Layaknya residu yang menggumpal dan sudah mendangkal, sulit sekali untuk dibersihkan. Ingatan yang sangat membekas itu juga sulit sekali disingkirkan-tentang dia yang ternyata tereliminasi oleh waktu.
Arinta masih tak menyangka kejadian ini benar-benar menimpanya. Kejadian yang melemparnya kembali ke dua puluh tahun silam. Tahun dimana bibit-bibit kehancuran dari rasa damai dikeluarganya dimulai.
Kejadian yang entah bisa dibilang membawa berkah atau justru membawa bencana?
Mulai: 6 Juni 2026
Selesai:
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yopoyoi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17. Rencana
"Abang ada masalah apa sih sama Bang Miza?" tanya Arinta.
Mereka berdua memutuskan untuk berjalan kaki mencari warung makan yang dekat-dekat saja, karena Mario hanya punya waktu sekitar satu jam sebelum bersiap, belum lagi perjalanan dari sini ke Bandara Soekarno-Hatta yang memakan waktu lebih dari dua jam dengan taksi.
"Nggak ada. Emang lagi berantem aja dikit."
"Oh. Terus ini abang lagi liburan kan? Abang tinggal di mana?"
"Di rumah temen."
"Di warung itu aja ya makannya?" tanya Mario sambil menunjuk sebuah warung makan Padang.
Setelah makan datang, Arinta sudah tidak sabar untuk menginterogasi manusia di depannya. Ia sama sekali tidak memiliki petunjuk apapun tentang Mario.
"Kenapa ngeliatin gitu? Ada yang salah kah?" Mario berusaha merapikan tampilannya saat ditatap lama oleh Arinta.
"Enggak. Arinta cuma... Eeee..."
"Nggak inget apa-apa tentang abang," kalimat tersebut hanya bisa Arinta lanjutkan dalam hati.
"Cuma apa?" tanya Mario.
"Cuma ngerasa beda aja," jawab Arinta asal.
"Beda? Oh... Lebih tua ya?" Mario terkekeh. "Kamu juga beda. Jadi lebih dewasa mukanya. Terakhir kita ketemu kan pas abang baru lulus SMK, enam tahun lalu sebelum abang merantau kuliah di Todai. Waktu itu berarti umur kamu masih sebelas tahun, masih SD!"
"Iya ya?"
Arinta masih berusaha memancing ingatannya untuk muncul, sampai tak sadar ia sedikit memukul-mukul kepalanya.
"Kenapa? Kepalanya sakit?" tanya Mario khawatir.
"Hah? Nggak."
"Kamu baik-baik aja kan pas abis abang tinggal waktu itu?" tanya Mario dengan suara serendah mungkin.
Bibir Arinta masih tertahan untuk menjawab.
"Maaf ya. Emang bener kata Bang Miza, abang itu egois. Harusnya abang nggak pergi gitu aja."
"By the way, Teh Maria udah pernah ngasih kabar ke kamu?"
"Teh Maria?" tanya Arinta bingung.
Mario mengangguk antusias.
Namun Arinta hanya menatap wajah Mario bingung, tidak tahu harus jawab apa.
"Kenapa? Belom ya?"
"Padahal Maria masih mau urus perusahaan papa, tapi ternyata dia masih belum mau nerima kamu," ucap Mario sendu. "Tapi kata Bang Miza, Teh Maria masih suka ngirim uang kok buat keperluan kamu, ya walaupun nggak bilang langsung ke orangnya. Cuma abang aja kayaknya yang belom bisa ngasih apa-apa ke kamu."
Sudah sebanyak ini informasi yang Arinta terima, tapi ingatannya masih belum muncul juga. Atau, sebelumnya Arinta memang benar-benar tidak mengetahui apapun tentang Mario dan Maria? Tentang seluk-beluk keluarganya? Tentang konflik antar saudara?
Arinta tidak lagi buka suara dan bertanya-tanya, ia khawatir pertanyaannya malah jadi bumerang untuk dirinya sendiri. Karena sejauh ini, diam adalah cara paling aman.
"Abang nggak bisa lama, Ta. Kita langsung pulang sekarang ya?" ucap Mario saat telah menuntaskan makanannya.
"Iya. Nanti bahaya kalo abang ketinggalan pesawat."
"Sebenernya abang mau ajak kamu sampai bandara, kan kamu belom pernah kemana-mana, tapi nanti kamunya pulang kemaleman."
"Arinta udah gede ya... Arinta udah sering kemana-mana sama Ag-" Arinta langsung memutus kalimatnya saat sadar ia hampir keceplosan menyebut nama Aguil.
"Eumm..." Mario memasang wajah menggoda. "Kemana-mana sama siapa? Kok nggak dilanjut?"
"Sama Ag... Ag... Aku sendiri! Kan Arinta mandiri, anjay," ucap Arinta bangga.
"Anjay?"
Arinta kembali merutuki dirinya sendiri. Bisa-bisanya keceplosan lagi!
"Asinan binjay!" Arinta tertawa kaku.
"Lucu ya kamu... Udah bisa jadi pelawak," Mario terkekeh pelan.
