Kurza adalah vampir terkuat dimasa lalu, entah apa yang ada dipikiranya sehingga dia memutuskan untuk beristirhat/tidur di dalam sebuah goa . sebelum Putri Kerajaan Alabas tanpa sengaja membangunkan Kurza dari tidurnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arafi Arif Dwi Firmansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18. Viking Sejati
Rin mulai menceritakan pertempuran antara Pangeran Bjorn dengan Valac yang terjadi di musim dingin di wilayah Utara.
"Saat pertama kali mereka beradu, Pangeran Bjorn melompat dari tebing es dengan kapak raksasanya, Stormbreaker, yang terangkat tinggi. Ketika kapak itu menghantam pedang tipis Valac, terjadi ledakan gelombang kejut yang meretakkan lantai es sejauh puluhan meter. Bunyi dentingannya memekakkan telinga, seperti gunung yang runtuh. Valac tidak mundur, namun kakinya tertanam dalam ke dalam es akibat beratnya serangan Panheran Bjorn.
Pangeran Bjorn menyerang dengan rangkaian serangan membabi buta. Setiap kali kapak dan pedang iblis itu bertemu, percikan api listrik biru dari petir Pangeran Bjorn beradu dengan asap hitam pekat dari pedang Valac. Udara di sekitar mereka bergetar hebat. Dalam satu momen, Pangeran Bjorn berhasil menghantamkan bahunya ke dada Valac; benturan zirah Viking yang berat dengan tubuh iblis itu menghasilkan suara dentum keras yang membuat prajurit di sekitar mereka terlempar ke belakang.
Valac melepaskan serangan proyektil bayangan yang tajam, namun Pangeran Bjorn menghalau semuanya dengan putaran kapaknya yang menciptakan pusaran angin kencang. Ketika Valac mencoba menusuk dengan kecepatan kilat, Pangeran Bjorn menangkap bilah pedang iblis itu dengan tangan kosong; sarung tangan besinya berderit hebat, mengeluarkan suara logam yang tergerus saat ia mencoba mematahkan pedang Valac dengan kekuatan murni.
Puncak benturan terjadi saat Pangeran Bjorn mengerahkan seluruh sisa kekuatan miliknya ke dalam satu hantaman terakhir. Kapaknya bersinar putih menyilaukan. Saat kapak itu bertemu dengan serangan pamungkas Valac yang berwarna ungu gelap, terjadi ledakan energi yang sangat besar hingga menciptakan kawah di medan tempur. Di tengah kepulan asap dan debu es, terlihat bagaimana pedang Valac berhasil menembus celah zirah pangeran Bjorn menusuk dada tepat di saat kapak Bjorn menggores kulit bahu sang Jenderal Iblis.
Pangeran Bjorn menunjukkan ketangguhan luar biasa yang menjadi legenda bangsa Viking. Meski pedang Soul Eater milik Valac telah menembus tubuhnya dan energi kegelapan mulai menggerogoti nyawanya, Pangeran Bjorn menolak untuk jatuh. Ia berdiri tegak seperti karang di tengah badai, matanya yang mulai meredup tetap menatap tajam ke arah sang Jenderal Iblis. Valac, yang merasa terhina karena manusia biasa masih bisa berdiri setelah serangan mautnya, memutuskan untuk mengakhiri pertarungan.
Valac bergerak dengan kecepatan yang hampir tak terlihat, menyayat persendian Pangeran Bjorn agar sang Pangeran berlutut. Namun, setiap kali tebasan itu mendarat, Bjorn justru semakin mempererat genggaman pada kapaknya, menggunakan rasa sakit sebagai jangkar agar tetap berdiri.
Melihat keteguhan itu, Valac memusatkan seluruh energi kegelapannya pada telapak tangannya. Ia melesat maju dan menghantamkan serangan "Void Crush" tepat ke arah luka di dada Bjorn. Benturan energi hitam itu menghancurkan sisa - sisa zirah sang pangeran dan menghentikan detak jantungnya seketika. Walaupun nyawanya telah melayang, tubuh Pangeran Bjorn tetap tidak tumbang ke tanah. Ia meninggal dalam posisi berdiri dengan tangan masih menggenggam kapaknya.
Melihat pahlawan mereka tewas dalam posisi berdiri, semangat Berserker para prajurit Viking meledak. Bukannya gemetar ketakutan atau melarikan diri, mereka justru meraung penuh amarah yang memekakkan telinga. Bagi bangsa Viking, mati saat membalaskan dendam pemimpin adalah tiket emas menuju Valhalla.
"Untuk Pangeran Bjorn! Untuk Utara!" teriak mereka sambil menerjang maju tanpa mempedulikan nyawa. Namun, Valac bukanlah lawan yang bisa dikalahkan dengan keberanian murni. Dengan senyum sinis yang merendahkan, sang Jenderal Iblis mulai membantai mereka satu per satu.
Setiap ayunan pedang Valac menciptakan sabit energi hitam yang membelah barisan prajurit beserta perisai kayu mereka seolah-olah hanya kertas. Valac tidak perlu menghindar; ia membiarkan kapak-kapak Viking menghantam tubuhnya, hanya untuk menunjukkan bahwa kulit iblisnya jauh lebih keras daripada baja manusia.
