NovelToon NovelToon
Menyamar Sebagai Pria, Aku Hamil Anak Musuh!

Menyamar Sebagai Pria, Aku Hamil Anak Musuh!

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Identitas Tersembunyi / Menikah dengan Musuhku
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Zhao_Xena

Sejak kecil, Evelyn dipaksa hidup dengan identitas palsu sebagai Evan—seorang laki-laki. Demi menyelamatkan harta keluarga dari tangan anak haram ayahnya, ia dididik layaknya pria dan dikirim menyusup ke perusahaan musuh untuk menjadi mata-mata.

Namun takdir berkata lain. Di sebuah kapal pesiar, ia terjebak dalam satu malam panas bersama Damian, sang bos besar yang juga musuh bebuyutan keluarganya. Dalam kabut obat dan gairah, Damian tak pernah tahu siapa wanita yang menemaninya malam itu.

Evelyn pergi membawa rahasia besar: ia hamil. Ia menghilang ke luar negeri, dikucilkan oleh ibunya sendiri, hingga tiga tahun berlalu. Kini ia kembali bukan lagi sebagai Evan si pekerja keras, melainkan bersama buah hatinya yang bernama Axel.

Damian yang tak pernah berhenti mencari sosok wanita misterius itu, perlahan mulai menyambung benang merah. Dan saat ia melihat kemiripan yang tak terbantahkan antara si kecil Axel dengan dirinya sendiri, permainan baru pun dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhao_Xena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 9 ~ Ditengah Ketidak Adilan

Jantung Evan berdegup kencang seolah mau melompat keluar dari rongga dadanya. Rasa panik yang tiba-tiba menyerangnya membuat lidahnya terasa kaku, seolah sulit untuk mengeluarkan kata-kata yang tepat. Ia berusaha keras menahan diri agar tidak gemetar di bawah tatapan tajam itu.

Evan menelan ludah dengan susah payah, berusaha menjawab dengan tenang meski hatinya bergemuruh hebat.

"Ini... ini sebenarnya parfum milik kakak saya, Tuan," ucapnya pelan namun meyakinkan. "Kebetulan parfum yang biasa saya pakai habis kemarin, jadi saya meminjamnya darinya."

Damian mengernyitkan dahi, menatapnya lekat-lekat penuh selidik. "Kakak?"

"Iya, Tuan."

"Laki-laki atau... perempuan?" tanyanya perlahan, nada bicaranya menekan penuh dugaan.

Evan tidak bergeming, matanya tetap berani menatap balik meski keringat dingin mulai mengucur halus di pelipisnya. "Laki-laki, Tuan."

Damian terdiam sejenak, terperangah mendengar jawaban itu. Memang, wanginya memiliki karakteristik yang umumnya dipakai seorang pria, namun dengan kelembutan dan kesan yang begitu halus... entah mengapa, ia tetap merasa aroma itu tak asing, namun masih samar.

Ia menghela napas panjang, perlahan mengendurkan ketegangannya namun kecurigaan di matanya belum sepenuhnya hilang.

"Baiklah..." ucapnya pelan, memberi isyarat tangan. "Kau boleh keluar sekarang."

Evan segera mengangguk sopan, lalu berbalik dan melangkah keluar dari ruangan itu secepat mungkin.

Cklek.

Begitu pintu tertutup rapat di belakangnya, ia langsung mengusap dadanya dengan napas lega yang teramat panjang, merasa seolah beban berat baru saja terangkat dari pundaknya. Tanpa menunda lagi, ia segera melangkah menyusuri lorong menuju ruang kerjanya sendiri dengan hati yang masih berdebar kencang namun jauh lebih tenang.

••

••

Malam ini, di kediaman megah keluarga Harley, suasana meja makan terasa hening dan kaku. Di sana berkumpul para anggota keluarga, namun jarak emosional di antara mereka terasa begitu nyata.

"Bagaimana kinerjamu di perusahaan itu akhir-akhir ini?" tanya Tuan Harley tiba-tiba, suaranya tegas memecah keheningan. "Apakah semua berjalan lancar? Jangan sampai ada kesalahan sekecil apa pun yang bisa merusak rencana kita."

Evan menelan ludah pelan, menundukkan pandangan sejenak sebelum menjawab dengan nada setenang mungkin.

"Semua berjalan baik, Ayah. Saya tetap menjalankan tugas seperti biasa, tidak ada kendala sama sekali."

Arlos yang mendengarnya hanya tersenyum tipis, sebuah senyum yang tak sampai ke matanya.

