Clarissa Mahendra adalah ratu kampus yang ditakuti cantik, angkuh, dan tak segan menghancurkan siapa pun yang mendekati cowok pujaannya. Namun, di balik riasan tebal dan gaya hidup mewahnya, Clarissa menyimpan rahasia mematikan: Vonis Leukemia Stadium 3.
Di tengah perjuangan hidup dan mati, ia justru terasing di rumahnya sendiri. Ayahnya sosok yang dingin, dan kakak kembarnya, Bastian, membencinya karena menganggap Clarissa penyebab kematian ibu mereka saat melahirkan.
Kini, Clarissa sengaja memakai topeng "jahat" agar dunia membencinya. Ia ingin pergi dalam sunyi, tanpa ada yang merasa kehilangan. Namun, mampukah ia terus bersandiwara saat waktu yang ia miliki perlahan habis sebelum malam menjemputnya selamanya?
"Satu rahasia, seribu kebencian, dan satu takdir yang tak bisa dihindari."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DI BAWAH BADAI FITNAH
Pagi itu, atmosfer Universitas Nusantara terasa mencekam bagi Clarissa. Video lama yang diunggah Sherly telah menyebar seperti virus di media sosial kampus. Di dalam video berdurasi tiga puluh detik itu, Clarissa versi lama dengan rambut merah menyala dan pakaian minim tampak sedang memaki dan menjambak seorang mahasiswi junior hingga tersungkur. Kontrasnya dengan Clarissa yang sekarang memakai jilbab justru menjadi bahan olok-olokan yang kejam.
"Jilbab hanya topeng!"
"Siapa yang percaya predator bisa jadi ustadzah?"
"Boikot Clarissa Mahendra dari organisasi kampus!"
Clarissa duduk di pojok perpustakaan, menatap layar ponselnya dengan tangan bergetar. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh mengenai cadar tipis yang sesekali ia pakai jika merasa terlalu lelah dengan tatapan orang. Ia merasa seolah-olah seluruh dunia sedang berusaha menariknya kembali ke dalam lumpur hitam yang sudah susah payah ia tinggalkan.
"Clar, jangan dibaca lagi," sebuah tangan besar perlahan mengambil ponsel dari genggaman Clarissa.
Adrian duduk di hadapannya. Wajahnya tampak lelah, namun matanya memancarkan ketegasan yang luar biasa. Ia baru saja terlibat perdebatan sengit dengan beberapa anggota tim basket yang ikut menghujat Clarissa di grup chat.
"Gue kotor ya, Dri?" bisik Clarissa dengan suara parau. "Gue mikir... apa gue pantes pakai jilbab ini? Apa gue cuma mempermalukan agama gue dengan masa lalu gue yang kayak gitu?"
Adrian menghela napas panjang, ia menatap Clarissa dengan penuh kasih. "Sayang, dengerin gue. Tuhan itu Maha Pengampun, sementara manusia seringkali merasa paling benar. Masa lalu lo itu adalah bagian dari proses lo yang sekarang. Kalau lo nggak hancur dulu, lo nggak akan pernah belajar cara memperbaiki diri. Video itu cuma sisa sampah yang dibakar Sherly karena dia iri sama kedamaian lo."
"Tapi semua orang benci gue, Dri."
"Gue nggak. Keluarga lo nggak. Maya nggak. Dan yang paling penting, Tuhan tahu niat lo," Adrian menggenggam tepian meja, ingin sekali menyentuh tangan Clarissa untuk menguatkan, namun ia tetap menjaga jarak suci mereka. "Gue bakal urus ini. Gue bakal ajak bicara pihak rektorat kalau perlu."
Siang harinya, Clarissa memutuskan untuk tidak bersembunyi. Didampingi oleh Adrian dan Bastian, ia berjalan menuju kantin. Suasana seketika hening saat mereka masuk. Sherly dan gengnya sedang tertawa di meja tengah, seolah sedang merayakan kemenangan.
"Wah, ada aktris drama kita!" Sherly berteriak cukup keras agar didengar semua orang. "Gimana rasanya nonton akting lo sendiri setahun yang lalu, Clar? Masih jago jambak nggak setelah pakai kain itu?"
