NovelToon NovelToon
Diceraikan Karena Mandul, Dihamili CEO Dingin

Diceraikan Karena Mandul, Dihamili CEO Dingin

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Penyesalan Keluarga / Ibu Mertua Kejam / Tamat
Popularitas:427.7k
Nilai: 5
Nama Author: mama reni

Empat tahun menjalani pernikahan tanpa cinta, Hana hanya menuai luka. Dicap mandul oleh keluarga suaminya, dihina tanpa henti, hingga akhirnya diusir dan diceraikan oleh Farhan—pria yang seharusnya melindunginya.

Dalam keterpurukan, sebuah kesalahan membawa Hana pada malam tak terduga bersama Arsaka, pria asing yang ternyata mengubah takdir hidupnya. Dari malam itu, lahirlah harapan baru—seorang anak yang menjadi alasan Hana bangkit dan memulai hidup dari nol.

Saat kebenaran terungkap bahwa Hana sebenarnya tidak mandul, justru Farhan yang bermasalah, segalanya sudah terlambat. Farhan telah memilih jalan lain dan harus membayar mahal atas keputusannya.

Ketika masa lalu datang mengetuk kembali, mampukah Hana mempertahankan kebahagiaan yang akhirnya ia genggam? Dan apakah penyesalan Farhan masih memiliki arti?

Sebuah kisah tentang pengkhianatan, penebusan, dan cinta yang datang di waktu yang tak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Dua Puluh Satu

Malam semakin larut, tapi bagi Arsaka, waktu justru terasa berjalan terlalu cepat.

Ia masih berdiri di dekat jendela ruang kerjanya. Lampu-lampu kota di bawah tampak kecil, seperti titik-titik yang tak berarti. Namun pikirannya jauh dari tenang.

Lima minggu. Angka itu seperti terus menggema di kepalanya.

Tanpa menunggu lebih lama, ia meraih ponselnya dan menekan nomor lain.

“Han.”

“Siap, Pak,” jawab Han cepat dari seberang.

“Aku butuh satu hal lagi.”

“Perintah, Pak.”

“Selidiki Farhan.”

Han terdiam sejenak, tapi tidak lama. “Detailnya?”

“Semua,” jawab Arsaka dingin. “Aktivitasnya, hubungannya, siapa saja yang ada di sekitarnya sekarang. Aku mau laporan lengkap … secepatnya.”

Nada suaranya berubah lebih tegas. “Jangan sampai ada yang terlewat.”

“Siap, Pak. Saya kerjakan malam ini juga.” Telepon terputus.

Arsaka menatap layar ponselnya beberapa detik, lalu memasukkannya kembali ke saku. Wajahnya kembali datar, tapi sorot matanya tajam.

“Kalau ini memang anakku …,” gumamnya pelan. “Aku harus pastikan semuanya.”

Di sisi lain kota, suasana di rumah Farhan terasa hangat, tapi tidak sepenuhnya nyaman.

Lampu ruang keluarga menyala terang. Farhan baru saja duduk di sofa setelah seharian bekerja. Wajahnya terlihat lelah, kemeja kerjanya masih rapi meski sedikit kusut.

Dari arah dapur, langkah kaki terdengar pelan. Chika muncul dengan senyum manis di wajahnya.

“Kamu capek?” tanyanya lembut.

Farhan mengangkat wajah, sedikit terkejut melihat sikap istrinya yang berbeda dari biasanya. “Lumayan,” jawabnya singkat.

Chika mendekat, duduk di sampingnya. Jarak mereka tidak terlalu jauh, tapi cukup untuk membuat Farhan merasa canggung.

“Aku buatin teh hangat,” ucap Chika sambil menyentuh ringan lengan Farhan. “Biar kamu lebih rileks.”

Farhan hanya mengangguk pelan. “Makasih.”

Beberapa menit kemudian, Chika kembali dengan secangkir teh. Ia menyerahkannya sambil tersenyum.

Farhan menerima, lalu meneguk sedikit. Suasana terasa hening. Biasanya, suasana seperti ini akan terasa kaku. Tapi malam ini, Chika tidak ingin ada jarak.

Ia menggeser duduknya sedikit lebih dekat. “Mas Farhan …,” panggilnya pelan.

“Hm?”

“Kita jarang banget ngobrol akhir-akhir ini ya.”

