Belasan tahun terjebak di dalam sel Abyssal Trench yang gelap dan pengap, Elara Nereida—seorang Siren yang tangguh—harus membayar mahal harga dari sebuah kenaifan. Cinta tulusnya pada Helios Marine justru berakhir tragis. Sang Merman ternyata telah beristri dan dengan tega mengurung Elara demi menutupi aib, membiarkannya kelaparan dan diasingkan oleh ras Siren-nya sendiri sebagai aib.
Ketika sebuah kekacauan besar menghancurkan penjara bawah air dan memberinya celah untuk lolos, Elara bersumpah tidak akan pernah meneteskan air mata lagi untuk masa lalu. Dengan kekuatan Siren yang telah lumpuh akibat racun, ia nekat naik ke daratan Kota Luminara untuk memulai hidup baru sebagai manusia.
Sanggupkah Elara bertahan di dunia baru tanpa kekuatannya? Dan di antara kutukan takdir serta perebutan kuasa para penguasa daratan, siapakah yang akhirnya akan memenangkan melodi terakhir dari hati sang Siren?
"Lautan telah membuangku, namun daratan akan bertekuk lutut di hadapanku!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30. Dua Pilihan Sulit
"I-tu... itu karena kemarin aku belum mengenalmu dan kau sembarangan menyusup ke wilayahku," dalih Jacob terbata. Ia mati-matian mengatur napas agar suaranya tetap terdengar datar dan sedingin mungkin.
Elara semakin dibuat bingung oleh sikap labil sang Raja Vampir. "Memangnya sekarang kita sudah saling mengenal? Bukankah Anda bahkan tidak tahu siapa namaku?"
Jacob seketika tertegun. Kalimat sederhana itu menghantam telak harga dirinya. Benar juga. Ia bahkan belum mengetahui nama gadis Siren yang baru saja ditidurinya secara beringas tersebut. Bagaimana bisa ia bertindak seposesif ini?
Mencoba menutupi kegugupannya, Jacob menegakkan tubuh. "Sebab sekarang kau dan aku... kita sudah menjalin hubungan yang sangat intim. Bahkan aku sudah menandaimu. Di dunia kami, itu artinya kita sudah sah menjadi pasangan suami istri."
Jderr!
Hati Elara terasa bagai tersambar petir di siang bolong. Kesadarannya mendadak tersentak. Sebagai makhluk imortal, ia tahu persis bahwa segel mate bond adalah tanda mutlak untuk mengikat pasangan. Itu adalah ikatan sakral yang tidak akan bisa diputus oleh apa pun.
Di sisi lain, Jacob merutuki kebodohannya sendiri dalam hati. Ia rasanya ingin menggampar bibirnya sendiri karena telah melontarkan kalimat konyol barusan. Mengapa ia bisa seceroboh ini? Selama hidup lima abad, ia tidak pernah bertindak segegabah dan seimpulsif ini.
Dulu, saat ia sedang jatuh cinta setengah mati dan tergila-gila pada Laura, mendiang istrinya, Jacob masih memiliki kendali diri yang luar biasa untuk menahan hasratnya. Ia bahkan sempat mengalah dan merelakan Laura menikah dengan pria lain, seorang Raja Iblis bernama Aslan Dexter. Namun, setelah Aslan dibantai habis dan jasadnya disegel di dalam tanah oleh Archmage William Pendragon—yang merupakan sahabat dekat Jacob—Laura akhirnya kembali ke pelukannya dan menikah dengannya.
Kenangan masa lalu itu membuktikan betapa kuatnya pertahanan diri Jacob dahulu. Namun kini, di hadapan seorang gadis Siren asing, seluruh pertahanan yang ia bangun selama ratusan tahun runtuh total tanpa sisa.
"Tapi tetap saja, Yang Mulia. Aku hanyalah seorang Siren yang mungkin derajatnya jauh lebih rendah dari ras Anda," ucap Elara, suaranya bergetar menahan kegetiran. "Bahkan, aku sendiri masih ragu apakah aku layak disebut seorang Siren tulen sekarang. Sebab, aku sudah diusir oleh pemimpin klanku sendiri. Sialnya... aku sudah tidak memiliki kekuatan apa pun lagi, termasuk melodi mematikan yang menjadi jati diriku."
Elara menatap memelas pada sang Raja Vampir. "Sekali lagi kumohon, Yang Mulia... antarkan aku pulang ke rumah Tuan Cedric."
Mendengar penjelasan pilu dari Elara, Jacob sedikit tertegun. Teka-teki di kepalanya perlahan mulai terjawab. Pantas saja ada yang ganjil dengan Siren di hadapannya ini. Seingat Jacob, ras samudra itu dilarang keras oleh Liam—sang Raja Siren—untuk menginjakkan kaki di daratan, apalagi berkeliaran tanpa daya seperti ini.
Namun, gengsi dan insting posesif Jacob mengubur rasa ibanya dalam-diam. Ia menegakkan tubuh, menatap Elara dengan sorot mata sedingin es yang mengintimidasi.
"Baiklah, jika kau tetap keras kepala, maka jangan salahkan aku," desis Jacob tanpa ampun. "Aku akan memberimu dua pilihan."
Jacob menjeda kalimatnya, membiarkan atmosfer kamar terasa semakin mencekam bagi Elara. "Pilihan pertama, jika kau tetap menolak perintahku untuk ikut ke kastil, aku akan langsung melaporkanmu pada Ketua Dewan Tinggi dari seluruh ras imortal. Aku akan menuntutmu atas tindakan nekatmu yang telah memfitnahku di depan para penjaga istana dengan tuduhan kehamilan yang belum terbukti itu. Kau tahu sendiri apa hukuman bagi klan rendahan yang mengusik kehormatan seorang Raja Vampir."