Valac melepaskan aura "Despair Aura". Prajurit yang berada terlalu dekat tiba-tiba merasa paru-paru mereka membeku dan penglihatan mereka menggelap. Meski begitu, mereka tetap merangkak maju, mencoba menggapai kaki Valac hanya untuk sekadar meludahinya sebelum ajal menjemput.
Dalam hitungan menit, pesisir yang tadinya putih bersih oleh salju berubah menjadi merah pekat. Valac berdiri di tengah tumpukan mayat prajurit pemberani itu, merasa puas telah menghabisi Pangeran Bjorn dan pasukanya." Cerita Rin bagai mana Pangeran Bjorn dengan darah vikingnya melawan Jendral iblis Valac.
Cerita dari Rin membuat suasana di dalam perlindungan bawah tanah itu kembali mendingin. Harapan Jenderal Kel untuk mendapatkan bantuan armada dari Utara seketika redup saat mengetahui bahwa Pangeran Bjorn juga telah gugur di tangan Jenderal Iblis Valac." "Sayang aku belum sempat bertemu dengannya manusia kuat seperti Pangeran Bjorn, mampu menggores kulit Valac adalah bukti bagai mana kuatnya Pangeran Bjorn" gumam Kurza yang mengetahui seberapa kuatnya Valac.
Jadi, Valac bukan hanya mengincar Alabas, tapi dia sendiri yang memastikan aliansi Utara dan Selatan terputus dengan membunuh Bjorn," geram Kurza sambil mengepalkan tangan. "Zhit benar-benar telah menjual segalanya demi kekuatan iblis itu."Jenderal Kel memukul dinding batu dengan frustrasi. "Tanpa Pangeran Bjorn, kerajaan Viking pasti berfikir terlebih dahulu untuk membantu kita." Gumam Jendral Kel yang nampak kecewa.
Namun, Kurza tidak tampak putus asa. Ia justru menatap Khiya dengan pandangan yang lebih intens. "Kematian ayahmu memang sebuah kerugian besar bagi aliansi, tapi itu memberikanmu satu hal yang lebih kuat dari pasukan mana pun; Hak Waris Darah Ganda. "Kurza berjalan mendekati Khiya. "Kau adalah putri dari Alabas dan sekaligus putri Bangsa Viking. Jika kau bisa membuktikan identitasmu, para pejuang Viking yang kehilangan pangeran hebat mereka, akan melihatmu sebagai satu - satunya harapan untuk membalas dendam kematian pangeran mereka." Seru Kurza sembari menepuk bahu Khiya.
Kurza kemudian berpaling pada Rin. "Rin, apakah kau sempat mengamankan peninggalan Pangeran Bjorn? Sesuatu yang bisa menjadi bukti sah bagi bangsa Viking?" Jika Khiya adalah anak dari Pangeran Bjorn, tanya Kurza. Rin mengangguk dan berjalan ke arah sebuah kotak di pojokan ruangan. mengeluarkan sebuah kapak dan kalung perak dengan liontin berbentuk Palu Thor yang retak namun masih memancarkan aura keberanian.
"Hamba mengambil kapak ini dari medan pertempuran terakhirnya, Tuan. Ini adalah kapak Pangeran Bjorn dan Segel Darah milik keluarga kerajaan Utara, yang Pangeran Bjorn berikan kepada hamba ketika hamba mendekat mencoba melarang Pangeran Bjorn untuk melawan Valac." ucap Rin sambil menyerahkan kapak dan Segel darah kepada Kurza.
Kurza menyerahkan kalung itu kepada Khiya. "Simpanlah. Ini adalah identitas sekaligus senjatamu. Valac mungkin membunuh ayahmu, tapi dia akan mendapatkan pelajar yang setimpal." Seru Kurza dengan penuh kemarahan. "Kita tetap akan menuju Utara," perintah Kurza pada Rin. "Mereka harus tau, putri Pangeran Bjorn masih hidup."
"Rin, persiapkan sihir bayanganmu (Black Shadows) untuk perjalanan jauh. Aku tidak ingin kita membuang waktu berminggu - minggu di laut. Kita akan menembus ruang melalui jalur Black Shadows langsung menuju jantung Kerajaan Viking." Rin membungkuk dalam. "Hamba mengerti, Tuan Kurza. Kekuatan hamba tidaklah cukup untuk membawa kita semua ke Kerajaan Viking, jaraknya terlalu jauh tuan." Gumam Rin dengan raut kecewa karena dirinya belum cukup kuat.
"Kemarilah Rin!" perintah Kurza dengan tangan yang sudah ia sodorkan. "Ambilah darahku!" Rin tidak bisa menolak setelah beberapa tahun lamanya ia tidak menikmati rasa enaknya darah tuannya. Rin melangkah mendekat, dan meraih tangan Kurza dan mulai menghisap darah Kurza.
"Khiya... Besok kita pergi ke bangsa Viking; istirahatlah! Ada jubah warna hitam milik Miyuki. Pakaialah besok!" perintah Kurza, Khiya pun menuruti perintah Kurza dan melangkah ke arah belakang untuk istirahat.
Bersambung. . .