NovelToon NovelToon
Jurig Jarian

Jurig Jarian

Status: sedang berlangsung
Genre:Roh Supernatural / Horor
Popularitas:339
Nilai: 5
Nama Author: Pena Lullaby

Di sebuah kampung tua di pinggiran Jawa Barat, muncul teror mengerikan dari sosok makhluk yang dipercaya sebagai Jurig Jarian — hantu penghuni tempat sampah yang lahir dari kebencian, keserakahan, dan sampah manusia yang menumpuk selama puluhan tahun. Siapa pun yang membuang sesuatu sembarangan pada malam tertentu akan mendengar suara garukan dari tong sampah… sebelum akhirnya menghilang tanpa jejak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Lullaby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aroma Jarian

Lima tahun setelah tawa bahagia di taman universitas itu berlalu, kehidupan membawa Adrian, Dinda, dan Bagas ke persimpangan jalan yang baru. Persahabatan mereka tidak luntur, namun takdir kini menuntun mereka untuk tumbuh di atas jalurnya masing-masing.

Bagas, dengan gelar Sarjana Tekniknya yang diraih lewat darah dan air mata, berhasil diterima di sebuah perusahaan konsultan infrastruktur multinasional. Kerja kerasnya membawanya terbang jauh ke Hamburg, Jerman. Di sana, di antara kesibukan kota pelabuhan yang modern dan dingin, Bagas menemukan hidup barunya.

Wajah pucatnya saat di Jarian dulu benar-benar telah digantikan oleh sorot mata pria matang yang sukses. Meski terpisah jarak ribuan kilometer, ponselnya tak pernah absen berdering setiap akhir pekan panggilan video wajib dengan dua sahabatnya di Jakarta.

Sementara itu, di Jakarta, ikatan antara Adrian dan Dinda tumbuh melampaui batas persahabatan. Pengalaman spiritual dan taruhan nyawa di Jarian telah merekatkan hati mereka sedemikian rupa. Adrian yang kini bekerja sebagai manajer proyek di sebuah perusahaan konstruksi terkemuka, akhirnya menikahi Dinda, yang telah menjelma menjadi seorang arsitek lanskap yang sukses.

Pernikahan mereka digelar hangat, dihadiri oleh Bagas yang sengaja mengambil cuti panjang dari Jerman untuk menjadi pendamping pria. Dua tahun setelah pernikahan itu, kebahagiaan mereka genap. Dinda melahirkan seorang anak laki-laki yang tampan dan sehat. Mereka menamainya Arya Sukra Adiwangsa sebuah penghormatan abadi bagi ketulusan pemuda yang mengorbankan nyawa di Jarian, serta kebijaksanaan sang tetua desa yang menyelamatkan mereka.

Rumah sederhana di kawasan Jakarta Selatan itu terasa hangat sore itu. Cahaya matahari terbenam menyusup masuk melalui jendela kaca besar, menerangi ruang tengah tempat sikecil Arya panggilan akrab Arya Sukra Adiwangsa yang kini berusia empat tahun sedang asyik bermain dengan balok-balok kayunya.

Dinda berjalan dari arah dapur membawa secangkir teh hangat, matanya menatap lembut ke arah sang putra. Rambut Arya yang hitam lebat mengingatkannya pada Adrian, namun matanya yang bulat besar selalu mengingatkannya pada sesuatu yang lain, sesuatu yang terkadang membuatnya mendadak merinding tanpa alasan.

"Arya, mainannya nanti dirapikan ya, sayang. Papa sebentar lagi pulang," ujar Dinda lembut sambil mengusap kepala putranya.

"Iya, Ma. Tadi Om Bagas telepon. Kata Om Bagas, di Jerman lagi salju loh!" Arya mendongak, tersenyum lebar.

Dinda tertawa kecil. Bagas memang selalu memanjakan keponakan jauhnya itu dengan mengirimkan mainan dan video-video musim dingin dari Eropa. Kehidupan terasa begitu sempurna. Trauma Jarian seolah telah terkubur sedalam-dalamnya di bawah tumpukan kegiatan yang bahagia.

Pukul tujuh malam, Adrian pulang. Aroma parfum maskulin dan jaket kerjanya langsung disambut pelukan hangat dari Dinda dan lompatan riang dari Arya. Setelah makan malam bersama dan menidurkan Arya di kamarnya, Adrian dan Dinda duduk bersandar di sofa ruang tengah, menikmati keheningan malam Jakarta.

