NovelToon NovelToon
SATU -SATUNYA BUANGA DI TENGAH HUTAN.

SATU -SATUNYA BUANGA DI TENGAH HUTAN.

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Karir / Persahabatan
Popularitas:249
Nilai: 5
Nama Author: Komiatun Atun

hidup ini seringkali begitu kejam dan Mestrius. ada yang lah dalam kemewahan, ada yang tumbuh dalam hangatan kasih sayang. namun, takdir berkata lain bagiku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Komiatun Atun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

"SATU-SATUNYA BUNGA DI TENGAH HUTAN" BAB 38: TAMU TAK DIUNDANG DAN MAKANAN

 

"SATU-SATUNYA BUNGA DI TENGAH HUTAN"

BAB 38: TAMU TAK DIUNDANG DAN MAKANAN PALING ENAK

Baru saja kaki kami melangkah masuk ke pekarangan rumah, kami langsung sibuk membersihkan debu dan tanah yang menempel di kaki dan baju. Hari makin sore, matahari mulai condong ke barat. Kami bertiga, aku, Bunda, dan Abang Ardiansyah, segera berwudu dan bersiap menunaikan ibadah Sholat Dhuhur tepat waktu. Suasana rumah sepi hening, hanya suara doa dan bisikan hati yang memohon ampunan.

Setelah salam dan berdoa, kami pun berkumpul kembali di ruang tengah untuk makan siang bersama. Di sana sudah ada adik-adikku, Bagas, Dimas, dan si bungsu Fajar yang lebih dulu pulang. Namun, dua sosok kakak tertua kami belum terlihat batang hidungnya: Abang Hamza dan Abang Arefin. Mereka masih betah di kebun kopi, bekerja keras mencari nafkah.

Memang, mereka berdua selalu membawa bekal makanan dari rumah sebelum berangkat. Jarak kebun kopi ke rumah cukup jauh, harus menembus jalan setapak yang berkelok-kelok naik turun bukit. Bolak-balik pulang pergi pasti melelahkan sekali. Meski bekerja di tengah hutan dan bukit, mereka tak pernah lupa membawa sajadah dan alat wudhu. Di desa kami yang masih asri dan terpencil di wilayah Kelingi ini, air sumur dan mata air itu melimpah ruah, ada di setiap tikungan jalan. Di mana ada bukit, di situ pasti ada air. Jadi, kewajiban sholat tak akan pernah tertinggal walau berada jauh di dalam hutan sekalipun.

Waktu berjalan bergulir, hingga suara azan Maghrib berkumandang nyaring membelah langit senja. Suara itu menggema sampai ke telinga, memanggil semua makhluk untuk bersujud. Tak lama kemudian, Abang Hamza dan Abang Arefin tiba juga di rumah. Semua anggota keluarga sudah berkumpul lengkap: ada Abang Hamza, Abang Arefin, Abang Ardiansyah, terus adik-adikku Bagas, Dimas, dan Fajar. Semuanya sibuk mencari sarung, mencari sajadah, bersiap berwudhu... KECUALI AKU! 🤭

Aku hanya duduk santai di kursi bambu, bersandar manja, senyum-senyum sendiri sambil memperhatikan kesibukan mereka.

"Riaaaaaa...!!"

Terdengar suara lantang Abang Hamza memanggil dari arah pancuran, suara itu menggelegar persis kayak suara Pak Bilal di sekolah hahaha.

"YA KENAPAAAAA?!" jawabku nyaring sambil tetap diam di tempat, kaki diayun-ayun santai.

"KOK KAMU DIAM AJA SIH?! UDAH AZAN DARI TADI! SEMUA UDAH SIAP, KAMU MALAH DUDUK MANIS DI SITU?! GAK MAU SHOLAT MAGHRIB?! ADA APA SIH?!" teriak Abang Hamza sambil berjalan cepat ke arahku, dahinya berkerut bingung dan sedikit marah.

