NovelToon NovelToon
The Architecture Of Us

The Architecture Of Us

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa / Diam-Diam Cinta
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Skyline Scribe

Sael, seorang pengacara muda yang ambisius, akhirnya kembali ke tanah kelahirannya setelah tujuh tahun di luar negeri.
Ia dipertemukan kembali dengan Aeros—pria yang dulu ia kenal sebagai teman masa kecil, namun diam-diam menyimpan perasaan terhadap Sael.
Mereka mulai menyadari bahwa hubungan ini tidak lagi bisa disandarkan pada kata "kakak-adik".
Bagaimana mereka menghadapi cinta yang tumbuh di tengah ambisi dan debar yang tak lagi bisa disembunyikan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20 : Aroma Kari

Napas Sael mulai teratur, obat penurun panas sudah bereaksi.

Aeros, yang masih setia di tepi ranjang, perlahan melepaskan genggamannya dengan hati-hati agar tidak mengusik tidur Sael.

Sore harinya, sekitar pukul empat.

Sael terbangun, rasa pening yang hebat di kepalanya telah menghilang, menyisakan tubuh yang terasa jauh lebih ringan dan segar.

Hal pertama yang ia sadari saat membuka mata adalah sebuah jaket denim milik Aeros yang tersampir di sandaran kursinya, dan sebuah catatan kecil di atas meja nakas.

𝘉𝘶𝘣𝘶𝘳𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘳𝘶𝘩 𝘥𝘪 𝘵𝘦𝘳𝘮𝘰𝘴 𝘬𝘦𝘤𝘪𝘭 𝘣𝘪𝘢𝘳 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱 𝘩𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵. 𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘶𝘯, 𝘮𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘴𝘦𝘥𝘪𝘬𝘪𝘵 𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘮𝘪𝘯𝘶𝘮 𝘰𝘣𝘢𝘵 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘸𝘢𝘳𝘯𝘢 𝘣𝘪𝘳𝘶 𝘥𝘪 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘪𝘯𝘨 𝘨𝘦𝘭𝘢𝘴. 𝘒𝘢𝘦𝘭 𝘢𝘥𝘢 𝘥𝘪 𝘣𝘢𝘸𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘣𝘶𝘵𝘶𝘩 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶. 𝘈𝘬𝘶 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘯𝘵𝘢𝘳 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘢𝘥𝘢 𝘶𝘳𝘶𝘴𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘬𝘢𝘧𝘦. Aeros

Sael terdiam menatap tulisan tangan yang rapi itu. Ingatannya tentang kejadian tadi malam dan pagi ini berputar di kepalanya. Ia ingat bagaimana paniknya Kael, aroma bubur ayam dan yang paling membuat dadanya berdesir, bagaimana ia dengan manja mendekap tangan Aeros di depan dadanya.

Wajah Sael seketika memerah karena rasa malu yang teramat sangat.

Dua hari setelah sembuh total, Sael berdiri di dapur rumahnya. Kael yang sedang asyik bermain 𝘨𝘢𝘮𝘦 di ruang tengah sampai mengernyit bingung melihat kembarannya sibuk memotong sayuran dan menakar bumbu.

"Tumben amat masak banyak, Sael? Kesambet setan dapur?" seloroh Kael tanpa mengalihkan pandangan dari layar TV.

"Nggak usah banyak tanya. Ini buat Kak Aeros sebagai ucapan terima kasih," jawab Sael ketus, namun telinganya memerah.

Ia membuat 𝘣𝘦𝘯𝘵𝘰 𝘣𝘰𝘹 berisi makanan kesukaan Aeros, ayam katsu dengan saus kari.

"Hah? Buat Kak Aeros?"

Mendengar nama itu disebut, Kael langsung menekan tombol pause pada game nya. Ia membalikkan badan, bertumpu pada sandaran sofa dengan seringai jahil yang langsung terkembang lebar di wajahnya.

"Oh... jadi ceritanya ada yang lagi bayar utang budi nih? Atau..." Kael menggantung kalimatnya, sengaja berjalan mendekati dapur dengan langkah yang dibuat-buat dramatis. "Ada yang lagi modus memanfaatkan momen?"

"Kael, diam deh! Pergi sana! lanjutin 𝘨𝘢𝘮𝘦 kamu!" seru Sael, mencoba fokus menata potongan ayam katsu di atas nasi,

Kael malah makin menjadi-jadi. Ia bersandar di dekat konter dapur, memperhatikan 𝘣𝘦𝘯𝘵𝘰 𝘣𝘰𝘹 yang dihias dengan sangat niat—jauh lebih rapi dibanding masakan yang biasa Sael buat untuknya.

