NovelToon NovelToon
Sumpah Pengawal Kuno

Sumpah Pengawal Kuno

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Romansa Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Mamah Nissa

Gugur dalam tragedi berdarah di abad ke-14, jiwa Nyai Kencana—kesatria wanita Kerajaan Sunda—terlempar ke masa modern. Ia merasuki raga Citra, mahasiswi beasiswa yang nekat melompat dari jembatan demi menjaga kehormatannya dari jebakan pemerkosaan.
​Kini, Citra bangkit dengan kepribadian baru: dingin, tegap, dan menguasai ilmu kanuragan kuno. Tidak ada lagi Citra lemah yang bisa ditindas!
​Perubahan drastis Citra membuat Elang Dirgantara, pewaris tunggal konglomerat yang angkuh dan sombong, penasaran sekaligus jengkel. Hubungan mereka layaknya anjing dan kucing yang selalu bergesek konflik.
​Namun, roda takdir berputar. Keluarga Elang bangkrut total dalam semalam. Diusir, dikhianati teman-temannya, dan nyaris bunuh diri.
Bagaimana kisahnya baca terus novelnya ya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamah Nissa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14: Serigala di Atas Angin

Sinar matahari pagi yang menembus sela-sela kanopi pohon peneduh di selasar Universitas Dirgantara tidak lagi terasa hangat bagi Elang Dirgantara. Hari itu, gerbang kampus sewarna marmer yang biasa ia lewati dengan deru mesin kavaleri besi seharga miliaran rupiah, kini harus ia lalui dengan sepasang kaki yang letih dan berdebu. Pakaiannya tak lagi berupa jaket bomber rancangan desainer Italia; ia hanya mengenakan kaos oblong putih polos yang agak longgar dan celana jins pudar yang ia ambil terburu-buru dari tumpukan pakaian tersisa sebelum garis kurator menyegel seluruh isi rumahnya. Rambutnya yang biasa tertata rapi oleh gel mahal, kini tampak kusut ditiup angin jalanan Jakarta yang kotor akibat perjalanan panjang menggunakan angkutan umum, sebuah pengalaman pertama yang menampar fisiknya dengan rasa mual yang pekat.

Langkah kaki Elang terasa berat, seolah-olah sepasang sepatunya telah terikat oleh rantai besi tak kasat mata. Setiap pasang mata yang berpapasan dengannya di sepanjang selasar lobi utama mendadak berubah menjadi sebilah pisau yang menorehkan luka psikologis baru.

Di depan kafe lobi, Elang melihat jajaran mahasiswa yang kemarin pagi masih berebut menepuk pundaknya dan memuji kemegahannya. Di antara mereka, tampak pula Natasha yang sedang duduk sembari menggulirkan layar ponselnya dengan wajah ketus. Elang menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberanian dan sisa harga diri yang belum sepenuhnya hancur. Ia melangkah mendekati meja tersebut.

"Rian... Kevin..." suara Elang terdengar parau, kehilangan seluruh intonasi bariton yang biasa memancarkan wibawa palsu seorang pangeran mahkota. "Gue... gue mau tanya soal sisa catatan kelas Manajemen Risiko kemarin. Ponsel gue disita, jadi gue gak bisa…"

Kalimat Elang membeku di udara.

Dua mahasiswa bernama Rian dan Kevin itu bahkan tidak mendongakkan kepala mereka untuk menatap wajah Elang. Rian sengaja menggeser cangkir kopinya, sementara Kevin mendadak sibuk mengobrol dengan mahasiswa di sebelah kirinya seolah-olah Elang hanyalah seonggok udara kosong yang tidak memiliki wujud.

Natasha, yang duduk di ujung meja, perlahan menurunkan ponselnya. Ia menatap Elang dari ujung sepatu ketsnya yang berdebu hingga ke wajahnya yang kusut dengan sepasang mata yang memancarkan rasa jijik yang dingin, tanpa ada sisa-sisa kehangatan dari sirkel pergaulan lama mereka.