Aku langsung menutup mulut menahan tawa, mataku berbinar jahil. "Heeee... Maaf ya Bang... Lupa bilang nih... Hari ini Ria LIBUR DULU sholatnya... Ada TAMU DATANG nih... Gak boleh ikut sholat!" jawabku polos banget, sambil menunjuk ke arah diriku sendiri.

"HAAAA?! TAMU?!! TAMU SIAPA?! DI MANA?!!" Abang Hamza langsung celingukan ke kiri kanan, ke depan ke belakang, ke kolong meja, ke balik pintu... dicariin tamunya tapi gak ada satu jiwa pun! 😂

"JANGAN-JANGAN KAMU MULAI MALAS SHOLAT YA DIK?! PADAHAL KAMU PALING RAJIN! JANGAN ADA-ADAAN DEH! AYO IKUT SHOLAT! JANGAN MAIN-MAIN SAMA ALLAH! DOSA LHO KALAU DITINGGAL!!" Abang Hamza makin panik, dia kira aku bikin alasan palsu biar gak sholat. Mukanya tegang banget, serius banget, beneran khawatir.

"HUAHAHAHA... YA ALLAH ABANG HAMZAAAA...!! ASTAGHFIRULLAH... HAMZAAAA...!!" Aku gak tahan lagi, ketawa ngakak sampai guling-guling di kursi. "Dengerin Ria JELASIN YA! PERTAMA, RIA GAK PERNAH DAN GAK AKAN PERNAH MAIN-MAIN SAMA ALLAH! KEDUA, TAMU YANG DATANG INI NGUMPET, GAK KELIHATAN WAJAHNYA, GAK PUNYA TUBUHNYA, TAPI DIA DATANG SENDIRI TIAP BULAN! HIHIHI..." 🤣

Makin bingunglah Abang Hamza, mukanya makin kaku, dia makin curiga aku ada rencana jahat. Bunda yang dari tadi ngeliatin kami berantem kecil, akhirnya geleng-geleng kepala sambil senyum, terus manggil Abang Hamza.

"Nak Hamza sini... Sini Bunda kasih tau biar kamu gak pusing sendiri," panggil Bunda lembut. Abang Hamza langsung lari ke Bunda kayak anak kecil minta penjelasan.

"Dengerin ya Nak... Setiap anak perempuan, kalau umurnya udah remaja, pasti ada 'tamu' yang datang sendiri setiap bulan. Namanya datang bulan atau haid. Kalau tamu itu datang, memang ada halangan, gak boleh sholat dulu, gak boleh puasa dulu. Dia datangnya diam-diam, gak ada yang ngundang, gak ada yang nyuruh, tiba-tiba ada sendiri. Nah itu yang Ria maksud 'Tamu Tak Diundang'! Makanya dia libur dulu sholatnya. Paham kan Nak? Makanya jangan ditanya terus, si Ria ini emang jahil sukanya ngeledek kamu, makanya dijawab gitu," jelas Bunda panjang lebar.

"BUUUNDAAAA... EHHH KOK RIA DISEBUT JAHIL SIH?! KAN RIA JAWABNYA BENER!!" Aku langsung ngambek, pipiku aku kembungin gede banget sambil melotot ke Abang Hamza.

"HAAAA... MANA ADA ORANG NGAMBEK SAMBIL KETAWA-TAWA GITU?! DASAR KAMU PUNYA AJA TINGKAHNYA!" sahut Abang Arefin ikut ketawa ngakak lihat tingkahku.

"SUDAH SUDAH... AYO SEGERA SHOLAT, KEBURU HABIS WAKTUNYA! JANGAN RIBUT TERUS!" seru Bunda menengahi.

"HUUUSSS... SANA AH PADA PERGI SANA SEMUA! RIA MAU SIAPIN MAKANAN! JANGAN GANGGU!" usirku mereka dengan tangan melambai-lambai, sementara aku sendiri duduk manis aja di situ.