"Wah, wah, beda ya kasta abang kandung sama 'Kak Aeros kesayangan'," sindir Kael sambil geleng-geleng kepala. "Aku kalau sakit cuma dibuatkan mi instan. Lah ini? Ayam katsu kari, ditata estetik pakai wijen segala. Tebak, habis ini ada adegan suap-suapan nggak?"

"KAEL! Keluar nggak?!" wajah Sael sekarang sudah semerah tomat, Ia mengacungkan spatula ke arah kembarannya dengan tatapan mengancam.

"Iya, iya, galak amat," Kael tertawa lepas, buru-buru mundur selangkah untuk menghindari amukan Sael.

Sebelum benar-benar balik ke ruang tengah, ia menengok sekali lagi sambil berbisik kencang, "Jangan lupa bilang, 'Makasih ya Kak udah nemenin tidur kemarin', biar makin seru!"

𝘗𝘭𝘢𝘬.

Sebuah gantungan kunci kain yang ada di dekat meja makan melayang sukses mengenai punggung Kael, diiringi suara tawa Kael yang puas karena berhasil membuat telinga kembarannya itu makin memerah padam.

Malam harinya, Sael memberanikan diri mengetuk pintu rumah sebelah. Begitu pintu terbuka, sosok Aeros muncul dengan kaus hitam longgar dan kacamata yang bertengger di hidungnya—pemandangan yang entah mengapa membuat jantung Sael berdegup sedikit lebih cepat dari biasanya.

"Sael? Ada apa? Badan kamu ada yang sakit lagi?" tanya Aeros beruntun, gurat kekhawatiran langsung tercetak jelas di wajahnya.

Sael menggeleng cepat, lalu menyodorkan tas kain berisi kotak bekal ke depan dada Aeros. "Enggak, udah sembuh total kok. Ini... aku buatkan makan malam. Sebagai ganti bubur dan obat yang kemarin."

Aeros tertegun sejenak, melihat kotak bekal di tangannya lalu beralih menatap Sael yang kini membuang muka ke arah lain. Sebuah senyuman tipis, terukir di wajah tampan pemuda itu.

"Makasih ya, Sael," kata Aeros lembut. Ia melepas kacamatanya, menggantungnya di kerah kaus, lalu melangkah lebih dekat. "Badan kamu udah nggak panas lagi, kan?"

Tanpa aba-aba, Aeros menempelkan punggung tangannya ke dahi Sael untuk memastikan. Jarak yang terlalu dekat tiba-tiba itu membuat Sael menahan napas. Matanya terkunci pada manik mata Aeros yang jernih.

"Udah normal," gumam Aeros lega sembari menarik tangannya kembali. "Mau masuk dulu?"

Sael berdehem pelan. "Enggak usah, Kak. Udah malam. Jangan lupa dimakan ya, awas kalau nggak habis."

Sebelum Aeros sempat membalas, Sael sudah berbalik dan berjalan cepat menuju rumahnya sendiri. Di bawah lampu teras, Aeros terkekeh melihat langkah terburu-buru gadis itu,

Sael hampir saja tersandung keset rumahnya sendiri akibat berjalan terlalu cepat. Begitu pintu depan tertutup rapat, ia menyandarkan punggungnya di sana, memegangi dadanya yang berdegup kencang.

"Baru anter makanan aja udah kayak habis lari maraton," rutuknya pada diri sendiri.

"Cie, yang habis maraton di teras rumah orang!"

Suara cempreng yang sangat familier itu tiba-tiba memecah keheningan ruang tamu. Sael tersentak kaget.

Di depan TV, Kael duduk bersila di atas sofa sambil menopang dagu, menatap kembarannya dengan senyum penuh arti.

"Kael! Sejak kapan kamu di situ?!" seru Sael panik, tangannya refleks merapikan rambutnya yang sebenarnya tidak berantakan.

"Sejak kamu buka pintu sambil megangin dada kayak pahlawan kesiangan," Kael terkekeh, lalu bangkit berdiri dan berjalan menghampiri Sael yang masih terpaku di depan pintu. Ia sengaja mencondongkan badannya, mengintip ke arah jendela luar. "Gimana? Gimana? Diterima gak sesajennya? Atau... ada bonus adegan dahi ketemu tangan lagi kayak waktu itu?"

Wajah Sael kembali memerah. "Kamu... kamu ngintip ya?!"

"Kaca jendela kita transparan, Sael. Lagian siapa juga yang nggak mau tontonan gratis?" Kael tertawa puas, menikmati ekspresi panik kembarannya. Ia menyenggol bahu Sael dengan jahil. "Lagian, gercep amat Kak Aeros pakai acara pegang jidat segala. Tadi kamu gak pingsan di tempat, kan? Jantung aman? Nggak copot?"

