NovelToon NovelToon
Pelakor Merebut Suamiku, Aku Merebut Suaminya

Pelakor Merebut Suamiku, Aku Merebut Suaminya

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Pelakor / CEO / Penyesalan Suami / Selingkuh / Balas Dendam
Popularitas:8.6k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda SB

Mengetahui suaminya berselingkuh, Raina memilih tidak menangis. Baginya, pengkhianatan harus dibalas dengan cara yang sama.

Nyawa bayar nyawa. Selingkuh balas selingkuh.

Target balas dendamnya adalah Hadiraksa Gautama... suami dari Monica, wanita yang merebut rumah tangganya.

Raina mendekati Hadi yang selama ini dianggap pria gagal oleh istrinya sendiri: miskin, tak punya masa depan, dan hidup dari belas kasihan keluarga. Namun siapa sangka, di balik penampilan sederhananya, Hadi menyimpan identitas sebagai pengusaha muda kaya raya yang sengaja menyembunyikan status demi menguji cinta Monica.

Saat permainan balas dendam dimulai, perasaan ikut berubah.

Robby mulai menyesali perselingkuhannya. Monica panik setelah mengetahui pria yang ia buang ternyata jauh lebih berharga dari yang ia kejar.

Mereka ingin kembali pada pasangan masing-masing.

Tapi terlambat...

Karena dua hati yang awalnya dipersatukan oleh luka, perlahan berubah menjadi candu dan saling cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kedatangan Ibu

Pagi-pagi Raina sudah berkemas. Ia bersiap untuk pergi dari rumah itu. Ya, setelah mengetahui jika suaminya telah menghamili wanita lain. Raina dengan yakin ingin mengakhiri pernikahan itu.

Malam tadi ia sama sekali tidak bisa menutup mata. Bukan karena kecewa apalagi sakit hati akibat dari perbuatan suaminya. Tetapi karena ia sibuk berkemas, membereskan semua pakaiannya ke koper dan menyiapkan berkas perceraian yang akan ia serahkan ke Hadi hari ini.

"Selamat tinggal semuanya!"

Ada sedikit rasa tak rela, meninggalkan rumah yang sudah ia huni bertahun-tahun bersama suaminya. Rumah itu terlalu banyak kenangan untuknya. Kenangan bahagia saat baru pertama kali menikah, sekaligus kenangan sakit. Karena di rumah ini juga, ia menemukan pengkhianatan yang dilakukan oleh suaminya sendiri.

"Sial! tidak seharusnya aku begini!"

Raina membawa koper yang sudah siap untuk di angkut. Di bahunya juga ada tas kecil yang berisi dompet dan ponsel miliknya.

Ceklek!

Ia membuka pintu. Lalu melangkah keluar, dan tidak ada siapapun yang ia lihat.

"Dimana Robby?" batin Raina.

Tidak biasanya pria itu tidak ada di rumah jam segini. Kebiasaannya, Robby pasti masih terlelap dalam tidurnya.

"Kamu mau kemana Raina?"

Raina membeku, matanya melotot saat melihat ibu mertuanya berdiri di depan pintu bersama sang suami.

"Ibu!" Raina gegas mencium punggung tangan wanita tua yang sudah ia anggap seperti ibu kandungnya sendiri.

"Kamu mau kemana Raina? ngapain bawa-bawa koper segala" ulang Bu Joko, memperhatikan Raina yang terlihat kikuk dan bingung.

"Eeee... anu Bu, ini isinya pakaian yang sudah tidak terpakai. Rencananya mau di buang ke tempat sampah sana!"

Raina berusaha untuk menutupi agar Ibu mertuanya percaya. Karena bagaimanapun, ia harus menjaga kesehatan wanita tua itu. Karena meski anaknya bersalah, tapi ibunya tidak tahu apa-apa.

"Oh begitu! buangnya nanti saja ya? Ibu kangen banget sama kamu," Bu Joko merangkul Raina dan membawanya kembali masuk ke rumah.

Raina tidak bisa menolak. Ia dengan terpaksa ikut.

"Aku masukkan kopernya ke kamar dulu ya Bu? sekalian buatin minum," pamit Raina.

Bu Joko mengangguk. Ia ditemani putranya duduk di ruang tamu mereka.