Setelah sholat Maghrib selesai, kami semua berkumpul lagi di ruang tengah buat makan malam. Baru aja aku mau duduk manis di sebelah Bunda... PLAKK!! Tangan besar Abang Hamza nahan bahuku kuat banget! 🛑✋

"TUNGGU DULU SEBENTAR DIK!" mukanya serius banget, mata dia melotot nyelidik banget. "TADI KAMU BILANG ADA TAMU TAK DIUNDANG YANG DATANG... MANA TAMUNYA?! SIAPA NAMANYA?! KENAPA GAK DIPANGGIL MAKAN BARENG?!!" tanyanya polos banget, mukanya serius banget, beneran nunggu tamu keluar dari kolong meja! 😂😂😂

"HUAAAAAAAAAAAAA!!!!"

PECABARANG SUDAH! Aku ketawa terbahak-bahak sampai jatuh ke lantai, guling-guling sambil pegang perut yang sakit banget karena geli! Air mata menetes-netes saking lucunya kelakuan Abang Hamza. Maklum banget ya, Abang Hamza ini pendiam, kaku, serius, dan selama ini jarang banget dekat sama perempuan selain Bunda. Dia polosnya minta ampun!

"ABANG HAMZAAAA... HUAAAAAAA...!!" Aku napas-napas sambil ketawa. "INI NIH ABANGKU YANG PALING POLOS SEDUNIA! 'TAMU TAK DIUNDANG' ITU ARTINYA DATANG BULAN LHO BANG! GAK ADA ORANGNYA! GAK ADA JENUMAHNYA! ITU ISTILAHNYA! DATANGNYA DIAM-DIAM, GAK UCAP SALAM, GAK NGETOK PINTU, TIBA-TIBA AJA ADA! ITU YANG DIKATAKAN TAK DIUNDANG! PAHAM KAN SEKARANG BANG?! HIHIHIHI..."

"YA ALLAH DIK... KAMU INI BENERAN YA NGERJAIN ABANG TERUS, AWAS YA KAMU!" Abang Hamza garuk-garuk kepala yang gak gatal, mukanya merah banget malu kena ledekan semua Abang yang lain.

Aku pun lari kecil muter-muter ruang tamu menghindari kejaran Abang Hamza. "HAAAA... KASIHAN DEH ABANGKU YANG GAK TAU APA-APA... HIHIHIHI..."

"HAAH! KETANGKEP KAMU! MANA INI ADIK PALING JAHIL, SUKA SEKALI NGERJAIN ORANG, BIAR ABANG CUBIT NIH PIPINYA BIAR GAK NAKAL LAGI!" Abang Hamza sukses nangkap aku, mencubit pipiku gemes tapi penuh kasih sayang.

Malam itu... meski rumah kami cuma gubuk kecil, bukan rumah gedung, bukan rumah mewah berhias emas... tapi rumah kecil kami ini RIBUAN KALI LEBIH BERHARGA! Suara tawa, canda, dan kasih sayang kami anak-anak memenuhi setiap sudut ruangan, menghangatkan udara dingin malam yang turun dari bukit.

Akhirnya kami pun mulai makan bersama seperti biasa. Makanan kami sederhana sekali, BUKAN daging ayam mewah, BUKAN daging sapi mahal, bukan ikan laut besar... Kami makan apa adanya, apa yang ada di depan mata. Tapi percaya deh, semuanya makan dengan LAHAP BANGET, suapan demi suapan masuk sampai tandas. Bagi kami, KEBERSAMAAN ITU BUMBU PALING ENAK DI DUNIA! 🥘

Tak lama berselang, suasana riuh itu terhenti sejenak saat terdengar suara ketukan pintu dari luar.

TOK... TOK... TOK...

"ASSALAMUALAIKUM..."

"WAALAIKUMSALAM... YA SEBENTAR..." jawab Abang Hamza. Ia bangkit dari duduknya berjalan membukakan pintu kayu itu pelan-pelan.

Di depan sana berdiri sesosok laki-laki paruh baya yang tampak berwibawa, berbadan tegap, tapi senyumnya ramah banget.

"EH... BAPAK? MAAF YA BAPAK... SIAPA YA? SAYA BARU LIHAT ADA ORANG BARU LEWAT DI DESA INI, BELUM PERNAH BERTEMU SEBELUMNYA," kata Abang Hamza sedikit ragu dan sopan. "KALAU BOLEH TAU, NAMA BAPAK SIAPA YA?"