"Sori ya, Lang," celetuk seorang mahasiswi dari sirkel itu dengan nada suara yang sengaja dibuat sinis. "Meja ini udah di-booking buat anak-anak yang mau bahas proyek eksklusif. Dan setahu gue, sirkel kita gak menerima orang yang status rekeningnya sudah masuk daftar hitam pengadilan. Lo mending cari tempat duduk lain deh, di taman belakang atau di dekat pos satpam... yang sekiranya lebih cocok sama penampilan lo sekarang."

Sebuah tawa renyah tertahan pecah dari sirkel tersebut. Elang berdiri mematung, merasakan sensasi dingin yang luar biasa merayap dari telapak kakinya hingga ke dada. Rasa dipermalukan ini begitu hebat, meremukkan sisa batinnya. Ia menyadari satu kebenaran yang teramat kejam: seluruh rasa hormat, sumpah setia, dan senyuman ramah yang ia terima selama dua tahun terakhir di kampus ini tidak pernah ditujukan untuk dirinya sebagai Elang Dirgantara. Semua itu adalah bentuk ketundukan palsu pada isi dompetnya, dan begitu harta itu menguap, ia tidak lebih dari sekadar sampah yang dibuang ke tepi selokan.

*

"Aduh, aduh... lihat siapa yang sedang mengemis perhatian di sini, Rek?"

Sebuah suara bariton yang sarat akan nada congkak dan intimidasi memotong keheningan yang menyiksa di selasar lobi. Dari arah taman tengah yang dikelilingi oleh jajaran pohon palem, Wijaya Samudra melangkah maju dengan gaya yang teramat parlente.

Kemeja sutra birunya berkilat mewah di bawah sorotan matahari, dan kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana bahan kain yang mahal. Di belakangnya, lima orang mahasiswa bertubuh tegap dari tim olahraga kampus berbaris rapat, membentuk formasi serigala yang siap mengoyak singa yang telah kehilangan taringnya.

Samudra berhenti tepat dua langkah di depan Elang, menatap penampilan Elang yang kusut dengan seringai kemenangan yang mengerikan. Ini adalah momen yang telah dinantikannya, momen untuk membalikkan hierarki kekuasaan di Universitas Dirgantara dan menginjak harga diri sang rival hingga menjadi debu.

"Elang Dirgantara," ucap Wijaya, nadanya lambat namun sarat akan tekanan psikologis yang berat. "Gue kira lo punya ke-maluan sedikit buat gak datang lagi ke kampus ini setelah seluruh aib keluarga lo dipajang di televisi nasional. Ternyata lo tebal muka juga ya?"

" Samudra... gue gak punya urusan sama lo," desis Elang, rahangnya mengeras, mencoba mempertahankan sisa-sisa egonya meskipun dadanya bergemuruh hebat karena amarah yang mulai membakar batas kewarasannya.

"Oh, tapi gue punya urusan besar sama lo, Mantan Pangeran," balas Samudra dengan tawa meremehkan. Ia melirik cangkir kertas berisi es kopi yang dipegang oleh salah satu anak buahnya, lalu menyambarnya. Dengan gerakan yang sengaja diperlambat di depan puluhan mahasiswa yang mulai berkerumun menonton, Samudra memiringkan cangkir tersebut tepat di atas sepatu kets kiri Elang.

Plorok.

Cairan kopi yang hitam, lengket, dan dingin mengalir deras, membasahi sepatu dan ujung celana jins pudar milik Elang, meninggalkan noda cokelat yang menjijikkan di atas kain yang kotor.

