Sìang itu pesawat Bomber Martin B-10 Belanda terbang rendah di langit RANCAGAOK
BOOOOM!!!
Cahaya putih menyilaukan membelah malam. Tanah terlempar ke udara. Atap rumah Pak Lurah terangkat lalu hancur berkeping-keping.
"Turun!" teriak Bayu.
Semua menjatuhkan diri ke tanah. Debu dan pecahan bambu menghujani punggung mereka. Bau mesiu dan kayu terbakar memenuhi udara.
*TAT... TAT... TAT...*
Suara tembakan dari udara menyisir tanah. Peluru menancap ke batang pisang dan pematang sawah. Bayu menarik Astri ke bawah parit.
Bayu, Karta, Ningsih, Astri bertekad untuk merebut kampung halaman mereka dari tangan belanda hanya bermodal tekad berjuang dan senjata seadanya.
Kisah perjuangan anak muda melawan penjajah, semoga jadi pengibar semangat anak muda Indonesia" MERDEKA"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galuh pravitasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2 : DENTUMAN DARI LANGIT
Dengung itu datang pertama kali seperti lalat jauh. Halus, hampir tidak terdengar, kalah oleh suara jangkrik dan gemerisik daun pisang yang ditiup angin malam. Bayu terbangun bukan karena suara. Ia terbangun karena dadanya terasa berat. Ada firasat yang menekan, seperti ada batu diletakkan di atas dadanya saat ia masih terlelap.
Ia duduk di bale-bale. Langit masih gelap, tapi di ufuk barat ada titik-titik kecil bergerak. Berbaris. Terlalu rapi untuk jadi bintang.
"Apa itu?" bisiknya.
Dari rumah sebelah, Karta juga keluar. Ia mengucek mata, menguap, lalu menatap ke arah yang sama. Wajahnya yang biasanya cerah mendadak kaku.
"Sia, Bayu... itu pesawat, bukan?" tanya Karta pelan.
Bayu tidak menjawab. Ia berdiri. Tanah di bawah kakinya terasa dingin. Ayam-ayam di kandang mulai gelisah. Anjing Pak Somad melolong panjang. Di kejauhan, suara dengung makin jelas. Bukan satu. Banyak. Beriringan seperti kawanan burung besi.
"Bangunkan semua orang," kata Bayu cepat. Suaranya bergetar tapi dipaksa tenang. "Sekarang."
Karta langsung berlari mengetuk pintu. "Pak! Bu! Bangun! Keluar semua!"
Satu persatu pintu bambu terbuka. Warga keluar dengan mata mengantuk, membawa lampu minyak. Mbah Kartareja keluar paling terakhir, berjalan dengan tongkat. Wajahnya keriput menatap langit.
"Pesawat Belanda," gumamnya.
"Dulu waktu aku muda juga begitu. Sebelum mereka bom Ciamis."
"Kita sembunyi ke mana, Mbah?" tanya Bu Siti panik. Tangannya menggenggam Aci Cemong erat.
"Ke sawah. Ke parit. Ke mana saja yang ada tanah," jawab Mbah Kartareja.
"Jangan di rumah."
Bayu menarik napas dalam. Ia menatap warga. Tiga belas keluarga. Anak-anak, orang tua, perempuan. Tidak ada tempat berlindung. Tidak ada senjata.
"Ke sungai," perintah Bayu.
"Cepat. Ikut aku. Jangan bawa apa-apa kecuali anak."
"Karta, kamu di belakang. Pastikan tidak ada yang tertinggal," tambah Bayu.
"Siap," jawab Karta. Wajahnya sudah tidak ada tawa.
Mereka berlari. Langkah kaki menghantam tanah. Lampu minyak padam karena angin. Gelap. Hanya cahaya dari langit yang makin terang karena pesawat itu turun. Suara mesinnya sekarang seperti guntur menggelinding di atas kepala.
Anak-anak menangis. Ibu-ibu menggendong bayi sambil berlari. Bayu sesekali menoleh ke belakang. Astri berlari di tengah, digandeng Ningsih. Napasnya tersengal.
"Lebih cepat!" teriak Bayu.
Dan kemudian dunia pecah.
*BOOOOM!!!*
Cahaya putih menyilaukan membelah malam. Tanah terlempar ke udara. Atap rumah Pak Lurah terangkat lalu hancur berkeping-keping.
"Turun!" teriak Bayu.
Semua menjatuhkan diri ke tanah. Debu dan pecahan bambu menghujani punggung mereka. Panas menjilat dari arah kampung. Bau mesiu dan kayu terbakar memenuhi udara.
*TAT... TAT... TAT...*
Suara tembakan dari udara menyisir tanah. Peluru menancap ke batang pisang dan pematang sawah. Bayu menarik Astri ke bawah parit.
"Jangan angkat kepala, menunduk!"
BOOOOM!!!
Dentuman kedua. Kali ini lebih dekat. Ladang Bayu yang kemaren ia rapikan pagarnya, kini jadi kawah. Padi yang menguning hangus dalam sekejap. Api menjalar cepat memakan jerami kering.