"Bagus," sahut Tuan Harley pelan sambil menaruh sendoknya, menatap tajam ke arah Evan. "Ingat, rencana ini sudah kita susun matang-matang. Jangan sampai kau terbuai oleh kenyamanan atau kebaikan orang lain, terutama Damian Foster. Dia bukan lawan yang bisa diremehkan."

Evan mengangguk patuh, dadanya terasa sesak mendengar peringatan itu namun ia berusaha tetap tenang.

"Aku mengerti, Ayah. Aku tidak akan lengah."

Di sampingnya, Arlos ikut angkat bicara dengan nada santai namun penuh makna.

"Benar sekali. Kita semua berharap kesuksesan ini ada di tanganmu, Evan. Jangan sampai ada hal kecil yang tak terduga menghalangi."

Evan hanya diam, menunduk perlahan menyembunyikan kilatan takut di matanya. Ia sadar, setiap kata yang terucap di meja makan ini seolah menjadi pengingat bahwa ia sedang berjalan di atas tepi jurang yang sangat curam.

Namun tiba-tiba, Nyonya Chatarina meletakkan sendoknya dengan agak keras, suaranya terdengar tegas dan penuh kekesalan memecah suasana kaku itu.

"Hentikan!" tegurnya tajam, menatap lurus ke arah suaminya maupun Arlos. "Kenapa kalian terus-terusan menekannya? Dia bekerja mati-matian di sana, berkorban menyembunyikan jati dirinya setiap hari. Sementara, lihatlah Arlos... dia bisa berdiri tegak dengan jati dirinya sendiri, memegang jabatan terhormat, dan memimpin sebagian besar perusahaan dengan nyaman."

Ia menatap tajam ke arah Arlos, sorot matanya penuh kebencian yang tak bisa disembunyikan.

"Padahal jelas-jelas, Evan adalah anak sah dari istri pertama, pewaris sejati keluarga ini. Sedangkan dia..." ucapnya menunjuk Arlos dengan tatapan meremehkan, "...hanyalah anak hasil perselingkuhan, anak haram yang tak seharusnya mendapat hak istimewa itu. Rasanya tidak adil, kenapa Evan harus disusahkan menjadi mata-mata, sementara dia yang hidupnya penuh kemewahan dan dihormati?"

Keheningan seketika menyelimuti ruangan. Evan tertegun, tak menyangka ibunya justru berani membela dirinya sejelas itu di hadapan semua orang..Wajah Tuan Harley seketika berubah merah padam mendengar ucapan itu, napasnya memburu menahan amarah yang meluap.

"Cukup, Chatarina!" bentaknya keras, memukul meja makan dengan telapak tangan hingga piring-piring di sana bergetar. "Jangan pernah kau bahas hal itu lagi di sini! Arlos tetap anakku, dia sudah terbukti mampu dan setia pada keluarga ini. Sedangkan Evan.. tugas yang diembannya adalah sebuah kehormatan dan pengorbanan demi kepentingan kita semua. Jangan kau campur adukkan soal status dan hak waris di meja makan ini!"

Suasana menjadi mencekam seketika. Arlos hanya tersenyum tipis, namun tatapannya dingin dan tajam menusuk, seolah tak terganggu sedikitpun justru menikmati ketegangan yang terjadi. Ia melirik sekilas ke arah Evan, lalu kembali menatap Nyonya Chatarina dengan pandangan penuh kemenangan.

"Mama tidak perlu marah begitu," ucap Arlos tenang namun merendah. "Aku hanya melakukan apa yang saya bisa demi keluarga ini. Jika Evan mampu menunjukkan kemampuannya seperti yang Mama katakan, tentu dia akan mendapatkan tempat yang layak. Namun, dunia luar keras, Ma. Bukan hanya bermodal status sah saja."

Nyonya Chatarina mengepalkan tangannya di bawah meja, menahan diri agar tidak meledak kembali, namun hatinya semakin terasa perih melihat bagaimana anaknya diposisikan rendah dibandingkan orang asing itu. Evan hanya diam membisu, menunduk dalam merasakan betapa besarnya jurang pemisah dan ketidakadilan yang nyata di hadapannya.

Tiba-tiba, Nyonya Chatarina bangkit berdiri perlahan, suaranya bergetar namun tegas memecah kebisuan.

"Bagiku, tetap saja ada ketidakadilan di sini," ucapnya, menatap tajam suaminya tanpa rasa takut. "Aku tidak akan pernah setuju jika anakku terus dikorbankan, sementara orang lain menikmati hasilnya dengan mudah."

