Mengetahui suaminya berselingkuh, Raina memilih tidak menangis. Baginya, pengkhianatan harus dibalas dengan cara yang sama.
Nyawa bayar nyawa. Selingkuh balas selingkuh.
Target balas dendamnya adalah Hadiraksa Gautama... suami dari Monica, wanita yang merebut rumah tangganya.
Raina mendekati Hadi yang selama ini dianggap pria gagal oleh istrinya sendiri: miskin, tak punya masa depan, dan hidup dari belas kasihan keluarga. Namun siapa sangka, di balik penampilan sederhananya, Hadi menyimpan identitas sebagai pengusaha muda kaya raya yang sengaja menyembunyikan status demi menguji cinta Monica.
Saat permainan balas dendam dimulai, perasaan ikut berubah.
Robby mulai menyesali perselingkuhannya. Monica panik setelah mengetahui pria yang ia buang ternyata jauh lebih berharga dari yang ia kejar.
Mereka ingin kembali pada pasangan masing-masing.
Tapi terlambat...
Karena dua hati yang awalnya dipersatukan oleh luka, perlahan berubah menjadi candu dan saling cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berubah
Café itu tidak terlalu ramai di hari Selasa siang, beberapa meja terisi pasangan muda dan satu dua orang yang bekerja dengan laptop, musik latar yang cukup pelan untuk tidak mengganggu percakapan tapi cukup keras untuk menutupinya dari meja sebelah.
Monica memilih sudut paling belakang.
Kebiasaan lama.
Ia sudah duduk lebih dulu ketika Robby datang... meletakkan tasnya di kursi sebelah, membuka kacamata hitamnya karena di dalam ruangan tidak perlu lagi berpura-pura. Robby menggeser kursinya lebih dekat sebelum duduk, dan Monica langsung bersandar ke bahunya.
Tangan mereka bertemu di atas meja.
"Kamu pesan apa?" tanya Robby, mereka tak perlu melihat daftar menu. Karena semuanya sudah mereka hafal di luar kepala.
"Latte seperti biasa. Sudah aku pesan tadi." Monica mendongak, menatap sisi wajah Robby dari dekat. "Kamu telat lima menit."
"Macet di perempatan."
"Selalu ada alasan." Tapi Monica tersenyum, dan jarinya memainkan jari-jari Robby di atas meja.
Pelayan datang membawa dua gelas. Mereka diam sebentar menunggu pelayan pergi.
"Sayang." Monica menyeruput lattenya. "Belakangan ini Hadi aneh."
Robby mendongak dari teleponnya. "Aneh gimana?"
"Jadi lebih diam." Monica mengernyit sedikit, bukan karena khawatir... lebih karena tidak biasa. "Kamu tahu kan dia tipe yang cerewet. Pulang kerja pasti langsung tanya aku dari mana, makan apa, kenapa pulang malam. Nyebelin." Ia mengedikkan bahu. "Tapi belakangan ini dia tidak tanya apa-apa. Pulang, diam, tidur. Besok pagi pergi lagi."
"Mungkin capek." sahut Robby asal.
"Hadi tidak pernah secapek itu." Monica meletakkan gelasnya. "Ini beda, Rob. Dia seperti... tidak peduli."
Robby memutar gelasnya perlahan di meja. "Raina juga."
Monica menoleh. Alisnya terangkat.
"Dia yang biasanya paling perhatian... siapin kopi, tunggu aku sampai malem, tanya udah makan belum." Robby menghembuskan napas. "Sekarang sejak kerja, pulang langsung masuk kamar. Kadang masak kadang tidak. Kemarin aku mau ngomong sesuatu dia sudah ngilang ke dapur duluan."
Monica diam beberapa detik, jarinya berhenti memainkan jari Robby.
"Menurut kamu..." ia berkata pelan, "mereka tahu?"
Robby langsung menggeleng. "Tidak mungkin."
"Kamu yakin?"
"Mon, kita sudah main cantik. Aplikasi chatnya bukan WhatsApp biasa, nggak ada yang bisa buka tanpa tahu..."
"Tapi..."
"Raina bukan tipe yang diam kalau tahu."** Robby memotong dengan nada yang lebih meyakinkan dari sebelumnya... meyakinkan dirinya sendiri sama kerasnya dengan meyakinkan Monica. "Kamu kenal dia? Orangnya ekspresif. Kalau dia tahu, sudah dari minggu lalu dia nangis sambil lempar piring."
Monica menatapnya sebentar. Kemudian sisi bibirnya naik pelan.
