Lady suka uang.
Lady juga cinta uang!
But, jika Lady disuruh memilih antara Ace atau uang, maka jawabannya sudah pasti Ace, karena bagi Lady, Ace adalah sumber uangnya. Simple kan jawabannya..
Menikah dengan Ace adalah salah satu hal yang tak pernah terlintas di pikiran Lady. Menikah dengan cowok galak yang memiliki tingkat kesabaran setipis tisu. mungkin juga lebih tipis dari tisu, gak tau deh.
Andaikan saja cowok itu tidak kaya raya serta berwajah jelek, maka mustahil Lady mau menerima perjodohan paksa ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon capr.gurlll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
part 1
"Oh my god! demi apa, Lo udah resmi, udah sah, udah official, udah jadi bini orang, sayang?!" Heboh Zena, saat dirinya kini mendapat giliran bersalaman dengan sang pengantin di atas pelaminan.
Zena tertawa haru, tak menyangka sahabat nya, Lady, sekarang udah berstatus jadi istri orang kaya.
Lady memutar malas bola matanya mendengar tutur kata dan ekspresi alay Zena. Lebay banget.
Tapi tak dipungkiri, baru dua jam lalu dirinya kini sudah resmi berstatus sebagai seorang istri.
Ingin terharu? bahagia? sedih? Lady tak tahu apa yang ia rasakan dalam lubuk hatinya terdalam.
Yang ia tahu kini, Keinginan terakhir Daddy nya terpenuhi, walaupun Sosok Ayahnya itu tak bisa menemaninya di atas altar pernikahan.
Sebulan lalu, dalam proses persiapan pernikahannya dengan Ace, Sang Daddy menghembuskan nafasnya terakhir di dunia ini
Lady tak mau. apalagi menikah dengan sosok yang ia tak cinta. Tetapi keinginan Sosok Alm Daddy tersayang nya, ia tak bisa menolak keinginan Daddynya itu walaupun ia lakukan dengan paksaan dari lubuk hatinya terdalam.
Tapi, rupanya Lady mendapatkan jackpot Suami seperti Arcelorge Dirgantara, Walaupun cowok itu galak dan sangat menyebalkan, tetapi lelaki itu sangat super handsome dan super rich. Membuat batinnya sedikit tenang. Setidaknya, tipe cowok nya seperti Ace. Kaya dan tampan.
Setelah acara pernikahannya selesai, Ace dan Lady memutuskan untuk pulang dan kembali ke rumah baru mereka.
Walaupun dengan berat hati Lady meninggalkan Sang Mommy tercinta, apa boleh dibuat? Karena bahkan Mommynya itu yang menyuruh-nyuruhnya untuk pergi.
Mommy nya itu mengusirnya.
Lady sudah di wanti-wanti Sang Mommy dari seminggu lalu, bila sudah resmi menikah, maka Lady harus mengikuti Ace, sebagai suaminya.
Halah bullshit.Tapi Lady mengiyakan saja ucapan-ucapan Sang Mommy, karena kondisi Mommynya yang sakit, yang masih belum rela di tinggalkan Daddy tercinta nya.
Lady pun bahkan setiap saat sendiri, saat sunyi, termenung Sang Daddy nya, yang bila masih di izinkan Tuhan untuk masih ada di dunia ini, bersama mereka bertiga. Lady, Mommy, Leon.
Sang Papa menantu Lady, membelikan sebuah perumahan mewah sebagai hadiah pernikahan.
Ace setuju. Lagipula, seharusnya hal ini memang sudah menjadi tanggung jawab papanya Ace, kan? Jelas-jelas Pria itu tahu bahwa putra tunggalnya masih berstatus sebagai pelajar, tapi tetap saja ia memaksa untuk menjodohkan Ace dengan Lady.
"Kalian berdua jaga diri baik-baik ya di sini," Pinta George.
Archella- Sang Mama tercinta Ace mengangguk setuju. "Umur kalian masih muda, jadi wajar aja kalau kalian bakal sering berdebat atau mungkin berantem kecil-kecilan. Asalkan, berantemnya jangan sampai ngebakar rumah ini, apalagi rumah tetangga."
Lady memperhatikan gaya mama mertuanya tersebut yang terlihat super glamor dan tentunya sangat fashionable. Persis seperti dirinya.
