NovelToon NovelToon
SETAHUN MENIKAH TANPA CINTA

SETAHUN MENIKAH TANPA CINTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: SenandikaMaret

Dijodohkan karena darah keraton yang mengalir dalam tubuh mereka, Raden Danendra Adipati dan Raden Ayu Kirana Ayodya menerima pernikahan tanpa protes. Satu tahun berlalu dalam ketenangan yang nyaris membosankan. Tidak ada pertengkaran, tidak ada pengkhianatan, bahkan tidak ada cinta. Mereka hidup layaknya dua orang asing yang kebetulan berbagi rumah dan nama belakang yang sama. Namun ketika keadaan memaksa mereka untuk saling mengenal lebih dekat, Kirana mulai menyadari bahwa di balik sikap dingin Danendra tersimpan perhatian yang tak pernah ia tunjukkan. Sementara Danendra perlahan memahami bahwa perempuan yang selama ini selalu berada di sisinya telah menjadi bagian paling penting dalam hidupnya. Di antara tradisi keluarga, tuntutan sebagai keturunan keraton, dan perasaan yang tumbuh terlambat, keduanya harus belajar bahwa cinta tidak selalu hadir sebelum pernikahan. Terkadang cinta justru datang setelah dua hati yang asing memilih untuk saling tinggal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SenandikaMaret, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SATU TAHUN PERNIKAHAN

Suara alarm dari ponsel Kirana berbunyi tepat pukul lima pagi.

Perempuan itu meraba meja nakas di samping tempat tidur tanpa membuka mata. Setelah berhasil mematikan alarm, ia menghela napas pelan dan menatap langit-langit kamar beberapa saat.

Lima Juni.

Tanggal yang seharusnya spesial. Setidaknya bagi sebagian besar pasangan suami istri yang merayakan hari jadi mereka.

Kirana melirik ke sisi lain ranjang. Danendra masih terlelap dengan posisi yang nyaris sama seperti semalam. Selimut abu-abu menutupi tubuhnya hingga dada, sementara satu tangan terlipat di atas perut. Selama satu tahun menikah, Kirana belum pernah melihat suaminya tidur berantakan. Rambutnya selalu rapi. Posisinya selalu tenang. Bahkan saat tidur pun laki-laki itu terlihat sangat disiplin.

Kirana tersenyum tipis, entah harus kagum atau justru heran. Ia turun dari ranjang perlahan agar tidak membangunkan Danendra. Setelah merapikan selimut di sisinya dan menggulung lengan piyamanya, ia berjalan menuju kamar mandi.

Tiga puluh menit kemudian, aroma roti panggang mulai memenuhi dapur. Mbak Siti, asisten rumah tangga yang sudah bekerja sejak sebelum mereka menikah, sedang menyusun sarapan di meja makan.

"Kok pagi-pagi sudah di dapur, Nduk?" tanya perempuan paruh baya itu hangat.

Kirana tersenyum. "Nggak bisa tidur lagi, Mbak."

Mbak Siti mengangguk paham. "Lho, Mas Danendra belum bangun?"

"Masih tidur."

"Biasanya sudah turun jam segini."

Kirana hanya mengangkat bahu. Pagi ini memang sedikit berbeda. Atau mungkin sebenarnya tidak. Ia sendiri tidak yakin.

Beberapa menit kemudian, suara langkah kaki yang teratur terdengar dari arah tangga. Danendra muncul dengan kemeja putih dan celana bahan hitam. Rambutnya masih sedikit basah. Seperti biasa; rapi, tenang, dan sulit ditebak.

"Pagi, Mas."

"Pagi."

Selesai. Itu sapaan pertama mereka hari ini. Dan mungkin terdengar aneh bagi orang lain, tetapi Kirana sudah sangat terbiasa. Danendra menarik kursi di hadapannya lalu duduk.

"Jadwal hari ini padat?" tanya Kirana sambil menuangkan teh hangat ke cangkir suaminya.

"Ada rapat jam sembilan."

"Habis itu?"

"Kunjungan proyek."

Kirana mengangguk. "Oke."

Lalu hening. Bukan hening yang canggung, bukan juga hening yang nyaman. Hanya... hening. Seperti dua orang asing yang dipaksa hidup bersama sehingga tidak merasa perlu membicarakan banyak hal di luar formalitas. Suara sendok beradu dengan piring menjadi satu-satunya bunyi di meja makan itu.