"Robby!" panggil Bu Joko. Sejak tadi, ia sudah memperhatikan putranya yang terus menatap Raina.

"Kamu dan Raina baik-baik saja kan?"

Meski sudah ditutupi dengan sebaik mungkin. Tetapi insting seorang ibu tetap tidak bisa dibohongi.

Robby tertawa kecil. "Ibu ini bicara apa sih! Aku dan Raina baik-baik saja."

Robby memijat bahu Ibunya dengan lembut. Meski ia pria brengsek, namun ia tetap seorang anak yang sangat menyayangi ibunya.

"Kamu jangan pernah mengecewakan Raina ya?" lanjut Ibunya.

Robby mengangguk.

"Raina itu anak yang baik. Dia bisa jadi istri dan ibu yang bertanggungjawab!" Bu Joko menjeda. Sepertinya kedatangannya yang tiba-tiba, karena ia memiliki firasat yang tidak baik atau mungkin ada hal lainnya.

"Aku tidak akan pernah mengecewakan istriku Bu!" bibirnya sangat lancar saat mengucapkan hal itu. Tapi tidak dengan hatinya yang sedikit merasa bersalah.

"Di dunia ini, Raina sudah tidak memiliki keluarga. Hanya kita satu-satunya keluarga yang dia miliki! kalau kamu sampai menyakitinya... Ibu tidak akan pernah mau menganggap kamu sebagai anak lagi.

Gleg!

Robby menelan salivanya dengan susah payah. Ia sangat mengenal Ibunya. Kata-kata ini, bukan hanya sekedar ancaman biasa. Karena Ibunya, tidak pernah main-main dengan kata-kata yang ia ucapkan.

---

Di dapur, Raina membuatkan teh hangat dengan sedikit gula untuk ibu mertuanya. Tak lupa, ia juga membuatkan kopi untuk sang suami.

Bukan karena peduli.

Tapi Raina tidak ingin membuat Ibu mertuanya curiga. Jika rumah tangganya bersama Robby sudah ada diujung tanduk.

"Kalian lagi ngomongin apa sih? Sepertinya serius sekali?" Raina datang dengan nampan ditangan.

"Tidak bicara apa-apa Rain! hanya obrolan pelepas rindu antara ibu dan anak!" sahut Robby.

Tatapannya kembali tertuju sepenuhnya untuk sang istri. Ia memperhatikan, dan mengamati dalam-dalam setiap pergerakan Raina.

"Duduk disini!" Robby menarik tangan Raina agar duduk disebelahnya.

Raina ingin menolak. Tapi senyum tatapan teduh ibu mertuanya, membuat Raina tidak bisa menolak.

"Ibu mau datang kok gak kasih kabar dulu?" tanya Raina.

"Loh! bukannya kata Robby kamu kangen sama Ibu? Makanya tengah malam dia bela-belain jemput Ibu di kampung!"

Raina menoleh. Ia melihat Robby yang tersenyum penuh arti padanya.

"Iya Rain. Bukannya semalam kamu bilang kangen pengen ketemu ibu!" Robby sedikit melotot. Sepertinya pria itu sedang memberikan kode padanya.

"Ah iya aku memang sangat merindukan Ibu. Tapi aku gak nyangka, kamu malah manggil ibu kesini!" Raina mengikuti akting suaminya. Sepertinya untuk kedepannya, mereka harus bekerjasama untuk terus berpura-pura.

---

"Ibu istirahat dulu ya? Ibu pasti capek habis perjalan jauh!" Raina mengantar Ibunya ke kamar untuk beristirahat.

"Kamu baik-baik ya sama Robby?" pinta Bu Joko.

Raina hanya tersenyum. Ia menolak, dan tidak pula mengiyakan.

"Aku keluar dulu ya Bu?"

Bu Joko mengangguk.

Raina kembali menutup pintu. Tadinya ia ingin langsung berangkat bekerja, tapi Robby kembali menghalangi jalannya.

"Kamu mau pergi dari rumah?" tanya Robby dengan mata melotot. Yang seakan ingin menelan Raina hidup-hidup.

"Iya! Aku bukan hanya mau pergi. Tapi aku juga mau cerai!" sahut Raina.

Ia sama sekali tidak takut. Wanita itu malah balik menantang Robby.