Ia kemudian berbalik menatap Evan dengan sorot mata lembut namun penuh kasih sayang, kontras dengan sikapnya sebelumnya. Dan terakhir melemparkan tatapan tajam terakhir ke arah mereka berdua, lalu melangkah keluar sendirian dari ruang makan tanpa menoleh sedikitpun.

Sisa makan malam berlangsung dalam keheningan yang menyiksa, hingga akhirnya momen itu pun usai. Evan segera beranjak dan melangkah menuju kamarnya.

Begitu berada di dalam dan pintu tertutup rapat, ia duduk terdiam di tepi ranjang, menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong. Pikirannya melayang kembali pada pertengkaran di meja makan, pada ketegangan yang terus-menerus terjadi, serta ketidakadilan yang begitu nyata di hadapannya.

Ia merenung betapa beratnya beban yang harus ia pikul setiap hari, harus menyembunyikan jati dirinya, bekerja layaknya mata-mata, serta hidup di tengah keluarga yang penuh pertikaian dan rasa saling curiga.

Rasa lelah luar biasa mendera jiwanya, membuatnya merasa begitu kecil dan kesepian di tengah segala kekacauan ini.

Perlahan Evan berdiri, hendak mengganti pakaian kerjanya dengan yang lebih longgar dan nyaman. Tangannya mulai bergerak membuka satu persatu lilitan kain ketat yang membungkus lekukan tubuhnya dengan rapat. Satu-satunya cara agar bentuk aslinya tak terlihat oleh siapa pun dan identitasnya tetap aman.

Namun tiba-tiba...

Cklek!

Suara pintu kamar yang terbuka terdengar jelas memecah keheningan malam itu, membuat Evan tersentak hebat dan langsung membeku di tempat.

DEG.

❤️

1
You `ka
ayo ikutin Damian... semoga kali ini damian tau siapa evan
You `ka
ternyata Arlos dalangnya. dia nggak sadar karena perbuatannya Evelyn hamil dan harus pergi ke London...
You `ka
iya .. Daddy Axel sangat tampan 🤣🤣
gemess sama Axel
You `ka
sebenarnya Tuan Harley gengsi untuk mengakuinya kalau dia tidak rela jauh dari Axel
Zhao_Xena: mana iya, lagi...🤣🤣
total 1 replies
You `ka
yakin kamu Damian.. kalau tau nanti Evan ternyata putra Harley dan wanita yang bersama kamu dikapal.. gimana reaksinya..😆😆
You `ka
opa maluu....ucukk.. ucukk.. gamesnya sama Axel..😆😆
You `ka
jantungan nggak tuh Tuan Harley..🤣🤣🤣
Zhao_Xena: /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
You `ka
tetap semangat thor.... makin kesini makin buat penasaran ceritanya...💪💪
Zhao_Xena: terimakasih banyak
total 1 replies
You `ka
ayo cari mereka Damian 💪💪😆😆
You `ka
lanjut💪
You `ka
haduh.. dag-dig-dug aku yang baca. takut ketahuan...😭😭
You `ka
Damian akan sangat kecewa mungkin akan melakukan hal yang tidak bisa kamu bayangkan Evelyn, jika kamu benar-benar mengkhianatinya.

tapi jadi Evelyn juga pasti tidak akan mudah, dibawah tekanan keluarga,.dia harus melakukan semuanya
You `ka
mungkin lebih baik memang pergi Evelyn.. tinggalkan keluarga toksik itu
You `ka
hamil pasti..🫣🫣
You `ka
pasti sekarang Damian dan Haris merasa sama-sama merasa sudah gila 😆😆
You `ka
🤣🤣🤣🤣 Damian merasa tertarik pada Evan..
Cty Badria
satu kata untuk Evelyn ...bodoh mau di jadikan pion. kl ketauan jadi buronan. bpk dazal enak aja ongkang2 kaki...
You `ka
jangan-jangan Evelyn hamil yah??🫣🫣
Zhao_Xena: coba tebakkk...🤣🤣
total 1 replies
You `ka
🤣🤣🤣 justru kalau pingsan nanti kamu bisa tau.. dia laki-laki atau perempuan..
Zhao_Xena: waduhh
total 1 replies
You `ka
Tuan Harley kayak pilih kasih, padahal yang seharusnya memimpin bukannya Evan, sebagai keturunan yang sah..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!