Archella kemudian menggenggam lembut tangan Lady dan menatap Ace dengan serius. "Apapun yang Lady minta, kamu harus kasih ke dia. Ingat, kita marga Dirgantara nggak boleh kayak orang susah!"
"Gimana kalau dia minta jadi istri kedua Papa?" Tanya Ace menaik turunkan alisnya.
"Mulut kamu pengen mama tampol ya?" Archella memelototi putra semata wayangnya tersebut dengan galak, membuat Ace memutar malas bola matanya.
Beberapa menit kemudian, Lady terlihat mencium tangan George dan Archella saat kedua mertuanya yang beraroma duit itu sudah ingin pulang.
"Jaga diri kamu baik-baik ya, Sayang. Kalau Ace kasar sama kamu, bilang aja sama mama. Nanti, mama Chella bakal masukin dia kembali ke rahim mama lagi," ucap Archella sambil mengacungkan kedua jempolnya kepada Lady, membuat Lady terkekeh geli.
Setelah kedua orang tuanya pergi, Ace segera mencari kunci rumah yang ia letakkan di dalam saku celananya.
"Cuman kita doang yang bakal tinggal di sini?" tanya Lady.
Ace mengangkat sebelah alisnya. "Kenapa emang? Lo ada rencana mau ngajakin satu sekolahan buat tinggal bareng sama kita?"
Terserah! Lady malas menanggapi cowok sensi modelan Ace.
Lady menatap rumah mewah berlantai dua di hadapannya itu yang dilingkupi cat berwarna putih, abu-abu, dan hitam. Seluruh area rumah itu dikelilingi oleh pagar tinggi sehingga membuatnya terjamin aman dari yang namanya maling.
"Lo tidur di luar aja, nggak usah ikut masuk," ujar Ace yang ternyata sudah berada di dalam rumah.
Lady mendengus sebal. Buru-buru ia mengejar langkah Ace dan mengunci pintunya kembali.
"OH MY GOD, ACE! LO MURTAD?! KOK, DI RUMAH INI ADA KOLAM BABINYA, SIH?!" Lady menjerit heboh saat iris coklatnya melihat sebuah kolam yang terletak di tengah-tengah rumah mereka.
"Itu kolam ikan. Lo buta apa dongo sih?!" Ace mendengus, "Emang kenapa juga kalo gue pelihara Babi?! gue lakik kristen. "
lakik kristen tapi tidak mencerminkan karakter orang kristen, pikir Lady, kerjaannya abis baku hantam teros, apalagi mulutnya gak ada baik-baiknya kalo ngomong. Lady gak like.
Lady mengangkat acuh bahunya. "Kenapa isinya cuman Ikan koi doang?" tanyanya sambil melirik isi kolam ikan tersebut.
"Kenapa emang? Lo mau ada biawaknya juga?"
Lady menghela nafas panjang. Dirinya harus ekstra sabar dalam menghadapi cowok modelan Ace. "Kolam ikannya luas, tapi kenapa isinya cuman ada satu jenis ikan doang?"
"Besok gue tambahin ikan piranha juga. Sekali nyebur, pindah alam lo," jawab Ace dengan tampang jengkelnya.
Namanya tak sesuai kenyataanya. Nama aja Ace-yang berarti dingin, tapi kenyataanya bukannya dingin malah cowok yang emosian, galak, pokoknya semuanya deh.
Untung aja ganteng dan banyak duit, jadi Lady akan banyak bersabar.
Rupanya dirinya nanti akan ikut kursus menjadi istri yang penyabar deh, nanti kalo udah gak tahan banget karna berbicara dengan Ace memang membutuhkan mental yang kuat agar tidak sakit hati.
"Papa lo ternyata kaya banget ya, Ace?" Lady dengan girang berjalan mengekori Ace yang sudah memasuki kamar mereka di lantai dua.
Seketika kedua mata Lady langsung terbelalak kaget saat Ace malah tiba-tiba membuka baju kaosnya di depannya.
Gilak! Nodai adek, Mas!
"Jangan, Ace. Gue tau kalau ini malam pertama kita, tapi gue beneran belum siap," ujar Lady seraya menggelengkan kepalanya.
Ace mengernyit. Ia maju mendekati Lady, membuat Lady malah semakin melangkah mundur.
"Please, Ace. Gue masih pengen segel."
