Terbangun di masa lalu, tepat sebelum jerat takdir Daniel menjebaknya, Erica menolak menjadi korban untuk kedua kalinya.
Mengubah alur permainan adalah satu-satunya pilihan. Jika Daniel menggunakan nama besar Megantara untuk menghancurkannya, maka Erica akan menduduki takhta tertinggi di keluarga itu.
Ketika bidak catur mulai digerakkan dan rahasia satu per satu terkelupas, siapakah yang sebenarnya memegang kendali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menghangatkan Dinginnya Barak Utara
Deru mesin truk militer Reo buatan Amerika era tahun tujuh puluhan meraung-raung, membelah jalanan tanah yang berbatu dan becek.
Ban-ban besarnya yang berlumur lumpur itu sesekali menyelip, membuat seluruh badan truk berguncang hebat.
Di belakang truk logistik yang mengangkut gulungan kain, mesin jahit, dan perlengkapan rumah tangga milik Erica, sebuah mobil dinas Toyota Land Cruiser FJ40 berwarna hijau tentara melaju dengan gagah, memimpin konvoi kecil itu menembus gelapnya hutan belantara.
Perjalanan dari pangkalan militer utama menuju Markas Komando Distrik Perbatasan Utara telah memakan waktu lebih dari enam jam.
Di dalam kabin Land Cruiser yang berguncang, Erica Fiorenza duduk dengan tegap. Meskipun tubuhnya terasa lelah akibat guncangan jalanan tahun sembilan belas delapan dua yang belum beraspal, wajah yang ditampakkannya tetap tenang.
Dia mengenakan jaket parka tebal berwarna krem untuk menghalau hawa dingin yang mulai menusuk tulang seiring bergeraknya mobil saat mendaki di perbukitan utara.
Di balik kemudi, Axelo sesekali melirik ke kaca spion tengah dengan wajah cemas yang jarang diperlihatkannya.
"Nyonya Erica, mohon maaf atas kondisi jalannya. Jalur logistik ke perbatasan utara memang belum tersentuh proyek pembangunan jalan dari pusat. Apakah Anda baik-baik saja? Jika mual, saya punya minyak angin cap Kapak di laci." ucapnya dengan nada yang tetap berisi selera humor.
Erica menoleh pada Axelo dan tersenyum, guna menenangkan asisten Eshar yang humoris itu.
"Aku baik-baik saja, Axelo. Jangan khawatir. Jangan hanya karena melihat aku tinggal di kota, lalu kamu meremehkanku. Aku sudah biasa melakukan perjalanan dinas ke daerah pedalaman untuk mencari perajin tenun. Bagiku, ini belum seberapa."
Di sebelah Erica, Jenderal Eshar Megantara duduk dengan melipat kedua tangannya di depan dada. Pria itu mengenakan jaket kulit militer hitam di atas seragam dinas lapangan hijaunya.
Paras tampannya tampak semakin misterius di bawah bayang-bayang pepohonan raksasa yang menutupi sinar matahari sore.
Sejak awal perjalanan, Eshar memang lebih banyak diam, mendengarkan laporan taktis dari radio panggil atau Handy-Talkie (HT) yang sesekali berkerisik.
Tetapi saat mendengar jawaban Erica, mata coklat Eshar bergulir menatap istrinya. Ada rasa kagum yang samar di balik tatapan sedingin es itu.
Karena Wanita kota pada umumnya seperti biasanya sudah mengeluh atau muntah-muntah sejak tiga jam pertama.
Apa yang Erica katakan terbukti bukan sekadar bualan di atas kertas kontrak.
"Kita sudah hampir sampai," suara berat Eshar menginterupsi deru mesin mobil.
"Di depan adalah pos pemeriksaan satu. Setelah itu, kita memasuki wilayah barak utama. Erica, mulai detik ini, kau berada di bawah perlindungan hukum militerku. Jadi, kau juga harus mematuhi aturan jam malam di sini."
"Aman, saya mengerti, Eshar," jawab Erica tegas, menggunakan nama panggilan privat mereka tanpa segan.
Mobil pun mulai melambat saat mendekati sebuah gerbang kayu besar yang diperkuat dengan kawat berduri dan karung-karung berisi pasir.