Kirana diam-diam memperhatikan laki-laki di depannya. Suaminya. Hari ini genap satu tahun mereka menikah. Lucunya, tidak ada satu pun dari mereka yang menyinggung hal itu sejak membuka mata. Tidak ada ucapan, tidak ada hadiah, tidak ada kejutan. Tidak ada yang berbeda.

Pernikahan mereka dimulai dari perjodohan antar keluarga. Tidak ada kisah cinta yang panjang, tidak ada masa pendekatan yang manis. Mereka hanya bertemu beberapa kali atas permintaan orang tua, lalu menikah. Sesederhana itu.

"Mas," panggil Kirana tiba-tiba.

Danendra mengangkat kepala dari piringnya. "Hm?"

Kirana sempat membuka mulut, menatap mata hitam yang datar itu, lalu mengurungkan niatnya. "Nggak jadi."

Danendra menatapnya beberapa detik, menilai, lalu mengangguk pendek. "Oke." Laki-laki itu kembali fokus pada sarapannya. Kirana hanya bisa menahan tawa kecil di dalam hati. Kadang ia benar-benar bingung bagaimana cara kerja otak suaminya.

Sekitar pukul sepuluh pagi di kantornya, ponsel Kirana bergetar. Nama ibunya muncul di layar.

"Kirana, nanti malam jangan lupa datang ke rumah Eyang, ya," ujar ibunya langsung saat panggilan tersambung.

Kirana yang sedang menyusun dokumen di meja kerjanya langsung menghentikan gerakan tangannya. "Malam ini, Bu?"

"Iya. Semua keluarga besar kumpul."

"Memangnya ada acara apa?"

Di seberang sana terdengar tawa kecil. "Kamu ini bagaimana, toh? Masa lupa?"

Kirana mengernyit bingung. "Ada apa, Bu?"

"Hari ini ulang tahun pernikahan pertama kamu sama Danendra. Jadi keluarga mau makan malam bareng untuk merayakannya."

Kirana terdiam beberapa saat. "Oh..."

"Mas Danendra sudah tahu?" tanya ibunya lagi.

"Belum, Bu."

"Ya sudah, nanti tolong dibilang ke suamimu."

"Baik, Bu."

Setelah sambungan telepon berakhir, Kirana menatap layar laptopnya kosong. Kalau ibunya tidak menelepon, mungkin ia dan Danendra akan melewati hari ini murni sebagai hari biasa.

Menjelang sore, sebuah pesan singkat masuk dari Danendra.

Aku pulang jam enam.

Kirana menatap pesan itu lalu mengetik balasan.

Iya. Jangan lupa malam ini makan malam di rumah Eyang.

Beberapa menit kemudian, sebuah balasan masuk.

Aku ingat.

Kirana menatap layar ponselnya cukup lama. Aku ingat. Hanya itu. Pendek dan langsung pada intinya. Kirana menghela napas panjang lalu menyimpan ponselnya ke dalam tas.

Kirana memilih sebuah gamis satin berwarna khaki dengan potongan sederhana sore itu. Minimalis, namun tetap terlihat anggun. Tepat pukul enam sore, klakson mobil Danendra berbunyi di depan pagar rumah mereka. Kirana segera keluar dan masuk ke dalam mobil hitam yang aromanya selalu sama: wangi kopi dan parfum maskulin yang tajam.

"Sudah siap?" tanya Danendra tanpa menoleh. Matanya fokus memundurkan mobil dari pekarangan.

"Sudah, Mas," jawab Kirana pelan.

Perjalanan menuju rumah Eyang di daerah Kebayoran Baru diwarnai oleh keheningan yang tebal. Radio mobil menyala pelan, memutar lagu instrumental tanpa lirik. Sesekali Kirana mencuri pandang pada profil samping wajah suaminya. Rahang yang tegas dan tatapan mata yang selalu lurus ke depan. Laki-laki ini adalah suaminya. Fisiknya begitu dekat, namun ia merasa masih banyak ruang kosong di antara mereka.

"Nanti di rumah Eyang, kalau kamu lelah, billing saja. Kita bisa pulang lebih cepat," ucap Danendra tiba-tiba, memecah keheningan.

Kirana agak terkejut, namun ia tersenyum tipis. "Nggak apa-apa, Mas. Kan jarang-jarang keluarga kumpul semua." Danendra hanya bergumam pendek sebagai respons.

Rumah Eyang sudah ramai saat mereka tiba. Begitu melangkah masuk ke dalam rumah bergaya kolonial itu, perhatian seluruh ruangan langsung teruju pada mereka.