"Apaan sih! Tadi Kak Aeros cuma mastiin aku udah nggak demam, tahu!" bela Sael, melangkah cepat melewati Kael menuju kamarnya.

Namun, bukan Kael namanya kalau menyerah begitu saja. Ia membuntuti Sael dari belakang dengan langkah cepat. "Mastiin sih mastiin, tapi kok mukanya merah banget sampai ke leher gitu? Itu pipi apa udang rebus? Terus tadi kenapa jalan cepat-cepat sampai mau nyungsep di keset? Takut khilaf ya?"

Sael langsung berbalik di ambang pintu kamarnya, menatap Kael dengan pelototan paling maut yang bisa ia berikan. "Kael, kalau kamu nggak diam sekarang, besok aku nggak mau ngomong lagi sama kamu!"

Kael langsung mengangkat kedua tangannya ke udara, berpura-pura menyerah walau sisa tawa masih menghiasi wajahnya. "Iya, iya, ampun! Galak banget sih. Pantesan Kak Aeros cuma berani pegang jidat, nggak berani pegang tangan lagi kayak kemarin pagi."

Sebelum Sael sempat melemparkan sandal rumahnya, Kael sudah melesat kabur ke kamarnya sendiri sambil tertawa terbahak-bahak, meninggalkan Sael yang hanya bisa menggigit bibir kesal.

Tepat saat pintu kamar Kael tertutup, terdengar suara kunci diputar dari arah pintu depan.

Menampilkan Papa yang sedang menenteng plastik berisi martabak manis, disusul Mama yang sibuk merapikan tas jinjingnya. Kedua orang tua si kembar baru saja pulang dari acara makan malam bersama kolega kerja.

"Lho, Sael? Belum tidur? Kamu kan baru sembuh, Sayang," ujar Mama hangat begitu melihat anak perempuannya masih berdiri di lorong dekat kamar. Mama berjalan mendekat, lalu menempelkan punggung tangannya ke pipi Sael. "Kok pipinya merah banget? Badan kamu anget lagi?"

"Eh? Enggak kok, Ma! Sael udah sembuh," jawab Sael gugup, refleks melangkah mundur.

Belum sempat Mama menanggapi, pintu kamar Kael kembali terbuka sedikit. Kepala Kael menyembul dari balik pintu dengan cengiran lebar. "Bukan anget karena demam itu, Ma. Itu anget efek karena pesona cowok sebelah rumah!"

"Kael!" desis Sael, melotot tajam.

Papa yang sedang menaruh martabak di meja makan langsung menoleh, tertarik dengan pembicaraan. "Oh, jadi 𝘣𝘦𝘯𝘵𝘰 𝘣𝘰𝘹 yang Papa lihat di meja dapur sore tadi itu buat Aeros? Yang aromanya sampai kecium ke ruang kerja Papa?"

Sael rasanya ingin menghilang saat itu juga. "I-itu... cuma buat ucapan terima kasih karena Kak Aeros udah repot-repot jagain Sael pas sakit kemarin, Pa."

Mama seketika tersenyum penuh arti, bertukar pandang dengan Papa yang juga sedang menahan senyum. Mama kemudian mengusap bahu Sael lembut. "Ya bagus dong, memang harus tahu terima kasih. Aeros itu anak baik, sopan lagi. Kemarin pas kamu sakit, dia yang paling panik nemenin kamu sampai sore. Mama malah senang kalau kamu masakin dia."

"Tuh, dengerin, Ma! Masakinnya niat banget lagi," sahut Kael, langsung menyambar satu potong martabak manis di meja. "Pakai ayam katsu, saus kari, dibentuk estetik. Giliran buat abangnya sendiri, cuma dikasih mi instan kuah airnya kebanyakan."

"Kael, jangan gangguin saudaramu terus," tegur Papa.

Papa beralih menatap Sael sambil terkekeh pelan. "Tapi Papa penasaran, Aeros suka nggak sama karinya? Tadi pas kamu antar, dia bilang apa?"

"Nggak tahu, Pa! Sael langsung pulang habis ngasih," potong Sael cepat,

"Udah ah, Sael mau tidur. Selamat malam!"

Sael buru-buru masuk ke kamarnya dan menutup pintu rapat-rapat.

Di ruang makan, Mama menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah anak gadisnya. "Anak itu... persis kamu dulu waktu muda, Pa. Kalau salah tingkah langsung kabur."

"Tapi berhasil kan, Ma? Buktinya kita nikah," balas Papa sambil terkekeh, membuat Kael yang sedang mengunyah martabak langsung berlagak ingin muntah melihat kemesraan orang tuanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!