"Hadi juga," katanya. "Kalau dia tahu, dia tipe yang langsung konfrontasi. Tidak bisa diam."
"Nah." Robby mengambil kopinya. "Jadi kita tidak perlu khawatir."
Monica menyandarkan kepalanya kembali ke bahu Robby... lebih santai sekarang, ketegangan yang tadi ada di bahunya mengendur.
"Sebenarnya... diamnya mereka itu malah enak." ujar Monica.
"Maksudnya?"
"Ya... sekarang kamu tidak perlu capek-capek bikin alasan setiap kali pulang malam. Aku juga, Hadi bahkan tidak tanya lagi. Jadi kita bebas." Monica refleks memeluk. Sebagai bentuk ekspresi dari rasa bahagia.
Robby tertawa pendek sambil mencolek ujung hidung Monica dengan gemas. "Kamu ya?"
"Apa?" Monica tertawa manja, sambil memukul lengan yang setiap hari selalu memeluknya.
"Selalu bisa nemuin sisi positifnya."
Monica mendongak ke arahnya, "Karena panik tidak ada gunanya."
Robby menunduk, mencium bibirnya... singkat, cepat, di café dengan beberapa meja terisi di sekitar mereka.
Monica kembali memukul lengannya dengan telapak tangan, wajahnya sedikit memerah. "Sayang!"
"Apa." Robby pura-pura tidak tahu apa yang baru saja ia lakukan.
"Di sini orangnya banyak..." bisik Monica malu, sambil melihat ke sekelilingnya. Apakah ada orang yang menyadari perbuatan mereka tadi.
"Tidak ada yang kenal kita." Robby terlalu masa bodo. Ia yakin, semua pengunjung di cafe ini tidak ada yang kenal mereka.
Monica menyembunyikan senyumnya di balik gelasnya. "Menyebalkan."
"Tapi kamu senang."
"Tidak."
"Monica." Robby memanggil dengan nada rendah penuh goda.
Iya." Ia menyeruput lattenya sambil berusaha untuk tidak tersenyum. "Sedikit."
Robby menggeser duduknya lebih dekat. "Kalau mau yang lebih dari sedikit..."
"Hotel?" Monica memotong langsung. Tahu, kemana arah akhir dari percakapan mereka.
"Kamu duluan yang bilang." Robby tersenyum penuh kemenangan.
"Karena aku tahu kamu mau bilang itu." Monica menegakkan duduknya, sisi bibirnya naik. "Tapi bukan yang kemarin itu lho. Yang itu sprei-nya bau."
"Grand Serena?" terkadang Robby. Yang sudah sangat hafal selera kekasihnya.
"Minimal."
Robby menghitung di kepalanya... tanggal gajian masih sembilan hari lagi, saldo di rekening utamanya setelah transfer bulan ini ke Monica tinggal sedikit, dan Grand Serena untuk satu malam berarti...
"Gaji belum turun," katanya. Setelah menghitung cepat dalam kepala.
Monica langsung melepaskan sandarannya dari bahu Robby. "Serius?"
"Tanggung bulan."
"Robby." Nada suaranya turun satu oktaf... bukan seperti biasa ia marah pada Hadi, tapi kali ini ngambek yang berbeda, lebih manja dan justru karena itu lebih efektif. "Masa sekarang mau ke hotel murahan?"
"Sebentar aja, Mon..." Robby membujuk.
"Aku tidak mau yang sprei-nya tipis dan AC-nya berisik. Tidak mau." Monica berbalik sedikit ke arah yang lain, memainkan gelasnya sendiri.
Robby menghela napas. Kemudian: "Uang bulanan bulan depan aku tambah."
Monica berhenti memainkan gelasnya. "Berapa?" tanyanya... masih ke depan, belum menoleh.
"Dua juta lebih."
Tiga detik.
"Tiga juta." tawar Monica.
"Mon..."
"Dua setengah." Monica akhirnya menoleh. "Final."
Robby menatapnya. Di dalam kepalanya, angka-angka bergerak makin cepat. Tapi Monica sudah menatapnya, dan Robby tidak pernah pandai berkata tidak untuk tatapan seperti itu.
"Oke." Robby setuju.
Monica tersenyum kecil. Ia meletakkan tangannya kembali di tangan Robby. "Kita pergi sekarang?"
---
Di taman kantor, Raina meletakkan kotak bekal di antara mereka... satu untuk Hadi, satu untuk dirinya sendiri.
"Ini apa?" tanya Hadi, mengintip isinya.