Dua orang prajurit bersenjata laras panjang otomatis tipe FAL segera menegakkan posisi tubuh mereka dan memberikan hormat grak saat mengenali plat nomor dinas bintang satu di bumper depan mobil Land Cruiser itu.
Begitu melewati gerbang, pemandangan Markas Komando Perbatasan Utara terhampar di depan mata.
Barak militer itu terdiri dari deretan bangunan semi-permanen berdinding papan kayu jati dan beratap seng, yang dicat dengan warna hijau lumut.
Udara di wilayah ini sangat kontras dengan hawa gerah di Jakarta yang dingin, berkabut tipis, dan menyebarkan aroma tanah basah serta kayu bakar.
Mobil berhenti tepat di depan sebuah rumah dinas yang terletak agak terpisah di dekat lereng bukit.
Rumah itu sedikit lebih besar dari barak prajurit, memiliki serambi depan yang kecil dengan lampu petromak yang sudah menyala, memberikan pendaran cahaya keemasan di tengah senja yang mulai menggelap.
Eshar turun terlebih dulu, lalu memutari mobil untuk membukakan pintu khusus istri yang baru saja dia nikahi.
Ketika Erica melangkah turun, hembusan angin gunung yang sangat dingin langsung menerpa wajahnya, saat itu juga tubuhnya langsung sedikit menggigil.
Sebelum Erica sempat merapatkan jaketnya, sebuah kehangatan tiba-tiba menyelimuti pundaknya.
Ternyata, Eshar telah melepaskan jaket militernya dan menyampirkannya ke tubuh Erica.
Aroma maskulin campuran tembakau premium dan wewangian khas prajurit itu langsung merasuk ke indra penciuman Erica, seketika membuat jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
"Pakai ini. Udara malam di utara bisa membuat orang kota jatuh sakit dalam semalam," ujar Eshar datar, sebuah candaan tanpa ekspresi, tapi tindakan protektifnya memang kenyataan.
Erica pun mendongak, menatap paras tampan suaminya yang berdiri begitu dekat di bawah temaram lampu petromak.
Dengan senyum manisnya yang mampu menghangatkan suasana dingin itu, Erica merapatkan jaket besar Eshar ke tubuhnya.
"Terima kasih, Jenderal."
Axelo yang baru turun dari kursi kemudi langsung terkekeh pelan sambil mengomando para prajurit untuk menurunkan barang-barang bawaan milik Erica.
"Wah, ajaib! Baru sampai saja hawa perbatasan yang dingin ini mendadak terasa hangat ya, Sersan!" canda Axelo pada prajurit di dekatnya, membuat beberapa tentara muda ikut tersenyum simpul.
Mendengar itu, wajah Erica mendadak memerah seperti tomat. Entah kenapa, candaan Axelo sangat berefek pada dirinya.
"Ehem!" suara Eshar berdeham tiba-tiba membuat semuanya terdiam dan melanjutkan pekerjaan mereka.
Erica kemudian memandang sekeliling barak yang terisolasi ini.
Di sinilah, di ujung utara yang jauh dari intrik busuk Menteng, dia akan menempa kekuatannya.
Daniel dan Shofia mungkin mengira mereka telah berhasil mengusirnya dari Jakarta, tapi mereka tidak tahu bahwa di tempat dingin inilah, Erica sedang menyusun fondasi kehancuran mereka bersama sang penguasa perbatasan.
😁😁😁😁
kalian udh punya harta masing2 , keluarga masing2 Dan kebahagiaan masing2 ( tu pun kalo bnran punya) ,,,,
Masih aj ganggu hidup org lain ,, Masih aj ngurusin yg bukan hak ny ,,
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
😒😒😒😒😒😒
km slah justru dy pergi krn sedang menyiapkan serangan balasan yg lebih dr kejam ,, 😏😏😏😏😏😏
semangat 💪💪💪
liat kuat imronmun saja pak eshra 🤭🤭
begitulah kalau berhadapan dengan seorang yg berpangkat jendral, apa lagi plis tampan nya ga ketolongan 🤣🤣🤣
awas jangan pingsan 🤭🤭🤭