Belum sempat tamu itu menjawab, aku yang mendengar suara berat tapi lembut itu langsung melompat bangkit dari kursi dan berlari kencang ke arah pintu.

"ABANG ADA APA?! KOK ADA TAMU GAK DISURUH MASUK?! DINGIN LHO DI LUAR SANA BANG!!" seruku menyela, terus menoleh ke tamu itu sambil senyum lebar banget.

"EH... WAALAIKUMSALAM PAK BILAL!! AYO MASUK PAK, AYO MASUK...! JANGAN BERDIRI DI SANA!" Aku langsung menarik tangan Pak Bilal masuk ke dalam rumah.

Aku menoleh ke arah Abang Hamza yang masih bingung garuk-garuk kepala. "ABANG, MAAF YA, KENALIN NIH. INI PAK BILAL, GURU BARU RIA, BARU BERTUGAS 3 HARI DI SEKOLAH KAMI. BELIAU YANG KEMARIN RIA CERITAIN, SUARANYA MENGGLEGAR DI KELAS TAPI LEMBUT BANGET KALAU NGOMONG SAMA KITA HIHI..."

Aku pun menunjuk satu per satu anggota keluargaku yang ada di situ:

"INI ABANG HAMZA, ABANG AREFIN, ABANG ARDIANSYAH, TERUS ADIK-ADIKKU BAGAS, DIMAS, DAN FAJAR..."

"Maaf ya Pak Bilal, tempat kami begini adanya, cuma gubuk reyot ini aja..." sambung Abang Hamza dengan sopan dan rasa tidak enak hati.

"HEEEE... GAK APA-APA NAK HAMZA, SAYA MAKLUM KOK, BELUM KENAL WARGA DI SINI SEMUA," jawab Pak Bilal ramah banget, matanya mengamati ruangan kecil kami yang sederhana tapi penuh kehangatan. "GUBUK INI LEBIH INDAH DARI ISTANA YANG GAK ADA KASIH SAYANGNYA," tambahnya lembut.

"OH IYA... TADI DI JALAN BAPAK DAPAT KIRIMAN DARI WARGA YANG ADA HAJATAN, DIKASIH NASI SAMA LAUK BANYAK BANGET... BAPAK BINGUNG MAKAN SENDIRI GAK HABIS, JADI LEWAT SINI MAU NITIP SAMA KALIAN AJA," kata Pak Bilal sambil senyum melirik makanan di meja kami.

"OH GITU... TAPI KAMI LAGI MAKAN BELUM SELESAI PAK," sahut Bunda ramah.

"BAPAK UDAH MAKAN BELUM PAK?! KALAU BELUM, AYO KITA MAKAN BARENG AJA PAK! GAK USAH MULU-MULU!" seruku antusias banget, mataku berbinar senang ada tamu istimewa.

"EMANG BOLEH YA IKUT MAKAN NANTI ABIS LOH NASINYA SEMUA SAMA KITA?" goda Pak Bilal balik, senyumnya makin lebar.

"OH TENTU BOLEH! AYO KITA MAKAN SAMA-SAMA AJA! MAKIN BANYAK MAKIN MERIAH!" jawab Abang Ardiansyah ikut senang.

"INI SEKALIAN BUKA AJA KIRIMAN DARI WARGA ITU, KITA CAMPUR SAJA MAKANNYA," kata Pak Bilal sambil menyerahkan bungkusan besar yang dibawanya.

"SIAP PAK!" Aku langsung sigap banget menuangkan nasi ke piring. Di meja kami ada OPOR AYAM, ada SAMBAL GORENG KENTANG, ada SAYUR NANGKA MASAK SANTAN, semuanya masakan tangan Bunda yang paling enak sedunia!

Setelah tersaji rapi di piring dan mangkok, semuanya terlihat menggugah selera.

"Nak Ria, tolong siapkan piring baru buat Pak Bilal ya," kata Bunda mengingatkan.