Clarissa berhenti tepat di depan meja Sherly. Bastian sudah hendak maju dan meluapkan amarahnya, namun Clarissa memegang lengan kakaknya.
Clarissa menarik napas dalam, lalu ia membuka tasnya. Ia mengeluarkan sebuah amplop kecil dan meletakkannya di meja Sherly.
"Itu apa? Surat pengunduran diri dari kampus?" ejek Sherly sinis.
"Itu adalah surat permintaan maaf tertulis dan sejumlah uang kompensasi yang sudah gue siapkan untuk mahasiswi yang ada di video itu, Sher," jawab Clarissa tenang. "Gue sudah hubungi dia secara pribadi tadi pagi. Namanya Siska. Dia sudah memaafkan gue sebulan yang lalu saat gue temui dia di rumahnya tanpa ada yang tahu."
Seluruh kantin terdiam.
"Gue nggak minta kalian buat lupa," lanjut Clarissa, suaranya terdengar bergetar namun stabil. "Gue memang pernah jahat. Gue memang pernah rusak. Tapi kalau kalian mau hukum gue, hukum gue dengan cara yang benar. Jangan hukum perubahan gue. Gue pakai jilbab ini bukan buat pamer kesucian, tapi buat ngingetin diri gue sendiri supaya nggak jadi monster lagi."
Tiba-tiba, dari meja belakang, seorang mahasiswi berdiri. Itu adalah Maya.
"Gue saksi hidupnya," ujar Maya dengan suara lantang. "Kak Clarissa yang dulu menyiram buku gue memang jahat. Tapi Kak Clarissa yang sekarang adalah orang yang membiayai pengobatan adik gue secara anonim bulan lalu. Dia nggak pernah pamer, dia nggak pernah cerita. Kalau bukan karena Kak Clarissa, mungkin adik gue nggak bisa operasi."
Satu per satu mahasiswa lain mulai berbisik, namun kali ini nadanya berbeda. Bianca juga berdiri dan berjalan menuju sisi Clarissa. "Gue juga saksi. Clarissa berubah bukan karena Adrian, tapi karena dia hampir mati dan dia sadar. Kalian semua yang menghujat, apa kalian yakin nggak punya dosa tersembunyi?"
Sherly tertegun, wajahnya pucat pasi. Rencana perundungan masalnya justru berbalik menjadi panggung pembuktian bagi Clarissa.
Setelah kejadian di kantin, Adrian mengajak Clarissa ke balkon gedung rektorat yang sepi. Mereka menatap matahari yang perlahan tenggelam, memberikan semburat warna emas pada wajah Clarissa.
"Lo hebat tadi, Sayang," bisik Adrian. "Gue bangga banget."
Clarissa tersenyum, kali ini senyumnya terasa sangat ringan. "Makasih, Dri. Makasih karena selalu panggil gue 'Sayang'. Kata itu... itu yang bikin gue ngerasa masih ada yang berharga dari diri gue."
Adrian menatap langit. "Kadang badai itu datang bukan buat ngerusak rumah kita, tapi buat bersihin jalanan di depannya. Sekarang orang tahu siapa lo yang sebenarnya. Bukan Clarissa yang sempurna, tapi Clarissa yang terus berusaha jadi lebih baik."
"Dri," panggil Clarissa pelan.
"Ya?"
"Gue sayang lo juga. Karena Allah."
Adrian terpaku. Itu adalah pertama kalinya Clarissa mengungkapkan perasaannya dengan membawa nama Tuhan. Ia merasa hatinya membuncah. Perjalanan mereka mungkin akan selalu diwarnai oleh penyakit Clarissa yang bisa kambuh kapan saja atau fitnah yang datang silih berganti, namun selama mereka berpijak pada landasan yang sama, Adrian tahu mereka akan baik-baik saja.
Namun, di balik kemenangan itu, Clarissa tiba-tiba merasakan sesak napas yang luar biasa. Ia memegang dadanya, wajahnya kembali memucat.
"Dri... sakit..."