor kantor saat jam kerja hampir di mulai. Satu-satunya rem darurat dalam hidup Radit adalah Kirana, sekretarisnya yang super kaku dan selalu memandangnya dengan tatapan menghakimi.
Namun, sebuah kesalahpahaman di hadapan media membuat mereka terjebak dalam rumor asmara. Demi reputasi saham perusahaan, mereka terpaksa mempertahankan sandiwara tersebut di luar jam kantor. Masalahnya, bagaimana cara menjalani hubungan pura-pura jika sang CEO selalu bertingkah ajaib, sementara sang sekretaris menanggapi gombalan romantis dengan analisis SWOT? Ini adalah kisah tentang lembur paling melelahkan, sekaligus paling membahagiakan dalam hidup Kirana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rara_R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Gemuruh ombak Samudra Hindia yang menghantam dinding tebing Uluwatu terdengar seperti tepuk tangan alam yang megah. Angin sore yang hangat berembus, membawa aroma garam laut yang segar ke area taman terbuka 'The Baskara Cliff Resort'. Tempat ini telah disulap menjadi sebuah utopia putih. Ribuan bunga mawar putih, krisan, dan untaian daun palem kering menghiasi setiap sudut selasar, menciptakan alur jalan yang anggun menuju altar kaca yang seolah mengapung di atas cakrawala laut.
Hari ini adalah hari H. Pertunangan resmi antara Raditya Baskara dan Kirana Larasati. Di dalam vila privat mewah yang terpisah dari area utama, Kirana sedang berdiri di depan cermin besar setinggi langit-langit. Gaun kebaya modern putih gading yang minggu lalu diuji di Menteng kini melekat sempurna di tubuhnya. Tanpa kacamata kaku, dengan riasan wajah yang natural namun mempertegas garis rahang dan mata jernihnya, Kirana terlihat sangat memukau. Dia bukan lagi sekretaris yang bersembunyi di balik tumpukan dokumen. Dia adalah perwujudan dari keanggunan dan kekuasaan yang tenang.
Tok... Tok...
Pintu terbuka, dan Tika melangkah masuk dengan gaun seragam panitia berwarna biru pastel. Wajah asisten barunya itu tampak tegang, matanya melirik ke luar jendela sebelum mendekati Kirana.
"Ibu Kirana... Anda terlihat sangat luar biasa" Tika memuji tulus, namun ada nada cemas dalam suaranya yang tidak bisa disembunyikan.
Kirana memutar tubuhnya, menatap Tika dengan pandangan menyelidik.
"Terima kasih, Tika. Tapi dari ekspresimu, sepertinya ada laporan darurat yang belum masuk ke meja saya".
Tika menelan ludah, mendekat satu langkah lalu merendahkan suaranya.
"Ini tentang tamu undangan dari faksi keluarga besar, Bu. Dua puluh menit lalu, sebuah helikopter pribadi mendarat di helipad resor. *Hendi Baskara*... paman kandung Pak Radit dari faksi Surabaya, baru saja tiba. Dan beliau tidak datang sendirian".
Kirana menyipitkan matanya. Hendi Baskara adalah adik kandung dari mendiang ayah Radit. Pria itu menguasai lini bisnis perkapalan Baskara Group di Jawa Timur dan selama ini memilih menjadi penonton pasif saat Radit bertarung melawan Pak Baskoro di Jakarta. Kedatangannya yang mendadak, lengkap dengan helikopter pribadi di acara yang seharusnya intim ini, jelas bukan sekadar untuk menikmati makaroni panggang.
"Siapa yang dia bawa, Tika?" tanya Kirana tenang.
"Beliau membawa Herry" bisik Tika panik. "Mantan pengacara yang dulu mencoba memeras Ibu dengan dokumen masa lalu ayah Ibu. Kami mengira dia sudah bersih setelah ditekan oleh Ibu Sofia, tapi sepertinya faksi Surabaya membelinya untuk menjadi peluru mereka sore ini".
Kirana terdiam sejenak. Jemarinya yang ramping mengusap permukaan halus meja rias. Herry kembali, dan dia berlindung di bawah sayap paman kandung Radit. Skenario ini tidak ada dalam draf mitigasi krisis yang dia susun bersama Radit dua hari lalu. Faksi Surabaya tampaknya ingin memanfaatkan momen perayaan ini untuk menjatuhkan legitimasi Radit di depan para tetua keluarga besar yang memegang hak veto moral.