"Nah, ini dia pasangan berbahagia kita!" seru Tante Ambar, adik dari ibunya Kirana, dengan suara melengking yang khas.

Ibunya Kirana berjalan mendekat dengan senyum merekah, diikuti oleh Eyang yang duduk di kursi roda.

"Selamat satu tahun pernikahan, Danendra, Kirana," ucap Eyang dengan suara yang sudah gemetar namun sarat akan kasih sayang. "Semoga pernikahan kalian langgeng, cepat diberi momongan, dan selalu berkah."

"Aamiin. Terima kasih, Eyang," jawab Danendra sopan.

Pada momen itulah Danendra tiba-tiba merengkuh pinggang Kirana dengan lembut. Ia menarik tubuh Kirana mendekat, menunjukkan sikap santun dan hangat di depan keluarga besar mereka. Sentuhan tangan Danendra di pinggangnya terasa mantap, membuat jantung Kirana berdegup sedikit lebih cepat.

Makan malam berlangsung meriah. Keluarga besar sibuk melontarkan pertanyaan-pertanyaan khas seputar kehidupan rumah tangga baru. Danendra menjawab semuanya dengan sangat tenang, sopan, dan terstruktur. Ia bahkan beberapa kali mengambilkan lauk untuk piring Kirana, sebuah gestur natural yang langsung menuai godaan dari sepupu-sepupunya.

"Danendra ini memang menantu idaman ya, Mbak. Perhatian sekali sama Kirana," puji Tante Ambar pada ibu Kirana.

Kirana tersenyum. Di depan keluarga, Danendra memang selalu bisa diandalkan. Laki-laki itu menjaga reputasi dan nama baik pernikahan mereka dengan sangat luar biasa.

Acara baru selesai menjelang pukul sembilan malam. Begitu mereka kembali ke dalam mobil dan pintu tertutup, atmosfer instan kembali seperti semula. Kehangatan di rumah Eyang tadi menguap, digantikan kembali oleh kesibukan masing-masing.

Danendra melonggarkan dasinya dengan satu tangan, menghela napas panjang seolah baru saja menyelesaikan sebuah tanggung jawab besar hari itu.

Kirana memandang keluar jendela, menatap lampu-lampu jalanan yang berpendar di balik kaca. Pernikahan ini dijalankan Danendra dengan kedisiplinan tingkat tinggi. Tidak kurang, tidak lebih. Semua kewajiban dipenuhi dengan sempurna, namun ada dinding pembatas tak kasatmata yang belum runtuh di antara mereka.

"Mas," panggil Kirana pelan.

"Ya?"

"Selamat satu tahun pernikahan."

Danendra sempat terdiam beberapa detik sebelum menjawab."Selamat satu tahun pernikahan juga, Kirana."

Lampu lalu lintas berubah hijau. Mobil kembali melaju membelah jalanan malam yang mulai lengang.Kirana memandang keluar jendela. Entah kenapa, setelah satu tahun menikah, ia masih merasa belum benar-benar mengenal laki-laki yang duduk di sampingnya.Dan yang lebih aneh lagi, ia mulai ingin mengenalnya.

1
Wawan
Satu kembang buatmu Thor 💪✍️
Wawan
Wow... Why? 😍💪✍️
SenandikaMaret: kinapa yaa kira-kiraa yuk terus pantengin kisah kirana 🤭🥰
total 1 replies
Wawan
Nah lo 😍
SenandikaMaret: hayolooo 🤣
total 1 replies
Wawan
kembang mawar buatmu Kirana ✍️
SenandikaMaret: 🌹🌹 mawar juga untukmu kak, dari kirana 🤭
total 1 replies
Wawan
🤭🤭🤭 .... ngapain aja selama ini?
SenandikaMaret: hanya kirana dan tuhan lah yang tau 🤣
total 1 replies
Wawan
Naaaah.... 🤭
SenandikaMaret: nah loh 🤭
total 1 replies
Wawan
mawar buatmu thor 💪✍️
SenandikaMaret: 🌹 makasih
total 1 replies
Wawan
Wow bahaya clue-nya sangat ✍️🤭
SenandikaMaret: bikin penasaran kan 🤭
total 1 replies
Wawan
Salam kenal untuk Kirana
SenandikaMaret: haloo salam kenal juga 😇 dan selamat berkelana di dunia kirana💫
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!