"Hah?"
"Om. Jangan, Om. Saya masih kecil, Om."
Ace menyentil jidat Lady, membuat gadis itu meringis kesakitan.
"Bilangnya nggak mau, tapi kancing bajunya malah pada dibuka," cibir Ace sembari menatap Lady yang malah membuka kancing bajunya sendiri.
Lady menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Malu sendiri karena ulah tangannya yang tidak bisa diajak bekerja sama.
"Gue cuman mau mandi. Lo nggak usah mikir yang macem-macem," kata Ace, membuat gadis itu semakin meringis malu.
"Lagian lo ngapain, sih, tiba-tiba buka baju di depan gue? Bikin otak gue jadi travelling aja."
Tak menghiraukan ucapan Lady, Ace kemudian membuka kopernya dan mengambil handuk serta pakaian gantinya dari sana.
"Bersihin kamarnya. Gue mau langsung tidur habis mandi." Setelah mengatakan itu, Ace segera beranjak memasuki kamar mandi yang berada di pojok kamar.
Lady menghentak-hentakkan kakinya di lantai. Apa tadi katanya? Nge-bersihin kamar? Oh my god. Nggak sudi, Say!
Dari pada membereskan kamar seperti yang Ace suruh, Lady lebih memilih untuk keliling dan melihat-lihat isi rumah barunya ini.
"Kenapa almarhum Daddy gue harus ngejodohin gue sama lo, sih, Ace? Kenapa bukan sama papa lo aja yang lebih banyak duitnya?" gumam Lady.
Ace membuka pintu kamar mandi setelah menyelesaikan ritual mandinya. Ia lalu menoleh ke sekeliling, menatap kamarnya yang masih acak-acakan dan hanya kasurnya saja yang sudah dibersihkan.
Pandangan cowok itu kemudian tertuju kepada sosok Lady yang sedang menyisir rambut panjangnya di depan cermin.
Hanya peralatan makeup Lady saja yang sudah dibereskan oleh gadis itu. Ace tebak, seluruh alat makeup Lady yang sudah tertata rapi tersebut pasti berjumlah ratusan saking banyaknya.
"Kenapa kamarnya belum lo beresin?" tanya Ace.
Bukannya menjawab, Lady malah menatap ngeri semua kuku-kuku panjangnya yang berwarna merah dengan dibaluti Nail art. Ogah banget kalau kuku cantiknya yang sangat mahal itu malah rusak hanya karena membersihkan.
Nggak banget.
"Gue nanya sama lo, Lady. Lo budek apa congekan?" Ace menatap kesal gadis yang masih membelakanginya itu.
Tolong ingatkan Ace bahwa dirinya akan terkena masalah kalau sampai malam pertama gadis itu malah berubah menjadi malam terakhir.
"Pijitin punggung gue," suruh Ace yang kemudian merebahkan dirinya di kasur.
Lady menggeleng tak sudi. "No way."
"Sialan! Kamar nggak lo beresin, punggung gue juga nggak mau lo pijitin. Terus lo maunya apa?!"
"Harta."
Sabar, Ace sabar. Berdosa jika menganiaya anak orang dengan balok kayu.
"Buruan pijit, Lady!" tekan Ace di setiap katanya.
"Sorry, gue nggak minat."
"Lo mau tidur di sofa atau mau gue mutilasi?"
"Aduin Mommy, ah. Anak kesayangannya mau dimutilasi."
"Makanya buruan pijitin!"
"OKEY, FINE!"
Melihat Lady yang sudah mendekatinya dengan tampang ogah-ogahan, Ace pun segera mengubah posisi tidurnya menjadi tengkurap.
Ace melirik gadis itu yang kini sudah berada di sampingnya dengan kedua kaki yang berjongkok di atas kasur, sementara kedua tangannya mulai memijat.
"Kaki lo bisa pegal kalau posisinya kayak gitu."
Lady mengernyit. "Terus? Gue harus mijit lo sambil kayang aja gitu biar nggak pegal?"
"Tolol."
Ace itu sebenarnya tipe yang nggak mau ngalah apalagi dikalah, tapi kalau punya istri kayak Lady, pilihannya cuman dua. Ngalah atau gila.
bersambung..
...ARCELORGE DIRGANTARA...
...LADYANNE PUTRI MAESA...