"Ops, sori. Tangan gue agak licin, persis kayak likuiditas perusahaan kakek lo yang amblas dalam semalam," ucap Samudra, disusul oleh ledakan tawa riuh dari rombongannya. Samudra menarik dompet kulitnya, mengeluarkan beberapa lembar uang receh pecahan dua ribu rupiah, lalu melemparnya ke arah dada Elang hingga uang-uang kertas itu berjatuhan di atas lantai marmer yang basah. "Nih, buat ongkos naik angkot lo balik ke kosan kumuh lo nanti sore. Anggap aja sedekah dari penguasa baru kampus ini."

"BA-JINGAN!!"

Ledakan emosi Elang tak lagi terbendung. Egonya yang terluka parah memicu gelombang adrenalin yang gila. Dengan teriakan yang sarat akan keputusasaan, Elang melayangkan sebuah pukulan mentah menggunakan tangan kanannya lurus ke arah rahang Samudra.

Namun, gerakan Elang yang tidak terlatih dan didasari oleh amarah buta terlalu mudah dibaca. Sebelum tinjunya sempat menyentuh seujung rambut Samudra, dua orang anak buah Samudra yang bertubuh kekar telah melesat maju. Mereka menangkap pergelangan tangan Elang secara bersamaan, memutarnya ke belakang dengan kencang, dan menekan tubuh Elang hingga cowok itu terpaksa berlutut di atas lantai marmer yang basah oleh tumpahan kopi.

"Lepas! Lepas, an-jing!" Elang melolong kesakitan, mencoba memberontak membabi buta, namun jepitan fisik dari kedua mahasiswa olahraga itu mengunci gerakannya secara mutlak.

Samudra melangkah mendekat, berjongkok di depan Elang yang kini sedang berlutut terhina di bawah kakinya. Dia mencengkeram rambut Elang dengan kasar, memaksa kepala Elang untuk mendongak menatap wajahnya.

"Dengar baik-baik, Elang. Hari-hari di mana lo bisa memerintah orang lain di kampus ini sesukamu, sudah mati. Sekarang, lo gak lebih dari sekadar kesatria tanpa pedang yang harus merangkak di bawah kaki gue. Kalau lo berani angkat muka lagi di depan gue... gue bakal bikin sisa hidup lo di kota ini berubah jadi neraka yang sesungguhnya."

Samudra melepaskan cengkeramannya dengan satu sentakan kasar, membuat kepala Elang terhempas kecil ke bawah.

Di sudut lantai dua koridor yang posisinya tepat berada di atas taman tengah, Citra berdiri bersandar pada pagar pembatas besi, ditemani oleh Kirana. Dari ketinggian itu, mereka memiliki sudut pandang yang sempurna untuk menyaksikan setiap detail adegan perundungan yang kejam di bawah sana.

"Astaga, Cit! Itu si Samudra bener-bener biadab banget!" seru Kirana dengan wajah yang memerah karena geram, meski dirinya sering diperlakukan tidak baik oleh Elang, tapi melihat perlakuan tidak manusiawi Samudra membuatnya geram juga. Tangannya mencengkeram pagar besi, siap melangkah menuju tangga terdekat.

"Gue tahu Elang emang sombong, tapi diinjak-injak kayak gitu di depan semua orang... itu keterlaluan. Kita harus panggil dosen atau satpam, Cit! Yuk, bantuin!"

Sebelum Kirana sempat mengayunkan kaki kirinya untuk melangkah, sebuah tangan yang ramping namun memiliki kekuatan mencengkeram yang begitu kokoh mendarat di atas lengan atasnya. Citra menahan gerakan sahabatnya tanpa mengeluarkan tenaga kasar yang berlebihan, namun presisi genggamannya membuat Kirana terhenti seketika.

"Tetap di posisimu, Kirana," ucap Citra, suaranya terdengar teramat jernih, datar, dan sedingin es malam, tanpa ada riak kepanikan sedikit pun di dalamnya.

Kirana menoleh dengan dahi berkerut, menatap wajah Citra dengan pandangan tidak mengerti. "Cit? Kok lo tega sih? Lo gak lihat si Elang sampai ditekan berlutut di atas lantai kayak gitu?"