"Karta!" teriak Bayu.
"Aku di sini!" jawab Karta dari balik gundukan tanah. Wajahnya penuh debu. "Aci Cemong aman!"
BOOOOM!!!
BOOOOM!!!
BOOOOM!!!
Bumi tidak berhenti bergetar. Dentuman susul menyusul. Rumah-rumah meledak satu persatu. Masjid kayu runtuh dengan suara kayu patah yang panjang.
Bayu merangkak mendekati Astri. Gadis itu meringkuk, menutup kepala dengan kedua tangan. Bahunya gemetar.
"Astri," panggil Bayu pelan.
Astri mengangkat wajah. Matanya basah. "Bayu... Ibu... Ibu masih di rumah."
"Kita jemput," kata Bayu. Ia menggenggam tangan Astri.
"Tunggu di sini. Jangan ke mana-mana."
Ia berlari.
*TAT... TAT... TAT...*
Peluru masih menyisir dari atas. Ia menunduk. Asap tebal menghalangi pandangan. Panas membakar kulit. Ia menendang pintu rumah Astri yang sudah miring. Di dalam, Ibu Astri tergeletak di bawah balok bambu.
"Ibu!" Bayu mengangkat balok itu dengan seluruh tenaga. Ototnya terasa mau putus. Ia menggendong tubuh Ibu Astri keluar. Punggungnya terbakar karena atap yang runtuh.
Di luar, Karta langsung menyambar tubuh itu. "Aku bawa. Kamu urus yang lain!"
Bayu mengangguk. Tenggorokannya perih karena asap. Ia berlari lagi.
BOOOOM!!!
Ledakan lain di belakangnya. Tanah menyembur. Ia menolong Embek Gombloh yang kakinya tertimpa kayu. Menarik Bu Siti yang pingsan. Menggendong dua anak kecil yang menangis mencari ibunya.
Lalu... hening.
Pesawat-pesawat itu pergi. Menjauh. Meninggalkan langit yang dipenuhi asap hitam. Sunyi. Sunyi yang lebih menakutkan dari suara bom.
Yang tersisa hanya api yang membakar dan isakan tertahan dari warga.
Bayu berdiri di tengah jalan. Napasnya tersengal. Bajunya sobek. Tangannya melepuh. Di depannya, kampung yang semalam masih damai kini jadi lautan api. Pagar bambu yang ia ikat pagi tadi jadi arang. Pohon nangka tempat mereka makan gosong. Sungai Citanduy memantulkan cahaya merah.
"Karta," panggilnya serak.
Karta menghampiri. Ia membawa Ibu Astri yang masih pingsan. Di belakangnya, warga yang selamat berkumpul. Wajah mereka hitam oleh jelaga. Mata mereka kosong.
"13...." kata Karta pelan. "Yang selamat cuma 13, Yu."
Tidak ada yang bicara. Hanya keheningan yang berat menekan dada.
Bayu berjalan ke tengah kampung. Ia berhenti di depan tanah miliknya. Kawah besar menganga di sana. Bekasnya masih berasap. Tidak ada pagar. Tidak ada padi. Hanya tanah hangus dan asap.
"Kenapa?" bisiknya. "Kenapa mereka..."
"Karena kita bukan siapa-siapa, Yu," jawab Karta. Suaranya datar. Tidak ada canda.
"Karena kita petani. Karena tanah ini."
Bayu mengepalkan tangan. Kukunya menancap ke telapak. Sakit. Tapi tidak seberapa dibanding dada yang rasanya mau pecah.
"Kita tidak bisa di sini," kata Bayu akhirnya. Ia menoleh ke warga.
"Kita pergi. Sekarang. Sebelum mereka kembali."
"Ke mana?" tanya Pak Somad. Suaranya parau.
"Ke hulu Citanduy. Ada gua. Kita bertahan di sana dulu."
Tidak ada yang menolak. Tidak ada tenaga untuk bertanya. Mereka hanya mengangguk.
Mereka berjalan. Meninggalkan rumah. Meninggalkan makam. Meninggalkan semua yang mereka punya.
Di belakang, api masih menyala. Menerangi wajah mereka yang basah oleh air mata dan keringat.
Di tengah jalan, Bayu berhenti. Ia menatap ke arah reruntuhan rumahnya. Di atas puing, masih ada kendi tanah liat yang tidak pecah. Pemberian ibunya.
Ia mengambilnya. Menggenggamnya erat.
"Kita akan kembali," katanya pelan. Hanya untuk dirinya sendiri.
"Ke tanah ini. Kita bangun lagi."
Karta berdiri di sampingnya. Ia tidak bercanda. Ia hanya menepuk pundak Bayu sekali.
"Ke mana kamu pergi, aku ikut," kata Karta.
"Ingat janji kita."
Bayu mengangguk. Ia menatap ke depan. Jalan setapak yang gelap. Hutan yang menunggu. Masa depan yang tidak ia mengerti.
Tapi satu hal ia tahu pasti.
Pagi yang sebentar lagi bahagia itu sudah mati.
Dan dari abunya, mereka harus mulai lagi.