Farhan menoleh. “Maaf, aku banyak kerjaan. Jadi kurang perhatian."

Chika tersenyum kecil. “Tak apa.” Ia menunduk sebentar, lalu kembali menatap Farhan. “Aku mengerti, Mas Farhan pasti juga capek pulang kerja. Aku ingin kita mulai berubah malam ini.”

Perkataan itu membuat Farhan mengernyit. “Berubah?”

“Iya.” Chika menatapnya lebih dalam. “Mas dengarkan, kalau Mama menginginkan aku secepatnya hamil. Jika kita jarang berhubungan, bagaimana aku bisa hamil dengan segera."

Kalimat itu terdengar masuk akal. Tapi di baliknya, ada sesuatu yang tidak Farhan tahu.

Chika mengulurkan tangannya, menggenggam tangan Farhan pelan. “Kita harus melakukannya setiap malam, ya?”

Farhan terdiam. Ada bagian dalam dirinya yang merasa aneh, tapi ia tidak menolak.

Malihat Farhan yang hanya diam, Chika kembali bertanya, “Apakah kamu tak menginginkan aku hamil, Mas?” tanyanya.

Farhan tersentak mendengar pertanyaan istrinya. Ia menjawab, "Tentu saja aku juga menginginkan itu, Chika."

"Kalau begitu, kamu dan aku harus lebih sering melakukan hubungan," ucap Chika sambil tersenyum manis. Ia meraih tangan Farhan dan menggenggamnya.

Farhan tidak menjawab. Tapi ia tidak menarik tangannya.

Chika memanfaatkan momen itu. Ia mendekat sedikit lagi, kepalanya bersandar ringan di bahu Farhan.

“Kamu kan suami aku,” bisiknya pelan. “Kenapa kamu jadi kaku begini. Apakah kamu sebenarnya tak cinta sama aku." Chika bicara dengan nada manja. Ia merapatkan tubuhnya pada pria itu.

Farhan menarik napas perlahan. Ada sesuatu yang berubah dari sikap Chika malam ini. Lebih hangat. Lebih intens.

Namun, ia tidak menolak. Di dalam hati, Chika tersenyum tipis. Ini harus berhasil.

Ia tahu apa yang ia lakukan. Ia tahu apa yang ia inginkan. Dan ia tidak akan berhenti sebelum mendapatkannya.

**

Keesokan paginya, suasana di kantor Arsaka kembali seperti biasa. Dingin, teratur, dan penuh tekanan.

Pintu ruang kerjanya diketuk. “Masuk.”

Han melangkah masuk dengan map di tangan. Wajahnya serius, tapi ada sedikit kepuasan tersembunyi.

“Laporan tentang Farhan, Pak.”

Arsaka langsung menoleh. “Cepat juga.”

“Sesuai perintah, Pak.”

Han meletakkan map itu di meja, lalu berdiri tegak. “Ada beberapa hal menarik.”

Arsaka membuka map tersebut, membaca halaman pertama dengan cepat. Matanya bergerak tajam, menyerap setiap informasi.

Beberapa detik kemudian, ia berhenti. Alisnya sedikit terangkat. “Dia sudah menikah lagi?” tanyanya datar.

“Iya, Pak,” jawab Han. “Beberapa waktu lalu. Tidak banyak yang tahu karena dilakukan secara tertutup.”

Arsaka bersandar di kursinya. Wajahnya masih tenang, tapi perlahan sudut bibirnya terangkat. Senyum tipis.

“Menarik.”

Han melanjutkan, “Istrinya sekarang tinggal satu rumah dengan dia. Dan sejauh ini, hubungan mereka terlihat normal.”

Arsaka menutup map itu pelan. “Normal?”

“Setidaknya dari luar, Pak.”

Hening sejenak. Lalu, tanpa diduga, Arsaka tertawa kecil. Bukan tawa keras. Tapi cukup untuk membuat Han sedikit terkejut.

“Bagus,” ujar Arsaka pelan.

Han mengernyit. “Bagus, Pak?”

Arsaka berdiri, berjalan pelan ke arah jendela. Ia menatap keluar, tapi pikirannya jelas sedang berjalan jauh.

“Kalau Farhan sudah menikah lagi …,” ucapnya pelan. “Berarti satu kemungkinan sudah hilang.”

Han langsung mengerti arah pikirannya.

“Pak berpikir …?”