"Kamu gila!" Robby terkejut.

"Aku gila?" Raina tertawa. "sepertinya kamu yang gila! karena bisa-bisanya kamu bawa Ibu kesini cuma demi cegah aku pergi dari sini!"

"Kamu tahu?"

"Hal yang begitu terang-terangan, mana mungkin aku tidak tahu!"

"Rain!" Robby mencekal pergelangan tangannya. Tapi Raina menghempasnya.

"Meskipun kamu memanggil ibu kesini! tapi... aku tidak akan mengubah keputusan ku. Dan begitu Ibu pulang, aku pasti langsung pergi."

Setelah mengatakan hal itu Raina pergi. Ia tak lupa membawa berkas perceraian yang sudah ia siapkan malam tadi.

"Gak masalah tidak bisa pergi sekarang. Tapi nanti... aku pasti akan pergi!" batinnya.

Seperti biasa, Hadi sudah menjemput Raina di tempat biasa... ujung jalan dekat jalan raya.

"Kamu gak jadi pindah?" tanya Hadi, begitu ia melihat Raina tidak membawa kopernya.

"Ibunya Robby datang!" kata Raina. "dia sengaja panggil ibunya supaya aku gak pergi.

Hadi mengepalkan tangannya. "Dia gak mau melepaskan kamu!" sorot mata Hadi terlihat sangat cemburu.

Raina memegang lembut tangannya. "Gak perlu cemburu! Meskipun dia memanggil ibunya... tapi aku tetap akan bercerai darinya."

Raina memberikan berkas itu ke Hadi.

Wajahnya seketika kembali cerah. "Oke! Laras akan segera mengurus semuanya."

Raina mengangguk dan mereka segera pergi meninggalkan tempat itu.

1
Muft Smoker
udh salah tp msh gx sadar juga ,,😒😒😒😒
Muft Smoker
tenang rob ,, sebentar lgi ,, rania will say goodbye to you ,, jangan menyesal ,, krn itu udh menjadi pilihkan mu ,, 😒😒😒😒
Muft Smoker
hati2 rob ,, Rania sdang menyusun rencana 😒😒😒😒 ,, km udh memilih dn tdak bisa berputar balik
Muft Smoker
semangat Rania ,, gmn tuh rasa ny si Monica klo tau suami ny pengusaha kaya raya 🤭🤭🤭🤭🤭🤭
sunaryati jarum
upnya jangan lama- lama Thoor
sunaryati jarum
Robby nanti tahu- tahu dapat surat cerai jika yang mengurusi perceraian asisten Hadi,Mbak Laras.Sekaligus dapat anak hasil celap- celup dengan Monica.Setelsj hidupnya

Robby dan Monica mungkin akan kacau, karena Monika tahunya hanya menahan uang
partini
kenapa ga langsung bilang Monica sih
Surati Dewi
Thor kamu di mana
Bunda SB: lagi sakit kak, tapi Nenti diusahakan untuk up
total 1 replies
sunaryati jarum
Mana upnya
sunaryati jarum
Kok Robby to yang meninggalkan Monica itu Hadi,plong saat Hadi meninggalkan Monica.Kutunggu Rania meninggalkan Robby,dan ibunya Robby ,jadi sakit.
sunaryati jarum
Nah benar jangan kebablasan , segera pisah dari Pasangan kalian .Rania jangan pikirin ibunya Robby.Robby saja tidak memikirkan
Iam Just
up lagi thor
Surati Dewi
kapan up thor Pumpung lagi jadi pengangguran biar bisa baca malah gak muncul muncul thor
sunaryati jarum
Semoga orang tua Hadi langsung tertarik pada Raina.Dan Robby juga ingin segera menikahi Monica.
sunaryati jarum
Semoga lancar Hadi , untuk menerima Monika begitu pula Robby juga lancar
Iam Just
up tiap hari lah thor🤧
Bunda SB: diusahakan ya kak
total 1 replies
Surati Dewi
kenapa gak up thor
Titien Prawiro
Waktu mau berangkat kekantor Robby masuk kedalam mobil, knp pulang naik motor?
sunaryati jarum
Suka
sunaryati jarum
Segera cerai dari pasangan kalian dulu jika sudah mantap melanjutkan hubungan antara pria dan wanita
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!