"Nasi, ayam geprek, lalap." Raina membuka kotak miliknya. "Aku buat tadi pagi. Bangun lebih awal."
"Kamu tidak perlu selalu..."
"Mas Hadi." Raina menatapnya dengan ekspresi yang sudah sangat Hadi kenal dalam dua minggu terakhir. "Makan."
Hadi membuka kotak bekalnya.
Suapan pertama. Kemudian ia menghentikan kunyahannya sebentar, menatap kotak itu dengan ekspresi yang tidak bisa ia sembunyikan sepenuhnya.
"Kamu masak selalu enak," katanya akhirnya.
"Kamu bilang itu setiap hari." Raina menunduk ke kotak bekalnya sendiri, menyembunyikan sesuatu di sudut bibirnya.
Di sekitar mereka, taman kantor yang tidak terlalu luas itu cukup teduh untuk jam makan siang... beberapa bangku kayu di bawah pohon, orang-orang yang duduk berpencar, suara kendaraan dari jalan besar yang terhalang tembok gedung. Hadi dan Raina sudah duduk di bangku yang sama setiap hari sejak dua minggu lalu...bukan direncanakan, tapi menjadi kebiasaan.
"Rain." Panggil Hadi, disela mereka makan.
"Hm?"
"Tadi Laras kirim laporan." Hadi berkata tanpa mengubah nada. "Siang ini mereka check in lagi."
Raina mengunyah suapannya. Menelan. Mengambil minum.
"Oh." jawab Raina santai.
Hadi menatapnya bingung. "Hanya 'oh'?"
"Apa yang harus aku bilang?" Raina meletakkan botol minumnya. "Aku sudah tidak kaget. Sudah tidak marah juga sebetulnya... yah, marah sedikit. Tapi tidak sekaget pertama kali."
"Kamu benar-benar sudah tidak peduli?"
Raina berpikir sebentar... benar-benar berpikir, bukan menjawab cepat. "Lebih ke... aku sudah berhenti mengharapkan sesuatu yang berbeda dari dia." Ia menarik napas pelan. "Kalau kamu berhenti berharap, kamu juga berhenti kecewa."
Hadi diam sebentar. "Tapi kamu masih di sana. Masih pulang ke rumah yang sama, masih tidur di kasur yang sama."
Raina tidak langsung menjawab.
Di taman itu, angin bergerak pelan di antara daun-daun, membawa serta suara samar dari gedung di sekitarnya. Raina menatap kotak bekalnya... nasi yang sudah berkurang setengah, lalap yang belum disentuh.
"Ibu."
Hadi menoleh.
"Ibu mertuaku." Suara Raina lebih pelan sekarang... bukan sedih, tapi seperti berbicara tentang sesuatu yang berharga dan rapuh sekaligus. "Beliau sakit jantung. Sudah dua tahun ini. Setiap kali kondisinya naik sedikit, aku yang paling lega... lebih lega dari Robby sendiri, mungkin."
"Kamu dekat dengannya?" tanya Hadi penasaran.
"Sangat." Raina berhenti sebentar. "Ibuku pergi waktu aku delapan tahun. Ibu mertua yang mengisi tempat itu... mungkin beliau sendiri tidak tahu seberapa besar. Beliau yang pertama kali nelpon waktu aku sakit demam setelah nikah. Beliau yang ajari aku resep-resep masakan. Beliau yang..."* Raina menggeleng pelan. "Kalau perselingkuhan ini terbuka sekarang, dengan kondisi jantungnya... aku tidak mau membayangkan."
Hadi menatapnya lama. "Jadi kamu bertahan bukan untuk Robby."
"Tidak pernah untuk Robby." Raina berkata pelan tapi yakin dan tegas. "Untuk Ibu."
Angin bergerak lagi di antara daun-daun.
Hadi meletakkan sendoknya. Menatap taman di depannya dengan pandangan yang menerawang jauh.
"Mas Hadi." Raina menoleh ke arahnya. "Kenapa kamu sendiri kenapa masih bertahan?" Raina menatap wajahnya... rahang yang mengeras di ujungnya, mata yang tidak sepenuhnya di sini. "Waktu aku datang malam itu, waktu aku kasih buktinya... aku pikir kamu akan langsung konfrontasi Monica. Tapi kamu tidak."
Hadi tidak langsung menjawab.
Ia mengambil botol minumnya, membukanya, tapi tidak langsung minum... hanya memegang, memutar tutupnya di antara jarinya.
Robby dan Monica mungkin akan kacau, karena Monika tahunya hanya menahan uang