Sebelum Kirana sempat merespons lebih jauh, pintu vila kembali terbuka. Radit melangkah masuk. Pria itu terlihat sangat tampan dan berwibawa dengan setelan jas kasual biru dongker dengan kemeja linen putih di dalamnya. Namun, rahang tegasnya mengeras, dan sorot mata baritonnya memancarkan kilat amarah yang tertahan.
"Tika, tinggalkan kami berdua sejenak," perintah Radit rendah namun penuh otoritas.
Tika membungkuk cepat lalu bergegas keluar, menutup pintu rapat-rapat.
Radit berjalan mendekat, dia langsung meraih kedua tangan Kirana. Genggamannya begitu erat, menyalurkan ketegangan yang jarang sekali dia tunjukkan.
"Kamu sudah mendengarnya dari Tika?"
"Tentang Paman Hendi dan Herry?," Kirana mendongak, menatap mata kekasihnya dengan ketenangan yang kontras. "Mereka memilih waktu yang sangat tepat untuk melakukan manuver, Radit. Tepat di hadapan para tetua adat dan kolega bisnis internasional kita".
"Paman Hendi mengira dia bisa mendikte jalannya acara ini karena dia membawa tiga tetua Dewan Adat Baskara dari Solo," desis Radit, suaranya sarat akan ancaman. "Dia ingin membacakan kembali rekam jejak ayahmu di depan semua orang saat sesi penyematan cincin nanti, sebagai alasan bahwa pernikahan ini akan merusak silsilah darah murni Baskara. Aku bersumpah, jika dia berani membuka mulutnya__"
"Radit, tenanglah," Kirana memotong ucapan Radit dengan lembut, membalikkan tangannya untuk menggenggam balik jemari pria itu. "Jika kamu marah dan mengusir mereka dengan kekuasaanmu sebagai CEO, para tetua akan menganggapmu sebagai pemimpin yang arogan dan tidak menghormati keluarga. Itulah yang Paman Hendi inginkan. Dia ingin memancing egomu keluar".
Radit menarik napas dalam-dalam, mencoba meredam gemuruh di dadanya.
"Lalu apa rencana kita, Kirana? Aku tidak akan membiarkan sekerat masa lalu itu menodai hari pertunangan kita".
Kirana tersenyum tipis, sebuah senyuman Nyonya Besi yang sangat mematikan. Dia melangkah mendekati tas kerjanya yang diletakkan di sudut sofa, mengeluarkan sebuah flashdisk berwarna perak kecil yang selalu dia bawa sebagai senjata cadangan.
"Paman Hendi mengira dia bersih karena dia berada di Surabaya selama krisis Jakarta berlangsung," ujar Kirana sambil menimang diska lepas tersebut. "Dia lupa bahwa seluruh manifes pengiriman kapal kargo miliknya di pelabuhan Tanjung Perak harus melewati sistem audit operasional pusat yang saya kelola selama lima tahun ini. Ada selisih kuota ekspor batubara ilegal sebesar dua ratus ribu ton yang sengaja dia samarkan di bawah nama perusahaan cangkang di Panama".
Radit menatap flashdisk di tangan Kirana, dan perlahan, seringai percaya dirinya yang familier kembali terukir di wajah tampannya.
"Kamu... sudah menyimpan data itu sejak kapan?"
"Sejak tahun lalu, saat aku masih menjadi sekretaris utamamu yang bosan melihat laporan logistik yang tidak sinkron," jawab Kirana. "Saya menyimpannya untuk jaga-jaga jika faksi Surabaya mencoba bermain api. Dan sepertinya, sore ini adalah waktu yang sangat tepat untuk membakar mereka dengan api mereka sendiri".
Radit terkekeh pelan, rasa tegang di bahunya lenyap seketika. Dia menarik pinggang Kirana mendekat, merengkuh tubuh anggun wanita itu ke dalam pelukannya.
"Aku benar-benar beruntung memiliki Direktur Operasional sepertimu, Kirana. Kamu bukan hanya pendamping hidupku, kamu adalah jenderal perangku".
"Mari kita keluar, Pak CEO," Kirana mendongak, memberikan kecupan singkat di pipi Radit. "Para tetua keluarga sudah menunggu, dan aku rasa... sudah waktunya kita memberikan Paman Hendi sebuah pelajaran tentang bagaimana cara menghormati otoritas pusat".
"Baiklah, ayo kita turun. Aku juga sudah tidak sabar untuk melihat permainan mereka" ucap Radit dengan seringai tipis, dia menatap Kirana dengan tatapan penuh arti.
Dengan langkah yang penuh percaya diri dan sinkron, kedua orang itu melangkah keluar dari vila menuju area taman tebing, siap menghadapi badai terakhir di bawah kilauan senja Pulau Dewata.