Mario mengantarkan Arinta pulang dengan sedikit bercerita tentang teman-temannya yang satu kampus di Todai dan juga kehidupan di sana. Tanpa sadar, mereka sudah sampai di depan rumah.
"Nggak mampir kan?" tanya Arinta basa-basi kelewat basi.
"Nggak lah, udah telat nih!" sahut Mario dengan nada bercanda.
"Ya udah. Safe flight abang! Nanti kalo abang wisuda, pokoknya Arinta mau datang ke Tokyo! Harus! Nggak mau tahu!"
"Iya. Janji deh janji."
"Ya udah. Dadah..." Arinta melambaikan tangan melepas kepergian Mario.
"Eh, jalan kah?" tanya Arinta sedikit berteriak karena Mario mulai menjauh.
"Dijemput temen di jalanan depan!" sahut Mario juga ikut berteriak.
"Oke! Hati-hati!" sahut Arinta lagi.
Arinta beranjak masuk ke dalam rumahnya. Masih pukul tujuh lewat sedikit, tapi sepertinya Miza sudah bersarang di kamar. Biarlah, Arinta tidak peduli.
Kalau saja Arinta tidak menaruh kotak tadi di depan lemari, pasti ia akan melupakannya.
Kotak itu sedikit berdebu, pertanda tidak dibuka oleh pemiliknya dalam waktu yang lama. Warna hitamnya sudah bercampur debu, jadi sedikit keabu-abuan. Namun, Arinta masih bisa merasakan ada ukiran sesuatu di bagian atas kotak itu, walaupun tidak jelas apa bentuknya.
Arinta langsung membukanya tanpa aba-aba apapun lagi. Hal pertama yang ia lihat, membuatnya mengerutkan kening.
"Album?" gumamnya.
***
"Mi... Lu udah tidur?" bisik Tama tepat di telinga sang kembaran.
"Udah," sahut Tami.
"Kok nyaut?" tanya Tama.
"Ya berarti belom, blog!" cerca Tami.
Mereka tidur di kasur tingkat, Tama di atas, Tami di bawah. Sementara satu kamar ada sekitar empat kasur tingkat, ya lumayan, mungkin donaturnya banyak.
"Gua nggak bisa tidur, ih," ucap Tama.
"Sama. Perasaan gua nggak enak banget. Sekarang masih Oktober kan ya? Gua kalau nggak sekolah lupa tanggal, lupa hari," tanya Tami.
"Iya. Masih tanggal muda, harusnya orang-orang baru pada gajian."
"Ngomong-ngomong, kita nih apa ya? Sekolah kaga, kerja juga kaga," ucap Tami.
"Kita kerja ini, jadi sukarelawan. Eh nggak deh, kan kita jadi punya tempat tinggal."
"Kalo sekolah, kita kan udah ditawarin sekolah paket, terus lu nolak, ya udah gua juga nolak."
"Ikut-ikut wae lu mah!" ucap Tami. "Btw, lu kangen rumah nggak?"
"Gua kangen banget kasur empuk di rumah, AC, kulkas, main game, makan masakan mama, temen-temen sekolah, semua suasananya... Disini grafiknya kaga HD bejir, buminya belom di-update."
"Iya lagi. Berasa banget ada di jaman purba, kaga ada handphone, apalagi PC. Tapi kita keren nggak sih? Bisa bertahan tanpa hp, walaupun baru beberapa minggu sih," ucap Tama.
"Arinta gimana ya? Dia kayaknya yang paling tersiksa di sini, harus jadi orang lain. Apalagi pas dia bilang mau kabur, gua sebenernya kasian. Tapi ya gimana ya..." ucap Tami.
"Apa kita bawa Arinta kabur aja ya? Kita kan udah tau rumah ibunya Arinta di mana, kita juga udah berhasil ngambil hati Bang Fara supaya akrab sama kita," usul Tama.
"Yeuh... Terus lu mau numpang di rumah siapa?! Masa langsung numpang di rumah ibunya Arinta? Terus ngomong kita dari masa depan mau nyegah Bang Fara mati gitu?" tanya Tami.
"Andai semudah itu. Nanti kita bisa langsung pulang," sahut Tama.
"Eh, Mi! Gua serius. Ayo kita ajak Arinta kabur, kita bertiga. Kayaknya duit yang Bi Ilah kasih lumayan, duit dari ibunya Arinta juga lumayan. Duit gua, duit lu, duit Arinta."
Tami berdecak.
"Dangkal banget otak lu, Ma! Emang duit kita cukup buat nyewa kontrakan? Kosan? Rumah? Kalaupun cukup, cuma satu! Arinta nggak bakal sudi tidur bareng kebo kayak lu!"
"Anjir lah..."
"Atau Arinta aja yang kita fasilitasi buat kabur, tapi kita tetep di sini. Ini mah biar gampang aja kita nemuin dia. Kan kalau dia di rumahnya, terus kita datengin mulu, bakal jadi tanda tanya dari orang-orang," usul Tama masih tidak mau kalah.
"Oke lah. Suka-suka kau."
***