Arsaka menyilangkan tangan di depan dada. “Kalau Hana hamil dan anak itu milik Farhan, seharusnya dia masih ada di sisinya.”

Ia berhenti sejenak. “Tapi kenyataannya, tidak.”

Han mengangguk pelan. Arsaka melanjutkan dengan suara rendah, penuh keyakinan, “Dan sekarang Farhan sudah punya istri baru.”

Ia tersenyum lagi, kali ini lebih jelas. “Artinya … kalau itu anakku, aku tidak perlu khawatir dia akan kembali ke Farhan.”

Kata-kata itu keluar dengan tenang, tapi penuh makna. Han hanya diam, memperhatikan.

“Teruskan pengawasan,” lanjut Arsaka. “Aku mau tahu pergerakan mereka semua.”

“Baik, Pak.”

"Sekarang aku mau kamu mengawasi Hana."

"Baik, Pak!" jawab Han lagi. Ia kemudian keluar dari ruangan.

Arsaka tetap berdiri di sana, menatap kota yang sama seperti semalam. Tapi kali ini, pikirannya jauh lebih terarah.

“Hana …,” gumamnya pelan.

Ada sesuatu dalam nada suaranya. Bukan sekadar tanggung jawab. Lebih dari itu.

Sementara itu, di rumah Farhan, pagi terasa berbeda. Chika sudah bangun lebih dulu. Ia berdiri di dapur, menyiapkan sarapan dengan wajah tenang.

Farhan keluar dari kamar, sedikit terkejut melihat meja makan sudah terisi.

“Kamu masak banyak?” tanyanya.

Chika menoleh dan tersenyum. “Iya. Kamu duduk aja. Anggap saja ini merayakan satu bulan pernikahan kita.”

Farhan duduk perlahan. Ia memperhatikan Chika yang bergerak lincah di dapur. Sikapnya benar-benar berubah.

Beberapa menit kemudian, mereka duduk berhadapan. “Cobain,” ujar Chika.

Farhan mencicipi. Lalu mengangguk. “Enak.”

Chika tersenyum puas. Di balik senyum itu, pikirannya berjalan. Aku harus buat kamu benar-benar jatuh cinta padaku dan tak meragukan anak yang aku kandung suatu hari nanti.

Sambil menunggu novel ini update bisa mampir ke novel teman mama di bawah ini. Terima kasih.

1
Supri Yanti
kenapa sih hana masih aja manggil mantan mertua mama, gedeg bacanya, mending kalo mantan mertua baik, lha ini
Supri Yanti
tumben banget asistenya lemot, gak cekatan pinter langsung ok, setiap boss perintah, jadi sebel
Supri Yanti
kapan resmi cerai Thor hana
Supri Yanti
nah begitu kek dari dulu,
Supri Yanti
bebal banget kamu hana,, udah apa cerai aja, cari kebahagianmu sendiri
sebel banget
Supri Yanti
benci banget peran wanita yg begitu, udah jales"hak di inginkan masih aja,
sweetpurple
keren!
Rina Arie
good
Adhee Mointi
bagus
Ayuk Witanto
baru mampir
Yunita Sophi
bintang lima untuk mama Reni...
Yunita Sophi
happy ending ikut bahagia untuk mereka... cerita nya keren banget
Teh Euis Tea
wahhh otw baca nih
Rahma Inayah
ending yg bagus .ditunggu cerita El dan chelsea Spil kn cerita ank Han dan findy .siapa tau El jatuh cinta dgn anak Han ( moga perempuan )
Rahma Inayah
ditunggu thor cerita eo dan chelsea Spil juga nnt anknya Han .mkn ank nya Han nnt perempuan yg jatuh cinta SM El or sebaliknya. El jatuh cinta SM anaknya Han .mkn seru
Rahma Inayah
ditunggu thor cerita eo dan chelsea Spil juga nnt anknya Han .mkn ank nya Han nnt perempuan yg jatuh cinta SM El or sebaliknya. El jatuh cinta SM anaknya Han .mkn seru
Lisa Halik
😍😍cerita pasal chelsea sama el
Yunita Sophi
kacian deh kamu Han... bulan madu sambil momong 🤣🤣🤣🤣🤣
Yunita Sophi
nanti mampir mam..
Yunita Sophi
selamat menempuh hidup baru Han dan Findi semoga jd keluarga SAMAWA...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!