"SIAP BUN! INI UDAH RIA AMBILKAN YANG PALING BERSIH DAN BARU!" Aku langsung menyodorkan piring ke Pak Bilal.

"SILAHKAN MAKAN PAK... MAAF YA KALAU KAMI HANYA MAKANAN SEDERHANA BEGINI AJA, KAMI MAKAN APA ADANYA YANG ADA DI SAWAH DAN KEBUN," kata Abang Hamza sedikit merasa kurang enak hati.

"JANGAN NGOMONG GITU NAK... INI AJA UDAH ALHAMDULILLAH BANGET! REZEKI DARI ALLAH ITU BANYAK, DI LUAR SANA BANYAK YANG GAK BISA MAKAN ENAK SEPERTI KITA," jawab Pak Bilal sambil mulai menyantap makanannya dengan lahap sekali.

"OH IYA NAK... BAPAK BOLEH MINTAKAN SAYUR DAUN BAYAMNYA SEDIKIT GAK?" pinta Pak Bilal sambil menunjuk mangkok kecil di pinggir.

"OH SILAKAN PAK! KAMI ADA SAYUR BAYAM, ADA SAYUR KANGKUNG, ADA REBUSAN LABU SIAM JUGA! AMBIL SEMUA AJA PAK!" seruku ramah banget.

Pak Bilal makan dengan sangat nikmat. Suap demi suap masuk ke mulutnya, matanya terpejam sejenak menikmati rasa itu.

"WAH... KOK SAYUR BAYAM DAN SAYUR KANGKUNG INI ENAK BANGET YA?! ADA RASA MANIS ALAMINYA, SEGAR BANGET!" seru Pak Bilal kagum.

"YA ALHAMDULILLAH KALAU BAPAK SUKA... ITU SEMUA SAYURAN KAMI PETIK SENDIRI DI BELAKANG RUMAH PAK! GAK PAKE PUPUK KIMIA, GAK ADA OBAT-OBATAN, MURNI DARI TANAH SUBUR KITA SENDIRI," jelasku bangga.

"MASYAALLAH... SAYUR ALAMI TANPA BAHAN KIMIA... INILAH YANG BIKIN KITA SEHAT DAN KUAT NAK... MAKANAN BERKAH DARI TANGAN IBU YANG HEBAT," kata Pak Bilal sambil menatap Bunda penuh hormat.

"KALAU BAPAK BUTUH SAYURAN BANYAK-BANYAK, KATAKAN AJA PAK! KAMI ADA SINGKONG, ADA UBI, ADA PISANG, SEMUA ADA DI KEBUN BELAKANG! AMBIL AJA SEMUA YANG BAPAK MAU!" seru Abang Hamza tulus banget.

Mendengar ucapan itu, melihat kami yang sederhana, ramah, dan saling menyayangi itu... Tiba-tiba mata Pak Bilal berkaca-kaca. Air mata bahagia dan haru menggenang di pelupuk matanya. Beliau teringat akan keluarganya sendiri yang sudah tiada lagi, teringat suasana hangat rumah orang tua dulu yang sudah lama ditinggalkannya. Di gubuk reyot ini, beliau menemukan kembali kehangatan yang hilang itu.

"YA ALLAH... KALIAN ANAK-ANAK YANG BAIK... SANGAT BAIK DAN BERBAKTI... BAPAK BANGGA BANGET KENAL KELUARGA KALIAN..." ucap Pak Bilal lirih sambil mengusap pelan sudut matanya yang basah.

Malam itu, makan malam sederhana kami berubah jadi momen paling indah dan berkesan. Di bawah cahaya lampu petromak yang remang-remang, kami makan, tertawa, dan bercanda bersama Pak Bilal, tamu baru yang ternyata akan menjadi bagian penting dalam kisah hidup kami.

1
KOMIATUN
"alhamdulillah,.... terimakasih banyak ya kak atas dukungan nya senang banget deh ada yang mampir dan kasih saya semangat, rasanya capek pulang kerja jadi hilang seketika lho, nanti kalau ada waktu luang pasti saya kunjungi profil nya kakak ya. sihat selalu dan sukses terus buat kakak. 🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!