Jacob melangkah selangkah lebih dekat ke tepi ranjang, menunduk demi menyejajarkan tatapannya dengan sepasang mata sayu Elara.
"Lalu pilihan kedua... jika kau memang bersikeras ingin aku mengantarkanmu kembali kepada Tuan Elf-mu itu, aku akan menurutinya. Namun, konsekuensinya, aku tidak akan pernah mau berurusan lagi denganmu, apalagi bertanggung jawab atas apa yang telah kuperbuat padamu barusan. Dan ingat ini baik-baik... jika rahimmu sampai mengandung benihku akibat malam ini, jangan pernah sesekali menyesal atau datang merengek meminta belas kasihanku. Sebab, kau sendiri yang telah menentukan pilihan hidupmu."
Dari kedua pilihan yang disodorkan oleh Jacob, sama sekali tidak ada yang berakhir baik bagi Elara. Menolak perintah untuk tunduk, atau memaksakan diri kembali ke rumah Cedric dengan konsekuensi ditinggalkan tanpa tanggung jawab—kedua jalan itu sama-sama menempatkan posisinya di pihak yang benar-benar dirugikan. Kehormatan dan tubuhnya telah dieksploitasi, namun ia justru dihadapkan pada ancaman hukuman atau pengabaian dingin.
Elara terdiam. Ia menundukkan kepala dalam-dalam, membiarkan rambutnya yang berantakan menjuntai menutupi wajahnya yang basah oleh air mata. Pikirannya semrawut, saling bertubrukan dengan rasa lelah yang teramat sangat.
Gadis Siren itu tidak pernah menyangka bahwa aksi nekatnya melarikan diri dari penjara bawah laut Abyssal Trench justru melemparkannya ke dalam jaring takdir yang jauh lebih rumit dan menyiksa di daratan. Ironis sekali. Membusuk perlahan di dalam kegelapan dingin Abyssal Trench rasanya tidak ada bedanya dengan mati perlahan di daratan terkutuk ini.
Sialnya, di daratan ini ia harus menanggung kesialan yang datang bertubi-tubi tanpa jeda—direnggut paksa oleh serigala, tersesat di dunia Elf, dan kini terjebak di bawah kuasa taring sang Raja Vampir.
Aku..." Elara menjeda kalimatnya. Ia mendongak, mengumpulkan sisa-sisa keberanian yang ia miliki untuk menatap langsung sepasang manik mata kelam milik Jacob. "Aku tetap ingin pulang ke rumah Tuan Cedric. Jadi, aku mengambil pilihan yang kedua."
Keputusan itu diucapkannya secara mutlak, tanpa ada keraguan yang tersisa di dalam suaranya yang parau.
Jacob mengangguk pelan. Meskipun wajahnya tetap sedingin es, ada kilat kekecewaan dan ego yang terluka di dasar matanya mendengar penolakan gadis itu. "Kalau begitu, cepat kenakan pakaianmu dan segera pergi dari tempat ini. Aku akan memerintahkan salah satu bawahanku untuk mengantarmu kembali. Dia akan menunggumu di gerbang Istana Elf Hutan ini. Dan ingat... jangan pernah menyesali pilihanmu hari ini."
Setelah melontarkan peringatan dingin itu, Jacob membalikkan badan. Ia melengos pergi dan melangkah keluar dari kamar kosong tersebut tanpa menoleh lagi. Sementara itu, Elara hanya bisa terdiam membisu, menatap hampa ke arah pintu kayu yang kini telah tertutup rapat mengiringi kepergian sang Raja Vampir.
Di dalam keheningan kamar yang menyiksa, Elara bergerak dengan tergesa. Dengan jemari yang bergetar hebat menahan rasa perih dan trauma yang mendera, ia memungut gaun milik mendiang ibu Cedric yang tergeletak mengenaskan di atas lantai. Gaun yang kemarin dipinjamkan Cedric dengan penuh ketulusan itu kini ia kenakan kembali ke tubuhnya, seolah menjadi satu-satunya pelindung waras yang tersisa bagi jiwanya yang baru saja hancur lebur.
Tepat saat Elara berhasil melangkah keluar dari kamar dan berjalan tertatih menyusuri koridor, sesosok gadis berambut putih perak mendadak muncul dari balik pilar megah istana. Siapa lagi jika bukan Scarlett. Gadis itu berdiri mematung dengan dahi berkerut, menatap penasaran pada punggung Elara yang tampak rapuh serta cara berjalan gadis itu yang agak aneh dan tersendat.
"Ya Tuhan... apa yang sebenarnya sudah diperbuat oleh Kakek Jacob?" bisik Scarlett dengan wajah memucat. Ia meringis ngeri seolah-olah bisa merasakan sendiri penderitaan fisik dan rasa perih yang sedang mendera tubuh wanita asing tersebut.
Didera oleh rasa iba yang mendalam, Scarlett tidak bisa tinggal diam. Ia segera berlari kecil menyusul langkah lambat Elara yang berada beberapa meter di depannya.
"Tunggu, Kak!" seru Scarlett memanggil.
Langkah Elara seketika terhenti. Ia memutar tubuhnya perlahan, menahan rasa ngilu yang menjalar di pangkal pahanya. Alisnya bertaut rapat saat sepasang matanya menatap asing pada gadis berambut perak di hadapannya.
"Kau... siapa?"