Citra tidak menjawab dengan segera. Sepasang mata bulatnya yang tajam laksana mata elang pengawal kerajaan kuno tetap terkunci lurus ke arah bawah, mengamati sosok Elang yang sedang menundukkan kepala di tengah kepungan rombongan Samudra.

Di dalam ruang bawah sadarnya, jiwa Nyai Kencana sedang melakukan analisis psikologis yang mendalam. Di mata purbanya, apa yang sedang dialami oleh Elang sore ini bukanlah sebuah ketidakadilan, melainkan sebuah hukum alam, sebuah proses eksekusi karma atas setiap jengkal keangkuhan, kesombongan, dan kebebalan ego yang dipamerkan pemuda itu di masa jayanya.

Di dunia kesatria kuno Pajajaran, seorang pria yang tidak pernah merasakan kerasnya retakan tanah di dasar penderitaan tidak akan pernah bisa diandalkan untuk menjadi pemimpin yang sejati. Elang telah terlalu lama berlindung di balik benteng harta kakeknya, menjadikannya sebatang lidi yang rapuh di dalam balutan pakaian sutra.

Ego itu harus dihancurkan sepenuhnya hingga menjadi abu, agar raga baru ini bisa dibentuk ulang dari awal,batin Kencana bergolak dengan keteguhan prinsip seorang perisai hidup. Jika aku menolongnya sekarang, ia hanya akan menjadi pria manja yang terus meratapi nasib buruknya. Biarkan dia merasakan dinginnya palung keputusasaan, biarkan dia membakar sisa kemanjaannya dengan air matanya sendiri. Hanya dengan begitu, jiwanya akan bangkit sebagai kesatria sejati.

Citra memilih untuk tetap diam, mengamati dengan tatapan mata yang sedalam lautan purba, membiarkan jalannya takdir bergulir mengikis sisa-sisa keangkuhan palsu milik Elang tanpa intervensi sedikit pun.

Beberapa menit kemudian, Samudra berdiri dan berjalan pergi membelah kerumunan mahasiswa dengan tawa kemenangan yang menggema tinggi, diikuti oleh sirkelnya yang melangkah dengan congkak.

Kerumunan mahasiswa di sekitar selasar pun perlahan-lahan mulai membubarkan diri seiring dengan berbunyinya bel tanda masuk kelas jam berikutnya, menyisakan kesunyian yang pekat di area taman tengah.

Elang perlahan-lahan bangkit dari posisi berlututnya. Tubuhnya bergoyang kecil, tidak stabil. Ia berdiri sendirian di tengah selasar yang mulai sepi ditiup angin sore yang dingin. Elang menundukkan kepalanya, menatap kedua telapak tangannya yang kini dipenuhi oleh noda kopi hitam dan debu lantai marmer.

Tangannya gemetar hebat, bukan karena rasa sakit fisik di pergelangan tangannya, melainkan karena amarah, rasa malu, dan keputusasaan psikologis yang luar biasa hebat yang kini telah menguasai seluruh rongga dadanya.

1
Darma
hik kasihan citra
Apis
thor sebenernya ceritanya bagus tp gmn ya bnyk kata" yg g sat set ke inti jln ceritanya
Mamah Nissa: siap kk di bab awal lebih banyak bercerita, sedikit dialog ya. makasih sarannya kak, ini tanggung di draft udah sampe bab 32. bab 33 ke sana coba dibikin yang lebih simple.
total 1 replies
Sarah
Woahh, bab 1 yang keren. Meskipun kadang paragraf kerasa tetlalu panjang. Tapi masih enak diliat sih. 👍
Mamah Nissa: Makasih kakak sudah mampir mohon bimbingannya...
total 1 replies
Mamah Nissa
siap kk. makasih dah mampir mohon bimbingannya
putratunggal
mantaps ceritanya meski baru awal
Mamah Nissa: makasih kak mohon bimbinganya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!