"Bagas bilang proyeknya di Hamburg diperpanjang dua tahun lagi. Dia kelihatan betah banget di sana. Mungkin udara Eropa cocok buat menyembuhkan sisa-sisa trauma masa lalunya." kata Adrian sambil melingkarkan lengannya di bahu Dinda.

"Aku senang mendengarnya. Kita semua sudah bahagia sekarang, ya? Kita sudah hidup dengan benar, seperti janji kita waktu wisuda dulu."Dinda menyandarkan kepalanya di dada Adrian, menghirup napas dalam-dalam.

"Iya. Masa lalu itu sudah selesai." Adrian mengecup kening istrinya. Namun, malam itu, kenyamanan mereka terusik oleh sesuatu yang ganjil.

Sekitar pukul dua dini hari, suhu di dalam kamar tidur tiba-tiba turun. Pendingin ruangan (AC) yang biasanya disetel di suhu standar merasa seolah berubah menjadi embusan angin kutub yang membekukan.

Dinda terbangun dengan tubuh menggigil. Jantungnya tiba-tiba berdegup kencang tanpa alasan yang jelas. Perasaan mencekam ini, perasaan yang sangat dia kenali namun telah dia lupakan selama bertahun-tahun. Rasa takut yang pekat.

Krosak... krosak...

Suara gesekan halus terdengar dari arah kamar Arya yang berada tepat di sebelah kamar mereka. Dinda menyenggol lengan Adrian yang masih tertidur lelap.

"Mas. Bangun," bisik Dinda dengan suara bergetar.

"Ada apa, Din?" Adrian kaget dan langsung terjaga begitu melihat ekspresi ketakutan di wajah istrinya.

"Arya, coba cek kamar Arya mas." Pinta Dinda.

Tanpa membuang waktu, Adrian menyalakan lampu senter ponselnya dan melangkah cepat menuju kamar sang putra, diikuti Dinda yang mencengkeram erat bagian belakangnya. Ketika pintu kamar Arya perlahan dibuka, pemandangan di dalam membuat darah mereka berdua mendadak terdiam.

Arya tidak sedang tidur di ranjangnya.

Bocah empat tahun itu berdiri tegak di depan jendela kamar yang terbuka lebar, padahal jendela itu selalu dikunci rapat oleh Adrian setiap malam. Angin malam Jakarta yang entah mengapa terasa begitu dingin dan berbau tanah basah bertiup kencang, menerbangkan gorden tipis di kamar itu.

"Arya?" panggil Adrian dengan suara sepelan mungkin, takut mengejutkan anaknya.

Anak kecil itu tidak berbalik. Dia tetap menatap lurus ke luar jendela, ke arah kegelapan malam. Namun, yang membuat Dinda hampir menjerit adalah suara yang keluar dari mulut kecil Arya. Bocah itu sedang bergumam, bukan dengan bahasa anak-anak, melainkan sebuah kidung berbahasa Sunda kuno dengan nada yang berat, parau, dan bergetar suara yang mustahil dimiliki oleh seorang balita.

"Nu sarua... bakal mulang... getih nu teuing... can lunas..."

"Arya! Stop!" Adrian maju berani, langsung menyambar tubuh putranya dan menjauhkannya dari jendela.

Begitu tubuhnya didekap oleh Adrian, Arya tiba-tiba lemas dan pingsan. Napasnya terengah-engah. Bersamaan dengan itu, angin kencang yang bertiup dari jendela mendadak berhenti total. Bau tanah basah itu menguap, digantikan oleh aroma bunga kamboja yang menyengat selama beberapa detik sebelum akhirnya hilang tak berbekas.

Adrian segera menutup dan mengunci jendela dengan tangan bergetar, sementara Dinda memeluk Arya yang tak sadarkan diri sambil menangis.

Di bawah temaram lampu kamar, Adrian menatap telapak kaki Arya. Di sana, melekat sisa-sisa tanah hitam pekat yang membusuk, persis seperti tanah di sekitar pohon beringin tua Desa Jarian.

1
Heriyansah
Terimkasih kak
Khodijah
bagus ceritanya semangat ya' Thor 👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!